Jum'at, 7 Desember 2012,
PUKUL 13.30 Wite
Aku melintas di Jalan Trans Kalimantan. Selepas Jembatan Barito, yakni di kilometer 18-26 Anjir jalannya sulit sekali dilewati dengan sepeda motor. Lebih-oleh oleh sepeda motorku yang sudah butut ini.
Badan jalan rupanya baru saja diuruk dengan pasir batu untuk tujuan peningkatan kualitasnya. Badan jalan tersebut berubah menjadi jalan berlumpur tebal karena disiram hujan pagi tadi. Sepeda motorku terseok-seok dibuatnya, untunglah istriku tidak ikut memboceng seperti biasanya. Aku harus ekstra hati-hati jangan sampai selip hingga menabrak atau sebaliknya ditabrak pengendara lain. Mobil truk besar yang melintas dalam jumlah banyak di jalan yang sama sudah barang tentu juga harus ekstra diwaspadai. Tersenggol sedikit bisa berabe, nyawa taruahnnya.
Inilah pengorbanan generasi masa kini untuk generasi masa depan. Biarlah kami sekarang ini merasakan kesulitan ini demi kenyamanan generasi kalian. Insya Allah jika proyek peningkatan kualitas jalan raya ini sudah rampung maka jalur transportasi trans kalimantan ini akan menjadi jalan mulus yang enak dilewati oleh semua jenis moda angkutan di masa depan. Mungkin, 2-3 tahun ke depan, jalan trans ini akan mulus sama sekali. Kulihat, di kiri kanan jalan sudah mulai dipasang box kulpert yang membuat parit-parit tampak rapi dan indah dipandang mata.
PUKUL 16.30 Wite
Setelah menyelesaikan tugasku di Anjir Kilometer 26 aku pulang dan melewati jalan yang sama. Kulihat di kiri kanan jalan banyak dijual buah-buahan lokal seperti rambutan, jeruk, kuini, kasturi, dan binjai, cuma karena situasi dan kondisinya yang seperti aku terpaksa mengurungkan niat untuk membelinya. Aku mengalami kesulitan untuk sekadar memarkir sepeda motorku, tepi kiri dan kanan semuanya berlumpur tebal. Salah-salah aku bisa tergelincir dibuatnya. Begitulah, aku tancap gas langsung ke Banjarmasin, tanpa singgah sama sekali.
PUKUL 13.30 Wite
Aku melintas di Jalan Trans Kalimantan. Selepas Jembatan Barito, yakni di kilometer 18-26 Anjir jalannya sulit sekali dilewati dengan sepeda motor. Lebih-oleh oleh sepeda motorku yang sudah butut ini.
Badan jalan rupanya baru saja diuruk dengan pasir batu untuk tujuan peningkatan kualitasnya. Badan jalan tersebut berubah menjadi jalan berlumpur tebal karena disiram hujan pagi tadi. Sepeda motorku terseok-seok dibuatnya, untunglah istriku tidak ikut memboceng seperti biasanya. Aku harus ekstra hati-hati jangan sampai selip hingga menabrak atau sebaliknya ditabrak pengendara lain. Mobil truk besar yang melintas dalam jumlah banyak di jalan yang sama sudah barang tentu juga harus ekstra diwaspadai. Tersenggol sedikit bisa berabe, nyawa taruahnnya.
Inilah pengorbanan generasi masa kini untuk generasi masa depan. Biarlah kami sekarang ini merasakan kesulitan ini demi kenyamanan generasi kalian. Insya Allah jika proyek peningkatan kualitas jalan raya ini sudah rampung maka jalur transportasi trans kalimantan ini akan menjadi jalan mulus yang enak dilewati oleh semua jenis moda angkutan di masa depan. Mungkin, 2-3 tahun ke depan, jalan trans ini akan mulus sama sekali. Kulihat, di kiri kanan jalan sudah mulai dipasang box kulpert yang membuat parit-parit tampak rapi dan indah dipandang mata.
PUKUL 16.30 Wite
Setelah menyelesaikan tugasku di Anjir Kilometer 26 aku pulang dan melewati jalan yang sama. Kulihat di kiri kanan jalan banyak dijual buah-buahan lokal seperti rambutan, jeruk, kuini, kasturi, dan binjai, cuma karena situasi dan kondisinya yang seperti aku terpaksa mengurungkan niat untuk membelinya. Aku mengalami kesulitan untuk sekadar memarkir sepeda motorku, tepi kiri dan kanan semuanya berlumpur tebal. Salah-salah aku bisa tergelincir dibuatnya. Begitulah, aku tancap gas langsung ke Banjarmasin, tanpa singgah sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar