PENGANTAR
Konferensi
Internasional Budaya Daerah (KIBD) III diselenggarakan di Kampus Universitas Veteran
Bangun Nusantara, Sukoharjo, Jawa Tengah, 7-8 Desember 2013. Kegiatan ini
diselenggarakan bersama oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah
FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Ikatan Dosen Budaya Daerah
Indonesia (IKADBUDI), dan Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta.
KIBD
III mengundang para pemakalah yang berasal dari kalangan pakar budaya,
birokrat, budayawan, guru bahasa dan sastra daerah dari dalam dan luar negeri.
Mereka diundang untuk tampil di depan forum memaparkan hasil penelitian dan
hasil pemikirannya tentang salah satu kebudayaan daerah yang diamati dan
diminatinya.
Aku
berkesempatan mengikuti kegiatan KIBD III dengan status sebagai pemakalah. Tercatat 28 orang pemakalah yang diundang panitia penyelenggara KIBD III. Adapun judul makalahku adalah Khasanah Pamali Banjar di Kalimantan
Selatan. Pada kesempatan ini aku ingin berbagi cerita tentang sejumlah
peristiwa yang kualami sebelum, selama, dan sesudah mengikuti KIBD III di kota
Sukoharjo.
BANJARMASIN-YOGYAKARTA
JUM’AT, 6 DESEMBER 2013
Pukul 14.30
Wite
Sebelum
melangkahkan kaki ke luar rumah, aku sekali lagi mengecek barang bawaanku,
yakni: amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 4.000.000,- (dalam bentuk pecahan Rp. 100.000,-), baju hem (empat potong),
celana dalam (4 potong), celana panjang (2 potong), dompet (tempatku menyimpan
KTP, SIM, Askes, dan uang kas sebesar Rp. 1.000.000,-), handuk (1 lembar), kaus
dalam alias t-shirt (4 potong), kaus kaki (2 pasang), minyak angin, obat-obatan
(obat masuk angin, obat sakit gigi, obat sakit perut), dan sikat gigi lengkap
dengan pastanya.
Selain itu aku juga mengecek cetakan surat menyurat yang kuterima dari panitia (dikirimkan via emailku), makalah lengkapku, daftar alamat yang bakal kutuju di sepanjang perjalanan nanti, dan amplop berisi tiket pesawat terbang Lion Air Banjarmasin-Yogyakarta. Tiket ini kubeli di agen perjalanan Raya Rindang Wisata Tour & Travel, Jalan Hasanuddin HM Nomor 92, Banjarmasin, 70111, dengan harga Rp. 720.000,-
Selain itu aku juga mengecek cetakan surat menyurat yang kuterima dari panitia (dikirimkan via emailku), makalah lengkapku, daftar alamat yang bakal kutuju di sepanjang perjalanan nanti, dan amplop berisi tiket pesawat terbang Lion Air Banjarmasin-Yogyakarta. Tiket ini kubeli di agen perjalanan Raya Rindang Wisata Tour & Travel, Jalan Hasanuddin HM Nomor 92, Banjarmasin, 70111, dengan harga Rp. 720.000,-
Setelah
yakin tidak ada yang ketinggalan, aku dengan mantap mulai mengayunkan langkahku meninggalkan rumah menuju ke Bandar Udara Syamsuddin Noor
Banjarbaru. Perjalanan dari rumah ke mulut Gang Sepakat kutempuh dengan cara
naik sepeda motor bersama adik iparku. Begitu tiba di mulut gang yang berjarak
sekitar 500 meter dari rumahku, aku turun dari sepeda motor, selanjutnya sepeda
motor itu dikendarai oleh adik iparku dan ia pulang kembali ke rumahku.
Aku
kemudian menyeberangi Jalan Mayjen Soetoyo S untuk menunggu taksi kota di sana.
Tak lama berselang sebuah taksi kota melintas di depanku. Aku segera memberi
isyarat dengan mengacungkan jari telunjukku. Sopir taksi kota memperlahan
laju mobil yang disetirnya dan menepikannya tak jauh dari tempatku berdiri. Ternyata sopir
taksi kota ini adalah temanku nongkrong di pasar koran.
Begitu tiba di kawasan Simpang Sudimampir aku harus berganti taksi kota. Taksi kota yang disopiri temanku ini hanya sampai di Terminal Pangeran Antasari saja. Sementara tujuanku hari ini adalah ke Terminal Kilometer Enam. Setelah membayar ongkos taksi kota sebesar Rp. 4.000,-, aku turun dan naik ke taksi kota yang lain. Taksi kota yang kutumpangi kali ini adalah taksi kota dengan tujuan ke Terminal Kilometer Enam.
Begitu tiba di kawasan Simpang Sudimampir aku harus berganti taksi kota. Taksi kota yang disopiri temanku ini hanya sampai di Terminal Pangeran Antasari saja. Sementara tujuanku hari ini adalah ke Terminal Kilometer Enam. Setelah membayar ongkos taksi kota sebesar Rp. 4.000,-, aku turun dan naik ke taksi kota yang lain. Taksi kota yang kutumpangi kali ini adalah taksi kota dengan tujuan ke Terminal Kilometer Enam.
Teman sopirku itu sebenarnya menolak uang pembayaranku, namun kupaksa, hingga ia akhirnya mau menerimanya. Meskipun berstatus sebagai teman baik, aku tak mau digratiskan. Apalagi kulihat jumlah penumpang yang dibawanya ketika itu cuma 3 orang. Aku tahu dengan pasti bahwa uang yang diterimanya dari 3 penumpang sama sekali belum dapat menutupi biaya operasional yang harus dikeluarkannya.
Sekitar
30 menit kemudian aku sudah tiba di Terminal Kilometer Enam. Setelah membayar
ongkos taksi kota sebesar Rp. 4.000,- aku segera naik ke taksi colt jurusan
Banjarmasin-Martapura yang mangkal di situ. Aku sengaja meminta kepada Pak
Sopir agar diberi tempat duduk pada posisi di depan, atau di bangku baris ke
dua dekat pintu. Pak Sopir menyetujuinya setelah kuberi tahu alasannya, bahwa
aku akan turun di bundaran pintu masuk ke Bandar Udara Syamsuddin Noor.
Jika aku duduk di posisi lain, maka aku akan mengalami kesulitan ketika ke luar
dari mobil nantinya.
Sebenarnya
jumlah penumpang yang ikut menumpang di dalam taksi colt ketika itu masih
kurang satu orang, namun ada seorang penumpang di bagian belakang yang
berteriak kepada Pak Sopir bahwa ia bersedia membayar dua kali lipat. Ia
rupanya sudah bosan karena terlalu lama menunggu sampai penumpang taksi colt
berjumlah 14 orang. Taksi colt segera melaju meninggalkan terminal.
Aku
turun di tempat yang kutuju, yakni di dekat bundaran jalan masuk ke bandara.
Tarifnya Rp. 12.000,- Dalam hitungan detik seorang tukang ojek yang mangkal di
lokasi itu segera menghampiriku. Tanpa bicara, aku segera duduk di sadel belakang sepeda motor tukang ojek
itu, dan wuss… lima menit kemudian aku sudah tiba di pintu masuk menuju ke bangunan induk bandara.
Tarifnya Rp. 10.000,-
Pukul 15.45
Wite
Pencatatan/pencetakan
tiket dan boardingpass untuk para penumpang pesawat terbang JT 0523 Lion Air
Banjarmasin-Yogyakarta baru dibuka Pukul 16.00 Wite. Namun aku minta izin
kepada petugas penjaga pintu untuk masuk lebih awal.
“Silakan,
Pak.”
Ketika
itu para petugas darat maskapai penerbangan Lion Air kulihat sedang sibuk
melayani para penumpang yang akan berangkat ke jurusan lain (lupa mencatatnya).
Bosan
menunggu, aku mendekatkan diri ke loket Lion Air yang lain. Kulihat petugas
darat di loket ini baru saja selesai melayani pencetakan tiket dan boardingpass
untuk para penumpang yang akan terbang ke suatu tujuan (lupa mencatatnya).
