Kamis, 11 Juli 2013

DUA HARI DI KOTA LABUAN



JUM’AT, 28 JUNI 2013
Pukul 09.30 Wite                    
            Pesawat terbang Malaysia Airways Sistem mendarat dengan mulus di lapangan terbang antarbangsa Kota Labuan (IATA: LBU, dan ICAO: WBKL). Tidak lama kemudian kami dijemput oleh panitia Dialog Borneo Kalimantan XI (DBK XI) dengan bis Perbadanan Labuan.
Dalam perjalanan dari lapangan terbang internasional Kota Labuan menuju ke tempat acara DBK XI, aku melihat di sepanjang tepi kanan jalan raya ditanami dengan sejenis pohon yang sangat kukenali, yakni pohon galam. Pohon-pohon galam dimaksud ditanam secara berjejer dengan jarak antara 1-2 meter. Kulihat batangnya sudah sebesar tungkai kakiku. Pohon galam dengan tinggi sekitar 2 meter itu berdaun sangat rimbun.
Pemandangan unik ini menimbulkan inspirasi di hatiku alangkah eloknya jika di tepi kiri dan kanan Jalan Ahmad Yani di bilangan Gambut dan Lianganggang ditanami dengan pohon galam.

Pukul 10.00 Wite
Ternyata jarak tempat acara DBK XI tidak begitu jauh, hanya sekitar 30 menit perjalanan kami sudah tiba di tempat tujuan. Kegiatan DBK XI dipusatkan di salah satu ruangan yang ada di areal Gedung Rektorat Universitas Malaysia Sabah Kampus Antarbangsa Labuan (UMS-KAL).
Panitia DBK XI kemudian menempatkan rombongan kami di sebuah asrama mahasiwa yang diberi nama Kolej Kediaman Blok II/Beta. Asrama ini terdiri dari 5 tingkat. Kami menempati tiga buah kamar yang ada di lantai 3. Asrama semacam ini sangat banyak dibangun di tempat ini.
Kompleks UMS-KAL berada di atas tanah dengan kontur berbukit-bukit, arealnya sangat luas. Bukit-bukit yang mengelilingi bagian belakang komplek ini ditumbuhi dengan aneka jenis pepohonan yang tumbuh dengan suburnya. Pemandangan alamnya menjadi semakin berrtambah indah karena berada di tepi Laut Cina Selatan.
Selama berada di sini aku dan beberapa kawan berulang kali berjalan kaki mendekat ke pantai yang tampak lengang. Hanya sekali-sekali tampak kapal berlayar nun jauh di sana. Kuliah di sini pastilah sangat menyenangkan.
Tata ruang Komplek UMS-KAL sangat rapi, tata ruang semacam ini kukira patut dicontoh oleh lembaga pendidikan yang ingin membangun kampus yang dipadukan dengan asrama mahasiswa, dan fasilitas penunjang pendidikan lainnya. Sesuai dengan namanya maka mahasiswa yang kuliah di sini berasal dari mancanegara. Ketika kami berada di sana para mahasiswanya sedang libur kuliah dan pulang ke kampung halaman atau ke negaranya masing-masing.

 Pukul 10.30 Wite
Selepas mandi dan berpakaian rapi kami dibawa panitia ke tempat acara untuk mengikuti pembentangan makalah di Gedung Teater.
Pada saat mendaftarkan diri sebagai peserta aku menerima nomor bukti pemuatan puisi dalam Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat (Penyelenggara Rusdi Awang, Siti Hadiah Haji Abdul Mutalib, dan Masmah Mohd. Ali, Penerbit Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sabah, 2013).
Pada kesempatan itu aku mengajukan diri kepada Panitia DBK XI sebagai wakil teman-teman sastrawan Kalsel untuk menerimakan dan membawakan Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat sebagai nomor bukti pemuatan  puisi-puisi mereka. Alhamdulillah, Panitia DBK XI berkenan menyetujuinya.
Berikut ini nama-nama sastrawan Kalsel yang puisinya ikut dimuat dalam Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat.
  1. Abdurrahman El Husaini
  2. Ali Syamsuddin Arsi
  3. Arief Rahman Heriansyah
  4. Hajriansyah
  5. Hudan Nur
  6. Helwatin Najwa
  7. Sabhan Saberi Syukur
  8. Samsuni Sarman
  9. Tajuddin Noor Ganie
  10. Zulfaisal Putera
Selain itu aku juga menerimakan nomor bukti pemuatan puisi atas nama Wyaz Ibn Sinentang (Wahyu Yudi, Ketapang, Kalbar), karena beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Kota Labuan, yang bersangkutan mengontakku via inbox facebook, minta tolong diwakili untuk mengambilkan Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat. Masih ada satu lagi yang kuwakili pengambilan nomor bukti pemuatan puisinya, yakni Ibnu HS (Sukamara, Kalteng).
Ada 2 judul puisiku yang ikut dimuat di dalamnya, yakni: Zikir Pancaindra dan Zikir Tanah Warisan.

                                                                                        ZIKIR PANCAINDRA
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Sungai-sungai yang airnya mengalir
dari balik bebatuan di kaki-kaki bukit rimbun
                                                                           kata orang bermuara di lautan lepas
padahal air sungai-sungai itu 
bermuara di ujung lidah-lidah kita
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Kayu-kayu gelondongan yang milir
di sungai-sungai yang gelisah
kata orang bermuara di lidah-lidah
mesin-mesin pencacah kayu-kayu belah bergetah
padahal, penebangan pohon-pohon
di kaki-kaki bukit rimbun
akhirnya membuat angin
yang bertapa di gurun-gurun
leluasa menerbangkan duri-duri pasir
ke ruang-ruang semesta
lalu menebar-nebarkannya
ke kelopak mata kita yang rabun senja
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Bunyi mesin yang menderu-deru
di pabrik-pabrik kayu lapis
kata orang mengembara
mengikuti arah angin ke segenap semesta
padahal, deru mesin-mesin yang gemuruh itu
akhirnya melaju dan masuk ke dalam
gendang-gendang telinga kita
lalu dengan leluasa mendendangkan
lagu-lagu hewaniah di sana
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Asap hitam yang mengepul-ngepul
di cerobong-cerobong pabrik kayu lapis
kata orang mengembara
ke balik-balik awan nun jauh di sana
padahal, asap hitam yang mengepul-ngepul itu
tidak pergi ke mana-mana
ia cuma melayang-layang sejenak
kemudian turun ke bumi
dan menyusup diam-diam
ke dalam paru-paru kita
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Limbah pabrik kayu lapis
atau sampah-sampah rumah tangga
yang kita tumpahkan tanpa rasa bersalah
ke sungai-sungai yang mengalir gelisah
kata orang menguap jadi makanan lelumutan
padahal warnanya yang pasi
diam-diam menyusup masuk ke dalam pori-pori
dan kemudian bergerak leluasa
mencari mangsa di kulit jangat kita
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah

                                                                                     ZIKIR TANAH WARISAN
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Bayang-bayang siapa yang memekat
membuat pelangi pucat di langit barat
sungai terguguk mengidap rabuk lumut
air asinnya mengombak gugup ke laut
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Kupanggil angin, angin bisu
Kupanggil burung, burung bisu
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Lalu, bayang-bayang siapa yang menghitam
menghambur-hamburkan bubuk racun
di tanah warisan ini
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Malam ini bulan mestinya menata langit
menata kilau bintang, menjaga tanah warisan
dari amukan hujan dari amukan badai
tapi kenapa bulan pucat pasi?
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Kupanggil angin, angin bisu
Kupanggil burung, burung bisu
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah

Lalu, bayang-bayang siapa yang menghitam
menghambur-hambur bubuk racun
di tanah warisan ini
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Akh, bila isyaratku
tak disahut angin tak disahut burung
kutadahkan tangan ke langit dan kupuji Tuhan
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Sampai rubuh
bersimpuh di kaki-Nya
Yang Maha Kukuh
Allahhuakbar
Allahhuakbar
Allahhuakbar
Allah Maha Besar

Pukul 14.30 Wite
Selepas sholat Jum'at, kami kembali mengikuti pembentangan makalah-makalah oleh para ahli.

SABTU, 29 JUNI 2013
Pukul 06.00 wite
Aku dan YS Agus Suseno berjalan-jalan mengelilingi areal UMS-KAL, setelah itu menuju ke pantai yang terletak tak jauh dari UMS-KAL.  Cukup lama kami berdua berada di kawasan pantai ini.


Pukul 08.00 Wite
Selepas sarapan pagi di kantin, kami mengikuti pemaparan makalah-makalah di Ruang Teater. Kegiatan ini kami ikuti sampai pukul 13.00 Wite. Selepas itu istirahat untuk sholat dan makan siang.

Pukul 14.00 Wite
Para peserta Dialog Borneo Kalimantan XI (DBK XI) dibawa panitia mengunjungi beberapa tempat wisata dan bersejarah di seputaran Kota Labuan.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Taman Damai Layang-layang, sebuah tempat wisata di tepi Laut Cina Selatan. Di tempat ini dibangun Tugu Peringatan Pertempuran Bersejarah antara Tentara Australia versus Tentara Jepang di tahun 1942.
Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Muzium Kimney, yang dibangun di bekas areal Tambang Batubara milik pengusaha Inggeris. Tempat ini berada di atas bukit. Penanda yang paling utama adalah cerobong asap yang menjulang tinggi. Cerobong asap ini dibangun dari batu bata merah.
Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah Muzium Labuan yang terletak di pusat Kota Labuan. Di tempat ini kami melihat diorama yang menggambarkan kronologi peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di KJota Labuan.
Tempat ke-empat yang kami kunjungi adalah Tugu Peringatan Perang Dunia II. Di sekitar tugu ini ditempatkan banyak sekali beton bertulis yang memuat nama-nama tentara Australia yang gugur dalam Perang Dunia II melawan tentara Jepang di kawasan Kota Labuan.
Tempat ke lima yang kami kunjungi adalah Pelabuhan Feri Kota Labuan. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas Kota Labuan.
Perjalanan wisata ke lima tempat di atas membuat kami berkesempatan melihat kampung-kampung penduduk yang dibangun di sepanjang jalan yang kami lalui. Kulihat rumah-rumah penduduk banyak yang dibangun dalam bentuk rumah panggung.
Selain itu kami juga berkesempatan melihat-lihat tata ruang Kota Labuan, seperti bangunan gedung perkantoran, hotel-hotel bertingkat, rumah toko, taman-taman kota, dan ragam kehidupan warga kotanya.

Pukul 19.00 Wite
Kami diantar oleh panitia penyelenggara DBK XI ke Lapangan Terbang Antarbangsa Kota Labuan. Kami dijadwalkan berangkat pukul 21.30, ternyata terjadi penundaan sekitar 30 menit dari jadwal yang tertera di tiket dan boardingpas.

Pukul 22.00 Wite,
Pesawat terbang Malaysia Airways Sistem (MAS) tinggal landas menuju ke kota Kinibalu. Ketika itu hujan turun rintik-rintik.

Pukul 22.30 Wite
Setengah jam kemudian kami tiba di Lapangan Terbang Antarbangsa Kota Kinibalu. Ketika kami datang suasana sudah sepi, boleh jadi pesawat terbang yang kami tumpangi adalah pesawat terbang terakir yang datang malam itu. di  Setelah menjalani pemeriksaan wajib, kami ke luar kawasan lapangan terbang, dan selanjutnya menumpang taksi ke Penginapan Api-api Centre.
Ternyata tidak ada kamar yang kosong. Kami disarankan untuk mendatangi pengelola Blok VI yang terletak di seberang jalan, tapi masih di kawasan yang sama. Alhamdulillah ada kamar kosong.
Setelah meletakan barang-barang, kami ke luar hotel untuk makan malam. Kali ini kami makan malam di restoram milik warga negara Malaysia keturunan Tamil Srilangka.
Di Malaysia kulihat banyak sekali orang keturunan Tamil, di berbagai tempat seperti di lapangan terbang banyak sekali ditemui orang-orang keturunan Tamil yang bekerja di berbagai sektor formal dan informal.
Suatu ketika aku pernah berada di Stasiun Kereta Api di Kuala Lumpur, di sana kulihat hampir semua pekerjanya adalah warga negara Malaysia keturunan India.
Setelah makan malam kami segera kembali ke kamar hotel untuk istirahat, menabung tenaga karena besok hari kami harus bangun pukul 05.00 Wite. Pesawat Air Asia yang kami tumpangi menuju ke Kuala Lumpur dijadwalkan tinggal landas pukul 06.00 Wite.

SEKILAS TENTANG KOTA LABUAN
Menurut Wikipedia Indonesia, nama Kota Labuan secara etimologis berasal dari kata labuhan dalam bahasa Melayu, artinya labuhan atau pelabuhan. Kota Labuan terletak di Pulau Labuan, sekitar 10 kilometer dari Pantai Sabah, atau sekitar 30 menit perjalanan dengan pesawat terbang dari Kota Kinabalu, dan 2,5 jam dari Kota Kualalumpur. Luasnya diperkirakan sekitar 98 kilometer persegi. Jumlah penduduknya sekitar 78.000 jiwa (Data, Tahun 2000).
Secara topografis kondisi tanah tempat berdirinya Kota Labuan merupakan gabungan dari tanah daratan yang datar dengan tanah daratan yang bergelombang. Titik tertinggi tanahnya sekitar 85 meter di atas permukaan laut. Hampir 80% kawasannya masih ditutupi oleh hutan vegetasi.
Di sekitar Pulau Labuan terdapat enam pulau kecil lainnya, yakni: Burung, Daat, Kuraman, Papan, dan Rusukan Besar. Pulau-pulau inilah yang secara keseluruhan disebut sebagai Wilayah Persekutuan Labuan dengan ibukotanya Kota Labuan. Daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah adminitrasi pemerintahannya ada 6, yakni Batu Arang, Batu Manikar. Labuan, Layang-layang, dan Lebok Tamiang.
Kota Labuan termasuk kawasan yang terbilang penting di Malaysia Timur. Sejak tahun 1990-an berstatus sebagai pusat keuangan di kawasan lepas pantai Laut Cina Selatan. Selain itu, Labuan juga menjadi kawasan eksplorasi minyak dan gas bumi perairan dalam yang hasilnya sangat signifikan. Tercatat tidak kurang dari 6.500 buah perusahaan besar beroperasi di lepas pantai Pulau Labuan.
Pada awal sejarahnya, Pulau Labuan adalah pulau yang tidak berpenghuni di lepas pantai Pulau Borneo di kawasan Laut Cina Selatan. Mulai dihuni sejak tahun 1840, yakni ketika Inggeris menjadikannya sebagai pangkalan militer untuk menumpas kompolotan bajak laut yang ketika itu bersimaharajalela di Luat Cina Selatan. Ketika itu masih termasuk ke dalam wilayah territorial Kerajaan Brunei Darussalam.
Tahun 1846, Sultan Brunei Omar Ali Saifuddin menanda-tangani surat penyerahan Pulau Labuan kepada Inggeris. Sejak itu Pulau Labuan berkembang pesat menjadi pulau yang penting di kawasan Laut Cina Selatan. Tahun 1848, James Brooke yang ketika itu menjadi penguasa Serawak diangkat menjadi Gubernur Pulau Labuan.
Tahun 1849, diketahui bahwa tanah di Pulau Labuan mengandung deposit batubara dalam jumlah yang melimpah. Sejak itu sebuah perusahaan ditunjuk untuk mengekploitasi dan mengekspor batubara ke Cina.
Ketika meletus Perang Dunia II, Pulau Labuhan dan sekitar sempat dikuasai oleh Angkatan Darat ke 37 Bala Tentera Dai Nippon, yakni antara bulan Desember 1941 sampai dengan Juni 1945. Namanya kemudian diganti menjadi Pulau Maeda sesuai dengan nama panglima yang menjadi penguasanya ketika itu, yakni: Marquis Toshinari Maeda.
Juni 1945, Pasukan Sekutu dibawah komando Jenderal Mac Arthur mendarat di Pulau Labuhan. Sempat terjadi pertempuran sengit di segenap matra tempur, yakni: laut, darat, dan udara antara Pasukan Sekutu dan Tentera Dai Nippon. 9 September 1945, Jenderal Masao Baba, akhirnya dipaksa untuk menanda-tangani surat penyerahan diri di Pulau Layang-layang, sesaat sebelum Komandan Divisi Tentara Australia Mayor Jenderal George F. Wooten tiba di sana.
Juli 1946, Pulau Labuan menjadi bagian dari British North Borneo, hingga kemudian menjadi bagian dari Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur, pada tahun 1963. Selanjutnya, tahun 1984, Pulau Labuan diserahkan kepada pemerintah federal. Sekarang berstatus sebagai Wilayah Persekutuan Labuan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar