Sabtu, 19 Januari 2013

CATATAN PERJALANAN KE ANJIR



Jum'at, 7 Desember 2012,
PUKUL 13.30 Wite

Aku melintas di Jalan Trans Kalimantan. Selepas Jembatan Barito, yakni di kilometer 18-26 Anjir jalannya sulit sekali dilewati dengan sepeda motor. Lebih-oleh oleh sepeda motorku yang sudah butut ini.

Badan jalan rupanya baru saja diuruk dengan pasir batu untuk tujuan peningkatan kualitasnya. Badan jalan tersebut berubah menjadi jalan berlumpur tebal karena disiram hujan pagi tadi. Sepeda motorku terseok-seok dibuatnya, untunglah istriku tidak ikut memboceng seperti biasanya. Aku harus ekstra hati-hati jangan sampai selip hingga menabrak atau sebaliknya ditabrak pengendara lain. Mobil truk besar yang melintas dalam jumlah banyak di jalan yang sama sudah barang tentu juga harus ekstra diwaspadai. Tersenggol sedikit bisa berabe, nyawa taruahnnya.

Inilah pengorbanan generasi masa kini untuk generasi masa depan. Biarlah kami sekarang ini merasakan kesulitan ini demi kenyamanan generasi kalian. Insya Allah jika proyek peningkatan kualitas jalan raya ini sudah rampung maka jalur transportasi trans kalimantan ini akan menjadi jalan mulus yang enak dilewati oleh semua jenis moda angkutan di masa depan. Mungkin, 2-3 tahun ke depan, jalan trans ini akan mulus sama sekali. Kulihat, di kiri kanan jalan sudah mulai dipasang box kulpert yang membuat parit-parit tampak rapi dan indah dipandang mata.

PUKUL 16.30 Wite

Setelah menyelesaikan tugasku di Anjir Kilometer 26 aku pulang dan melewati jalan yang sama. Kulihat di kiri kanan jalan banyak dijual buah-buahan lokal seperti rambutan, jeruk, kuini, kasturi, dan binjai, cuma karena situasi dan kondisinya yang seperti aku terpaksa mengurungkan niat untuk membelinya. Aku mengalami kesulitan untuk sekadar memarkir sepeda motorku, tepi kiri dan kanan semuanya berlumpur tebal. Salah-salah aku bisa tergelincir dibuatnya. Begitulah, aku tancap gas langsung ke Banjarmasin, tanpa singgah sama sekali.

CATATAN MENGIKUTI ARUH SASTRA KALSEL IX DI BANJARMASIN


    Sabtu, 13 Oktober 2012
Pukul 08.00 aku sudah pergi meninggalkan rumah dengan mengendari sepeda motorku. Untunglah, tadi malam aku menghadiri acara pembukaan Aruh sastra Kalsel IX Banjarmasin 2012 (selanjutnya ditulis ASKS) di Balai Kota. Jika tidak maka aku pasti tidak tahu bahwa tempat diskusi panel dipindahkan ke Auditorium Muller Hotel Palm Banjarmasin. 

Tadinya aku memprediksi membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari rumah ke hotel Palm, ternyata jarak sekitar 3 kilometer itu dapat kutempuh dengan waktu cuma 10 menit. Setelah memarkir sepeda motor aku langsung masuk ke lobbi hotel Palm. Ternyata di sana sudah banyak sastrawan Kalsel. Suatu hal yang wajar karena mereka memang diinapkan di sana oleh panitia pelaksana ASKS. Kami saling bersalam-salaman dan saling bertukar gurauan hangat untuk mencairkan suasana. 

Panitia kemudian mempersilahkan kami mengambil dua judul buku yang diterbitkan berkenaan dengan ASKS, yakni Sungai Kenangan (Antologi Puisi Bersama Penyair Kalsel) dan Kisah tak Sudah tanah Banjar (Antologi Puisi dan Cerpen Bersama Pemenang Lomba ASKS. Tak berselang lama kami naik ke lantai 3 Hotel Palm. Aku memilih naik ke lantai 3 melalui tangga biasa tidak naik lift. Hitung-hitung membakar kalori karena gula darahku akhir-akhir ini sedang naik drastis.
Hari ini aku membawa sekardus buku-buku karanganku sendiri, antologi puisi Kota yang Bersiul karangan Ariffin Noor Hasby, dan antologi cerpen dan novel karangan Mahmud Jauhari Ali. Selain itu aku juga membawa satu tas yang isinya juga sarat dengan buku-buku karanganku. Buku yang di dalam kardus khusus untuk dijual dan buku di dalam tas khusus untuk dibarter dengan buku-buku karangan sastrawan Kalsel yang lainnya.
Ada 2 judul buku sastra yang kuterima dari kawan-kawan sastrawan Kalsel pada hari ini, yakni Maniti Arus Nyanyian Kuala dari Pak Syarkian Noor Hadie (Marabahan) dan Haru Biru Kotabaru dari Bu Helwatin Najwa). Buku-buku yang ada di dalam kardus kemudian kutitipkan kepada panitia untuk dibantu dijualkan kepada para peserta ASKS. 

Sambil menunggu acara peluncuran buku sastra dan diskusi panel session satu dimulai, aku kembali berbincang-bincang dengan para sastrawan Kalsel yang lama tak berjumpa, antara lain Pak Syarmidin, Maskuni, AT Bacco, Muhammad Radi, Aliman Syahrani, Aan Maulana Bandara, Lilies Martadiana, Mahfuz Amin, dan A. Kusairi. Selain itu aku juga berkenalan dengan Echi Subki, dan Sybram Mulsi.
Pukul 09.30 acara peluncuran buku sastra dimulai, ada 4 buku sastra yang diluncurkan yakni kumpulan cerpen Pos Satpam Misterius (Nauka), novel Tegaknya Majid Kami (Tajuddin Noor Ganie), 4 novel karangan Hamami Adaby dan novel Lelaki Duka (Eche Subki). Pada kesempatan ini para pengarang diminta membeberkan proses kreatif penulis karya sastranya atau proses penerbitan buku sastranya. Bertindak selaku pembawa acara HE Benyamine. 

Pukul 10.30, diskusi panel session 1 dimulai, menampilkan panelis, yakni Tajuddin Noor Ganie, Jamal T. Suryanata, Ali Syamsuddin Arsi, Abdurrahman El Husaini, dan Helwatin Najwa. Bertindak selaku moderator HE Benyamine. Tanggapan atas paparan para penelis ini antara lain disampaikan oleh sainul Hermawan, Fahmi wahid, Abubakar, Rzai Abkar, Tarman Effendi Tarsyad, AT Bacco, Johansyah, Dedy, Khairiyatozzahro, Harun Al Rasyid, Syamsiar Seman, dan Endang Sulistryowati.

Pukul 13.00 diskusi panel sesion 1 berakhir. Setelah minum dan makan snack, kami diundang turun ke lantai dasar Hotel Palm untuk makan siang bersama. Setelah istirahat untuk sholat Johor, dan melakukan kegiatan lainnya yang bersifat pribadi.

Pukul 14.00, para peserta ASKS kembali berkumpul di Aula Muller. Sementara menunggu kehadiran para peserta yang lainnya acara diisi dengan baca puisi. Pada kesempatan ini aku membacakan puisiku berjudul Sampai Kini Kami Tak Tahu Siapa Kalian Semua Hai Manusia Durjana (Puisi Hujatan Buat Pelaku Rusuh Jum'at Kelabu Banjarmasin, 23 Mei 1997). Puisi ini pernah kubacakan dalam acara Pian Tahulah Episode Jum'at Kelabu di layar kaca Duta TV Banjarmasin beberapa waktu yang lalu.

Pukul 14.30 dikusi panel session ke dua dimulai. tampil sebagai panelis Aliman Syahrani, Syibram Mulsi, Tabri Lipani, AT Bacco, sastrawan Balangan, Andi Jamaluddin AR AK, Syarkian Noor Hadi, dan Fakhrurraji. Bertindak selaku moderator Abdurrahman Al Hakim (ARA). Para penanggap tidak kalah bersemangatnya dibandingkan dengan session pertama. Pada kesempatan session ke dua ini Wakil Walikota Banjarmasin berkesempatan hadir dan berkenan memberikan pandangan-pandangannya. Diskusi panel session ke dua ini berlangsung hingga melampaui waktu normal yang dialokasikan.

Sebelum Wakil Walikota Banjarmasin meninggalkan Aula Muller aku menyempatkan diri untuk menyerahkan novelku berjudul Tegaknya Masjid Kami. Novel itu kuserahkan kepada beliau karena ceritanya berkaitan erat dengan pembangunan Masjid Sultan Suriansyah.

Pukul 16.30, aku pulang kembali ke rumah setelah hampir seharian penuh beraktifitas di Hotel Palm. Alhamdulillah, buku-buku yang kubawa ternyata laris manis. Tidak sia-sia aku datang ke ASKS membawa buku-buku karanganku dan buku-buku titipan kawan-kawanku yang lainnya (Arifin Noor Hasby dan Mahmud Jauhari Ali). Menjual buku-buku dalam acara-acara sastra seperti ini tidak semata-mata bermotif bisnis, tetapi juga dimaksudkan sebagai bagian dari strategi kebudayaan untuk lebih mendekatkan buku-buku sastra kepada masyarakat pembacanya.


CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK



CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK

SELASA, 18 DESEMBER 2012
Pukul 01.00 Wite
Malam ini hujan turun dengan derasnya sehingga kota Banjarmasin basah kuyup dibuatnya. Malam ini aku sengaja tidak masuk kerja seperti biasanya. Lampu di ruang kerjaku sudah kumatikan sejak pukul 22.00 Wite, dan pintunya juga kututup rapat. Mataku sebenarnya belum mengantuk, namun aku sengaja masuk ke kamar tidur lebih awal. Di kamar tidur itu aku berusaha sebisanya memejamkan mata agar cepat tertidur. Sengaja kuoleskan minyak angin di pelipisku supaya mataku menjadi mengantuk karenanya. Sementara itu, hujan turun semakin lebat membuat hawa menjadi terasa begitu dingin. Sayup-sayup kudengar bunyi kicauan burung maling nun entah sedang bertengger di dahan pohon yang mana. Bisa jadi di salah satu dahan pohon mangga yang tumbuh subur di halaman depan rumahku. Konon hal itu merupakan pertanda ada maling tengah berkeliaran di sekitar rumah tetanggaku (bukan di sekitar rumahku, lho). Hehehe….  
Pada malam-malam sebelumnya aku selalu masuk kerja, lampu di ruang kerjaku akan terus menyala sampai pukul 04.00 Wite bahkan tidak jarang lampu itu tetap menyala sampai pak muadzin mengumandangkan azan subuh di surau dekat rumahku. Sejatinya, aku tetap betah bekerja di ruang kerjaku itu sampai mataku benar-benar mengantuk. Mataku tak mudah mengantuk karena aku terbiasa tidur siang. Jadi penyebabnya bukan karena aku seorang  pengidap penyakit imsonia (susah tidur) yang konon sangat berbahaya itu. Di ruang kerjaku itu aku mengerjakan pekerjaanku sebagai seorang penulis. Begitulah yang kulakukan dari malam ke malam selama ini. Aku baru libur bekerja malam jika sedang sakit, sedang berada di luar kota, atau jika ada agenda bepergian ke suatu tempat pada pukul 06.00 Wite keesokan harinya.
Kebiasaan tidur larut malam ini, sudah barang tentu membuatku sulit untuk bangun tidur di pagi hari. Jika kunilai tidak begitu penting maka aku sering menolak menerima tawaran bekerja di luar kantor yang jadwal kerjanya dimulai sebelum pukul 07.00 Wite. Aku akan mendapat masalah secara fisik dan psikis jika memaksakan diri bangun tidur sementara mata masih dalam keadaan mengantuk berat, kepalaku akan pusing tujuh keliling dalam tempo yang relatif lama, yakni setengah hari atau bahkan seharian penuh. Malam ini aku memang berkepentingan untuk tidur lebih awal, agar tidak bangun kesiangan pada keesokan harinya. Jika sampai kesiangan maka gagallah rencanaku untuk berangkat ke Pontianak.



Pukul 06.00 Wite
Aku bangun tidur dengan suasana hati riang gembira. Tidur yang cukup membuatku bisa bangun tidur dengan wajar dalam arti tidak dipaksakan. Kepalaku terasa ringan, tidak berat, dan tidak terasa sakit. Aku langsung menuju ke kamar mandi, menyikat gigi, dan kemudian mandi. Lalu mengambil air wudu, dan sholat subuh. Sementara itu istriku memanaskan nasi dan menggoreng ikan patin di dapur. Setelah semuanya siap aku pun segera menyantap hidangan yang disajikan istriku. Tidak biasanya aku makan sepagi ini, biasanya aku makan pada pukul 09.00 wite di rumah atau di warung makan di dekat kantorku.

Pukul 07.00 Wite
Aku berangkat meninggalkan rumah menuju ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Aku mengendarai sepeda motor milik iparku yang duduk membonceng di belakangku. Begitu tiba di kawasan Jalan Ahmad Yani kilometer 4 Banjarmasin, aku menghentikan sepeda motor, turun, dan menyerahkan sepeda motor itu kepada adik iparku. Setelah berbasa-basi adik iparku langsung tancap gas melarikan sepeda motornya kembali ke rumah karena anakku sedang menunggu untuk diantarkan ke sekolah.
Tidak lama kemudian kulihat ada taksi colt warna jingga melintas di depanku. Aku menyetopnya dengan isyarat tangan.
“Ke mana, Pak?” tanya pak sopir.
“Syamsuddin Noor,” jawabku.
Taksi colt warna jingga adalah taksi colt dengan trayek Banjarmasin-Martapura pulang pergi. Sejatinya taksi colt warna jingga ini harus mangkal di Terminal Kilometer 6 Banjarmasin. Namun, pada pagi hari seperti ini banyak sopir taksi yang berspekulasi mencari penumpang di luar terminal, sasarannya adalah para PNS atau para karyawan swasta yang bekerja di Gambut, Simpang Empat Liang Anggang, Landasan Ulin, Guntung Payung, Loktabat, Banjarbaru, dan Martapura. Jumlah mereka sangat banyak, mungkin mencapai ratusan orang.
“Kiri, Pak,” teriakku ketika taksi colt yang kutumpangi tiba di bundaran Landasan Ulin.
Taksi colt berhenti, aku membuka dompetku. Aku menyodorkan uang   Rp. 50.000,- dan menerima kembaliannya Rp. 41.000,-. Terus terang aku agak khawatir jika pak sopir tak punya uang kembaliannya. Biasanya sopir taksi colt akan menyalahkan penumpangnya sebagai orang yang ceroboh karena tidak menyediakan uang pas atau uang dengan nominal yang tidak terlalu besar        (Rp. 10.000,-  Rp. 15.000,- atau Rp. 20.000,-) untuk membayar ongkos taksi colt. Suatu hari aku pernah menyaksikan insiden sengit di sebuat taksi colt, pak sopir dengan kasar melemparkan uang Rp. 50.000,- atau Rp. 100.000,-  ke arah penumpangnya, lalu tancap gas sambil memaki-maki.

Tidak lama berselang seorang tukang ojek datang mendekatiku.
“Bandara,Pak?” tanyanya.
“Ya, berapa?”
“Sepuluh ribu.”
Aku segera naik ke jok sepeda motor tukang ojek itu. Tukang ojek itu lalu memacu sepeda motornya, dan ia nekad mengambil jalan pintas dengan cara melawan arus di Bundaran Landasan Ulin itu. Aku merasa was-was dan berdoa semoga tidak terjadi kecelakaan lalu lintas. Kurang dari sepuluh menit aku sudah tiba di Bandar Udara Syamsudin Noor.   

Pukul 08.00 Wite
Aku segera menuju ke loket Lion Air. Segera kusodorkan kertas yang berisi catatan informasi kode boking tiket pesawat terbangyang dikirimkan via pesan singkat oleh sebuah perusahaan travel di kota Pontianak. Tidak lama kemudian aku menerima cetakan pesanan tiket dari petugas loket itu. Waktu chek in masih lama, masih sekitar 2 jam lagi. Aku kemudian mencari tempat duduk di lobbi, lalu menyulut, dan menyedot rokok kretek merk tertentu. Setiap kali ada mobil berhenti menurunkan penumpangnya, aku menyapukan pandang mataku ke arah sana. Aku sedang menunggu kedatangan Saudara Wajidi Amberi dan Saudara Zulfa Jamali. Keduanya adalah teman satu tim yang akan berangkat bersamaku ke Pontianak untuk mempresentasikan hasil penelitian kami  berjudul Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Sejatinya tim kami berjumlah 6 orang, yakni Pak Syarifuddin R, Ibu Hendraswati, dan saudara Agus Wibowo. Pak Syarifuddin R sendiri sekarang ini sedang berada di Surabaya untuk mengikuti rapat organisasi kesenian, beliau akan berangkat ke Pontianak pada hari ini juga via Surabaya dan Jakarta. Sementara itu Bu Hendraswati (Koordinator Penelitian) dan Agus Wibowo (Sekretaris) sudah berada di Pontianak karena beliau berdua memang tinggal di kota khatulistiwa ini.

Pukul 10.00 Wite 
Para penumpang Lion Air tujuan Jakarta diminta untuk melakukan chek in. Aku mengirim pesan singkat ke handphone Wajidi Amberi. Ternyata ia sudah berada di kawasan Bandara Syamsuddin Noor dan sudah melakukan chek in juga, namun ia sekarang ini sedang makan pagi di sebuah rumah makan di kawasan bandara. Aku segera chek in dan langsung naik ke ruang tunggu di lantai dua. Aku, Wajidi Amberi, dan Zulfa Jamali bertemu di bis yang mengantarkan kami ke tempat parkir pesawat terbang milik Lion Air. Tidak lama kemudian pesawat terbang Lion Air yang kami tumpangi tinggal landas menuju ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta.


Pukul 12.00 Wib
            Pesawat terbang terbang Lion Air yang kami tumpangi tinggal landas menuju ke Bandara Soepadio Pontianak. Waktu tempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke tempat tujuan kami sekitar 100 menit. Begitu tiba di Pontianak, kami dijemput oleh Bu Hendraswati. Sebelum diantar ke hotel kami terlebih dahulu ditraktir makan di sebuah rumah makan. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah makan ini aku selalu menyapukan pandangan mataku ke arah bangunan yang berdiri di kiri dan kanan kota Pontianak. Inilah kali yang pertama aku melihat keadaan kota Pontianak secara langsung. Masih banyak kota-kota besar lainnya di Pulau Kalimantan ini yang belum pernah kukunjungi, yakni Palangka Raya (Kalteng), Kucing (Sabah), Sarawak, Labuhan, dan Bandar Seri Begawan.

Pukul 17.00 Wib
  Aku dan kawan-kawan didaftarkan oleh Bu Hendraswati kepada Panitia Penyelenggara  Seminar Hasil Penelitian Perlindungan Ekspresi Keragaman Budaya yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Pontianak yang stand by di lobbi Hotel Orchard, Jalan Gajahmada Pontianak. Aku mendapat kamar di Lantai IV nomor 416 (sekamar dengan Bapak Syarifuddin R yang datang tak lama kemudian), sedangkan Wajidi Amberi dan Zulfa Jamali mendapat kamar di lantai yang sama, yakni di kamar nomor 402. Kami segera masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri untuk mengikuti acara pembukaan yang dijadwalkan akan dilakukan pada pukul 20.00 Wib.

Pukul 20.00 Wib
Aku dan para peserta seminar yang berdatangan dari empat provinsi yang ada di pulau Kalimantan menghadiri acara pembukaan yang dilangsungkan di Lanatai IX Hotel Orchard. Seminar dibuka oleh Direktur Nilai Tradisional dan Relegi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Acara ini ditutup dengan acara ramah tamah dan makan bersama. Sekitar pukul 22.00 wib kami masuk ke kamar hotel untuk beristirahat.   

RABU, 19 DESEMBER 2012
Pukul 08.00-10.00 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) Drs. Poltak Johansen, M.Si dan tim berjudul Sistem Kepemimpinan Tradisional pada Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, dan (2) Fatul Futuh Tamam, S.S dan tim berjudul Sistem Kepercayaan Masyarakat Suku Dayak Lawangan di Provinsi Kalimantan Tengah.


Pukul 10.15-12.15 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) Drs. Juniar Purba, M.Si dan tim berjudul Adat dan Tradisi Dayak Kayan di Miau Baru Kecamatan Kongbeng Kaliumantan Timur, dan (2) DR. Yusriadi dan tim berjudul Sistem Pengetahuan Masyarakat Dayak Dayak di Provinsi Kalimantan Timur.
Pukul 13.00-15.00 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) M. Nasir, S. Sos, M. Si dan tim berjudul Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial Provinsi Kalimantan Tengah, dan (2) DR. Samsul Hidayat dan tim berjudul Peran Organisasi pada Masyarakat Tionghoa di Singkawang Provinsi Kalimantan Barat.

Pukul 15.15-16.15 Wib
Aku dan kawan-kawan mendapat giliran memaparkan hasil penelitian tim kami berjudul Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Setelah itu kami mengikuti pemaparan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dra. Lisyawati Nurcahyani, M. Si dan tim (H. Adjim Arijadi, Dr. H. Zukipli Musaba, dan Asep Saepuddin)   

Pukul 17.00-17.30 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti acara penutupan Seminar Hasil Perlindungan Ekspresi Keragaman Budaya bertempat di Lantai II Hotel Orchard Gadjahmada Pontianak.

Pukul 19.00-22.30 Wib
Aku dan kawan-kawan dibawa berkeliling kota Pontianak oleh Bu Hendraswati. Salah satu keistimewaan kota Pontianak di malam hari adalah warung kopi yang penuh sesak dengan pengunjung. Di beberapa ruas jalan kulihat banyak dijual durian local dengan harga yang relatif murah, yakni Rp. 10.000,- per biji dengan kualitas terjamin. Sekadar perbandingan harga durian di kota Banjarmasin jauh lebih mahal, yakni Rp. 25.000,- itupun belum tentu berkualitas.
Setelah cukup lama berkeliling kota Pontianak kami singgah ke rumah Bu Hendraswati. Di sana kami dijamu makan durian. Setelah itu kami diantar kembali ke hotel. Aku dan Pak Syarifuddin R tidak langsung masuk ke hotel, kami berjalan-jalan dahulu menyusuri Jalan Gajahmada untuk membeli oleh-oleh yang banyak dijual di tepi kiri dan kanan jalan ini. Oleh-oleh yang banyak ditawarkan adalah aneka jenis kerupuk ikan, kerupuk talas, ikan laut kering, dendeng kijang, kue dan minuman (juice) yang dibuat dari tanaman lidah buaya.


KAMIS, 20 DESEMBER 2012
Pukul 08.00-10.00 Wib
Setelah makan pagi, aku dan kawan-kawan kembali diajak berkeliling kota Pontianak oleh Bu Hendraswati. Hari ini kami diajak berkunjung ke Tugu Khatulistiwa.  Sepulang dari sana singgah di toko cenderamata, dan toko oleh-oleh khas Pontianak. Setelah itu singgah makan bakso, dan selanjutnya diantar ke Bandara Soepadio untuk chek in.

Pukul 10.55 Wib
Pesawat terbang Lion Air yang kami tupangi tinggal landas menuju ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta. Sekitar 100 menit kemudian kami sudah tiba di tempat tujuan.

Pukul 17.30 Wib
Pesawat terbang Lion Air yang bakal kami tumpangi terlambat datang dari Semarang. Kami sempat mendapat snack akibat delay yang begitu lama.
Idealnya, pesawat terbang sudah menunggu di bandara sebelum calon penumpangnya tiba di bandara. Layaknya seperti taksi colt di Terminal Kilometer 6 Banjarmasin. Pesawat terbang dengan rute Banjarmasin ke Jakarta atau sebaliknya adalah pesawat terbang yang sama yang parkir menunggu penumpang di gate yang sama setiap hari. Para penumpang tinggal mendatangi gate yang sudah ditentukan sesuai dengan rutenya masing-masing.
Jadwal keberangkatan pesawat terbang tepat waktu, meskipun penumpangnya cuma sepuluh orang, pesawat terbang tetap tinggal landas sesuai jadwal. Sanksi terhadap maskapai penerbangan yang melanggar jadwal tinggal landas ini sangat berat, yakni denda 10 kali lipat harga tiket, izin perusahaan dicabut, atau kurungan badan bagi pemiliknya.
Hehehe, karena keasyikan berimajinasi, maka tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, dan kami para calon penumpang pesawat terbang Lion Air dipersilakan untuk masuk ke pesawat terbang.

Pukul 18.30 Wite
Kami tiba kembali di kota Banjarmasin. Malam itu aku ikut menumpang mobil milik Saudara Wajid Amberi dan diantar sampai ke mulut Gang Sepakat Banjarmasin yang terletak di kawasan Jalan Mayjen Soetoyo S, Banjarmasin. Dari mulut gang aku jalan kaki menuju ke rumah. Tidak lama berselang ada tetanggaku lewat mengendarai sepeda motor, aku lalu ikut memboceng sampai ke rumah. Ternyata istri, iparku, dan anakku masih belum tidur, mereka asyik menonton televise sambil menunggu kedatanganku. “Tiga hari tanpa papi, rumah terasa sepi sekali,” ujar anakku (sudah diterjemahkan secara bebas, sejatinya anakku mengucapkannya dalam bahasa Banjar). Setelah itu kami bersama-sama memakan lempok durian yang kubeli sebagai oleh-oleh dari kota Pontianak.



CATATAN PERJALANAN KE MARTAPURA



CATATAN PERJALANAN KE MARTAPURA,
MINGGU, 25 NOVEMBER 2012

Pukul 06.30
Aku dan istriku sudah siap meninggalkan rumah menuju ke kota Martapura. Aku sengaja berangkat lebih pagi karena khawatir terjebak macet di Jalan Ahmad Yani kilometer 4 tepatnya di simpang ke Jalan Gatot Soebroto Banjarmasin. Sebagian Jalan Ahmad Yani di kawasan itu sekarang ini ditutup dengan seng karena di tempat itu sedang dibangun jalan layang pertama di kota Banjarmasin. Kemacetan di tempat ini bisa sepanjang 2 kilometer atau bahkan lebih sehingga sangat membosankan bagi pengguna jalan yang terpaksa melewatinya pada jam-jam sibuk.
Pengalaman ini aku alami pada Selasa, 20 November 2012, ketika itu aku bermaksud mendatangi rumah seorang tukang jahit yang tinggal di kawasan Jalan Gatot Soebroto. Bosan dengan kemacetan itu aku mencoba memintas di Jalan Manggis dengan harapan menemukan jalan pintas yang tembus ke Jalan Gatot Soebroto. Aku dan istriku masuk ke salah satu jalan pintas yang ada di Jalan Manggis yang kupikir tembus ke Jalan Gatot Soebroto, ternyata jalan yang kulalui itu tembus ke Jalan Veteran juga. Jika tahu begini lebih baik jalan terus saja melewati jalan Manggis tanpa belok kiri belok kanan di jalan-jalan sempit di perkampungan. Ternyata Jalan Veteran ketika itu juga macet total. Ketika lampu hijau aku tak bisa belok kiri karena para pengendara mobil dan sepeda motor langsung tancap gas begitu lampu hijau menyala. Demi keamanan aku memilih jalan terus arah ke Sungai Lulut dan berbelok ke kiri ketika arus lalu lintas sedikit agak longgar dan kembali ke perempatan Jalan gatot Soebroto x Veteran, lalu belok kiri ke tempat tujuan.
Begitu tiba di Pasar Koran, Jalan Hasanuddin HM, kulihat kios koran langgananku masih tutup, aku langsung tancap gas tanpa singgah di sana sebagaimana biasanya. Ternyata arus lalu lintas di lokasi pembangunan jalan layang masih lengang aku bisa melaju dengan kencang tanpa diadang kemacetan sama sekali. Kemacetan baru kualami di kilometer 5 karena di sini ada SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Kulihat bentangan rantai besi di jalan masuk ke SPBU itu masih belum dibuka, namun, antrian truk dan mobil lainnya sudah terentang panjang di sisi kiri Jalan Ahmad Yani tersebut. Separo badan jalan tersita untuk menampung antrian tersebut sehingga tidak bisa digunakan untuk berlalu lintas sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi di mana-mana di setiap lokasi SPBU yang ada di Kalsel.
Tidak seperti biasanya lalu lintas di kawasan Pasar Kertak Hanyar yang biasanya juga macet, pagi itu masih lengang sehingga dapat kulalui dengan mudah. Biasanya, jalan raya di kawasan ini akan macet pada setiap hari Minggu, karena ada pasar pagi mingguan di sini. Ternyata lokasi pasar pagi dimaksud dipindah ke sebelah kanan, sehingga kemacetan lalu lintas otomatis berpindah ke sana pula.
Ketika berangkat tadi, aku dan istriku belum makan. Menjelang tiba di rumah makan langgananku istriku mengajak singgah karena warung makan dimaksud kebetulan sudah buka. Aku bilang jangan singgah di sini, seminggu yang lalu aku makan sendiri (maksudnya: tanpa didampingi istri sebagaimana biasanya) di sini dengan lauk ikan gabus panggang dan sayur asam. Setelah selesai makan aku harus bayar Rp. 25.000,-. Menurutku tarif ini tidak wajar karena di tempat lain cuma Rp. 15.000,- atau paling mahal Rp. 18.000,-. Aku dan istriku sering makan di warung karena itulah sedikit banyak bisa membandingkan tarif makan di warung-warung.
Kemacetan kembali kualami ketika sepeda motor yang kukendarai melintas di kilometer 14, 16, dan 21 di tiga tempat ini ada SPBU. Meskipun tidak ada SPBU, pagi ini aku mengalami kemacetan di kilometer 30 dekat jalan masuk ke Guntung Magis, kemacetan terjadi karena ada perbaikan jalan. Kemacetan kembali kualami ketika memasuki kawasan pusat kota Banjarbaru, yakni di kilometer 34-35. Sesuai rencana, aku tidak langsung ke Martapura, aku singgah dulu di rumah adikku di kota Banjarbaru. Sebelum belok kiri menuju ke rumah adikku, aku belok kanan ke RSUD Banjarbaru, tak jauh dari sana banyak orang menjual nasi bungkus. Pagi itu aku membeli 2 bungkus dengan harga Rp. 7.000,- per bungkus dengan lauk ikan gabus sambal merah.
Ternyata, adikku sudah pergi, sepagi ini pintu rumah sudah dikunci dari luar. Untunglah, aku membawa kunci duplikat sehingga aku bisa masuk ke rumah adikku itu. Suatu kali aku pernah lupa membawa kunci dupilkat dan adikku sudah pergi entah ke mana. Aku ketika itu terpaksa numpang buang hajat di rumah tetangga. Situasinya sama seperti pagi ini, aku juga sedang kebelet pipis. Untunglah pagi ini aku tidak lupa membawa kunci duplikat sehingga dapat dengan mudah memenuhi tuntutan arus bawah tersebut. Hehehe, cusssss.
Setelah buang air kecil aku dan istriku makan nasi bungkus bersama. Kulihat jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 08.00 Wite. Aku lalu berganti pakaian. Hari ini aku dan istriku diundang oleh Raja Banjar untuk menghadiri acara puncak Milad 508 Kesultanan Banjar di Mahligai Sultan Adam Martapura. Pakaian yang kukenakan untuk menghadiri undangan itu adalah pakaian khusus yang beberapa hari yang lalu kuterima dari pihak panitia. Baju dan celana warna kuning, sarung sasirangan, dan kopiah hitam berstrip putih. Pakaian yang kukenakan ini berkaitan dengan statusku sebagai calon penerima Anugrah Astraprana Bidang Sastra.




Pukul 08.30  
Aku dan istriku berangkat ke tempat upacara. Dalam perjalanan aku sempat beberapa kali menghentikan laju kendaraanku, singgah sejenak karena  sepagi itu aku beberapa kali berpapasan dengan kawan lamaku di kota Banjarbaru. Mereka pada umumnya bertanya mau ke mana sehingga mengenakan pakaian yang membuatku tampil begitu gagah begini? Pertanyaan itu kujawab dengan sumringah bahwa aku mau menghadiri acara Milad 508 Kesultanan Banjar di Martapura. Begitu mengetahui bahwa aku bakal mendapat gelar Astraprana kawan lamaku itu kembali menyalamiku dan mengucapkan selamat.
Setengah jam kemudian aku tiba di tempat acara kulihat orang-orang sudah memenuhi kawasan Mahligai Sultan Sulaiman. Mula-mula aku bertemu dengan Saudara Mukhlis Maman (Julak Larau) dari Taman Budaya Kalsel. Sama denganku ia juga akan menerima Anugrah Astaprana. Oleh panitia aku kemudian di bawa ke suatu ruangan, di sana kami dipersilakan mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Di tempat ini aku bertemu dengan banyak teman sastrawan, seniman, dan budayawan. Selain itu juga bertemu dengan teman-teman rombongan dari Malaysia yang beberapa orang di antarnya sudah kukenal pada saat aku mkengikuti perjalanan muhibah seni budaya ke Malaysia tempo hari.

Pukul 09.30
Aku dipersilakan oleh panitia untuk memasuki ruang utama upacara untuk mengikuti acara gladi resik penerimaan Anugrah Astraprana. Tidak lama kemudian Raja Banjar Ir. H. Khairul Saleh beserta permaisuri tiba di tempat upacara diiringi dengan tetabuhan musik khas Banjar. Beliau dikawal oleh beberapa orang pengawal kehormatan yang membawa tombak dan diiringi oleh para petinggi Kesultanan Banjar lainnya.
Acara dibuka dengan tarian Baksa Kambang, lalu pengajian ayat suci Al Qur’an, pembacaan surah Yassin dan shalawat kalimah, pembacaan sejarah Kesultanan Banjar oleh Ketua Dewan Mahkota (Pangeran Rusdi Effendi), pembacaan surat keputusan Raja Banjar tentang pemberian Anugrah Kesultanan Banjar berkenaan dengan Milad 508, dilanjutkan dengan penyematan anugerah dimaksud kepada para penerimanya yang dilakukan langsung oleh Raja Banjar, doa, dan akhirnya ditutup dengan persembahan tari Banjar kembali.    
Hari ini aku menerima Anugrah Astaprana Bidang Sastra. Anugrah dimaksud disematkan langsung oleh Raja Banjar, kemudian ditapung tawai oleh DMA Adjim Arijadi didampingi oleh DMA Syarifuddin R (DMA adalah singkatan dari Datuk  Mangku Adat, gelar ini diangerahkan kepada keduanya oleh Sultan Muda Banjar dua tahun yang lalu). Selain menerima piagam yang ditanda-tangani langsung oleh Raja Banjar, hari itu aku juga menerima amplop coklat berisi uang. Terima kasih Raja Banjar. Alhamdulillah. 
Pada kesempatan itu tempatku duduk bersila berdekatan dengan Mukhlis Maman, A Sya’rani, Saderi, Bapak Kasim Abdurahman, dan Bapak Prof. Dr. Helius Syamsuddin dari Universitas Pendidikan Bandung (jika aku tidak salah beliau menerima anugrah Datu Cendekia Hikmadireja). Aku sengaja menyapa beliau untuk membuka pembicaraan bahwa aku sering sekali mengutip isi buku beliau berjudul Pegustian dan Temenggung (Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti). Ternyata dalam perbincangan lebih lanjut beliau mengatakan juga sering membaca tulisan-tulisanku di berbagai koran dan blog. Pada kesempatan itu aku juga sempat berbincang-bincang dengan seorang penerima anugerah dari Malaysia, ternyata beliau juga ikut hadir menyaksikan pertunjukan seni madihin dan mamanda yang dipersembahkan oleh Dewan Kesenian Kalsel dalam lawatan ke Malaysia tempo hari.  

Pukul 13.00 Wite
            Acara berakhir, kami dipersilakan menyantap makan minum di ruangan sebelah. Selepas ini aku dan istriku meninggalkan tempat acara. Kami singgah lagi ke rumah adikku di Banjarbaru, karena kulihat mendung begitu tebal di langit. Daripada kehujanan di jalan lebih baik singgah dulu ke rumah adikku. Ternyata adikku sudah kembali ke rumah. Tidak lama kemudian hujan pun turun dengan lebatnya.
Aku mengisi waktu dengan membaca koran-koran terbitan Banjarmasin yang kuperoleh di lokasi acara tadi. Hari itu setiap hadirin diberi banyak koran gratis, termasuk diriku. Hujan masih turun dengan lebatnya ketika aku dan istriku memutuskan untuk pulang kembali ke Banjarmasin. Kami nekad menerobos hujan, karena khawatir pulang kemalaman. Ketika itu jarum jam di tanganku menunjukkan angka puluk 17.00 Wite. Pukul 19.00 aku tiba kembali di rumahku di Banjarmasin. Sebelumnya kami singgah dulu di sebuah rumah makan di kawasan kilometer 5 Banjarmasin.

Pukul 20.00   
            Setelah sholat Magrib aku membuka internet, mengontrol pesan-pesan yang masuk ke facebookku. Cukup banyak yang pesan masuk yang mengapresiasi tulisanku berjudul Kampung Halaman Orang Banjar. Apresiasi pada umumnya dating dari teman-teman facebook di grup Bubuhan/Kulaan Banjar Sa-Dunia. Di sini memang banyak tergabung orang Banjar yang tinggal di banua, Riau, Jambi, Sumut, dan Malaysia. Sedapat mungkin pesan-pesan itu kujawab, minimal dengan ucapan terima kasih. 
Ketika itu anakku sedang menonton siaran langsung pertandingan sepak bola Piala AFF antara Indonesia dan Laos. Sekali waktu aku mencuri pandang dan dengar jalannya pertandingan sepak bola itu. Jika gol aku baru melihat siaran itu, jika tidak maka aku asyik dengan kegiatanku berfacebookria.
Mungkin, karena kecapekan, aku kemudian dilanda kantuk berat. Tidak ada pilihan akupun masuk ke kamar dan akhirnya tertidur dengan pulasnya. Pukul 03.00 Wite aku terbangun. Aku membuka facebook dan google untuk memantau berita-berita online di berbagai surat kabar terbitan Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Selain itu juga mengirim status terbaru di facebook, yakni tentang air bertuah magis dalam sistem kepercayaan tradisional etnis Banjar di kalsel.