Pucuk
dicinta ulam tiba, berkat rajin bertanya, petugas darat di sini bersedia
mencetakkan tiketku dan boardingpassnya sekaligus. Selepas itu aku segera
membayar tiket masuk ke ruang tunggu sebesar Rp. 25.000,- Setelah itu aku
naik dan masuk ke ruang tunggu.
Pukul18.00
Wite
Seiring
dengan berjalannya waktu, para penumpang akhirnya dipanggil masuk ke ruang
tunggu, lalu dipersilakan naik ke bus, dan akhirnya masuk ke dalam pesawat
terbang yang bakal membawaku ke Yogyakarta. Aku duduk di kursi nomor 15/B.
Pukul 18.00
Wib
Keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi kali ini sempat tertunda
sekitar 30 menit dari jadwal yang tertera pada tiket yang kupegang. Aku tiba di
Yogyakarta pukul 18.00 WIB.
Di
pintu ke luar Bandar Udara Laksamana Muda Adi Sucipto Yogyakarta aku menyempatkan
diri bertanya kepada seorang petugas keamanan.
“Maaf,
Pak. Boleh numpang tanya?”
“Boleh.
Silakan, Pak.”
“Apakah
di sekitar sini ada penginapan, Pak?”
“Ada,
sekitar 500 meter dari sini. Bapak ke luar dari sini, belok kiri, jalan kaki
saja, menyeberang jalan, cari lokasi Galeri Sapto Hoedoyo, persis di sampingnya
ada jalan masuk menuju ke Hotel Bandara Asri.”
“Terima
kasih, Pak.”
“Ya,
sama-sama.”
Begitu
ke luar dari gedung induk bandara aku langsung disambut oleh beberapa
orang sopir taksi yang menawarkan jasanya. Semua tawaran itu kutolak dengan
isyarat, karena aku sudah berencana untuk jalan kaki saja ke hotel yang
direkomendasikan oleh petugas keamanan. Namun, begitu melihat situasi dan
kondisinya, aku berpikir ulang, apalagi ketika itu hujan turun dengan lebatnya, membuat kawasan
bandara menjadi basah kuyup dibuatnya.
“Taksi,
Pak?”
“Ke
Hotel Bandara Asri, berapa?”
“Empat
puluh lima ribu rupiah.”
“Dua
puluh lima ribu rupiah.”
“Maaf,
tidak bisa, Pak.”
“Katanya
hotelnya dekat.”
“Itu
tarif yang normal di sini, Pak.”
“Tidak
pakai argometer?”
“Tidak,
Pak. Mobil saya Avanza pribadi, Pak.”
Situasi
dan kondisi yang kuhadapi saat itu membuatku terdorong untuk menyetujui
tarif yang ditawarkan oleh Pak Sopir. Tadinya aku mengira mobil taksi
yang ditawarkannya berjenis sedan seperti lajimnya. Menilik dari merek
mobilnya, maka memang kurang pantas jika tarifnya cuma Rp. 25.000,- Tarif yang
ditawarkan Pak Sopir kupikir sepadan saja dengan merek mobilnya.
Sopir
taksi dimaksud kulihat masih muda, mungkin sekitar 25-30 tahun. Menilik dari
postur tubuhnya yang tinggi tegap, potongan rambutnya yang cepak, dan
penampilannya yang necis, aku menduga ia bukanlah sopir taksi biasa. Artinya,
menjadi sopir taksi bukanlah pekerjaan utamanya, tapi cuma pekerjaan
sambilannya di malam hari saja.
Begitulah,
dengan diantar oleh Pak Sopir dimaksud aku akhirnya tiba di Hotel Bandara Asri.
Benar saja, lokasi hotel yang kutuju cuma berjarak sekitar 300-500 meter dari
bandara. Tarifnya Rp. 275.000,- per malam sudah termasuk makan pagi
di restoran hotel. Selain itu, pihak hotel memberikan tambahan service berupa
jasa layanan pengantaran ke bandara, stasiun kereta api, dan terminal bus.
Malam
itu aku menginap di kamar S yang kukira Nomor 5. Fasilitas kamar yang
tersedia antara lain: ranjang berukuran besar, lemari pakaian, pesawat televise
29 inci, air condition, kamar mandi dan wc berada di dalam kamar.
Aku
sengaja menginap di hotel yang lokasinya berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Maguwo.
Hal ini sejalan dengan pilihanku naik kereta api untuk perjalananku ke kota
Solo besok hari. Setelah urusan pemesanan kamar selesai, aku menemui Pak Sopir
untuk membayar tarif jasanya. Sebelum berpisah ia mengajakku untuk saling
bertukar nomor handphone.
“Bila
ada masalah selama Bapak berada di Yogyakarta, bapak jangan ragu-ragu untuk
menghubungi saya melalui nomor ini. Saya siap membantu. Terima kasih, Pak.
Sampai jumpa lagi di lain waktu dan kesempatan.”
Kami
saling bersalaman. Hangat sekali.
Pak
Sopir segera meninggalkan area parkir hotel, dan aku segera masuk ke kamar
hotelku. Di dalam kamar aku melepaskan baju yang kukenakan karena sudah
mengeluarkan bau tertentu. Maklumlah, karena sudah dikenakan seharian penuh
dalam cuaca yang silih berganti: hujan, panas, hujan, panas.
Pukul 19.30
Wib
Setelah
mandi dan berpakaian aku ke luar hotel untuk mencari warung makan. Aku berjalan
kaki ke luar area hotel. Kulihat ada beberapa warung makan di pinggir jalan Laksamana
Muda Adi Sucipto Kilometer 9 Yogyakarta.
Aku
tidak tertarik singgah di salah satu warung itu karena menu yang mereka
tawarkan tidak sesuai dengan selera makanku dan kebutuhan nutrisiku malam ini. Kulihat
menu yang mereka tawarkan sama merata, antara lain: bakso, mie goreng, dan mie kuah.
Aku
terus jalan kaki melenggang sambil memperhatikan tanda-tanda tempatan yang menyolok
dan mudah diingat. Tanda-tanda tempatan itu harus diingat karena akan berguna
sebagai petunjuk jalan supaya nanti tidak tersesat ketika kembali ke hotel.
Aku
akhirnya belok kiri ke sebuah rumah makan dengan bangunan yang begitu megah dan
berukuran luas: Andrawina Loka Gudeg Bu Tjitro. Suasana rumah makan ketika itu
sudah sepi. Aku satu-satunya pengunjung yang makan di ruangan restoran yang
begitu luas.
“Pesan
apa, Pak?”
“Nasi
goreng?”
“Habis,
Pak.”
“Soto
ayam?”
“Juga
habis, Pak.”
“Lalu,
apa yang ada?”
“Cuma
nasi gudeg, Pak.”
“Kenapa
yang ada cuma nasi gudeg saja?”
“Maklumlah,
Pak. Kami sudah mau tutup. Jadi semua menu sudah pada habis.”
“Jam
berapa tutupnya?”
“Jam
Sembilan, Pak.”
“Sekarang
sudah pukul 19.45 Wib. Kalau begitu, apa boleh buat. Aku pesan nasi gudeg.
Minumnya teh es.”
Tidak
berselang lama, pesananku sudah terhidang di atas meja. Kucicipi sedikit. Eh,
ternyata enak juga. Dalam tempo singkat nasi gudeg itu sudah ludes. Ternyata
harganya relative murah, cuma Rp. 17.600,- dengan perincian sebagai berikut:
nasi gudeg berlauk-pauk sayap ayam dan sebutir telur harganya Rp.
13.000,- es teh manis harganya Rp. 4.000,- dan PPN 10% sebesar Rp. 1.600,-.
Selesai
makan aku kembali ke hotel, masih dengan cara yang sama yakni melaku sikil alias jalan kaki.
Kulihat jalan masuk ke lokasi hotel tampak sepi. Aku menoleh ke belakang: aman.
Tak ada pemalak menghadangku di depan dan tak ada kuntilanak mengikutiku di
belakang. Hehehe....
Hotel Bandara Asri terletak di Jalan Kenanga Nomor 3, letaknya hampir-hampir berhadapan dengan Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta dan Stasiun Kereta Api Maguwo Yogyakarta. Memiliki 20 kamar dengan ukuran, fasilitas, dan tarif yang berbeda-beda, yakni: Executive tersedia sebanyak 3 kamar dengan tarif Rp. 475.000,- per malam; Superior tersedia sebanyak 6 kamar dengan tarif Rp. 410.000,-, per malam: Deluxe Twin tersedia sebanyak 5 kamar dengan tarif Rp. 350.000,- per malam; Deluxe Kingsize tersedia sebanyak 6 kamar dengan tarif Rp. 325.000,- per malam; dan Standart tersedia sebanyak 6 buah dengan tarif Rp. 275.000,- per malam.
Hotel Bandara Asri terletak di Jalan Kenanga Nomor 3, letaknya hampir-hampir berhadapan dengan Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta dan Stasiun Kereta Api Maguwo Yogyakarta. Memiliki 20 kamar dengan ukuran, fasilitas, dan tarif yang berbeda-beda, yakni: Executive tersedia sebanyak 3 kamar dengan tarif Rp. 475.000,- per malam; Superior tersedia sebanyak 6 kamar dengan tarif Rp. 410.000,-, per malam: Deluxe Twin tersedia sebanyak 5 kamar dengan tarif Rp. 350.000,- per malam; Deluxe Kingsize tersedia sebanyak 6 kamar dengan tarif Rp. 325.000,- per malam; dan Standart tersedia sebanyak 6 buah dengan tarif Rp. 275.000,- per malam.
Pukul 20.30
Wib
Aku
masuk ke kamar hotel. menonton televise. Tak lama kemudian mataku terserang
kantuk berat. Padahal ada acara televise favoritku malam ini, yakni: Dua Dunia
di Trans TV. Apa boleh buat. Malam itu aku tertidur pulas, namun durasinya relative
pendek, cuma berselang antara 5-10 menit saja. Aku berulang-kali: tidur-bangun,
tidur-bangun. Aku terbangun karena harus buang air kecil. Selain itu,
mimpi-mimpi yang kualami malam ini hampir semuanya berdurasi pendek, seperti
layaknya durasi sinetron kejar tayang.
YOGYAKARTA-SOLO-SUKOHARJO
SABTU, 7 DESEMBER 2013
Pukul 05.00
Wib
Aku
terbangun pukul 05.00 Wib, mandi, dan segera berkemas-kemas untuk
memulai perjalanan hari ini. Sekitar pukul 07.00 Wib, aku sudah siap berangkat
ke Solo. Mula-mula aku masuk ke kafetaria hotel untuk sarapan pagi. Menu yang tersedia pagi itu
adalah roti bakar, bubur ayam, bakso, dan soto ayam. Aku memilih menu bubur
ayam dan minum kopi.
Selesai
makan aku masuk ke lobby hotel untuk menyerahkan kunci kamar (chekout). Sesuai
janji, aku kemudian diantarkan ke Stasiun Kereta Api Maguwo yang letaknya
sekitar 500 meter dari hotel, namun karena jalannya satu arah maka mobil yang
kutumpangi harus memutar cukup jauh. Stasiun Kereta Api Maguwo berseberangan
dengan bangunan induk Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta.
Stasiun
Kereta Api Maguwo bukanlah stasiun induk, tetapi cuma stasiun pembantu. Aku
kemudian membeli tiket tujuan Stasiun Solo Balapan. Tarifnya cuma Rp. 10.000,-
dan pada tiket yang kubeli terdapat tulisan tanpa tempat duduk.
“Di
mana tempat menunggu kereta apinya, Pak?” tanyaku.
“Di
seberang sana, Pak.”
Kereta
api dijadwalkan baru berangkat pukul 08.16 WIB, ketika itu baru pukul 07.10
WIB. Aku kemudian memilih jalan-jalan ke lingkungan areal kedatangan
bandara.
Suasana
di sini sangat ramai, tepatnya hiruk pikuk. Di sana aku silih berganti diajak
bicara oleh beberapa sopir taksi dan tukang ojek yang mangkal mencari rezeki di
lokasi ini. Mereka menawarkan jasanya masing-masing. Aku menjelaskan bahwa aku
sudah membeli tiket kereta api Sriwedari Non AC tujuan ke Stasiun Solo Balapan.
Kepada salah seorang dari mereka aku bertanya berapa tarif taksi ke Solo.
Ternyata tarifnya mahal juga, Rp. 375.000,- dengan mobil berjenis Avanza.
Pada
kesempatan lain ada tukang ojek menawarkan jasa mengantarkanku ke terminal bis,
tarifnya Rp. 30.000,-. Lebih cepat katanya, karena kereta api baru
berangkat satu jam lagi. Lebih cepat satu jam tiba di Solo. Paparan yang
logis, aku hampir saja tergiur. Selain itu aku juga mendapat informasi bahwa di
sekitar sini juga banyak terdapat tempat penginapan lain selain Hotel Bandara
Asri yang kuinapi tadi malam.
Pukul
07.30 Wib aku kembali ke stasiun kereta api Maguwo. Kulihat orang turun naik
silih berganti dari gerbong kereta api yang datang dan pergi silih berganti di
pagi yang cerah pada hari ini. Sesuai jadwal, kereta api Sriwedari Non AC yang
juga popular disebut sebagai Prambanan Ekspres (Prameks) berhenti di stasiun
Maguwo.
Aku
dan para penumpang lainnya segera berloncatan masuk ke dalam gerbong yang
terdekat dari tempat kami berdiri. Ternyata kereta api sudah penuh dengan
penumpang sejak ia memulai perjalanannya dari stasiun induk di pusat kota
Yogyakarta sana. Pantas saja dalam setiap tiket yang dibeli di stasiun Maguwo
terdapat tulisan tanpa tempat duduk.
Beruntung,
masih ada bangku yang kosong, aku segera mendudukinya. Aku duduk berdampingan
dengan seseorang yang kuduga orang Korea. Bertubuh kurus, kulitnya putih, pakai
kaos putih, bercelana pendek warna putih, dan mengenakan topi model seniman. Di
tangannya tertenteng sebuah tustel.
“Bangku
ini, kosong, Pak?”
Orang
Korea itu cuma mengangguk.
Setelah
itu kami asyik dengan diri masing-masing, begitu pula halnya dengan para
penumpang lainnya. Maklumlah, di antara kami tidak saling kenal satu sama
lainnya. Kereta
api melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga dalam tempo kurang dari satu
setengah jam sudah tiba di Stasiun Purwosari.
Pukul 09.15
Wib
Aku
turun dari gerbong kemudian masuk ke sebuah warung di samping stasiun kereta api Purwosari. Aku memesan teh hangat, dan pada
kesempatan itu mengudap sebiji kue bakwan.
“Kalau
mau ke Sukoharjo, naik apa, Bu?” tanyaku kepada pemilik warung ketika membayar
harga makanan dan minuman.
“Kalau
tidak salah naik angklutan kota warna kuning gading dengan nomor lambung 54.
“Terima
kasih, Bu.”
Begitu
keluar stasiun aku disambangi oleh seorang bapak berusia setengah baya.
“Mau
ke mana, Pak?”
“Ke
Sukoharjo, Pak.”
“Naik
bis Harapan Mulya, Pak. Bapak bisa menunggunya di sebelah kiri jalan itu,”
jelasnya sambil menunjuk ke arah jalan raya yang dimaksudkannya.
“Kalau
bapak mau naik ojek, saya bersedia mengantar, Pak.”
“Tarifnya
berapa, Pak?”
“Dua
puluh lima ribu rupiah.”
Tidak
mau repot akhirnya aku memilih tawaran naik ojek ini. Tukang ojek ini
belakangan kuketahui bernama Yoyok usianya sekitar 50 tahun.
Jarak
antara Solo-Sukoharjo sekitar 15 kilometer, jarak itu ditempuh oleh Pak Yoyok
dalam tempo 20 menit. Di tengah jalan aku melihat papan nama hotel yang
direkomendasikan oleh panitia KIBD III. Aku meminta Pak Yoyok agar singgah
sebentar untuk memesan kamar di hotel di sini. Ternyata semua kamar sudah habis
diinapi oleh peserta KIBD III yang datang lebih dulu.
