SENIN, 3 JUNI 2013,
Aku
menerima informasi bahwa namaku telah terdaftar sebagai salah seorang calon
peserta dalam Dialog Borneo Kalimantan XI di Kota Labuan, Sabah, Malaysia
Timur, 27-29 Juni 2013 yang akan datang. Dalam hal ini aku berstatus sebagai
salah satu dari 5 orang peserta yang akan mewakili daerah Kalsel. Empat peserta
lainnya yang berstatus sama denganku adalah Bapak H. Syarifuddin R, Saudara Irwan
Alfiadin, Saudara Micky Hidayat, dan Saudara YS Agus Suseno.
Dialog Boneo Kalimantan (DBK) adalah forum pertemuan bagi para pengarang, sarjana, dan peminat bahasa, sastra, dan budaya yang tinggal di kawasan Pulau Borneo dan Kalimantan, yakni Malaysia (Sabah, Serawak, dan Labuan), Brunei Darussalam, dan Indonesia (Kalbar, Kalsel, Kalteng, dan Kaltim).
Menurut catatan yang ada, DBK pertama kali diselenggarakan di Maktab Perguruan Sarawak, Miri, 26-27 November 1987, anjuran bersama Dewan bahasa dan Pustaka (DBP) Cawangan Sarawak, GAPENA dan PUTERA. Diselenggarakan secara berkala dua tahun sekali di tempat-tempat yang telah disepakati sebagai keputusan sidang bersama para wakil peserta pada dua tahun sebelumnya.
Informasi yang kuperoleh adalah tidak ada pesawat terbang yang langsung melayani trayek udara dari Kota Banjarmasin ke Kota Labuan. Dalam hal ini yang ada adalah penerbangan dari Jakarta hingga ke Kota Kinabalu saja. Perjalanan ke Labuan harus dilakukan pada keeseokan harinya dengan pesawat terbang selama kurang lebih 30 menit.
Sejak mengetahui bahwa namaku telah terdaftar sebagai salah seorang peserta DBK XI Labuan, aku mulai mencari informasi tentang kota-kota yang akan aku singgahi dalam perjalanan menuju ke Kota Labuan ini, yakni Kota Kinabalu dan Kota Labuan itu sendiri.
RABU, 5 JUNI 2013
Aku
mencoba mencari informasi tentang Kota Kinabalu melalui internet. Kuklik goggle
dan kutemukan sejumlah situs dengan entri/lema tentang Kota Kinabalu. Salah
satunya adalah situs Wikipedia Indonesia.
Kota
Kinabalu dahulunya bernama Api-api. Berasal dari bahasa Bajau, artinya tempat
yang pernah dimakan api. Nama ini diberikan untuk mengenang peristiwa
pembakaran kantor pemerintah Inggeris di Pulau Gaya yang dilakukan oleh para
pejuang Bajau dibawah komando Mat Saleh (1897).
Namun, ada juga yang menghubungkannya dengan nama sejenis pohon yang diberi nama api-api. Pohon ini tumbuh di sepanjang tepi pantainya. Versi lain menyebutkan bahwa nama itu diambilkan dari nama sungai yang bernama api-api yang bermuara di sekitar tempat pemukiman suku Bajau dimaksud.
Masih ada dua nama lain yang menurut informasi juga pernah dilekatkan orang dengan tempat ini, yakni Deasoka dan Singgah Mata. Deasoka artinya tempat pemukiman di bawah rimbunnya pohon kelapa. Sementara itu Singgah Mata artinya tempat yang menyenangkan dipandang mata.
Tahun 1882-an, Perusahaan Borneo Utara Inggeris (SBUB) mendirikan koloni di Teluk Gaya yang banyak dihuni oleh suku Bajau, sejak itu nama Api-api diganti menjadi Kota Jesselton. Penamaan ini merujuk kepada nama Tuan Charles Jessel, Wakil Ketua SBUB ketika itu.
Suku Bajau yang merasa terusik kemudian melakukan usaha-usaha bersenjata untuk mengusir para pemukim di koloni dimaksud. Tahun, 1897 di bawah pimpinan Mat Salleh koloni Inggeris dimaksud dibakar habis oleh pasukan pembebasan Bajau. Sejak itu tempat ini diberi nama Api-api oleh Bajau setempat.
Pasca peristiwa itu, pihak Inggeris memindahkan koloninya ke daratan dengan pertimbangan akan mudah dipertahankan jika sewaktu-waktu kembali diserang oleh pasukan perlawanan Bajau. Koloni baru yang dibangun pada tahun 1898 ini disebut Teluk Alternatif (sekarang dikenal dengan nama Teluk Sepanggar).
Selanjutnya pada tahun 1899, Mr. Henry Walker, Komisaris Tanah mengidentifikasikan sebuah wilayah sebagai tempat koloni baru dengan luas sekitar 12 hektar sebagai pengganti koloni Teluk Alternatif yang dinilai kurang memuaskan.
Namun, tak berselang lama koloni dimaksud dipindahkan lagi ke sebuah desa nelayan yang bernama Api-api. Perpindahan ini dilakukan dengan pertimbangan posisi desa nelayan ini jauh lebih strategis karena berdekatan dengan Pusat Layanan Kereta Api Borneo Utara dan merupakan pelabuhan alam yang terlindung dari angin.
Kota Jesselton kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan utama di wilayah Borneo Utara dengan komoditas unggulannya berupa karet, rotan, madu, dan lilin. Pada masa ini kereta api sudah sudah difungsikan sebagai sarana transportasi utama untuk para penduduk setempat dan barang dagangan di kota Jesselton.
Ketika Perang Dunia II meletus, Kota Jesselton berhasil direbut oleh bala tentara Dai Nippon, sejak itu namanya dikembalikan menjadi Kota Api-api. 10 Oktober 1943, Albert Kwok, pemimpin gerilyawan Kinabalu melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah colonial Jepang. Namun, tidak berselang lama perlawanan itu berhasil dipatahkan dan Albert Kwok dihukum mati pada tahun 1944.
10
September 1945, Letjen Baba Masao,
Panglima Angkatan Darat Jepang ke-37 menanda-tangani surat pengakuan kalah
perang kepada Panglima Angkatan darat Sekutu. Pengakuan kalah perang terpaksa
dilakukan oleh Panglima Angkatan darat Jepang ke-37, Letjen Baba Masao, karena
kota Api-api selama 6 bulan dibombardir siang malam oleh peswat pengebom
Sekutu. Akibatnya Kota Kinabalu luluh lantak dibuatnya, hanya 3 bangunan yang
masih tetap berdiri, selebihnya rata dengan tanah.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Kota Api-api kembali dikuasai oleh SBUB. Namun, karena ketiadaan biaya untuk membangun ulang kota ini, maka pada 15 Juli 1946, SBUB menyerahkan penguasaan Kota Api-api kepada Walikota Inggeris. Sejak itu nama Jesselton kembali digunakan sebagai pengganti Kota Api-api.
Pada periode 1948-1955, Pemerintah Inggeris mengeluarkan dana sebesar 6.051.939 pondssterling untuk membiayai pembangunan ulang Kota Jesselton dan membiayai proyek-proyek baru yang lainnya. Pembangunan ulang dan proyek-proyek baru dimaksud dikelola oleh sebuah lembaga bentukan pemerintah Inggeris yang diberi nama Rencana Rekonstruksi dan Pembangunan untuk Borneo Utara.
Pada periode inilah pemerintah Inggeris memperbaiki dan memperluas pelabuhan laut, lapangan terbang, jalan-jalan baru yang mulus, lahan pertanian, dan segala sarana pendidikan. Khusus bidang pengembangan pendidikan ini, pemerintah Inggeris ketika itu menunjuk Roy Edgardo Parry sebagai Direktur Pendidikan yang pertama di Kota Jesselton.
Ketika semua wilayah di Borneo Utara, Sarawak, Singapura, dan Federasi Malaysia bergabung jadi satu dalam Federasi Malaysia pada tahun 1963, wilayah ini berubah nama menjadi Negara Bagian Sabah dengan ibukotanya Jesselton. Namun, 30 September 1968, nama Jesselton diganti dengan nama baru, yakni Kota Kinabalu. Status sebagai ibukota Negara Bagian Sabah ditetapkan oleh pemerintah Malaysia pada 2 Februari 2000.
Nama Kota Kinabalu berasal dari nama Gunung Kinabalu yang terletak sekitar 50 kilometer ke arah Timur Laut kota ini. Secara etimologis nama ini berasal dari nama Aki Nabalu yang artinya tempat yang dihormati. Aki juga bisa diartikan sebagai nenek moyang atau datuk, dan Nabalu artinya gunung dalam bahasa daerah setempat.
Selain itu, ada pula pendapat bahwa Kinabalu berasal dari kata Ki Nabalu. Ki artinya ada atau wujud, dan Nabalu artinya semangat orang mati. Jadi Ki Nabalu artinya semangat orang mati yang wujud atau ada.
Kota
Kinabalu terletak di Pantai Barat Laut Pulau Borneo (Kalimantan). Posisinya
sangat strategis karena berada di tepi Laut Cina Selatan. Luasnya sekitar 351 kilometer persegi dengan jumlah
penduduknya sekitar 452.058 jiwa (Data, 2010). Hampir 50 % penduduknya adalah
keturunan Tionghoa (93.429). Sisanya Bajau (72.931), Kadazan Dusun (69.993),
Bumiputera (59.607), Melayu Brunei (35.835), Murut (2.528), India (2.207), dan
lain-lain (5.482).
Nah, itulah gambaran singkat tentang Kota Kinabalu yang Insya Allah akan kukunjungi sebagai tempat transit menuju ke Kota Labuan, 27 Juni 2013 yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar