Sabtu, 19 Januari 2013

CATATAN PERJALANAN KE KAMPUNG BANUA HALAT



·         Senin, 5 November 2012
Pukul 06.30 Wita aku sudah menghidupkan sepeda motor bututku. Tidak biasanya aku meninggalkan rumah sepagi ini. Biasanya aku baru ke luar rumah paling cepat pukul 07.45. Tidak jarang aku bahkan baru keluar rumah pukul 10.00 Wita. Biasanya sesampainya di kantor aku langsung ditegur atasan langsung.
"Pak Tajuddin, mengapa terlambat?" "Anu, bu. Macet." "Waw, pasti macet total, ya? Hingga Pak Tajuddin baru tiba kantor pukul 10.00." Pertanyaan yang tak perlu dijawab. Aku segera minta diri untuk mengisi daftar hadir di Ruang Tata Usaha.
Sesuai dengan rencana, sepeda motorku kupacu menuju ke Hotel Palm Banjarmasin. Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari rumahku menuju ke tempat yang dituju. Begitu tiba, aku langsung memarkir sepeda motorku. Setelah itu aku segera masuk ke lobby Hotel Palm. Mencari tempat duduk yang nyaman, kemudian mengirim sms kepada temanku yang sedang menginap di salah satu kamar di hotel ini. Via sms aku memberitahu bahwa aku sudah ada di lobbi hotel. Tidak lama sms jawaban masuk ke hand phoneku.
Lima menit kemudian, temanku sudah tiba di lobbi. Ia datang bersama suaminya. Aku diajaknya makan pagi di restoran hotel. Setelah makan, masuklah sms ke handphone miliknya, ternyata dari Pak Sopir yang mengabarkan bahwa mobil sudah siap di pelataran parkir di depan hotel. Kami segera menuju ke mobil carteran itu. Ternyata sopirnya seorang anak muda. Aku duduk di depan di samping Pak Sopir, sementara temanku dan suaminya duduk di belakang.
Sepanjang jalan kami saling berbincang-bincang tentang berbagai hal. Ternyata temanku ini sudah sering datang ke Kalsel untuk melakukan berbagai topik penelitian. Sudah banyak hasil penelitiannya yang dibukukan. Termasuk tentang pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Banjarbaru. Ia meminta aku menuliskan kata pengantar untuk bukunya yang terbaru ini.
Jalan Ahmad Yani di kilometer 15-18 tampak dipenuhi kabut asap. Sopir menjalankan mobilnya dengan hati-hati, karena selain berkabut, ruas jalan yang kami lalui juga relatif sempit, karena sebagian diantaranya dijadikan sebagai tempat antri solar oleh para sopir truk.
Sekarang ini semua ruas jalan di dekat SPBU di Kalsel selalu macet karena sebagian ruas jalan itu dijadikan tempat antri solar oleh para sopir mobil truk. Antriannya selalu panjang, tidak kurang dari 2 kilometer bahkan bisa sampai 5 kilometer. Dulu, ruas jalan antara Binuang hingga ke kota Banjarbaru selalu macet karena jalan negara ini ikut digunakan oleh truk-truk batubara. Sekarang truk batubara tidak lagi melintas di jalan negara, namun kemacetan tetap terjadi di sekitar SPBU. Jadi, dulu dan sekarang sama saja, sama-sama macet, hehehe.
Sesampainya di Binuang kami singgah di sebuah rumah makan. Aku sendiri masih kenyang karena baru saja makan di restoran hotel. Pada kesempatan itu aku memesan teh panas dan memakan nasi pundut. Kulihat teman-teman yang lain juga memilih menu yang sama.
Pukul 10.00 Wita kami tiba di Rantau, kami langsung ke Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Tapin yang terletak di Jalan Pembangunan Rantau. Di sana kami diterima dengan ramah oleh Pak Ibnu Mas'ud. Kami meminjam dua judul manuskrip milik Disbudparpora, yakni Daur Hidup dan Ayun Maulud. Kami cukup lama berbincang-bincang menggali informasi lisan tentang topik penelitian kami di Kecamatan Tapin Utara.
SELASA, 6 November 2012
Pukul 08.00 Wita kami sudah meninggalkan hotel menuju ke Desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari kota Rantau. Kami diantar oleh seorang tukang ojek sebagai pemandu jalan. Hari itu kami menyewa dua buah sepeda motor. Aku dibonceng oleh tukang ojek, dan temanku dibonceng oleh suaminya.
Kami langsung menuju ke Masjid Al Mukarrahman. Masjid ini dibangun dengan arsitektur mirip Masjid Demak. Usianya sudah tiga ratus tahun dan sudah dipugar berulang kali. Namun arsitekturnya tetap dipertahankan. Setiap 12 Rabiul Awal masjid ini menjadi pusat kegiatan Upacara Baayun Mulud yang diikuti oleh banyak peserta dari dalam dan luar negeri. Tahun lalu diikuti oleh sekitar 85 peserta. Tahun depan mungkin 100 orang.
Di sana kami disambut oleh Pak Rahmadi (62 tahun) dan Pak H. Musairi Noor (80 tahun). Beliau berdua adalah orang yang mendapat giliran tugas menerima kedatangan para tamu dan peziarah. Selama 2 jam berbincang-bincang, tidak kurang dari 10 orang peziarah datang ke Masjid Al Mukarrahman, mereka datang membawa penganan berupa kue-kue. Setelah didoakan oleh Pak Rahmadi kue-kue dimaksud dihidangkan untuk dimakan bersama.
Aku sempat mengamati dengan seksama sebuah tiang guru masjid yang tampak basah karena mengeluarkan cairan sejenis minyak. Aku mengoleskan tanganku ke tiang berminyak itu, kemudian mengoleskannya ke penyakit kulit yang ada di tumit kiriku. "Insya Allah sembuh," ujar Pak Rahmadi. "Amin," ujarku.
Pada kesempatan itu aku juga bernazar akan datang mengunjungi masjid ini jika nanti dkaruniai beberapa orang anak yang saleh. Amin.
Tidak jauh dari tiang guru berminyak tadi, tepatnya di samping mimbar khotbah kulihat ada rak kayu yang sarat dengan botol-botol plastik berisi air kemasan, dan bungkusan garam yang juga tak kalah banyaknya. Pada botol dan bungkusan garam itu kulihat ada tulisan nama pemiliknya. Menurut Pak Rahmadi, botol-botol berisi air dan bungkusan-bungkusan berisi garam itu sengaja ditempatkan di rak itu selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan oleh para pemiliknya.
Konon, semakin lama dibiarkan di sana akan semakin ampuh khasiatnya, karena itu berarti semakin banyak berkah yang diserapnya. Berkah dimaksud datang dari ucapan para khatib yang berkhotbah pada setiap hari Jum'at di masjid tersebut. Selain itu, berkah juga datang dari ucapan para pezikir, pembaca surah Yaasin dan ayat-ayat suci Al Qur'an yang dibacakan oleh banyak orang dari hari ke hari di masjid itu.
Setelah dirasa cukup waktunya, para pemilik botol berisi air dan bungkusan berisi garam itu akan datang mengambilnya langsung ke Masjid Al Mukarramah Banua Halat Kiri. Mereka pada umumnya datang dari kota-kota besar yang ada di Kalsel yang jaraknya relatif jauh dari kota Rantau. Beberapa orang diantaranya bahkan ada yang datang dari Kalteng, Kaltim, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Riau, Jambi, Medan, Aceh, Singapura, Malaysia, dan Bunei datussalam.
Air di dalam botol digunakan untuk berbagai keperluan, seperti penerang hati, sarana pengobatan, dan keperluan lainnya. Sedangkan garam pada umumnya dijadikan sebagai syarat berdagang (supaya laris), syarat rumah, penolak santet, dan penolak bala lainnya.
Pukul 11.00 Wite Kami pamit pulang. Sebelum ke Disbudparpora Tapin, kami lebih dulu singgah di sebuah rumah makan yang menyediakan aneka jenis lauk pauk dan sayur mayur khas kuliner Banjar. Habis makan kami langsung ke Kantor Disbudparpora Tapin. Kami mengembalikan manuskrip yang kami pinjam kemarin. Selain itu kami juga memoto-copy data-data statisitik yang ada hubungannya dengan topik penelitian kami, yakni Daur Hidup Orang Banjar di Kalsel. Pada kesempatan itu pula kami pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Ibnu Mas'ud dan para PNS teman sejawat beliau yang telah membantu memuluskan penelitian kami di Kecamatan Tapin Utara.
Pukul 13.00 Wite Kami chekout dari hotel tempat kami menginap dan pulang kembali ke Banjarmasin dengan menumpang mobil taksi colt. Temanku dan suaminya singgah di Banjarbaru dan aku sendiri melanjutkan perjalanan langsung ke Banjarmasin.
Sesampainya di Terminal Kilometer 6, aku naik taksi angkutan kota (taksi kuning) jurusan Anna Blezynsky Anaknya Pa'Edysar Malabar. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Hotel Palm dengan menumpang ojek. Aku kembali ke Hotel Palm karena sepeda motorku kuparkir di sini, dan selama aku berada di Rantau ia menginap di tempat parkir ini.
Begitu tiba di Hotel Palm aku tersenyum simpul, sepeda motorku masih ada di sana, terparkir di tempatnya semula. Hehehe, rupanya tidak ada seorang pun pencuri motor yang tertarik mencurinya. Maklumlah sudah butut, usianya lebih tua dari anakku yang pertama. Anakku sering bercanda memanggil sepeda motorku ini: kakak. "Hai, kakak," ujarnya sambil mengelus sepeda motor bututku itu.
Sepeda motorku ini sering kuparkir selama berhari-hari di areal parkir RSUD Ulin Banjarmasin. Hal ini kulakukan jika aku bepergian ke Paringin, Tanjung, Batulicin, atau Kotabaru
Rupanya, kota Banjarmasin baru saja diguyur hujan. Sepeda motorku basah kuyup begitu juga helmku. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menghidupkannya. Setelah berhasil kuhidupkan, sepeda motorku itu kupacu menuju ke rumahku


Jum'at, 7 Desember 2012,
PUKUL 13.30 Wite

Aku melintas di Jalan Trans Kalimantan. Selepas Jembatan Barito, yakni di kilometer 18-26 Anjir jalannya sulit sekali dilewati dengan sepeda motor. Lebih-oleh oleh sepeda motorku yang sudah butut ini.

Badan jalan rupanya baru saja diuruk dengan pasir batu untuk tujuan peningkatan kualitasnya. Badan jalan tersebut berubah menjadi jalan berlumpur tebal karena disiram hujan pagi tadi. Sepeda motorku terseok-seok dibuatnya, untunglah istriku tidak ikut memboceng seperti biasanya. Aku harus ekstra hati-hati jangan sampai selip hingga menabrak atau sebaliknya ditabrak pengendara lain. Mobil truk besar yang melintas dalam jumlah banyak di jalan yang sama sudah barang tentu juga harus ekstra diwaspadai. Tersenggol sedikit bisa berabe, nyawa taruahnnya.

Inilah pengorbanan generasi masa kini untuk generasi masa depan. Biarlah kami sekarang ini merasakan kesulitan ini demi kenyamanan generasi kalian. Insya Allah jika proyek peningkatan kualitas jalan raya ini sudah rampung maka jalur transportasi trans kalimantan ini akan menjadi jalan mulus yang enak dilewati oleh semua jenis moda angkutan di masa depan. Mungkin, 2-3 tahun ke depan, jalan trans ini akan mulus sama sekali. Kulihat, di kiri kanan jalan sudah mulai dipasang box kulpert yang membuat parit-parit tampak rapi dan indah dipandang mata.

PUKUL 16.30 Wite

Setelah menyelesaikan tugasku di Anjir Kilometer 26 aku pulang dan melewati jalan yang sama. Kulihat di kiri kanan jalan banyak dijual buah-buahan lokal seperti rambutan, jeruk, kuini, kasturi, dan binjai, cuma karena situasi dan kondisinya yang seperti aku terpaksa mengurungkan niat untuk membelinya. Aku mengalami kesulitan untuk sekadar memarkir sepeda motorku, tepi kiri dan kanan semuanya berlumpur tebal. Salah-salah aku bisa tergelincir dibuatnya. Begitulah, aku tancap gas langsung ke Banjarmasin, tanpa singgah sama sekali.
Top of Form
Bottom of Form


Senin, 22 Oktober 2012
Pukul 08.30, sehabis mengikuti apel pagi di Kantor Gubernuran Banjarmasin aku langsung menuju ke pasar koran. Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk memantau atau lebih tepatnya membaca cepat berita-berita dan opini-opini yang dimuat di 6 buah koran terbitan Banjarmasin. Sesuai dengan keperluan aku hari ini cuma membeli 2 koran saja, yakni SKH Banjarmasin Post dan SKH Media Kalimantan. Keduanya kubeli karena ada berita dan opini yang harus kukliping. Begitulah pekerjaan rutin yang kulakukan setiap hari, jika tidak pagi, maka kegiatan itu akan kulakukan siang hari. Sekarang ini lebih banyak kulakukan pada siang hari, karena waktu pagi aku harus mengutamakan tugas mengisi daftar hadir di kantor.

Pukul 08.45 aku meninggalkan pasar koran menuju ke RSUD
Ulin Banjarmasin. Setelah memarkir sepeda motor aku lebih dahulu singgah di sebuah warung untuk makan pagi. Aku memilih makan pagi nasi bungkus ikan haruan dan secangkir teh dingin. Sehabis Harganya Rp. 10.000,-. Setelah itu aku menyelinap melalui pintu kecil menuju ke Pusat Perbelanjaan Duta Mall yang terletak persis di seberang jalan. Aku sengaja memarkir sepeda motorku di areal parkir RSUD Ulin karena di dekat lokasi dimaksud ada warung makan dengan menu nasi bungkus yang murah meriah. Tujuanku pagi itu sebenarnya adalah ke Hotel Mercure yang terletak di kawasan Pusat Perbelanjaan Duta Mall Banjarmasin.
"Masih tutup, Pak," jelas seorang petugas security ketika melihatku bergerak ke arah pintu masuk yang dijaganya.
Boleh jadi ia merasa heran, pagi-pagi sekali ada PNS berpakaian hansip ini mau masuk ke Pusat Perbelanjaan Duta Mall. Nekad amat, apa enggak takut ditangkap petugas satuan polisi pamong praja.
"Aku mau ke hotel Mercure," jelasku.
"O. Bapak lurus saja ke sana. Belok kiri, jalan terus hingga ke tempat parkiran sepeda motor, lalu masuk lif, Pak," ujar petugas security memberi panduan.

Pukul 09.00 persis aku tiba di tempat acara. Aku diminta panitia mengisi daftar hadir, lalu panitia menyerahkan tas kain berisi buku panduan acara, buku catatan, dan bollpoint. Setelah itu aku dipersilakan memasuki ruang Emerald 2 tempat Focus Group Discussion Gerakan Nasional Budaya Bersih Desa Desa Budaya. Kegiatan diskusi ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pihak pengundang lokal adalah Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Banjarmasin. Undangan untukku diantarakan langsung oleh Micky Hidayat, Minggu, 21 Oktober 2012, langsung ke rumahku.

Pukul 09.45 acara diskusi dimulai, dibuka oleh Wakil Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Ibu Dra. Elly Setiawati. Sebelumnya Ketua Panitia Bapak Binsar Manullang MSc menyampaikan laporannya tentang kegiatan diskusi yang digelar hari ini. Kulihat para peserta diskusi hari ini pada umumnya adalah para lurah, PNS 7 dinas terkait di kota Banjarmasin, sastrawan, budayawan, seniman, dan insan pers.

Pembicara pada session pertama ini adalah Bapak Ersis Warmansyah Abbas. Pada kesempatan sesion pertama ini aku sempat memaparkan tentang konsep tata ruang rumah adat Banjar yang tidak mengenal kamar kecil sebagai tempat buang air besar atau kecil. Kamar kecil yang lajim disebut jamban atau kakus ini diletakan di luar areal terpisah jarak dengan rumah induk yang dijadikan sebagai tempat tinggal. Dulu tempat buang air besar dan kecil itu dimiliki secara bersama-sama, letaknya di batang banyu atau di sungai. Budaya jamban atau kakus umum di sungai-sungai ini baru punah setelah sungai-sungai di kota Banjarmasin juga punah karena di atasnya telah didirikan bangunan rumah tambahan oleh warga yang tinggal di sekitar sungai. Selain itu juga karena, pemerintah kota Banjarmasin pada tahun 1980-an begitu gigih memusnahkannya. Jamban-jamban atau kaus-kakus umum yang ada di sepanjang sungai dirobohkan, sebagai gantinya pemerintah kota Banjarmasin memberikan sumbangan pasir, batu, semen, seng, closet, tiang ulin, dan upah tukang kepada setiap rumah tangga supaya mereka mampu membangun jamban atau kakus sendiri di rumah masing-masing.

Pada kesempatan itu, aku juga memaparkan kebiasaan warga kota Banjarmasin pada setiap hari raya yang tidak segan-segan membuang sampah koran di halaman-halaman masjid, di jalan raya dekat mesjid, atau di lapangan-lapangan tempat diselenggarakan sholat hari raya. Setelah digunakan sebagai alas sajadah sholat hari raya, koran-koran itu dibiarkan berserakan di tempat di mana ia dihampartkan, akibatnya lingkungan masjid jadi penuh sampah koran. Akibatnya hari raya sudah menjadi hari bebas membuang sampah koran di sekitar lingkungan masjid-masjid yang ada di kota Banjarmasin. Tidak percaya, silakan amati pasca diselenggarakan sholat Idul Adha pada Jum'at, 26 Oktober 2012 nanti.

Session pertama berakhir sekitar pukul 13.00, acara selanjutnya adalah makan bersama di restoran Hotel Mercure. Setelah itu sholat Zuhur masing-masing. Setelah itu membentuk kelompok suka hati sambil mengobrol sesuai dengan topik yang berkembang.

Pukul 02.00
Session kedua dimulai. Pada session kedua tampil sebagai pembicara Bapak Lukas Luwarso dari Jakarta. Beliau sempat menyinggung tentang informasi yang kuberikan tentang budaya jamban atau kakus bersama di sungai. Ternyata kebiasaan itu juga ada di desa-desa terpencil pulau Jawa. Di sana buang air besar atau kecil bisa di kebun, atau di mana saja yang tidak dilihat orang. Tinggal congkel tanah, buat lubang kecil, lalu plung ujar beliau. Beda dengan orang Jawa, tempat buang air kecil dan besar itu tidak dimiliki secara kolektif, di Banjarmasin, jamban atau kakus tempat buang air besar dan kecil itu dimiliki secara kolektif.

Pada kesempatan sesion kedua, ada seorang peserta yang menjelaskan bahwa orang-orang pada zaman dahulu tidak mau membangun kamar kecil di dalam rumahnya, karena ada kepercayaan bahwa malaikat rahmat tidak akan mau masuk rumah jika di rumah kita ada kamar kecil. Jadi kamar kecil harus dibangun terpisah di luar rumah induk.

Diskusi hari ini berakhir pukul 15.00. Sebelum pulang kami mengisi daftar penerimaan honor sebagai peserta diskusi. Lumayan seratus ribam. Hehehe...

Keluar dari Hotel Mercure aku masuk ke Pusat Perbelanjaan Duta Mall, singgah sebentar di Toko Buku Gramedia. Tak lama di sana, aku ke luar, lantas menyeberang menyelinap melalu pintu kecil yang ada, masuk ke kawasan parkir RSUD Ulin Banjarmasin. Ternyata tarif parkir yang harus kubayar adalah Rp. 3.000,- (mulai dari pukul 08.30-15.30).

Sampai di rumah, tak ada orang. Anakku sudah berangkan les ke Ganesha Operation diantarkan oleh adik iparku, dan istriku sudah berangkat latihan mendendangkan Syair Habsy di rumah tetangga. Untunglah, aku membawa kunci sendiri, clek pintu rumah kubuka. Masuk ke dalam rumah, ganti baju, lalu baca koran di beranda. Bosan membaca koran aku membuka internet dan menuliskan cerita ini di facebook. Selamat membaca, semoga ada manfaatnya. Salah khilap mohon maaf, terima kasih.
Top of Form
Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Posting Komentar