Aku
kemudian disarankan untuk menginap di Hotel Brother yang terletak sekitar 5
kilometer dari tempat ini. Aku meminta Pak Yoyok untuk mengantarku ke Hotel
Brother. Cukup lama aku berurusan di tempat ini, mungkin sekitar 30 menit.
Tarifnya Rp. 275.000,- per malam. Tarif ini sudah dikorting 50% dari harga
semestinya karena masih dalam tahap uji coba setelah diresmikan
pengoperasiannya sekitar 2 minggu yang lalu. Untung saja masih uji coba, jika
tidak maka aku harus membayar Rp. 590.000,- per malam. Hotel ini terletak di
Jalan Ir. Soekarno Blok AC 25 (Kawasan Solo Baru Sukoharjo).
Hotel
ini memiliki 60 kamar Deluxe King (luas 22 sqm) bertarif Rp. 590.000,- 92 kamar
Deluxe Twin (luas 22 sqm) bertarif Rp. 590.000,- dan 8 kamar Suite (luas 44
sqm) bertarif 925.000,-. Extra bed Rp. 200.000,-. Fasilitas yang disediakan
antara lain: TV 29 inci, LCD dengan 41 TV Channel, 100% cotton bed sheets dan
duvet, security key card, tea anda coffe maker, lemari es, AX, meja kerja,
shower, toilet standart internasional, sandal, pengering rambut, perlengkapan
kamar mandi, laundry, dan telepon.
Setelah
urusan pemesanan kamar selesai, aku segera diantar ke kamar oleh petugas
resepsionis hotel. Di dalam kamar aku berganti baju, dan segera turun ke bawah
menemui Pak Yoyok yang sabar menanti di bawah sana. Sebelum Pak Yoyok
menghidupkan sepeda motornya aku terlebih dahulu membayar ongkos ojek sebesar
Rp. 60.000,-. Pak Yoyok menerimanya dengan sukacita.
“Terima
kasih, Pak," ucapnya.
“Sama-sama,”
ujarku sambil menggenggam erat tangannya.
Pak
Yoyok menghidupkan sepeda motornya, aku segera naik ke boncengan di
belakangnya. Sesaat kemudian Pak Yoyok memacu laju kendaraannya menuju ke
Kampus Universitas Veteran Bangun Nusantara di pusat kota Sukoharjo.
Sekitar
15 menit kemudian kami tiba di tempat tujuan, yankni tempat diselenggarakannya
KIBD III. Pak Yoyok pamit pulang kembali ke Solo. Kami bersalaman sekali lagi.
Setelah itu aku masuk ke ruangan tempat acara dilaksanakan.
Hal
pertama yang kulakukan adalah mendaftarkan diri kepada panitia yang sudah stand
by menerima kedatangan para peserta di beranda auditorium kampus. Aku datang
persis ketika acara pembukaan dimulai, yakni ketika para peserta
mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
KIBD
III dibuka oleh Wakil Bupati Sukoharjo, tadinya direncanakan akan dibuka
langsung oleh Gubernur Jawa Tengah: Bapak Ganjar Pranowo. Namun beliau
berhalangan hadir karena harus menghadiri acara Festival Film Indonesia (FFI)
di kota Semarang.
Namun,
pada hari itu juga beliau berkenan menyempatkan diri untuk melakukan
telekonferensi dengan Rektor Universitas Veteran Bangun Nusantara (Prof. Dr. H.
Trisno Martono) dan Ketua Panitia KIBD (Dr. Farida Nugrahani, M. Hum).
Sejak
itu aku bertahan di tempat konferensi mengikuti kegiatan pemaparan
makalah-makalah dan sessi tanya jawab. Kegiatan hari ini berakhir pukul 17.00
Wib. Aku kemudian diantarkan ke Hotel Brother oleh panitia dengan menumpang bis
kampus. Di bis ini juga menumpang para peserta lain yang menginap di luar hotel
yang direkomendasikan oleh panitia KIBD III.
Di
kamar hotel aku langsung mandi kemudian merebahkan diri dan bersiap-siap untuk
melaksanakan sholat Magrib. Setelah itu aku menonton televise. Sekitar pukul
20.00 Wib aku menyempatkan diri menyambangi sebuah mini market yang terletak
persis di seberang Hotel Brother. Aku membeli buah belimbing, manggis dan ubi
cilembu kukus. Inilah menu tambahan makan malamku hari ini. Sepulang dari mini
market aku menonton televise, namun tak lama kemudian aku mengantuk dan
tertidur.
SUKOHARJO-SOLO-SURABAYA
SABTU, 7 DESEMBER 2013
Pukul 04.30
Wib
Aku
terbangun dari tidurku sekitar pukul 04.30 Wib. Setelah buang air kecil aku
terlelap lagi hingga pukul 06.00 Wib. Setelah mandi, aku Sholat Subuh, dan
kemudian berjalan-jalan santai ke pasar pagi yang berlokasi persis di jalanan
dekat Hotel Brother. Suasananya cukup ramai. Salah satu moda transportasi yang
relative unik adalah delman yang ditarik oleh seekor kuda.
Pukul 07.00
Wib
Pukul
07.00 Wib aku sarapan pagi di restoren hotel tempatku menginap, menu yang kupilih
adalah soto ayam dan teh hangat. Pukul 07.15 Wib aku checkout dari Hotel
Brother, dan meminta bantuan kepada karyawan hotel untuk memanggilkan taksi
argometer. Cukup lama aku menunggu kedatangan taksi argometer ini (sekitar 20
menit), Pak Sopir meminta maaf atas keterlambatannya menjemputku. Sekitar 15
menit taksi yang kutumpangi tiba di tempat konferensi. Tarifnya Rp. 26.000,-
Aku
segera melaporkan diri kepada penanggung jawab Sidang Komisi B bahwa aku sudah
siap untuk memaparkan makalahku sesuai jadwal KIBD III yang sudah ditetapkan.
Aku sengaja segera melaporkan diri pada kesempatan pertama karena khawatir
panitia mengira aku tidak bisa datang untuk menghadiri KIBD III.
Sebelum
acara dimulai aku sempat berbincang-bincang dengan salah seorang peserta dari
Semarang yang duduk di sampingku. Kami saling berkenalan, dan ia terkejut
ketika kusebut namaku. Menurutnya, ia sudah cukup lama mengenal namaku, karena
banyak mahasiswanya yang mengutip isi buku-bukuku. Hehehe… masa
iya.
Pukul 08.00
WIB
Sesuai
jadwal aku tampil membacakan makalahku di hadapan peserta Sidang Komisi B
bertempat di Auditorium. Hari ini aku tampil berdua dengan Bapak Dr. Yayat
Sudaryat, M. Hum (Universitas Pendidikan Indonesia Bandung) dengan moderator
Saudara Achmad Zulfikar dari Ujungpandang.
Ada
3 komentar yang ditujukan kepadaku. Semua komentar dimaksud kutanggapi sebisaku.
Setelah pemaparan makalah berakhir kami menerima tanda mata dari Kepala Taman
Budaya Jawa Tengah Bapak Pardi Suratno.
Tanda
mata yang diberikan berupa buku berjudul
Gusti Ora Sare 90 Mutiara Nilai Kearifan Budaya Jawa yang ditulisnya
bersama dengan Heniy Astiyanto (Penerbit Adiwacana Yogyakarta, 2009). Pada
kesempatan yang sama aku juga memberikan bukuku berjudul Menguak Mitos
Pamali Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, Banjarmasin, 2013).
Kegiatan
selanjutnya adalah menyimak pemaparan makalah Dr. Aone van Engelenhoven
(Universitas Leiden Belanda).
Pukul 12.00
Wib
KIBD
III ditutup dengan resmi oleh Dekan FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara. Setelah
istirahat, makan siang, dan sholat, kami para peserta KIBD dari luar diajak
berkunjung ke Keraton Surakarta. Di sini kami diterima langsung oleh Ibu Dra.
GKR Wandansari, M. Pd. Ketika kegiatan ramah tamah tengah berlangsung hujan
turun dengan lebatnya mengguyur kota Solo (Pukul 14.00 Wib).
Pukul 14.05
Panitia
KIBD III mengantarkan kami ke berbagai tempat sesuai dengan pilihan jalan
pulang masing-masing, yakni ke Bandara Adi Soemarmo, Stasiun Kereta Api Solo
Balapan, dan ke Terminal Bis Tirtonadi. Aku dan seorang peserta KIBD III dari
Jakarta memilih diantarkan ke terminal bis Tirtonadi. Di sini kami mencari bis
jurusan Malang, namun batal, karena bis baru berangkat pukul 21.00 Wib. Kami
akhirnya memilih bis tujuan Surabaya.
Sesuai
dengan rekomendasi teman seperjalananku kami menunggu kedatangan bis Patas Eka.
Menurut temanku, sesuai dengan statusnya sebagai bis Patas maka bis ini hanya
menurun-naikkan penumpang di terminal resmi saja, sementara bis lain
diperbolehkan menurun-naikkan penumpang di sembarang tempat. Di mana karena
itulah maka bis Patas Eka lebih cepat tiba di terminal Purabaya, dibandingkan
dengan bis lainnya. Kami membiarkan begitu saja bis-bis lainnya berlalu
meninggalkan stasiun Tirtonadi.
Hujan
turun dengan lebatnya ketika bis Patas Eka tiba di stasiun Tirtonadi. Aku dan
temanku naik bis tanpa mempedulikan rambuit yang basah kuyup karena diguyur
hujan lebat. Celanaku basah kuyup karena berjalan di atas genangan air yang
merendam kawasan stasiun.
Malang,
ternyata bis ini sudah penuh sesak dengan penumpang. Mereka adalah para
penumpang yang naik di terminal bis Yogyakarta. Hanya ada satu bangku kosong.
Aku mengalah dan turun dari bis, temanku ikut naik bis itu ke terminal
Purabaya.
Aku
berharap masih ada bis Patas Eka berikutnya yang singgah menjemput penumpang di
terminal Tirtonadi ini. Namun bis yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang
ke terminal. Hari sudah semakin sore dan hujan masih turun dengan lebatnya.
Suasana di terminal menjadi kurang kondusif tampak diliputi gelap di mana-mana.
Pukul 16.00
Wib
Aku
akhirnya terpaksa naik bis non AC. Tarifnya Rp. 36.000,- Benar, ternyata bis
jenis ini acapkali berhenti untuk menurun-naikan penumpang di sembarang tempat.
Masih dibawah guyuran hujan lebat bis yang kutumpangi melaju meninggalkan kota
demi kota yang ada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur: Karanganyar, Masaran,
Sragen, Mantingan, Sidowayah (Jawa Tengah), Ngawi, Geneng, Glodok, Maospati,
Madiun, Balerejo, Caruban, Saradan, Bagor, Nganjuk, Baron, Kertosono, Perak,
Jombang, Mojo Agung, Mojokerto, Krian, dan Surabaya (Jawa Timur).
Penumpang
yang duduk di sampingku silih berganti, ada yang lama, dan ada yang cuma
sejenak. Suatu ketika aku tertidur lelap, dan begitu terbangun, orang yang
duduk di sampingku sudah berganti. Kesempatan duduk berdampingan dengan banyak
orang di sepanjang perjalanan dari Solo ke Surabaya ini sering kumanfaatkan
untuk mengobrol saling bertukar informasi. Tidak jarang informasi berharga
berkaitan dengan perjalananku kali ini kuperoleh dengan cara ini.
Pukul 23.30
Wib
Bis yang kutumpangi tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih, Surabaya. Ternyata
kota Surabaya juga diguyur hujan lebat. Begitu turun dari bis aku langsung
menuju ke toilet terdekat yang ada di kawasan terminal. Setelah itu aku masuk
ke sebuah warung makanan/minuman. Aku memesan teh hangat dan soto ayam. Ketika
membayar harga makanan/minuman yang kupesan aku bertanya kepada pemilik warung:
“Pukul
23.45 Wib ini apakah masih ada bis tujuan ke Malang, Pak?”
“Enggak
ada, pak. Nanti pukul 04.00 Wib baru ada.”
“Bapak
mau ke Malang?”
“Iya.”
“Bapak
bisa duduk-duduk di ruang tunggu di sana aman, Pak. Ada banyak orang bermalam
di sana dan ada petugas piket yang menjadi penjaga keamanannya.”
“Apakah
di sekitar terminal ini ada hotel bertarif murah, Pak.”
“Ada”
“Di
mana, Pak?”
“Tunggu,
kupanggilkan tukang ojek temanku supaya aman. Ia tahu di mana lokasi hotel
murah di sekitar terminal ini.”
Tidak
lama kemudian datanglah tukang ojek dimaksud. Aku lalu diantarkan ke hotel
bertarif murah. Ongkos ojeknya Rp. 15.000,- dan tarif hotelnya Rp. 90.000,-.
Aku
mendapat kamar nomor 22 yang berada di lantai bawah. Fasilitas yang tersedia
cuma kipas angin. Toilet terletak di luar kamar, untunglah jaraknya tak jauh dari
kamarku. Hawa panas kota Surabaya membuatku harus memencet tombol on kipas
angin sepanjang malam. Aku tidak tahu persis kapan aku mulai tertidur.
SURABAYA-MALANG
MINGGU, 8 DESEMBER 2013
Pukul 07.00
Wib
Aku
cheqout dari hotel, ternyata hotel yang kuinapi malam tadi terletak di kawasan
pertokoan Ramayana, Bungurasih, Surabaya. Dari papan nama yang terpampang di
depannya kuketahui pengelolaan hotel ini berada di bawah managemen sebuah CV
dengan nama yang khas Jawa Timur. Setelah mengambil KTP di resepsionis aku ke
luar hotel dan berjalan kaki menuju ke terminal Purabaya.
Kulihat
banyak tukang ojek mangkal di pinggir jalan yang kulalui pagi itu. Aneh bin
ajaib tak seorangpun yang tergiur untuk menawarkan jasanya kepadaku. Hal yang
sama juga dilakukan oleh para sopir angkutan kota. Sungguh, aku tak habis
pikir, ada apa ya dengan mereka? Padahal tukang ojek dan sopir angkutan kota
biasanya berebutan menawarkan jasanya begitu ada orang lewat di depan mereka.
Mereka sama agresifnya dengan para calo di terminal-terminal. Aku terus
berjalan dan akhirnya tiba di terminal Purabaya.
Sebelum
naik ke bis tujuan Malang aku lebih dulu sarapan pagi di warung makanan/minuman
yang kusinggahi tadi malam. Ternyata penjaganya sudah berganti. Kali ini yang
berjaga adalah 2 orang wanita, bisa jadi anak dan isterinya. Aku memesan teh
panas dan soto ayam. Setelah perut berisi aku melangkah menuju ke terminal
khusus bagi bis tujuan Malang. Aku sengaja memilih bis Patas AC. Tarifnya Rp.
20.000,-
Pukul 08.00
Wib
Bis
yang kutumpangi meninggalkan terminal Purabaya. Penumpang yang dibawanya cukup
banyak. Di bawah cuaca yang cerah, bis melaju menjejaki jarak yang ada dari
kota ke kota, yakni: Waru, Gedangan, Sidoarjo, Tanggul Angin, Porong, Japanan,
Apolo, Pandaan, Suwayuwu, Sukorejo, Purwosari, Lawang, Singosari, Lawang, dan
Malang.
Pukul 10.00
Wib
Begitu
tiba di Malang aku dihampiri oleh seorang tukang ojek yang belakangan kukenal
bernama Nawawi. Tukang ojek inilah yang kemudian membawaku ke suatu jalan
tempat di mana mesin yang kucari dijual orang. Mesin yang kucari adalah mesin
peraut bilah bambu. Aku membelinya untuk adikku Awaluddin yang berprofesi
sebagai pembuat sangkar burung di kota Banjarbaru. Harga disepakati Rp.
4.000.000,- dan ongkos kirim Rp. 1.000.000,-.
Pada
kesempatan itu aku diajari oleh pembuatnya bagaimana caranya mengoperasikan
mesin tersebut. Hari itu aku membayar porsekot pemesanan sebesar Rp.
1.000.000,- dan berjanji akan mengirimkan sisa pembayaran lainnya sepulangnya
dari Surabaya. Pihak pembuat juga berjanji akan mengirimkan mesin pesananku itu
2 minggu setelah uang pembayaran kukirimkan via rekening koran pihaknya.
Pukul 12.00
Wib
Setelah
transaksi selesai dilakukan, aku kembali naik sepeda motor yang diojeki oleh
Nawawi menunju ke terminal bis Malang. Sebelum berpisah aku dan Nawawi saling
bertukar nomor telepon. Selanjutnya aku naik ke bis non Patas AC. Tarifnya Rp.
10.000,- Pukul 12.00 Wib aku tiba kembali di terminal Purabaya. Sebelum bis
masuk ke terminal aku melihat di sepanjang Letjen Soetoyo S banyak berdiri
hotel bertarif murah yang merangkap sebagai kantor agen travel. Melihat dari
tampilan luarnya hotel-hotel yang ada di kawasan ini sepertinya lebih baik
dibandingkan dengan hotel yang kuinapi malam tadi.
Begitu
tiba di terminal Purabaya aku segera masuk ke bis Damri yang khusus melayani
para penumpang yang ingin ke Bandar Udara Juanda. Tarifnya Rp. 20.000,-.Begitu
tiba di bandar udara aku segera menuju ke loket pembelian tiket di Maskapai
Penerbangan Lion Air, ternyata tiket untuk penerbangan hari ini sudah habis
terjual, dan tiket untuk penerbangan besok hari harganya Rp. 960.000,- Harga
ini terlalu mahal bagiku, maklumlah, 4 kali lipat dari harga biasanya. Aku
batal membeli tiket dan merencanakan untuk pulang dengan menumpang kapal laut saja.
Pukul 13.30
Wib
Aku
kembali lagi ke terminal Purabaya dengan menumpang bus Damri dengan tarif Rp.
20.000,- Sesampainya di terminal Purabaya aku mencari bis tujuan Pelabuhan
Tanjung Perak untuk mengecek jadwal kapal laut Surabaya-Banjarmasin. Ternyata
bis yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Aku akhirnya naik bis yang
melewati Pasar Turi dengan pertimbangan di kawasan ini ada sejumlah travel yang
bisa kumintai informasinya terntang jadwal kapal laut. Tarifnya Rp. 5.000,-.
Namun,
begitu ke luar dari jalan tol, bis yang kutumpangi melaju di jalan raya yang
sangat kukenali, karena pada tahun 1990-an aku sering berkunjung ke daerah ini.
Aku memutuskan untuk turun dari bis di daerah Dupak Perahu. Ternyata travel
milik pengusaha Banjar sudah tidak beroperasi lagi (menurut informasi
tetangganya pengusaha yang bersangkutan sudah lama meninggal dunia). Aku terus
berjalan memasuki jalan Dupak Perahu itu dengan harapan bisa tembus ke jalan
Demak. Ternyata jarak yang harus kutempuh dengan jalan kaki itu cukup jauh
juga, sekitar 2 kilometer.
Begitu
tiba di Jalan Demak aku menghampiri tukang becak dan bertanya apakah di sekitar
tempat itu ada penginapan murah. Aku kemudian diantarkan oleh tukang becak ke
sebuah hotel yang ada di Jalan Demak. Tarif becaknya lumayan mahal Rp. 15.000,-
untuk jarak sekitar setengah kilometer. Syukurlah masih ada kamar kosong,
tarifnya Rp. 55.000,-. Aku segera masuk ke kamar Nomor 212.
Sesuai
dengan tarifnya, fasilitas hotel ini sangat minim. Bangunannya kulihat sudah
sangat tua, berdinding dan berlantai semen. Tempat tidurnya berupa ranjang
kayu, bertilam busa, berbantal busa, dan bersprei kain dril. Kamar mandi dan wc
ada di dalam kamar masing-masing. "Dengan tarif semurah ini maka tak ada
masalah jika harus berada di Surabaya selama 1 minggu," gumamku.
Inilah
masa-masa paling sulit yang kualami selama melakukan perjalanan kali ini.
Betapa tidak? Aku terancam harus membeli tiket pesawat terbang dengan harga
selangit. Empat kali lipat dari harga normal, yang biasanya cuma berharga Rp.
230.000,--Rp. 250.000,-. Aku lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh
yang sudah bau naga karena seharian penuh beraktifitas di alam terbuka dengan
hawa yang relative panas.
Pukul 14.10
Wib
Setelah
mandi, tubuhku terasa segar, setelah berpakaian rapi aku menuju ke bagian
resepsionis hotel untuk mencari informasi. Di sana aku bertanya kepada karyawan
hotel apakah di sekitar Jalan Demak ini ada travel agen yang melayani pembelian
tiket kapal laut. Jawabannya positif: ada. Ternyata tempat itu cukup jauh dan
hujan gerimis turun membasahi jalan yang kulalui. Aku memanggil tukang becak
yang mangkal di pinggir jalan.
“Tolong,
antarkan aku ke agen penjualan tiket kapal laut,” ujarku.
Percaya
atau tidak, tukang becak tersebut membawaku ke halaman sebuah hotel.
“Di
mana tempat penjualan tiketnya?” tanyaku heran.
“Di
atas, Pak. Di dalam hotel,” jawab tukang becak itu meyakinkan sekali.
Aku
lalu menapaki tangga menuju ke lobi hotel. Di depan pintu masuk aku disambut
oleh karyawan hotel.
“Apa
yang bisa saya bantu, Pak?”
“Saya
mau beli tiket kapal laut, Pak.”
“Penjual
tiketnya bukan di sini, Pak. Tapi, di sebelah bangunan hotel ini,” ujarnya
sambil menunjuk ke suatu arah.
“Terima
kasih, atas informasinya, Pak.”
Aku
kembali naik becak dan ternyata jalan menuju tempat penjualan tiket itu adalah
jalan satu arah dan tukang becak itu nekat melawan arus lalu lintas. Aku merasa
ngeri dan minta turun untuk kemudian berjalan kaki saja. Kebetulan lokasi
penjualan tiket itu sudah dekat, aku segera masuk ke rumah toko, dan di sana
aku mendapatkan informasi bahwa kapal laut tujuan Banjarmasin akan berlayar
Selasa, 10 Desember 2013, Pukul 23.00 Wib. Harga tiketnya Rp. 260.000,-
“Kalau
tiket pesawat terbang Lion Air untuk penerbangan besok hari berapa, Pak?”
Melalui
computer yang ada di depan matanya, karyawan travel agen tersebut berselancar
mencari informasi tentang harga tiket pesawat terbang yang dijualnya untuk
keberangkatan esok hari.
“Besok,
harganya mahal, Pak.”
“Berapa?”
“Rp.
660.000,-“
“Besoknya
lagi?”
“Rp.
440.000,-“
“Besoknya
lagi?”
“Rp.
550.000,-“
Akhirnya
kuputuskan untuk membeli tiket pesawat terbang Lion Air seharga Rp. 660.000,-
harga ini Rp. 300.000,- lebih murah dibandingkan dengan harga tiket yang
ditawarkan oleh petugas penjualan tiket di Juanda siang tadi.
Hatiku
sangat lega, tiket sudah ada di tangan. Ini berarti aku tidak jadi naik kapal
laut selama 18 jam mengarungi Laut Jawa. Alhamdulillah. Aku kembali naik becak
yang sama. Tidak ada pilihan lain aku mengikut saja ketika tukang becak itu
mengayuh becaknya melawan arus lalu lintas. Akhirnya aku tiba kembali di hotel
tempatku menginap. Tukang becak itu meminta bayaran Rp. 20.000,-. Tanpa banyak
cincong kubayar sesuai permintaannya. Aku masuk kamar hotel dan menelepon
isteriku bahwa aku akan pulang besok sore dengan pesawat Lion Air penerbangan
terakhir pada pukul 17.50 Wib.
Hujan
kembali turun dengan lebatnya, aku berdiam diri saja di kamar. Sehabis Sholat
Magrib perutku terasa lapar. Tidak ada pilihan lain aku harus ke luar kamar
hotel untuk mencari warung makanan/minumkan. Ternyata tak jauh dari hotel ada
warung yang menawarkan menu makanan laut (seafood). Aku memesan nasi
berlauk-pauk dua ekor ikan lele goreng, dan untuk minumnya aku memesan teh es.
Harganya Rp. 13.000,-
Setelah
perut kenyang aku kembali ke kamar. Sebelum mata mengantuk aku melakukan
pengaturan ulang atas barang bawaanku. Seteleh selesai aku merebahkan diri, dan
akhirnya tertidur pulas sampai pukul 05.00 Wib.
SURABAYA-BANJARMASIN
SELASA, 10 DESEMBER 2013
Pukul 07.00
Wib
Aku
sudah chekout dari hotel dan langsung menyeberangi jalan. Sesuai dengan
informasi yang kuperoleh kemarin, bis kota jurusan terminal Purabaya, akan
melintas di jalan ini.
Sudah
1 jam aku menunggu, namun bis yang ditunggu tak kunjung datang. Tiba-tiba ada
seorang wanita setengah baya mendekatiku.
“Mau
ke mana, Pak?” sapanya dengan nada bertanya.
“Terminal
Purabaya,” jawabku pendek.
“Sama
kalau begitu, Pak.”
Hening
sejenak tak ada yang bicara di antara kami.
“Setelah
ke Bungurasih, tujuan bapak selanjutnya ke mana?”
“Ke
Juanda.”
“Mau
terbang ke mana, Pak.”
“Banjarmasin.”
“O,
bapak orang Banjar rupanya.”
“Iya.”
“Sudah
punya tiket, Pak.”
“Sudah.”
“Seandainya
belum beli, bisa saya bantu, Pak. Saya kerja di bagian pengiriman barang di
Juanda, Pak.”
“O,
begitu.”
“Tiket
pesawat terbang Lion Air tujuan Banjarmasin untuk penerbangan hari ini sangat
mahal. Biasanya harganya cuma Rp. 230.000,- paling mahal Rp. 250.000,-. Kemarin
kubeli dengan harga Rp. 660.000,- bahkan di loket Lion Air di Juanda harganya
mencapai Rp. 960.000,-“
“Wah,
mahal sekali. Sayang sekali kita baru bertemu hari ini, Pak. Jika
sebelum-sebelumnya kita sudah bertemu, pasti bapak akan kubantu. Aku sering
membantu membokingkan tiket untuk para pejabat dari Palangka Raya dan
Manokwari. Pembayaran dilakukan belakangan setelah tiket digunakan dan mereka
bertemu saya di Juanda.”
“Wow,
super sekali.”
Benar
saja, tiba-tiba handphone berdering dan dari percakapan yang berhasil kucuri
dengar telepon itu berasal dari seseorang yang minta bantuan membokingkan tiket
maskapai penerbangan tertentu berjumlah 12 lembar.
“Bapak
tadi malam tidur di hotel seberang itu, ya?”
“Iya.”
“Berapa
tarifnya, Pak?”
“Murah,
cuma Rp. 55.000,- per malam.”
“Di
sebelah sana ada hotel dengan harga sama tapi fasilitasnya lebih lengkap, Pak.”
“O,
begitu.”
Aku
kemudian bercerita bagaimana kemarin aku sempat kelimpungan mencari hotel
bertarif murah di kota Surabaya ini. Hingga akhirnya naik becak dan diantarkan oleh
tukang becak ke hotel di seberang itu.
“Nanti
di terminal Purabaya bapak jangan naik taksi menuju ke Juanda. Di sana sekarang
ini sudah ada bis Damri yang khusus melayani para penumpang yang ingin ke
Juanda. Tarifnya Cuma Rp. 20.000,-“
“Ya,
aku sudah dua kali menaikinya kemarin,” ujarku.
Pembicaraan
terhenti karena bis yang ditunggu sudah tampak melaju ke arah kami berdiri.
Wanita itu memberi isyarat agar bis berhenti. Begitu bis berhenti aku dan
wanita itu segera naik ke bis. Ternyata bis sudah penuh sesak dengan penumpang.
Aku dan wanita itu terpaksa berdiri. Tarifnya cuma Rp. 5.000,-
Untunglah,
tidak berapa lama kemudian ada penumpang yang turun. Aku dan wanita itu segera
duduk di bangku kosong yang ditinggalkan oleh penumpang yang sudah tiba di
tempat tujuannya. Setelah itu bis melaju di jalan tol dan tidak ada lagi
aktifitas penurunan dan penaikan penumpang.
Tidak
lama kemudian, bis yang kutumpangi tiba di terminal Purabaya. Aku dan wanita
itu segera turun. Ia mengaku off bekerja hari ini karena ada langganan tiketnya
yang minta bertemu di salah satu café yang ada di terminal Purabaya.
Pukul 08.30
Wib
Aku
segera naik ke bis Damri tujuan ke Juanda. Petugas pemungut uang tiket menolak
ketika kusodorkan uang Rp. 50.000,-.
“Pakai
uang pas, Pak?”
“Tak
ada kataku.”
Petugas
pemungut uang tiket itu berlalu tidak jadi memungut uang tiketku.
Tidak
lama kemudian, bis bergerak meninggalkan terminal. Menjelang tiba di Juanda,
supir bis menghentikan bis yang disopirinya. Ternyata ia kembali memunguti uang
tiket yang belum dibayar penumpangnya, termasuk uang tiketku.
Pukul 09.00
Wib
Aku sudah tiba di Juanda. Jadwal keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang
kutumpangi masih lama, masih sekitar 9 jam lagi. Waktu selama itu mestinya
dapat kugunakan untuk jalan-jalan keliling kota Surabaya. Namun, hal itu tidak
kulakukan karena situasinya sangat genting. Jika sampai terlambat tiba di
Juanda karena terlalu asyik jalan-jalan, atau karena ada masalah dalam hal
kelancaran transportasi yang kutumpangi maka hal itu pastilah akan membuatku
mengalami kesulitan besar.
Ternyata
banyak orang yang menempuh jalan seperti yang kulakukan, lebih memilih berada
di Juanda berlama-lama daripada menggunakan waktu yang ada untuk jalan-jalan
atau melakukan kegiatan lainnya di kota Surabaya. Di Juanda aku duduk
berdekatan dengan pasangan suami istri yang ingin berangkat ke Balikpapan pukul
18.30 Wib nanti. Selain itu aku juga duduk dengan pasangan suami istri lainnya
yang juga mengambil sikap seperti yang kami lakukan.
Aku
merasakan perutku minta diisi, maklumlah ketika berangkat tadi aku sengaja
tidak singgah di warung untuk makan/minum. Aku memang tidak terbiasa makan di
waktu pagi. Aku biasanya baru makan setelah pukul 10.00 Wib. Tak jauh dari
tempatku duduk ada Restoran Bangkalan. Aku masuk ke sana dan memesan soto ayam
dan teh hangat. Tarifnya Rp. 40.000,-.
Supaya
tidak bosan duduk berlama-lama di satu tempat aku kemudian berjalan-jalan dari
ujung ke ujung. Mulai dari terminal dalam negeri hingga terminal luar negeri.
Selebihnya kuisi waktuku dengan bolak-balik ke toilet. Kadang kala aku terlibat
pembicaraan dengan orang-orang yang berada di Juanda. Banyak orang dari
berbagai profesi dan asal daerah telah terlibat pembicaraan denganku. Banyak
hal yang kami bahas sekadar untuk mengisi waktu luang selama berada di kawasan
Juanda yang hawanya panas ini.
Pukul 14.00
Wib
Perutku
kembali minta diisi dan aku masuk lagi ke Restoran Bangkalan. Kali ini aku
memesan nasi rawon dan secangkir teh es. Tarifnya Rp. 45.000,- Setelah itu aku
membeli es krim seharga Rp. 12.500,- per cangkir. Eh, ternyata es krimnya enak
sekali. Aku kembali membeli secangkir lagi dengan harga tetap Rp. 12.500,-.
Selama di Juanda aku juga membeli SKH Kompas Jakarta dan SKH Media Indonesia
Jakarta. Keduanya memuat berita tentang tabrakan maut antara truk tangki BBM
versus kereta api di lintasan kereta api yang ada di kawasan Bintaro.
Pukul
15.00 Wib
Aku
masuk ke ruang pencetakan ticketing dan boardingpas. Tapi, aku tak bisa
melakukan pencetakan tiket dan boardingpass. “Belum waktunya, Pak!” kata orang
yang bertugas di sana.
Sekitar
pukul 16.00 Wib tiba-tiba masuk satu rombongan besar ke ruang pencetakan
ticketing dan boardingpass. Laki, wanita, tua, muda, langsung antri di depan
loket. Tidak ada pemberitahuan pada papan elektronik di atas loket itu. Namun,
petugas yang ada di sana aktif melayani mereka. Dari pembicaraan yang kucuri
dengar kuketahui bahwa mereka berasal dari Kalsel, sama denganku.
Waw,
jika aku harus ikut antri bersama mereka maka pastilah akan memakan waktu lama.
Hampir bisa dikata loket ketika itu dikuasai secara dominan oleh mereka. Aku
maju ke loket yang ada di sebelahnya, kebetulan di situ juga ada
petugasnya.
"Maaf,
Pak. Apakah tiket dan boardingpass untuk penerbangan pesawat Lion Air berkode
JT 212 bisa didaftarkan dan dicetak di loket ini, Pak?".
"Ya!,"
jawab petugas.
Aku
lalu menyodorkan surat keterangan pembelian tiket yang diterbitkan oleh agen
perjalanan PT. Sinar Mulya Anugerah, Jalan Demak 449 Surabaya. Petugas itu
kemudian mencetak tiket dan boardingpass atas namaku.
“Rombongan
di sebelah, dari mana, pak. Kok banyak sekali?"
“Mereka
rombongan ziarah Walisongo dari Kalsel. Jumlahnya 95 orang. Mereka semua
akan terbang satu pesawat dengan Bapak.”
“O,
pantas.”
Setelah
itu aku langsung naik ke Gate 3 sesuai petunjuk yang tertera pada tiket dan
boardingpassku. Ternyata di ruang tunggu ini sudah penuh sesak dengan calon
penumpang yang akan berangkat ke berbagai pelosok tanah air: Jakarta, Tarakan,
Bali, Mataram dan lain-lain. Ruang tunggu ini tak pernah sepi, begitu satu
rombongan diberangkatkan masuk lagi rombongan lain. Begitulah seterusnya.
Semakin
lama semakin banyak orang yang masuk ke ruang tunggu ini. Lebih-lebih
ketika Rombongan Ziarah Walisongo dari Kalsel selesai menjalani proses
administrasi di loket ticketing dan boardingpass. Mereka semua sudah barang
tentu juga masuk ke ruang tunggu ini.
Pukul 18.00
Wib
Pesawat terbang Lion Air dengan kode penerbangan JT 0224 tinggal landas menuju
Bandar Udara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Satu jam kemudian pesawat mendarat
dengan mulusnya. Alhamdulillah.
Aku tidak perlu ikut antri berlama-lama mengambil tas di bagian bagasi karena barang bawaanku telah lengkap kumuat di dalam sebuah tas yang dapat kubawa dengan mudah ke dalam pesawat dengan cara ditenteng saja. Tidak seperti seorang menteri yang mentang-mentang berstatus sebagai pejabat negara tanpa malu-malu nekat membawa 6 buah kopernya masuk ke dalam pesawat terbang yang ditumpanginya.
Tak jauh dari pintu ke luar bangunan induk bandara kulihat orang-orang berjubel antri memesan taksi bandara yang bakal membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak ikut memesan taksi bandara, tarif taksi bandara ke rumahku di bilangan Jalan Mayjen Soetoyo S relatif mahal, yakni Rp. 150.000,- (harga dua bulan yang lalu).
Aku langsung berjalan kaki melenggang ke luar areal bandara, beberapa orang supir taksi menawarkan jasanya dengan tarif lebih murah yakni Rp. 110.000,-. Patut diduga harga ini masih bisa ditawar. Aku sendiri memilih jasa ojek untuk mengantarkanku ke lokasi bundaran jalan masuk ke bandara. Tarifnya Rp. 15.000,- sekitar lima menit aku sudah tiba di tempat tujuan.
Aku kemudian berdiri menunggu taksi colt lewat di jalan raya Jenderal Ahmad Yani Kilometer 24, Landasan Ulin, Banjarbaru. Cukup lama aku berdiri di tepi jalan raya ini, lebih 1 jam baru ada taksi colt yang melintas di depanku. Aku memberi isyarat dengan tanganku, supir taksi colt menghentikan mobilnya, dan aku
segera naik ke dalamnya. Kulihat cuma ada 2 penumpang yang dibawa taksi colt ini. Untunglah, tidak lama
kemudian, tepatnya di kawasan Liang Anggang masuk lagi enam orang penumpang. Dari percakapan yang kudengar antara pak sopir dan salah seorang penumpang yang duduk di depan, kuketahui bahwa taksi colt ini berasal dari Kandangan.Tak jauh dari pintu ke luar bangunan induk bandara kulihat orang-orang berjubel antri memesan taksi bandara yang bakal membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak ikut memesan taksi bandara, tarif taksi bandara ke rumahku di bilangan Jalan Mayjen Soetoyo S relatif mahal, yakni Rp. 150.000,- (harga dua bulan yang lalu).
Aku langsung berjalan kaki melenggang ke luar areal bandara, beberapa orang supir taksi menawarkan jasanya dengan tarif lebih murah yakni Rp. 110.000,-. Patut diduga harga ini masih bisa ditawar. Aku sendiri memilih jasa ojek untuk mengantarkanku ke lokasi bundaran jalan masuk ke bandara. Tarifnya Rp. 15.000,- sekitar lima menit aku sudah tiba di tempat tujuan.
Sekitar
30 menit kemudian taksi colt yang kutumpangi tiba di Terminal Kilometer Enam. Ternyata
taksi colt tidak masuk ke dalam terminal. Para penumpang diturunkan di dekat
kerumunan tukang ojek yang mangkal di sana. Pak sopir menarik tarif sebesar Rp. 10.000,- untuk jasanya membawaku dari kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, ke Terminal Kilometer 6 Banjarmasin.
Semua penumpang ternyata memilih naik ojek. Tidak ada pilihan lain, karena tidak ada taksi kota yang mangkal di sini malam itu. Aku sendiri naik ojek ke RSUD Ulin Banjarmasin. Tarifnya Rp. 20.000,-. Aku sengaja minta singgah di RSUD Ulin karena ingin singgah di sebuah warung yang ada di pinggir jalan raya di dekat jalan ke luar RSUD Ulin Banjarmasin. Ternyata warung itu tidak buka malam ini.
Semua penumpang ternyata memilih naik ojek. Tidak ada pilihan lain, karena tidak ada taksi kota yang mangkal di sini malam itu. Aku sendiri naik ojek ke RSUD Ulin Banjarmasin. Tarifnya Rp. 20.000,-. Aku sengaja minta singgah di RSUD Ulin karena ingin singgah di sebuah warung yang ada di pinggir jalan raya di dekat jalan ke luar RSUD Ulin Banjarmasin. Ternyata warung itu tidak buka malam ini.
Aku
kemudian melenggang menuju ke jalan raya untuk mencari ojek kembali. Ketika
itulah di belakangku kudengar ada seseorang menawarkan jasanya.
“Ojek,
Pak?”
"Ya!"
sahutku spontan.
Akhirnya
disepakati tarifnya Rp. 20.000,- dan sesuai dengan kesepakatan aku diantarkan
olehnya sampai ke depan pagar rumahku. Begitulah, aku akhirnya tiba dengan
selamat di rumah dan bertemu kembali dengan anak dan istriku setelah berpisah
selama 4 hari 4 malam. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt semata.
Banjarmasin, 11 Desember 2013.