CATATAN PERJALANAN KE
MARTAPURA,
MINGGU, 25 NOVEMBER 2012
Pukul 06.30
Aku
dan istriku sudah siap meninggalkan rumah menuju ke kota Martapura. Aku sengaja
berangkat lebih pagi karena khawatir terjebak macet di Jalan Ahmad Yani kilometer
4 tepatnya di simpang ke Jalan Gatot Soebroto Banjarmasin. Sebagian Jalan Ahmad
Yani di kawasan itu sekarang ini ditutup dengan seng karena di tempat itu
sedang dibangun jalan layang pertama di kota Banjarmasin. Kemacetan di tempat
ini bisa sepanjang 2 kilometer atau bahkan lebih sehingga sangat membosankan
bagi pengguna jalan yang terpaksa melewatinya pada jam-jam sibuk.
Pengalaman ini aku alami pada Selasa, 20 November
2012, ketika itu aku bermaksud mendatangi rumah seorang tukang jahit yang
tinggal di kawasan Jalan Gatot Soebroto. Bosan dengan kemacetan itu aku mencoba
memintas di Jalan Manggis dengan harapan menemukan jalan pintas yang tembus ke
Jalan Gatot Soebroto. Aku dan istriku masuk ke salah satu jalan pintas yang ada
di Jalan Manggis yang kupikir tembus ke Jalan Gatot Soebroto, ternyata jalan
yang kulalui itu tembus ke Jalan Veteran juga. Jika tahu begini lebih baik
jalan terus saja melewati jalan Manggis tanpa belok kiri belok kanan di
jalan-jalan sempit di perkampungan. Ternyata Jalan Veteran ketika itu juga macet
total. Ketika lampu hijau aku tak bisa belok kiri karena para pengendara mobil
dan sepeda motor langsung tancap gas begitu lampu hijau menyala. Demi keamanan
aku memilih jalan terus arah ke Sungai Lulut dan berbelok ke kiri ketika arus
lalu lintas sedikit agak longgar dan kembali ke perempatan Jalan gatot Soebroto
x Veteran, lalu belok kiri ke tempat tujuan.
Begitu
tiba di Pasar Koran, Jalan Hasanuddin HM, kulihat kios koran langgananku masih
tutup, aku langsung tancap gas tanpa singgah di sana sebagaimana biasanya. Ternyata
arus lalu lintas di lokasi pembangunan jalan layang masih lengang aku bisa
melaju dengan kencang tanpa diadang kemacetan sama sekali. Kemacetan baru
kualami di kilometer 5 karena di sini ada SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Umum). Kulihat bentangan rantai besi di jalan masuk ke SPBU itu masih belum
dibuka, namun, antrian truk dan mobil lainnya sudah terentang panjang di sisi
kiri Jalan Ahmad Yani tersebut. Separo badan jalan tersita untuk menampung
antrian tersebut sehingga tidak bisa digunakan untuk berlalu lintas sebagaimana
mestinya. Hal ini terjadi di mana-mana di setiap lokasi SPBU yang ada di
Kalsel.
Tidak
seperti biasanya lalu lintas di kawasan Pasar Kertak Hanyar yang biasanya juga
macet, pagi itu masih lengang sehingga dapat kulalui dengan mudah. Biasanya,
jalan raya di kawasan ini akan macet pada setiap hari Minggu, karena ada pasar
pagi mingguan di sini. Ternyata lokasi pasar pagi dimaksud dipindah ke sebelah
kanan, sehingga kemacetan lalu lintas otomatis berpindah ke sana pula.
Ketika
berangkat tadi, aku dan istriku belum makan. Menjelang tiba di rumah makan
langgananku istriku mengajak singgah karena warung makan dimaksud kebetulan
sudah buka. Aku bilang jangan singgah di sini, seminggu yang lalu aku makan
sendiri (maksudnya: tanpa didampingi istri sebagaimana biasanya) di sini dengan
lauk ikan gabus panggang dan sayur asam. Setelah selesai makan aku harus bayar
Rp. 25.000,-. Menurutku tarif ini tidak wajar karena di tempat lain cuma Rp.
15.000,- atau paling mahal Rp. 18.000,-. Aku dan istriku sering makan di warung
karena itulah sedikit banyak bisa membandingkan tarif makan di warung-warung.
Kemacetan
kembali kualami ketika sepeda motor yang kukendarai melintas di kilometer 14,
16, dan 21 di tiga tempat ini ada SPBU. Meskipun tidak ada SPBU, pagi ini aku
mengalami kemacetan di kilometer 30 dekat jalan masuk ke Guntung Magis,
kemacetan terjadi karena ada perbaikan jalan. Kemacetan kembali kualami ketika
memasuki kawasan pusat kota Banjarbaru, yakni di kilometer 34-35. Sesuai rencana,
aku tidak langsung ke Martapura, aku singgah dulu di rumah adikku di kota
Banjarbaru. Sebelum belok kiri menuju ke rumah adikku, aku belok kanan ke RSUD
Banjarbaru, tak jauh dari sana banyak orang menjual nasi bungkus. Pagi itu aku
membeli 2 bungkus dengan harga Rp. 7.000,- per bungkus dengan lauk ikan gabus
sambal merah.
Ternyata,
adikku sudah pergi, sepagi ini pintu rumah sudah dikunci dari luar. Untunglah,
aku membawa kunci duplikat sehingga aku bisa masuk ke rumah adikku itu. Suatu
kali aku pernah lupa membawa kunci dupilkat dan adikku sudah pergi entah ke
mana. Aku ketika itu terpaksa numpang buang hajat di rumah tetangga. Situasinya
sama seperti pagi ini, aku juga sedang kebelet pipis. Untunglah pagi ini aku tidak
lupa membawa kunci duplikat sehingga dapat dengan mudah memenuhi tuntutan arus
bawah tersebut. Hehehe, cusssss.
Setelah
buang air kecil aku dan istriku makan nasi bungkus bersama. Kulihat jarum jam
tanganku sudah menunjukkan pukul 08.00 Wite. Aku lalu berganti pakaian. Hari
ini aku dan istriku diundang oleh Raja Banjar untuk menghadiri acara puncak
Milad 508 Kesultanan Banjar di Mahligai Sultan Adam Martapura. Pakaian yang
kukenakan untuk menghadiri undangan itu adalah pakaian khusus yang beberapa
hari yang lalu kuterima dari pihak panitia. Baju dan celana warna kuning,
sarung sasirangan, dan kopiah hitam berstrip putih. Pakaian yang kukenakan ini
berkaitan dengan statusku sebagai calon penerima Anugrah Astraprana Bidang
Sastra.
Pukul 08.30
Aku
dan istriku berangkat ke tempat upacara. Dalam perjalanan aku sempat beberapa kali
menghentikan laju kendaraanku, singgah sejenak karena sepagi itu aku beberapa kali berpapasan
dengan kawan lamaku di kota Banjarbaru. Mereka pada umumnya bertanya mau ke
mana sehingga mengenakan pakaian yang membuatku tampil begitu gagah begini?
Pertanyaan itu kujawab dengan sumringah bahwa aku mau menghadiri acara Milad
508 Kesultanan Banjar di Martapura. Begitu mengetahui bahwa aku bakal mendapat
gelar Astraprana kawan lamaku itu kembali menyalamiku dan mengucapkan selamat.
Setengah
jam kemudian aku tiba di tempat acara kulihat orang-orang sudah memenuhi
kawasan Mahligai Sultan Sulaiman. Mula-mula aku bertemu dengan Saudara Mukhlis
Maman (Julak Larau) dari Taman Budaya Kalsel. Sama denganku ia juga akan menerima
Anugrah Astaprana. Oleh panitia aku kemudian di bawa ke suatu ruangan, di sana
kami dipersilakan mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Di tempat ini aku
bertemu dengan banyak teman sastrawan, seniman, dan budayawan. Selain itu juga
bertemu dengan teman-teman rombongan dari Malaysia yang beberapa orang di
antarnya sudah kukenal pada saat aku mkengikuti perjalanan muhibah seni budaya
ke Malaysia tempo hari.
Pukul 09.30
Aku
dipersilakan oleh panitia untuk memasuki ruang utama upacara untuk mengikuti acara
gladi resik penerimaan Anugrah Astraprana. Tidak lama kemudian Raja Banjar Ir.
H. Khairul Saleh beserta permaisuri tiba di tempat upacara diiringi dengan
tetabuhan musik khas Banjar. Beliau dikawal oleh beberapa orang pengawal
kehormatan yang membawa tombak dan diiringi oleh para petinggi Kesultanan
Banjar lainnya.
Acara
dibuka dengan tarian Baksa Kambang, lalu pengajian ayat suci Al Qur’an,
pembacaan surah Yassin dan shalawat kalimah, pembacaan sejarah Kesultanan
Banjar oleh Ketua Dewan Mahkota (Pangeran Rusdi Effendi), pembacaan surat
keputusan Raja Banjar tentang pemberian Anugrah Kesultanan Banjar berkenaan
dengan Milad 508, dilanjutkan dengan penyematan anugerah dimaksud kepada para
penerimanya yang dilakukan langsung oleh Raja Banjar, doa, dan akhirnya ditutup
dengan persembahan tari Banjar kembali.
Hari
ini aku menerima Anugrah Astaprana Bidang Sastra. Anugrah dimaksud disematkan
langsung oleh Raja Banjar, kemudian ditapung tawai oleh DMA Adjim Arijadi
didampingi oleh DMA Syarifuddin R (DMA adalah singkatan dari Datuk Mangku Adat, gelar ini diangerahkan kepada
keduanya oleh Sultan Muda Banjar dua tahun yang lalu). Selain menerima piagam
yang ditanda-tangani langsung oleh Raja Banjar, hari itu aku juga menerima
amplop coklat berisi uang. Terima kasih Raja Banjar. Alhamdulillah.
Pada
kesempatan itu tempatku duduk bersila berdekatan dengan Mukhlis Maman, A
Sya’rani, Saderi, Bapak Kasim Abdurahman, dan Bapak Prof. Dr. Helius Syamsuddin
dari Universitas Pendidikan Bandung (jika aku tidak salah beliau menerima
anugrah Datu Cendekia Hikmadireja). Aku sengaja menyapa beliau untuk membuka
pembicaraan bahwa aku sering sekali mengutip isi buku beliau berjudul Pegustian
dan Temenggung (Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti). Ternyata dalam
perbincangan lebih lanjut beliau mengatakan juga sering membaca
tulisan-tulisanku di berbagai koran dan blog. Pada kesempatan itu aku juga
sempat berbincang-bincang dengan seorang penerima anugerah dari Malaysia,
ternyata beliau juga ikut hadir menyaksikan pertunjukan seni madihin dan
mamanda yang dipersembahkan oleh Dewan Kesenian Kalsel dalam lawatan ke
Malaysia tempo hari.
Pukul 13.00 Wite
Acara berakhir, kami dipersilakan menyantap makan minum
di ruangan sebelah. Selepas ini aku dan istriku meninggalkan tempat acara. Kami
singgah lagi ke rumah adikku di Banjarbaru, karena kulihat mendung begitu tebal
di langit. Daripada kehujanan di jalan lebih baik singgah dulu ke rumah adikku.
Ternyata adikku sudah kembali ke rumah. Tidak lama kemudian hujan pun turun
dengan lebatnya.
Aku
mengisi waktu dengan membaca koran-koran terbitan Banjarmasin yang kuperoleh di
lokasi acara tadi. Hari itu setiap hadirin diberi banyak koran gratis, termasuk
diriku. Hujan masih turun dengan lebatnya ketika aku dan istriku memutuskan
untuk pulang kembali ke Banjarmasin. Kami nekad menerobos hujan, karena
khawatir pulang kemalaman. Ketika itu jarum jam di tanganku menunjukkan angka
puluk 17.00 Wite. Pukul 19.00 aku tiba kembali di rumahku di Banjarmasin.
Sebelumnya kami singgah dulu di sebuah rumah makan di kawasan kilometer 5
Banjarmasin.
Pukul 20.00
Setelah sholat Magrib aku membuka internet, mengontrol
pesan-pesan yang masuk ke facebookku. Cukup banyak yang pesan masuk yang
mengapresiasi tulisanku berjudul Kampung Halaman Orang Banjar. Apresiasi pada
umumnya dating dari teman-teman facebook di grup Bubuhan/Kulaan Banjar
Sa-Dunia. Di sini memang banyak tergabung orang Banjar yang tinggal di banua,
Riau, Jambi, Sumut, dan Malaysia. Sedapat mungkin pesan-pesan itu kujawab,
minimal dengan ucapan terima kasih.
Ketika
itu anakku sedang menonton siaran langsung pertandingan sepak bola Piala AFF
antara Indonesia dan Laos. Sekali waktu aku mencuri pandang dan dengar jalannya
pertandingan sepak bola itu. Jika gol aku baru melihat siaran itu, jika tidak
maka aku asyik dengan kegiatanku berfacebookria.
Mungkin,
karena kecapekan, aku kemudian dilanda kantuk berat. Tidak ada pilihan akupun
masuk ke kamar dan akhirnya tertidur dengan pulasnya. Pukul 03.00 Wite aku
terbangun. Aku membuka facebook dan google untuk memantau berita-berita online
di berbagai surat kabar terbitan Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia.
Selain itu juga mengirim status terbaru di facebook, yakni tentang air bertuah
magis dalam sistem kepercayaan tradisional etnis Banjar di kalsel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar