Sabtu, 19 Januari 2013

CATATAN PERJALANAN KE MARTAPURA



CATATAN PERJALANAN KE MARTAPURA,
MINGGU, 25 NOVEMBER 2012

Pukul 06.30
Aku dan istriku sudah siap meninggalkan rumah menuju ke kota Martapura. Aku sengaja berangkat lebih pagi karena khawatir terjebak macet di Jalan Ahmad Yani kilometer 4 tepatnya di simpang ke Jalan Gatot Soebroto Banjarmasin. Sebagian Jalan Ahmad Yani di kawasan itu sekarang ini ditutup dengan seng karena di tempat itu sedang dibangun jalan layang pertama di kota Banjarmasin. Kemacetan di tempat ini bisa sepanjang 2 kilometer atau bahkan lebih sehingga sangat membosankan bagi pengguna jalan yang terpaksa melewatinya pada jam-jam sibuk.
Pengalaman ini aku alami pada Selasa, 20 November 2012, ketika itu aku bermaksud mendatangi rumah seorang tukang jahit yang tinggal di kawasan Jalan Gatot Soebroto. Bosan dengan kemacetan itu aku mencoba memintas di Jalan Manggis dengan harapan menemukan jalan pintas yang tembus ke Jalan Gatot Soebroto. Aku dan istriku masuk ke salah satu jalan pintas yang ada di Jalan Manggis yang kupikir tembus ke Jalan Gatot Soebroto, ternyata jalan yang kulalui itu tembus ke Jalan Veteran juga. Jika tahu begini lebih baik jalan terus saja melewati jalan Manggis tanpa belok kiri belok kanan di jalan-jalan sempit di perkampungan. Ternyata Jalan Veteran ketika itu juga macet total. Ketika lampu hijau aku tak bisa belok kiri karena para pengendara mobil dan sepeda motor langsung tancap gas begitu lampu hijau menyala. Demi keamanan aku memilih jalan terus arah ke Sungai Lulut dan berbelok ke kiri ketika arus lalu lintas sedikit agak longgar dan kembali ke perempatan Jalan gatot Soebroto x Veteran, lalu belok kiri ke tempat tujuan.
Begitu tiba di Pasar Koran, Jalan Hasanuddin HM, kulihat kios koran langgananku masih tutup, aku langsung tancap gas tanpa singgah di sana sebagaimana biasanya. Ternyata arus lalu lintas di lokasi pembangunan jalan layang masih lengang aku bisa melaju dengan kencang tanpa diadang kemacetan sama sekali. Kemacetan baru kualami di kilometer 5 karena di sini ada SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Kulihat bentangan rantai besi di jalan masuk ke SPBU itu masih belum dibuka, namun, antrian truk dan mobil lainnya sudah terentang panjang di sisi kiri Jalan Ahmad Yani tersebut. Separo badan jalan tersita untuk menampung antrian tersebut sehingga tidak bisa digunakan untuk berlalu lintas sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi di mana-mana di setiap lokasi SPBU yang ada di Kalsel.
Tidak seperti biasanya lalu lintas di kawasan Pasar Kertak Hanyar yang biasanya juga macet, pagi itu masih lengang sehingga dapat kulalui dengan mudah. Biasanya, jalan raya di kawasan ini akan macet pada setiap hari Minggu, karena ada pasar pagi mingguan di sini. Ternyata lokasi pasar pagi dimaksud dipindah ke sebelah kanan, sehingga kemacetan lalu lintas otomatis berpindah ke sana pula.
Ketika berangkat tadi, aku dan istriku belum makan. Menjelang tiba di rumah makan langgananku istriku mengajak singgah karena warung makan dimaksud kebetulan sudah buka. Aku bilang jangan singgah di sini, seminggu yang lalu aku makan sendiri (maksudnya: tanpa didampingi istri sebagaimana biasanya) di sini dengan lauk ikan gabus panggang dan sayur asam. Setelah selesai makan aku harus bayar Rp. 25.000,-. Menurutku tarif ini tidak wajar karena di tempat lain cuma Rp. 15.000,- atau paling mahal Rp. 18.000,-. Aku dan istriku sering makan di warung karena itulah sedikit banyak bisa membandingkan tarif makan di warung-warung.
Kemacetan kembali kualami ketika sepeda motor yang kukendarai melintas di kilometer 14, 16, dan 21 di tiga tempat ini ada SPBU. Meskipun tidak ada SPBU, pagi ini aku mengalami kemacetan di kilometer 30 dekat jalan masuk ke Guntung Magis, kemacetan terjadi karena ada perbaikan jalan. Kemacetan kembali kualami ketika memasuki kawasan pusat kota Banjarbaru, yakni di kilometer 34-35. Sesuai rencana, aku tidak langsung ke Martapura, aku singgah dulu di rumah adikku di kota Banjarbaru. Sebelum belok kiri menuju ke rumah adikku, aku belok kanan ke RSUD Banjarbaru, tak jauh dari sana banyak orang menjual nasi bungkus. Pagi itu aku membeli 2 bungkus dengan harga Rp. 7.000,- per bungkus dengan lauk ikan gabus sambal merah.
Ternyata, adikku sudah pergi, sepagi ini pintu rumah sudah dikunci dari luar. Untunglah, aku membawa kunci duplikat sehingga aku bisa masuk ke rumah adikku itu. Suatu kali aku pernah lupa membawa kunci dupilkat dan adikku sudah pergi entah ke mana. Aku ketika itu terpaksa numpang buang hajat di rumah tetangga. Situasinya sama seperti pagi ini, aku juga sedang kebelet pipis. Untunglah pagi ini aku tidak lupa membawa kunci duplikat sehingga dapat dengan mudah memenuhi tuntutan arus bawah tersebut. Hehehe, cusssss.
Setelah buang air kecil aku dan istriku makan nasi bungkus bersama. Kulihat jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 08.00 Wite. Aku lalu berganti pakaian. Hari ini aku dan istriku diundang oleh Raja Banjar untuk menghadiri acara puncak Milad 508 Kesultanan Banjar di Mahligai Sultan Adam Martapura. Pakaian yang kukenakan untuk menghadiri undangan itu adalah pakaian khusus yang beberapa hari yang lalu kuterima dari pihak panitia. Baju dan celana warna kuning, sarung sasirangan, dan kopiah hitam berstrip putih. Pakaian yang kukenakan ini berkaitan dengan statusku sebagai calon penerima Anugrah Astraprana Bidang Sastra.




Pukul 08.30  
Aku dan istriku berangkat ke tempat upacara. Dalam perjalanan aku sempat beberapa kali menghentikan laju kendaraanku, singgah sejenak karena  sepagi itu aku beberapa kali berpapasan dengan kawan lamaku di kota Banjarbaru. Mereka pada umumnya bertanya mau ke mana sehingga mengenakan pakaian yang membuatku tampil begitu gagah begini? Pertanyaan itu kujawab dengan sumringah bahwa aku mau menghadiri acara Milad 508 Kesultanan Banjar di Martapura. Begitu mengetahui bahwa aku bakal mendapat gelar Astraprana kawan lamaku itu kembali menyalamiku dan mengucapkan selamat.
Setengah jam kemudian aku tiba di tempat acara kulihat orang-orang sudah memenuhi kawasan Mahligai Sultan Sulaiman. Mula-mula aku bertemu dengan Saudara Mukhlis Maman (Julak Larau) dari Taman Budaya Kalsel. Sama denganku ia juga akan menerima Anugrah Astaprana. Oleh panitia aku kemudian di bawa ke suatu ruangan, di sana kami dipersilakan mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Di tempat ini aku bertemu dengan banyak teman sastrawan, seniman, dan budayawan. Selain itu juga bertemu dengan teman-teman rombongan dari Malaysia yang beberapa orang di antarnya sudah kukenal pada saat aku mkengikuti perjalanan muhibah seni budaya ke Malaysia tempo hari.

Pukul 09.30
Aku dipersilakan oleh panitia untuk memasuki ruang utama upacara untuk mengikuti acara gladi resik penerimaan Anugrah Astraprana. Tidak lama kemudian Raja Banjar Ir. H. Khairul Saleh beserta permaisuri tiba di tempat upacara diiringi dengan tetabuhan musik khas Banjar. Beliau dikawal oleh beberapa orang pengawal kehormatan yang membawa tombak dan diiringi oleh para petinggi Kesultanan Banjar lainnya.
Acara dibuka dengan tarian Baksa Kambang, lalu pengajian ayat suci Al Qur’an, pembacaan surah Yassin dan shalawat kalimah, pembacaan sejarah Kesultanan Banjar oleh Ketua Dewan Mahkota (Pangeran Rusdi Effendi), pembacaan surat keputusan Raja Banjar tentang pemberian Anugrah Kesultanan Banjar berkenaan dengan Milad 508, dilanjutkan dengan penyematan anugerah dimaksud kepada para penerimanya yang dilakukan langsung oleh Raja Banjar, doa, dan akhirnya ditutup dengan persembahan tari Banjar kembali.    
Hari ini aku menerima Anugrah Astaprana Bidang Sastra. Anugrah dimaksud disematkan langsung oleh Raja Banjar, kemudian ditapung tawai oleh DMA Adjim Arijadi didampingi oleh DMA Syarifuddin R (DMA adalah singkatan dari Datuk  Mangku Adat, gelar ini diangerahkan kepada keduanya oleh Sultan Muda Banjar dua tahun yang lalu). Selain menerima piagam yang ditanda-tangani langsung oleh Raja Banjar, hari itu aku juga menerima amplop coklat berisi uang. Terima kasih Raja Banjar. Alhamdulillah. 
Pada kesempatan itu tempatku duduk bersila berdekatan dengan Mukhlis Maman, A Sya’rani, Saderi, Bapak Kasim Abdurahman, dan Bapak Prof. Dr. Helius Syamsuddin dari Universitas Pendidikan Bandung (jika aku tidak salah beliau menerima anugrah Datu Cendekia Hikmadireja). Aku sengaja menyapa beliau untuk membuka pembicaraan bahwa aku sering sekali mengutip isi buku beliau berjudul Pegustian dan Temenggung (Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti). Ternyata dalam perbincangan lebih lanjut beliau mengatakan juga sering membaca tulisan-tulisanku di berbagai koran dan blog. Pada kesempatan itu aku juga sempat berbincang-bincang dengan seorang penerima anugerah dari Malaysia, ternyata beliau juga ikut hadir menyaksikan pertunjukan seni madihin dan mamanda yang dipersembahkan oleh Dewan Kesenian Kalsel dalam lawatan ke Malaysia tempo hari.  

Pukul 13.00 Wite
            Acara berakhir, kami dipersilakan menyantap makan minum di ruangan sebelah. Selepas ini aku dan istriku meninggalkan tempat acara. Kami singgah lagi ke rumah adikku di Banjarbaru, karena kulihat mendung begitu tebal di langit. Daripada kehujanan di jalan lebih baik singgah dulu ke rumah adikku. Ternyata adikku sudah kembali ke rumah. Tidak lama kemudian hujan pun turun dengan lebatnya.
Aku mengisi waktu dengan membaca koran-koran terbitan Banjarmasin yang kuperoleh di lokasi acara tadi. Hari itu setiap hadirin diberi banyak koran gratis, termasuk diriku. Hujan masih turun dengan lebatnya ketika aku dan istriku memutuskan untuk pulang kembali ke Banjarmasin. Kami nekad menerobos hujan, karena khawatir pulang kemalaman. Ketika itu jarum jam di tanganku menunjukkan angka puluk 17.00 Wite. Pukul 19.00 aku tiba kembali di rumahku di Banjarmasin. Sebelumnya kami singgah dulu di sebuah rumah makan di kawasan kilometer 5 Banjarmasin.

Pukul 20.00   
            Setelah sholat Magrib aku membuka internet, mengontrol pesan-pesan yang masuk ke facebookku. Cukup banyak yang pesan masuk yang mengapresiasi tulisanku berjudul Kampung Halaman Orang Banjar. Apresiasi pada umumnya dating dari teman-teman facebook di grup Bubuhan/Kulaan Banjar Sa-Dunia. Di sini memang banyak tergabung orang Banjar yang tinggal di banua, Riau, Jambi, Sumut, dan Malaysia. Sedapat mungkin pesan-pesan itu kujawab, minimal dengan ucapan terima kasih. 
Ketika itu anakku sedang menonton siaran langsung pertandingan sepak bola Piala AFF antara Indonesia dan Laos. Sekali waktu aku mencuri pandang dan dengar jalannya pertandingan sepak bola itu. Jika gol aku baru melihat siaran itu, jika tidak maka aku asyik dengan kegiatanku berfacebookria.
Mungkin, karena kecapekan, aku kemudian dilanda kantuk berat. Tidak ada pilihan akupun masuk ke kamar dan akhirnya tertidur dengan pulasnya. Pukul 03.00 Wite aku terbangun. Aku membuka facebook dan google untuk memantau berita-berita online di berbagai surat kabar terbitan Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Selain itu juga mengirim status terbaru di facebook, yakni tentang air bertuah magis dalam sistem kepercayaan tradisional etnis Banjar di kalsel. 
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar