KAMIS, 27 JUNI 2013
Pukul 01.00 Wite
Aku
menulis status facebook bahwa aku akan nonaktif selama beberapa hari karena
bepergian ke Kota Kinabalu, Labuan, dan Kualalumpur. Tujuan penulisan status
ini adalah agar teman-teman faceboker bisa memakluminya jika pesan-pesan dan
kometar-komentar yang mereka kirimkan kepadaku tidak bisa kubalas dan
kutanggapi dengan cepat sebagaimana mestinya.
Masih melelalui status facebook itu juga aku memohon doa kepada teman-teman faceboker. Cukup banyak doa dan komentar yang kuterima. Beberapa diantaranya dikirimkan oleh rekan-rekanku sesama sastrawan Kalsel dan para mahasiswaku di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.
Tidak
lupa kuucapkan terima kasih kepada semuanya.
Pukul 07.30 Wite
Aku
meninggalkan rumah menuju ke kantor. Tidak seperti biasanya hari ini aku
diantarkan dengan sepeda motor oleh adik iparku. Biasanya aku berangkat ke kantor sendiri
dengan mengendarai sepeda motorku.
Kegiatan
pertama yang kulakukan di kantor adalah mengisi daftar hadir, kemudian ikut
apel pagi, setelah itu lapor kepada atasan langsung mengenai rencana
keberangkatanku ke Kota Labuan, dan terakhir masuk ke ruang kerjaku.
Pukul 09.30 Wite
Aku
jalan kaki ke Taman Budaya Banjarmasin, di tempat ini kami berkumpul untuk
kemudian pergi bersama-sama ke lapangan terbang Syamsuddin Banjarbaru. Tidak
berapa lama datanglah Saudara YS Agus Suseno, kemudian Saudara Irwan Alfiadin.
Dari jauh kulihat mobil Pak Syarifuddin, kami bergegas menuju ke tempat Pak
Syarifuddin menunggu.
Kami kemudian masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Syarifuddin dan langsung dibawa ke rumah beliau. Kami kemudian ganti mobil dan berangkat ke lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru dengan diantarkan oleh anak Pak Syarifuddin.
Ketika melewati Jalan Pramuka Banjarmasin, tepatnya di sekitar Kantor Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimamntan Selatan, mobil berhenti untuk memberikan kesempatan kepada Saudara Micky Hidayat untuk naik ke mobil. Selanjutnya mobil melaju ke lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru.
Pukul 10.15 Wite
Kami
tiba di lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru. Di pintu masuk kami
menjalani pemeriksaan X-Ray dan pemeriksaan metal detector, setelah itu
menunggu pengurusan tiket dan boardingpas yang dilakukan oleh Saudara Irwan
Alfiadin. Selanjutnya naik ke ruang keberangkatan di lantai dua.
Sementara menunggu panggilan masuk ke pesawat terbang kami minum kopi dan teh di sebuah cafe yang ada di lantai dua. Sekitar 15 menit kemudian kami dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat terbang. Dari beranda ruang keberangkatan kami dibawa dengan dua buah bis menuju ke sisi pesawat terbang Lion Air Indonesia yang bakal membawa kami ke lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.
Pukul 10.30 Wite
Pesawat
terbang Lion Air Indonesia tinggal landas meninggalkan lapangan terbang
Syamsuddin Noor Banjarbaru menuju ke lapangan terbanginternasional Soekarno
Hatta, Cengkareng, Banten. Kulihat semua kursi terisi dengan penumpang. Maklumlah,
sekarang ini sedang musim liburan sekolah.
Aku sempat tertidur sejenak di dalam pesawat, namun terbangun karena dikejutkan oleh pengumuman rutin yang sebenarnya tidak begitu penting.
Otoritas pesawat terbang Lion Air Indonesia yang kami tumpangi mengumumkan bahwa mencuri baju pelampung adalah perbuatan melanggar hukum, dan untuk itu kepada pelakunya akan dikenakan sanksi hukuman penjara. Tidak lupa pula diumumkan bahwa pihak otoritas akan melakukan razia atas barang bawaan penumpang.
“Akh.,Siapa juga yang mau mencuri baju pelampung itu?” gumamku kesal karena harus terbangun oleh pengumuman rutin yang sebenarnya tidak pentiung menurut versiku, tetapi termasuk penting menurut versi pihak otoritas kapal terbang ini.
Bisa jadi pengumuman rutin tersebut merupakan petunjuk bahwa pihak Lion Air Indonesia telah menderita kerugian yang sangat signifikan akibat ulah para kleptomania yang mencuri baju pelampung milik perusahaan yang berharga mahal itu. Entahlah.
Pukul 11.450 Wite
Pesawat
terbang Lion Air Indonesia yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di lapangan
terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.
Kami tidak langsung menuju ke Terminal II Keberangkatan Luar Negeri, tetapi singgah dulu untuk makan minum di sebuah longe yang ada di Terminal I Kedatangan Dalam Negeri.
Pukul 16.30 Wite
Kami
meninggalkan Terminal I Kedatangan Dalam Negeri menuju ke Terminal II Keberangkatan
Luar Negeri. Kami naik bis yang melayani trayek dari terminal ke terminal yang
ada di lingkungan lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng,
Banten.
Setelah mengurus tiket dan boardingpas, kami menjalani pemeriksaan X-Ray dan pemeriksaan metal detector. Selanjutnya kami berjalan beriringan menuju ke konter imigrasi. Ternyata antrian di konter imigrasi ini sangat panjang. Setelah selesai menjalani pemeriksaaan paspor kami diperbolehkan masuk ke ruang tunggu di Gate 6.
Pukul 19.00 Wite
Kami
dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat terbang Air Asia Malaysia yang akan
membawa kami terbang ke lapangan terbang internasional Kota Kinabalu. Kami
diantar ke sisi pesawat dengan menumpang tiga buah bis.
.
Pukul 19.30 Wite
Pesawat
terbang Air Asia Malaysia tinggal landas meninggalkan lapangan terbang internasional
Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Kulihat semua kursi terisi dengan
penumpang.
Tidak banyak yang bisa kulihat selama dalam perjalanan melintasi Pulau Borneo atau Pulau Kalimantan pada malam hari ini. Pemandangan yang kulihat nun di bawah sana cuma gelap semata. Maklumlah, cuaca ketika itu sedang buruk dan awan tebal menutupi daerah-daerah yang dilintasi pesawat terbang yang kutumpangi.
Selama dalam perjalanan ini aku berusaha memejamkan mata sambil merasakan tubuh yang sangat lelah. Maklumlah, sepanjang hari ini aku tak sempat istirahat dalam pengertian yang sebenarnya.
Pukul 23.00 Wite
Pesawat
terbang yang kutumpangi mendarat dengan mulus di lapangan terbang internasional
Kota Kinabalu. Inilah tempat pertama yang kujejak di Negara Bagian Sabah,
Malaysia Timur. Aku berharap bisa berulang kali lagi menjejak tempat ini dan
tempat-tempat lain yang ada di kawasan ini. Amin.
Aku dan kawan-kawan seperjalanan saling beriringan menuju ke konter imigrasi. Kulihat ada petugas setempat yang menyorotkan kamera ke arah kami dan para penumpang lainnya. Boleh jadi, hal ini merupakan prosedur tetap di lapangan terbang internasional Kota Kinabalu, yang sengaja dilakukan oleh para petugas setempat sebagai bagian dari kegiatan untuk memastikan keamanan nasional Negara Malaysia. Maklumlah, pesawat yang kami tumpangi baru datang dari negara tetangga (baca luar negeri). Entahlah.
"Nak apa, encik ke KK?," petugas Imigrasi Malaysia yang memeriksa pasporku bertanya tanpa menoleh ke arahku. Matanya tetap menatap ke arah pasporku. Dia seorang wanita dengan seragam kerjanya yang keren hingga menambah wibawanya sebagai seorang petugas.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan itu, karena ada satu kata yang tidak kupahami, yakni KK. Di telingaku sendiri KK terdengar diucapkan Qiqi oleh petugas Imigrasi Malaysia dimaksud. Namun, tidak berselang lama aku dapat memahaminya, KK adalah inisial untuk menyebut Kota Kinabalu.
"Nak, ikut Dialog Boneo Kalimantan di Labuan"
"Apa
tu?
"Pertemuan
antarbangsa para pengarang, sarjana dan peminat bahasa, sastra, dan budaya yang
tinggal di kawasan Borneo atau
Kalimantan."
“Encik
naik apa ke Labuan?”
“MAS”
(Kuucapkan dengan logat Inggeris: mess). Malaysia Airlines Sistem,” ujarku
melengkapi.
"Nak
berapa masa di Labuan?"
"Empat
hari."
"Berapa
ramai yang datang bersama encik ke Labuan?"
Aku
berpikir sejenak, aku mencoba memahami kosa-kata ramai, setelah memahaminya
lalu kujawab
"Lima
orang"
Kulihat
ada petugas Imigrasi Malaysia lain mendekat ke meja kerja wanita yang sedang mewawancaraiku
itu. Boleh jadi, ia adalah atasannya.
Namun,
tak berselang lama, petugas Imigrasi Malaysia itu menyerahkan pasporku dan aku dipersilakan
masuk ke Kota Kinibalu.
Hanya
aku yang diwawancarai oleh petugas Imigrasi Malaysia, temanku yang lain bisa langsung
melenggang masuk ke Kota Kinabalu tanpa ditanya apa-apa.
"Mungkin,
karena aku yang paling ganteng. Hehehe."
Setelah selesai menjalani pemeriksaaan di Konter Imigrasi, aku dan kawan-kawan seperjalanan segera memesan taksi untuk menuju ke tempat penginapan di tengah Kota Kinibalu.
Jarak
antara lapangan terbang internasional Kota Kinabalu dengan tempat penginapan
ternyata tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan.
Malam itu kami menginap di Penginapan Api-api Centre, sebuah bangunan besar yang terdiri dari beberapa blok bertingkat 7. Menilik dari bentuk fisik dan tata ruangnya aku menduga bangunan ini adalah paduan antara bangunan pasar dan penginapan. Toko-toko di pasar itu sudah tutup semua, yang masih buka adalah tempat kerja manajemen penginapan, restoran (di dalam ruangan tertutup), rumah makan (di ruangan terbuka), dan warnet yang dibuka semalam suntuk.
Kami naik lift menuju ke lantai tiga nomor 146 yang terletak di blok satu, seorang karyawan penginapan memandu kami menuju ke sana. Kulihat semua kamar memiliki dua pintu, pintu pertama berupa pintu berjeruji besi, dan pintu kedua berupa papan. Setiap pintu dilengkapi dengan kunci masing-masing. Setelah meletakkan barang bawaan di kamar penginapan, aku dan kawan-kawan seperjalanan turun ke lantai dasar untuk makan malam.
Malam itu kami makan malam di sebuah warung makan minum milik seorang warga Malaysia keturunan Pakistan. Hal ini kuketahui dari nama restoran dan wajah pemiliknya berikut para anak buahnya yang melayani kami makan minum malam itu. Suasananya sangat ramai karena banyak orang yang makan minum di sini.
Aku memesan nasi goreng dengan lauk-pauk telur ayam masak habang (bumbu Bali), untuk minumannya aku memesan teh tarik (yang ternyata adalah teh susu), dan ais kosong (air es).
Selepas makan minum, aku sebenanrnya ingin sekali masuk ke warnet yang malam itu tampak penuh sesak. Aku ingin mengirim kabar berita via facebook, namun tak jadi karena tak ada yang mau menemani. Hehehe, dari pada tak tahu jalan kembali menuju ke kamar penginapan dan harus tidur di warnet, maka adalah lebih baik aku tak singgah di warnet.
Pintu masuk dan dinding depan warnet dimaksud terbuat dari kaca polos, sehingga dari luar siapa saja bisa melihat dengan jelas apa yang sedang berlangsung di dalam ruangan warnet. Dari tempatku berdiri di luar ruangan, kulihat semua komputer yang ada di warnet tersebut diletakkan berjajar di sebuah meja panjang, tempat online mereka tidak disekat-sekat seperti lajimnya di warnet-warnet yang ada di Kota Banjarmasin. Sehingga para onliner bisa saling melihat monitor onliner yang lainnya.
Tata ruang yang terbuka seperti ini membuat para onliner tidak dapat dengan leluasa membuka situs-situs porno yang ada di internet. Tidak seperti di Kota Banjarmasin, warnet-warnet sudah menjadi tempat kencan yang nyaman bagi muda-mudi berlainan jenis. Bahkan lebih dari pada itu sudah menjadi tempat yang asyik untuk bercumbu rayu tanpa takut diganggu orang lain.
Tata ruang warnet yang disekat-sekat sedemikian rupa menjadikannya sebagai bilik-bilik pribadi yang rawan digunakan sebagai tempat berbuat mesum. Demi mengurangi dampak negative yang memprihatinkan kita semua, maka tata ruang warnet di Kota Banjarmasin tampaknya patut meniru tata ruang warnet di Kota Kinabalu.
Setelah selesai makan, aku dan kawan-kawan seperjalanan kembali ke kamar penginapan dan berusaha untuk memejamkan mata masing-masing, sambil membayangkan bagaimana perjalanan ke Pulau Labuan esok pagi. Namun, mata kami sulit dipejamkan, karena nun di bawah sana terdengar bunyi raungan mobil dan motor yang sengaja dipacu dengan kencangnya sepanjang malam. Raungan mobil dan motor itu sangat jelas terdengar di telinga kami, padahal, kamar tempat kami menginap malam itu berada cukup tinggi, yakni di lantai 3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar