Kamis, 20 Februari 2014

THAILAND IV



BAGIAN IV
CATATAN PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

MINGGU, 9 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Pasifik
Pukul 05.00 WB
Seperti subuh kemarin, telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, peneleponnya juga sama , yakni karyawan front office hotel. Mereka sengaja melakukannya agar kami terbangun dari tidur yang lelap.
Peristiwa yang terjadi kali ketiga ini membuatku semakin yakin bahwa membangunkan tidur para tamunya pada setiap pukul 05.00 WB (Waktu Bangkok) boleh jadi termasuk bagian dari tugas mereka.

Pukul 06.00 WP
Begitu terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok gigi, dan mandi.

Pukul 07.00 WP
Kami masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum air putih dan teh manis.
Beberapa teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, roti tawar yang diolesi mentega plus gula putih, atau diolesi selai nenas, dan ada yang memilih mengonsumsi mie instan saja.
Mie instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan di sini karena agak sensitive.



Pukul 08.00 WP
Kami checkout dari Hotel Royal Pasifik Bangkok dan bergegas masuk ke dalam bis yang sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Tujuan kami hari ini adalah ke Bandara Suvarnabhumi. Hari ini adalah hari terakhir kami di Bangkok.

Bandara Suvarnabhumi
09.30 WB
Bis yang kami tumpangi tiba di terminal keberangkatan luar negeri Bandara Suvarnabhumi Bangkok.
Setelah menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami semua naik ke ruang tunggu keberangkatan di Gate D-1.
Sepanjang jalan yang dilalui di bagian dalam bandara kami masih menggunakan kesempatan yang tersisa untuk mengambil foto-foto.
Ketika duduk di Gate D-1, aku melihat banyak jemaah umrah Indonesia keluar dari  pesawat Mandala Tiger Air yang baru tiba dari Jakarta. Pesawat itulah yang akan kami tumpangi untuk pulang ke Jakarta sebentar lagi.
Pukul 11.30 WB, pesawat terbang Mandala Tiger Air yang kami tumpangi tinggal landas dari Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Aku duduk di kursi 24/E. Selamat tinggal Bangkok, sampai jumpa lagi di lain kesempatan.
Bandara Soekarno Hatta
14.30 WIB
Pesawat terbang Mandala Tiger Air yang kami tumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.
Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, dan pengambilan bagasi, kami segera ke luar terminal kedatangan luar negeri menuju ke terminal keberangkatan dalam negeri.
Kami naik bis gratis yang disediakan oleh otoritas bandara. Setelah urusan tiket, boardingpass, dan pemasukan bagasi selesai dilakukan, kami semua makan malam di sebuah restoran cepat saji di lingkungan dalam bandara.
Selepas makan malam, kami menuju ke Gate F3 untuk menunggu panggilan masuk ke pesawat terbang. Pukul 19.15, kami dipanggil masuk ke pesawat terbang Garuda Indonesia. Aku duduk di kursi 42/K. Selanjutnya, pukul 19.30 Wib, pesawat terbang Garuda Indonesia tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta.

Bandara Syamsuddin Noor
22.00 Wite
Pesawat terbang yang kami tumpangi mendarat di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Bandara ketika itu diguyur hujan lebat.
Setelah selesai mengambil bagasi, aku pamit kepada ketua rombongan, dan kawan-kawan lainnya. Aku kemudian naik taksi bandara menuju ke rumahku. Tarifnya Rp. 100.000,-
Pukul 24.00 Wite aku tiba kembali di rumahku di bilangan Jalan Mayjen Soetoyo S, gang Sepakat RT 9 Nomor 30, Banjarmasin.
Alhamdulillah.

Profil Raja Bhumibol Adulyadej
Sepulang dari melakukan perjalanan wisata selama 4 hari di Thailand aku mencoba melakukan restrofeksi atas apa yang kualami, kurasakan, dan kupikirkan.
Salah satu hasil pengamatan yang membuatku sangat terkesan adalah fakta bahwa rakyat Thailand sangat  menghormati rajanya: Bhumibol Aduljadej. Kulihat foto-foto Raja Thailand ini dipasang di banyak tempat di Bangkok dan Pattaya. 
Menurut situs Wikipedia Indonesia,
Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej lahir di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 5 Desember 1927. Ia merupakan anggota Dinasti Chakri, ayahnya Raja Mahidol Adulyadej.
      Masa sekolahnya mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi dijalaninya di kota Lausanne, Swiss. Ketika itu sebagian besar anggota keluarga beliau memang tinggal di Swiss. Beliau lulus SLTA dengan prestasi memperoleh nilai tinggi pada Sastra Perancis, Latin, dan Yunani. Beliau kemudian belajar Ilmu Pengetahuan di Universitas Lausanne, Swiss.

Tahun 1935, kakaknya Ananda Mahidol menjadi Raja Thailand. Namun, Juni 1946, Ananda Mahidol meninggal dunia secara misterius. Bhumibol Adulyadej kemudian menggantikannya sebagai Raja Thailand, 9 Juni 1946. Usianya ketika itu baru 19 tahun
Namun, saat itu, beliau tidak langsung naik takhta karena harus menyelesaikan pendidikan hukum dan ilmu politik di Swis, yang kelak sangat berguna dalam kedudukannya sebagai Raja Thailand.
Menjelang akhir pendidikannya, beliau berkenalan dengan sepupu jauhnya Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara, puteri Duta Besar Thailand di Paris. Cinta keduanyapun bersemi. Juli 1949, keduanya bertunangan, dan Mei 1950, keduanya menikah. Sekarang, pernikahan itu telah melahirkan empat anak, seorang putra dan tiga orang putri.
Bhumibol Aduljadej memerintah Kerajaan Thailand dengan dibantu seorang wakil raja. Tahun 1950, beliau naik takhta sebagai Raja Thaild dengan Raja Rama IX. Kepemimpinannya mendapat tempat yang baik di lubuk hati rakyatnya. Sentuhan-sentuhan pribadinya sangat mengesankan rakyatnya.
Beliau seorang penggemar musik jazz dan lagu kontemporer. Dalam hal ini beliau adalah anggota kehormatan Institut Musik dan Seni Wina (Austria). Selain itu, beliau menggemari fotografi, mengarang, dan menerjemahkan karya sastra. Di bidang olahraga, beliau adalah seorang atlet cabang layar dengan prestasi utamanya sebagai meraih medali emas dalam ajang Asian Games (SEA GAMES di Manila, 1967).
Beliau sebenarnya adalah raja yang enggan memasuki koridor politik. Namun, demi kepentingan kehidupan rakyat banyak, beliau tak bisa tinggal diam. Tahun 1973, secara jelas, beliau  menghendaki Marsekal Thanom Kittikachorn mundur dari rezim militer dan membentuk pemerintahan demokrasi.
Menyusul kudeta tahun 1991, raja kemudian mendesak rezim militer pimpinan Jenderal Suchinda Kraprayoon mengadakan pemilu. Rakyat marah karena partai pemenang pemilu tahun 1992 menempatkan Jenderal Suchinda sebagai perdana menteri.
Beliau kemudian memanggil Jenderal Suchinda dan Mayjen Chamlong Srimuang yang pro-demokrasi. Kedua jenderal itu menghadap raja sambil berlutut. Ketika itu beliau dengan tegas meminta agar demokrasi ditegakkan di Thailand. Sejak itu, kudeta militer menjadi tabu di Thailand.

Posisi Tawar Wisatawan
Indonesia di Thailand
Hasil pengamatanku yang agaknya juga patut diungkapkan adalah fakta bahwa posisi tawar wisatawan Indonesia di Thailand mengarah kepada gejala-gejala yang positif.
Indikatornya antara lain ditunjukkan dari fakta bahwa semakin hari semakin banyak saja pemandu wisatawan dan pedagang cenderamata (souvenir) setempat yang dengan sadar berusaha belajar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, para pelaku bisnis kuliner di Thailand juga sudah mulai melirik potensi bisnis kuliner makanan dan minuman halal bagi wisatawan Indonesia yang pada umumnya beragama Islam. Semakin hari semakin banyak saja pengusaha setempat yang membuka usaha restoran halal bagi wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia
Pemicunya adalah fakta nyata bahwa semakin hari arus kunjungan wisatawan Indonesia ke Thailand menunjukkan gejala semakin meningkat saja. Peningkatan ini menunjukkan bahwa semakin hari wisatawan Indonesia semakin potensial sebagai sumber financial yang paling prospektis di masa depan (pendongkrak perolehan devisa yang sangat potensial).
Fakta lain, uang rupiah telah diakui sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi jual beli cenderamata (souvenir) di banyak pasar dan toko swalayan di seantero Thailand. Tidak hanya itu, uang rupiah juga berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di pusat produksi batu permata yang berharga mahal, dan di pusat produksi madu yang juga berharga mahal. Fakta ini menunjukkan bahwa uang rupiah telah dihargai pada level yang relative tinggi di kalangan public pelaku usaha bisnis di seantero Thailand.
Ganjalan yang masih ada hanya di level perbankan dan bursa penukaran valuta asing saja. Di mana uang rupiah masih belum bisa dipertukarkan di kedua lembaga financial ini. Namun, ganjalan ini akan berhasil dihilangkan jika arus wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand di masa-masa yang akan datang akan semakin dominan saja.




















Rabu, 19 Februari 2014

THAILAND III



BAGIAN III
CATATAN PERJALANAN WISATA
KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

SABTU, 8 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Century Pattaya
Pukul 05.00 WP
Seperti subuh kemarin, telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, peneleponnya juga sama, yakni karyawan front office hotel. Mereka sengaja melakukannya agar kami terbangun dari tidur yang lelap.
Peristiwa yang terjadi kali kedua ini membuatku sampai pada kesimpulan bahwa membangunkan tidur para tamunya pada setiap pukul 05.00 WP (Waktu Pattaya) boleh jadi termasuk bagian dari tugas mereka, sehingga para tamu tak boleh protes apalagi marah-marah. Entahlah. Mengenai hal ini belum sempat kukomfirmasikan dengan Mr. Wong.

Pukul 06.00 WP
Begitu terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok gigi, dan mandi. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman sekamarku. Kami bergantian menggunakan kamar mandi hotel.

Pukul 07.00 WP
Kami masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum air putih dan teh manis.
Beberapa teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, atau roti tawar yang diolesi mentega plus gula putih (atau diolesi selai nenas), dan ada yang memilih mengonsumsi mie instan saja. Mie instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan di sini karena agak sensitive.

Pukul 08.00 WP
Kami checkout dari Hotel Royal Century Pattaya dan bergegas masuk ke dalam bis yang sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Sopir bis (pria) dan kondekturnya (wanita) rupanya memilih tidur di dalam bis, tidak pulang ke rumah atau ikut tidur di hotel. Bisa jadi jarak rumah keduanya agak jauh dari lokasi hotel ini sehingga lebih praktis dan lebih hemat tidur di dalam bis saja. Entahlah.

Nongnoch Garden
09.30 WP
Bis meluncur melewati jalan-jalan protocol yang ada di kota Pattaya. Menuru Mr. Wong, tempat yang akan kami kunjungi pagi ini adalah Nongnoch Garden (NG). Sebuah taman bunga, tempat pertunjukan cabaret, dan atraksi gajah.
Begitu tiba di kilometer 163 Jalan Sukhumvit, pak supir membelokkan bis yang dikemudikannya ke kiri jalan, rupanya kami sudah hampir tiba di tempat tujuan. Kulihat di kiri kanan jalan masuk ke NG dipenuhi dengan tanaman palm berukuran besar yang dipasang berjejer, rapi sekali.
NG dimiliki oleh seorang wanita bernama Nongnoch. Meskipun bukan keturunan bangsawan namun Nongnoch berhasil meraih reputasi yang sangat mengangumkan, yakni menjadi orang yang paling kaya di Thailand. NG berada di areal seluas 2,5 kilometer persegi. Diperlukan waktu sekitar 2 jam untuk mengelilinginya dengan cepat. Taman bunganya ditata dengan apik sehingga menggoda para wisatawan untuk mengambil gambar di seantero tempat ini.  

Atraksi Gajah Pintar
11.00 WP
Selepas dari taman bunga ini kami dibawa Mr. Wong ke wahana lain yang masih berada di areal NG. Di tempat ini kami disuguhi pertunjukan cabaret oleh para seniman setempat. Gedung pertunjukkannya sangat sederhana, dibangun dari balok kayu, dan papan, dengan atap rumbia.
Selain mempertunjukkan sejumlah tarian tradisonal khas Thailand, di gedung ini juga dipertunjukkan Thai Boxing yang dikemas dalam bentuk cerita humor. Dalam salah satu adegan digambarkan seorang pelatih Thai Boxing yang menempati sudut merah terkena jotosan petinju lawan. Akibatnya ia pingsan dan harus ditandu ke sisi panggung untuk disadarkan oleh anak buahnya.
Sementara itu pertandingan Thai Boxing tetap berlangsung dengan serunya. Namun, sekali lagi terjadi insiden lucu. Wasit pertandingan ini terkena jotosan kedua petinju, hingga pingsan dan digotong ke luar ring. Namun, seiring dengan itu ring digulung dan pertunjukan Thai Boxing berakhir. Penonton tertawa ngakak karena merasa terhibur oleh pertunjukan yang mengelitik rawa itu.
Selanjutnya dipertunjukan adegan perang yang melibatkan dua puluhan prajurit yang saling adu senjata tajam. Perang berlangsung dalam suasana panas dan melibatkan dua ekor gajah yang penunggangnya saling berkonflik dan adu senjata tajam. Pertempuran gajah versus gajah ini berlangsung dalam dua sesi. Pertunjukkan selesai, para pemain member hormat, dan penonton memberikan tepuk tangannya yang meriah.
Kegiatan wisata selanjutnya adalah menyaksikan atraksi gajah pintar di bagian belakang gedung pertunjukkan. Gajah pintar yang ada di arena ini saling bergantian menunjukkkan kebolehan, seperti: main sepak bola, naik panser, naik sepeda, menari, dan melukis abstrak. Para wisatawan pada umumnya tidak melewatkan kesempatan berfoto ketika dirinya diangkat oleh dua ekor gajah dengan belalainya yang saling dipertautkan.
Selain itu, di lokasi yang sama juga dipertunjukkan belasan ekor harimau yang masih liar. Harimau dimaksud deibiarkan berleha-leha sambil berbaring, namun lehernya dilingkari dengan kalung besi. Para wisatawan juga boleh mengambil gambar dengan latar belakang harimau tidur dimaksud.
Sehabis lelah berkeliling tempat ini, kami kemudian diajak makan siang di sebuah restoran prasmanan yang terletak di areal dalam tempat wisata ini.

Big Bee Farm Company Limited
13.00
Selain Gems Gallery Pattaya (GGP),, masih ada satu tempat wisata lagi yang juga wajib dikunjungi oleh para wisatawan, yakni: Big Bee Farm Company Limited (BBFCL), pusat penjualan madu asli Thailand. Dalam hal ini pemerintah Thailand mewajibkan para pemandu wisatanya membawa para wisatawan yang dipandunya singgah ke tempat ini. Jika tidak, maka pemandu wisata dimaksud akan terkena sanksi skorsing.
      Gedung BBFCL terletak di tepi jalan raya utama di pinggiran kota Pattaya. Begitu tiba, kami para wisatawan dipersilakan masuk ke dalam suatu ruangan untuk mendengarkan penjelasan tentang madu asli Thailand produk BBFCL.
Karyawan atau karyawati yang bertugas sebagai pemberi penjelasan disesuaikan dengan asal negara para wisatawan. Mereka menyediakan pemberi penjelasan yang fasih berbahasa asing sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh rombongan wisatawan yang datang berkunjung. Karyawan yang bertugas memberikan penjelasan kepada kami bernama Adnan, seorang Muslim. Orang Thailand ini adalah Alumnus Sastra Melayu dari sebuah perguruan tinggi di Malaysia. Selain itu ia juga pernah 16 tahun bekerja di sebuah perusahaan perikanan di Maluku.
Selain memproduksi madu asli, BBFCL juga memproduksi Bee Pollen, dan Royal Jelly. Merk produk BBFCL adalah Thepprasit Honey. Penjelasan tentang keunggulan produk mereka sangat memikat sehingga para wisatawan menjadi tertarik untuk membeli produk mereka. Harga produk mereka relative mahal, satu paket lengkap dihargai TBH 500 setara dengan Rp. 1.500.000,- (kurs Rp. 300,- per TBH 1). Pembayaran bisa dilakukan denghan uang rupiah. Banyak anggota tour wisata yang tertarik membelinya.
 Selepas transaksi, kami diajak ke sebuah areal di samping gedung BBFCL. Di sini diperlihatkan bagaimana lebah madu dipeternakan dan bagaimana caranya pengambilan madu yang masih berada di sarang lebah sebelum diproduksi di pabrik penyulingan modern. Pusat peternakan lebah madu milik BBFCL sesungguhnya berada di hutan alami yang terletak di Chiangmai, yakni di daerah segi tiga emas. Pohon yang dijadikan sebagai tempat lebah bersarang dan berkembang biak adalah pohon candu yang dibiarkan tumbuh subur di daerah segi tiga emas sana. Namun, candunya tidak diproduksi dan diperjual-belikan karena dianggap sebagai barang terlarang secara internasional.

Bowtip Supermarket
14.30 WP
Kami meninggalkan kota Pattaya untuk kembali ke kota Bangkok. Di tengah jalan kami singgah di Bowtip Supermarket, sebuah supermarket yang menjual produk makanan dan souvenir khas Thailand.
Di tempat ini anggota tour wisata membeli oleh-oleh berupa keripik durian, lempok durian, buah-buahan, aneka jenis keripik, aneka jenis coklat, aneka jenis ikan kering (termasuk cumi-cumi), pakaian jadi, sandal, gantungan kunci, dan banyak lagi yang lainnya.
Selain itu, ketika berada di tempat ini, anggota tour wisata banyak memanfaatkan kesempatan mencicipi durian monthong yang terkenal legit, dan mencicipi kelapa bakar yang lezat. Tidak hanya itu, mereka juga tidak melewatkan kesempatan mencicipi kelezatan es krim khas Thailand.

Mega Banga Supermarket
16.30 WB
Kami tiba di Mega Banga Supermarket sebagai mall yang khusus menjual barang-barang berkelas produksi luar negeri. Ini adalah kesempatan terakhir bagi anggota tour wisata untuk membelanjakan bath miliknya, karena selepas ini tidak ada lagi acara singgah untuk berbelanja. Masih ada satu agenda yang tersisa, yakni makan malam di Restoran Royal Dragon Restoran.

Royal Dragon Restoran
19.00 WB
Kami tiba di Royal Dragon Restoran (RDR), sebuah restoran yang berhasil meraih salah satu rekor dunia menurut versi Guinnes Book of Record.
Desain interior restoran  menonjolkan cita rasa artistic orang Cina. Tata ruangnya didominasi oleh warna merah dan kuning. Arealnya sangat luas.
Menu yang disajikan sangat istemewa. Sehingga tempat makan ini selalu penuh dengan pelanggan, terutama sekali pada malam hari.
Satu hal unik, pesanan makanan diantarkan oleh para pramusaji dengan mengenakan sepatu roda, karena jarak antara dapur dengan tempat makan para tamu cukup jauh.
Bahkan, ketika kami makan di sana, kami melihat ada seorang pramusaji mengantarkan pesanan dengan cara terbang, yakni menggunakan semacam alat yang dirancang khusus (kawat elektronik yang dipasang di atas kepalanya)

Hotel Royal Pasifik
21.00 WB
Kegiatan hari ketiga di kota Bangkok ditutup dengan acara chekin di Hotel Royal Pasifik. Aku malam ini tidur di kamar nomor 3019.








THAILAND I



BAGIAN I
CATATAN PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

RABU, 5 FEBRUARI 2014
Rumahku di Banjarmasin
Pukul 10.00 Wite
Sebelum berangkat ke kantor, aku sekali lagi mengecek barang bawaanku yang telah dimasukkan ke dalam tas bawaanku, yakni: baju (empat potong), celana panjang (2 potong), celana dalam (4 potong), kaus dalam alias singlet (4 potong), kaus kaki (1 pasang), minyak angin, obat-obatan (obat masuk angin, obat sakit gigi, obat sakit perut), dan sikat gigi lengkap dengan pastanya.
Selain itu aku juga mengecek amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 4.000.000,-, dompet (tempat di mana aku menyimpan KTP, SIM, Askes, dan uang kas sebesar Rp. 1.000.000,- dan uang Thailand Bath (THB) sebesar 2.000.
Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, aku lantas beranjak ke luar rumah ke tempat parkir sepeda motorku. Lalu menghidupkan mesin sepeda motorku dan pamit kepada isteriku yang sejak tadi sudah berdiri di pintu pagar untuk mengantarkan keberangkatanku. Hal ini selalu dilakukannya setiap kali aku berangkat ke kantor. Namun, kali ini situasinya agak khusus karena selepas dari kantor aku tidak pulang ke rumah lagi, tetapi langsung berangkat ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru.

Kantorku di Banjarmasin
Pukul 10.15 Wite
Tidak seperti biasanya, sesiang ini aku baru berangkat ke kantor, ada beberapa pekerjaan yang belum selesai kukerjakan di rumah. Pekerjaan dimaksud harus kuselesaikan sebelum aku melakukan perjalanan wisata ke Negeri Gajah Putih selama 4 hari (5-9 Februari 2014).
Begitu tiba di kantor, aku mengerjakan tugas-tugas rutinku sebagai PNS. Di sela-sela mengerjakan tugas kantor itu aku menerima kedatangan 3 orang mahasiswaku yang datang untuk berbagai kepentingan yang ada hubungannya dengan kegiatan perkuliahan. Sejatinya sekarang ini masih dalam status libur kuliah, namun aku tetap bersedia menerima kedatangan para mahasiswaku itu.

Jalan Veteran Banjarmasin
Pukul 14.00 Wite
Mobil Avansa milik agen perjalanan wisata datang menjemputku di kantor. Aku segera naik ke mobil jemputan itu. Ternyata, di dalam mobil sudah ada 4 anggota tour wisata lainnya. Selanjutnya kami berlima diantarkan ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru.
Mobil yang kami tumpangi cukup lama terjebak kemacetan di ruas Jalan Veteran Banjarmasin. Jalan yang semula satu arah, mulai hari ini dikembalikan menjadi dua arah. Namun banyak pengguna jalan raya yang datang dari dalam kota yang rupanya tidak mengetahuinya sehingga mereka terlanjur menempatkan mobil yang disopirinya atau sepeda motor yang dikendarainya di jalur kanan.
Sementara itu para pengguna jalan raya lainnya yang datang dari arah luar kota juga telah terlanjur menempatkan mobil atau motornya di jalur yang sama. Akibatnya terjadilah tubrukan arus lalulintas di salah satu jalan protocol di kota Banjarmasin ini.
Untunglah, kemacetan lalulintas itu pada akhirnya berhasil diuraikan oleh beberapa orang anggota Polisi Lalulintas yang bertugas di sana. Mobil yang kami tumpangi sekali lagi terjebak kemacetan di ruas Jalan Gatot Soebroto Banjarmasin. Pemicunya sama. Namun, syukurlah kami tiba di tempat tujuan jauh sebelum kegiatan chekin dilakukan.

Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru
Pukul 16.00 Wite
Ternyata jumlah anggota tour wisata ke Thailand ini ada sebanyak 16 orang. Empat di antaranya pria dan 12 lainnya wanita. Dua diantaranya masih remaja, yakni seorang gadis berusia 15 tahun dan seorang perjaka berusia 18 tahun. Keduanya adik kakak dan berangkat ke Thailand bersama ayah dan ibunya.
Setelah menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami semua naik ke ruang tunggu bandara yang terletak di Lantai II.

Pukul17.45 Wite
Seiring dengan berjalannya waktu, para penumpang akhirnya dipanggil masuk ke ruang tunggu, lalu dipersilakan naik ke bis, dan akhirnya masuk ke dalam pesawat terbang yang bakal membawa kami semua ke Jakarta. Aku duduk di kursi nomor 28/D. Keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi kali ini sempat tertunda sekitar satu jam dari jadwal yang tertera pada tiket yang kupegang.  Aku tiba di Jakarta pukul 18.00 WIB.

Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Pukul 20.40 Wib
Di pintu kedatangan dalam negeri Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, kami sudah ditunggu oleh karyawan Hotel Amaris Jakarta yang rupanya juga didampingi oleh karyawan agen perjalanan wisata kami di Jakarta. Malam itu kami menginap di Hotel Amaris yang beralamat di Jalan Husien Sastranegara Jakarta.
Aku ditempatkan di kamar Nomor 3015. Teman sekamarku adalah seorang bapak berusia sekitar 50 tahun. Sudah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yang sudah besar-besar. Bapak ini berasal dari Tanah Batak dan menikah dengan seorang wanita berdarah Dayak Siang (Kalteng)
Aku sama sekali tidak merasa canggung berada dalam satu kamar dengannya. Maklumlah, kami dulunya pernah berdinas di sebuah instansi yang sama. Namun, setelah otonomi daerah ia memilih menjadi PNS Pusat dan aku sendiri memilih menjadi PNS Pemprov Kalsel. 
Setelah meletakan barang bawaan masing-masing, kami segera ke luar kamar untuk makan malam bersama di sebuah Rumah Makan Padang yang terletak persis di sebelah Hotel Amaris. Ketika itu kota Jakarta diguyur hujan lebat.
Setelah makan malam bersama, kami segara naik dan masuk ke kamar hotel masing-masing. Dalam tempo singkat aku sudah terlelap di alam mimpi.

KAMIS, 6 FEBRUARI 2014
Hotel Amaris Jakarta
Pukul 05.00 Wib
Aku dan teman sekamarku sudah terbangun dari tidur kami yang lelap. Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah mandi dan gosok gigi secara bergantian di dalam kamar mandi hotel.
Sekitar dua jam kemudian kami turun ke lobi hotel untuk checkout. Pihak hotel menjamu kami sarapan pagi dengan menu dua biji kue dan sebotol air mineral.
Setelah itu pihak hotel mengantarkan kami ke Terminal Keberangkatan Luar Negeri. Pengantaran ini termasuk dalam bagian servise mereka kepada kami selaku penginap di hotel mereka. Service yang sangat mengesankan.

Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Pukul 08.45 Wib
Setelah menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami semua masuk ke sebuah kantin untuk memesan makanan dan minuman.
Pagi itu aku memesan semangkok bakso isi lima biji dan secangkir teh panas. Teman lainnya memesan makanan dan minuman sesuai dengan seleranya masing-masing. Ada yang memesan nasi goreng, dan ada pula yang memesan nasi sop.
Aku sendiri masih kurang enak badan, dalam dua hari ini aku kurang berselera makan nasi. Khawatir masuk angin, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskan lima biji bakso yang ada di hadapanku. Sungguh, sangat riskan jika perutku dibiarkan kosong berhari-hari. Alhamdulillah, bakso itu akhirnya berhail kuhabiskan juga. Lumayan sebagai pengganjal perut ketika kesehatan tubuh tengah menurun. 
Selanjutnya kami naik ke ruang tunggu bandara yang terletak di Gate Z-4. Pukul 08.45 Wib, pesawat terbang Mandala Tiger Air tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi Nomor 25/D. 

Bandara Suvarnabhumi Bangkok
Pukul 12.00 WIB
Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Ternyata pada saat yang hampir bersamaan juga mendarat sejumlah pesawat terbang lainnya di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Akibatnya konter imigrasi menjadi penuh sesak dengan antrian orang-orang yang akan masuk ke Negara Thailand. Lebih dari 1 jam aku berdiri ikut antri di depan konter imigrasi ini.
Menurut informasi yang terdapat di dalam situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, Bandara Suvarnabhumi (dibaca Suwannapun) adalah bandara internasional (IATA:BKK dan ICAO: VTBS) yang melayani penerbangan dari dan ke kota Bangkok. Mulai digunakan sejak 28 September 2006, yakni sebagai pengganti bandara lama Don Muang.
Bandara seluas 563.000 meter persegi ini terletak 25 kilometer di sebelah Timur kota Bangkok, tepatnya di daerah Racha Thewa, Distrik Bang Phli, Provinsi Samut Prakan. Dikelola oleh Airpots of Thailand dan menjadi markas utama untuk maskapai penerbangan Bangkok Airways, Orient Thai Airlines, dan Thai Airways International.
Nama Suvarnabhumi diberikan oleh Raja Bhumibol Adulyadej, artinya Tanah Emas. Bandara ini memiliki menara control setinggi 132,2 meter dan merupakan bandara dengan menara control tertinggi di dunia. Tercatat sebagai bandara tersibuk ke empat di dunia setelah Bandara Internasional Haneda di Jepang, Bandara Internasional Beijing di RRC, dan Bandar Udara Internasional Hongkong di RRC.
Kami sempat cukup lama mondar-mandir  di selasar luar bandara sebelum akhirnya bertemu dengan penjemput kami. Ternyata penjemput kami adalah seorang lelaki setengah baya berpenampilan eksentrik sebagaimana layaknya seorang seniman. Rambutnya yang tipis dikuncir di bagian belakang sehingga menyerupai ekor kuda. Ia memperkenalkan dirinya kepada kami: Mr. Wong.
“Wong Bangkok. Bukan Wong Kam Pong,” ujarnya berseloroh.
Kami terkekeh dibuatnya.
Awal yang baik tampaknya.
Mr. Wong ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia, namun logat bicara seperti orang Malaysia. Ia mengaku asli orang Thailand dan menganut agama Budha. Ia belajar bahasa Indonesia secara otodidak dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaannya sebagai seorang pemandu wisata.
Menurut Mr. Wong, penghasilannya sebagai pemandu wisata menjadi semakin bertambah besar berkat kefasihannya berbahasa Indonesia. Maklumlah, dalam 5 tahun terakhir ini semakin banyak saja wisatawan Indonesia yang datang ke Thailand.
Selanjutnya kami mengikuti langkah kaki Mr. Wong menuju ke tempat parkiran bis yang terletak tidak jauh dari pintu ke luar bandara. Di depan pintu bis sudah menunggu seorang gadis berpakaian tradisional Thailand. Satu demi satu kami dikalunginya dengan roncean bunga kering.
Pengalungan bunga merupakan tradisi yang dilakukan sebagai symbol penghormatan kepada para tamu yang berkenan datang ke negara mereka. Pengalungan bunga itu diabadikan langsung oleh seorang fotografer professional. Sungguh, kami semua merasa tersanjung dibuatnya.
Bis wisata yang disediakan Mr. Wong adalah bis wisata berukuran besar dengan kafasitas 40 orang penumpang. Mengingat jumlah kami cuma 16 orang, maka kami bisa dengan leluasa menempati 2-3 kursi sekaligus. Tidak ada di antara kami yang duduk saling berdampingan 2-3 orang di kursi pada lajur yang sama. Aku sendiri sengaja memilih duduk di bangku paling belakang dengan tujuan agar dapat dengan leluasa menikmati pemandangan indah yang terpampang di luar sana.

Wisata Keliling Kota Bangkok
Pukul 13.35 WB
  Tidak lama berselang bis wisata yang kami tumpangi bergerak ke luar dari areal Bandara Suvarnabhumi menuju ke pusat kota Bangkok. Dari dalam bis kulihat kota Bangkok dipenuhi dengan jalan layang yang dibangun saling silang menyilang. Sungguhpun demikian, kota Bangkok masih tetap mengalami kemacetan lalulintas di sana-sini. Lebih-lebih pada saat jam berangkat kerja di pagi hari dan pulang kerja di sore hari. Aneka jenis mobil tampak merayap di hampir semua ruas jalan utama yang kami lalui pada hari ini.
Menurut situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, nama kota Bangkok berasal dari Bang Makok, Bang sebutan dalam bahasa Thailand bagian Tengah untuk kota atau desa yang berlokasi di tepian sungai, dan Makok adalah nama dalam bahasa Thailand untuk Spondias pinnata, Spondias mombin atau Elaeocarpus hygrophilus (tanaman yang menghasilkan buah seperti buah olive). Tapi, ada juga pendapat lain bahwa Bangkok berasal dari kata Bang Koh. Bang artinya pusat pemukiman, dan  Koh berarti pulau. Ini berarti Bangkok artinya pulau yang menjadi pusat pemukiman.
Kota Bangkok pada awal sejarahnya adalah sebuah pusat perdagangan kecil dan pelabuhan di tepi Barat sungai Chao Phraya. Kota Bangkok  pertama kali dibangun oleh Khun Pha Muang dan Bang Khun Klang Thao pada tahun 1238. Mereka menyebut kerajaan mereka sebagai Kerajaan Sukothai atau kerajaan fajar atau kerajaan bahagia.
Tahun 1279-1298, Raja Ramkamhaeng Agung berkuasa di Thailand, ia adalah raja yang paling terkenal dari dinasti Sukhotai. Selain berhasil memperluas wilayah kerajaannya, Raja Ramkamhaeng juga berhasil mendorong para cendikiawan kerajaaan untuk berkreasi menciptakan, memperkenalkan, dan menyebar-luaskan alfabet khas Thailand yang bentuknya mirip hanacaraka (tulisan Jawa kuno).
Setelah Raja Ramkamhaeng mangkat pada tahun 1298, tampuk pemerintah beralih kepada raja-raja dinasti Ayutthaya (1350-1767). Pada masa pemerintahan Lan Na, Kerajaan Ayutthaya berhasil memperluas pengaruhnya atas sejumlah kerajaan lain yang selama ini menjadi negara tetangganya, banyak di antaranya adalah mantan suzerains dari Sukhothai.
Namun, setelah Lan Na mangkat, Kerajaan Ayutthaya semakin melemah karena konflik internal. Tahun 1767, Kerajaan Ayutthaya kehilangan kekuasaannya atas wilayah Chiang Mai. Wilayah yang sangat vital ini jatuh ke tangan para raja yang berkuasa di Kerajaan Burma. Tidak hanya berhasil merebut Chiang Mai, Kerajaan Burma juga berhasil menganeksasi wilayah kekuasaan Kerajaan Ayutthaya lainnya yang berada di wilayah utara. 
Sehubungan dengan kekalahan yang dialaminya dalam peperangan melawan Kerajaan Burma pada tahun 1767 dimaksud, maka Raja Taksin, raja terakhir Kerajaan Ayutthaya, menyingkir dari kota Bangkok dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Thonburi. Masa pemerintahan Taksin berakhir pada tahun 1782, ia digantikan Raja Buddha Yodfa Chulaloke.
Pada masa pemerintahannya ini Raja Buddha Yodfa Chulaloke membangun ulang ibu kota di sisi timur sungai, dan memberikannya nama resmi Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit dan kemudian disingkat menjadi Krung Thep Maha Nakhon.
Namun demikian, kota baru tersebut juga ikut menerima nama Bangkok, yang terus digunakan oleh orang-orang asing untuk menunjuk kepada seluruh wilayah kota dan menjadi nama resmi dalam Bahasa Inggris, sedangkan dalam Bahasa Thailand nama Bangkok tetap hanya menunjukan kepada kota tua di tepi barat sungai.
Ketika Raja Mongkut berkuasa, nama resmi kota Bangkok yang diberikan oleh Raja Buddha Yodfa Chulaloke, diralatnya menjadi: Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit. Nama ini merupakan kombinasi dari dua bahasa kuno India, yakni Pali dan Sanskerta.
Setelah dilakukan penyusunan ulang nama kota Bangkok kemudian ditulis sebagai berikut: Krung-dēvamahānagara amararatanakosindra mahindrayudhyā mahātilakabhava navaratanarājadhānī purīrāmasya utamarājanivēsana mahāsthāna amaravimāna avatārasthitya shakrasdattiya vishnukarmaprasiddhi. Nama lengkap Bangkok ini telah didaftarkan oleh lembaga Guinness Book of Records sebagai nama ibukota negara yang terpanjang di dunia.
Arti kata di atas adalah sebagai berikut: kota malaikat, kota besar, kota intan abadi, kota Dewa Indra yang tidak tergoyahkan, ibu kota agung dunia yang dikaruniai sembilan batu permata berharga, kota kebahagiaan, penuh dengan Istana Kerajaan yang sangat besar yang menyerupai surga dimana pemerintahan adalah reinkarnasi dewa-dewa, sebuah kota yang diberikan oleh Indra dan dibangun oleh Wisnu.
Selama berabad-abad kota Bangkok dikembangkan oleh para raja yang berkuasa silih berganti. Pembangunan infrastruktur terus digalakkan, sehingga kota Bangkok berkembang menjadi kota metropolis yang modern. Luas kota Bangkok sekarang ini sekitar 1.587 km persegi dengan ketinggian 1,5 meter di atas permukaan laut.

Restoran Chan Siaw Bangkok
Pukul 15.40 WB
Kira-kira dua jam perjalanan, bis  yang kami tumpangi belok kiri dan masuk ke pelataran parkir Restoran Chan Siaw alias Al Hilal alias Bulan Sabit. Mr. Wong sudah memesan dua meja untuk menjamu kami makan siang pertama di kota Bangkok. Kami duduk mengelilingi dua buah meja putar, setiap meja putar dikelilingi oleh 8 orang.
Masakan yang disajikan untuk kami siang itu sangatlah beragam, yakni: ikan, ayam, daging, sayur, mie, kuah sop, lalapan, tongyam, dan banyak lagi yang lainnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa masakan khas Thailand didominasi oleh aroma rempah yang tajam, dengan citarasa asam, asin, dan pedas.  
Semua masakan yang disajikan di restoran ini menurut Mr. Wong dijamin halal bagi kaum Muslimin karena restoran ini dimiliki oleh seorang pengusaha Muslim warga Negara Thailand keturunan Turki. Seiring dengan semakin derasnya arus kedatangan wisatawan Indonesia ke Thailand, maka dalam lima tahun terakhir ini semakin banyak saja pengusaha setempat yang tertarik menanamkan modalnya di bisnis restoran yang khusus menyediakan kuliner halal bagi para wisatawan Indonesia, yang pada umumnya beragama Islam (Muslim).
Pendek kata, para wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan mencari restoran yang menyajikan kuliner halal. Mr. Wong memastikan bahwa di semua titik kota Bangkok ditemukan banyak sekali restoran halal bagi para wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia. 
Masih berkaitan dengan derasnya arus wisatawan Indonesia yang datang ke Thailand, para pihak yang bergerak di sector wisata di Negara Gajah Putih ini juga banyak yang merasa perlu belajar bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Sekarang ini, tidak hanya para pemandu wisata saja yang fasih berbahasa Indonesia, tetapi juga para penjual souvenir di pasar-pasar tradisional yang lokasinya berada di kawasan wisata. Tidak hanya itu, uang rupiah bahkan sudah diterima sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi jual beli souvenir di banyak tempat wisata di Thailand.

Menyaksikan Demonstrasi Antipemerintah di Pusat Kota Bangkok
16.00 WB
Sehabis makan siang yang agak terlambat jadwalnya itu, kami dibawa Mr. Wong ke pusat kota Bangkok. Namun, bis kami tidak bisa merapat terlalu dekat ke tempat tujuan karena jalanan setempat diblokir oleh aparat keamanan. Hal ini dilakukan sehubungan dengan adanya aksi unjuk rasa antipemerintah PM Yinluck Sinawarta.
Aku melihat di sana-sini di sepanjang jalan yang kami lalui tampak terparkir mobil aparat keamanan. Jalan-jalan dibarikade dengan kawat berduri, palang kayu, atau setidak-tidaknya dibentangi dengan tali warna-warni. Aparat keamanan bersenjata lengkap juga tampak berjaga-jaga di sudut-sudut jalan yang dianggap rawan kerusuhan.   
Salah satu lokasi aksi demonstrasi antipemerintah di kota Bangkok yang sempat kukunjungi terletak di tengah-tengah pasar kaki lima di pusat kota, dekat dengan Museum Patung Lilin Madame Tusaud. Aksi unjuk rasa dimaksud kulihat berlangsung damai cuma diisi dengan pidato-pidato agitasi para tokoh oposisi dan sebagai selingan diisi dengan pertunjukan aneka jenis kesenian oleh para seniman yang antipemerintah.
Para pengunjuk rasa tampaknya tidak beringas seperti lajimnya di tanah air kita, tidak ada pembakaran ban bekas, apalagi aksi anarkis membakar dan menjarah toko-toko. Para demonstrans kulihat berbaur dengan para pedagang kaki lima dan para pembeli lainnya. Selebihnya, mereka kulihat duduk-duduk bergerombol, berebahan secara bergerombol juga, atau tidur di dalam tenda-tenda yang jumlahnya relatif banyak. Suasananya persis seperti tenda-tenda para jemaah haji ketika tengah wukup di Padang Arafah. Bedanya, tenda yang dipasang aneka warna, tidak sewarna seperti di Padang Arafah sana
Sungguhpun demikian, aparat keamanan dengan menenteng senjata lengkap kulihat tampak siap siaga berjaga-jaga dengan ketat di mana-mana. Pokoknya mereka siap tempur, boleh jadi statusnya adalah siaga satu. Akses jalan ditutup dengan barikade kawat berduri, palang kayu, dan tali-tali seperti garis polisi malang melitang di mana-mana. Tidak hanya itu, mobil-mobil aparat keamanan diparkir di tempat yang menyolok mata di mana-mana. Tapi, para pejalan kaki sama sekali tidak dilarang ke luar masuk lokasi demonstrasi. 
Fokus perhatian para demonstran adalah pidato-pidato atau atraksi kesenian di panggung terbuka berukuran besar yang dibangun di tengah pasar. Keadaan di seantero pasar terasa teduh karena sinar matahari terhalang oleh bangunan jalan layang yang banyak malang melintang nun di atas sana. Kegiatan yang berlangsung di panggung terbuka itu bisa diikuti melalui layar monitor yang dipasang di mana-mana.
Posisi panggung terbuka yang demikian itu sebenarnya sangat rawan bagi para tokoh oposisi yang berpidato di sana. Para penembak jitu mempunyai banyak tempat yang stragis untuk membidik kepala mereka. Gedung-gedung pusat perbelanjaan yang mengelilingi lokasi tersebut merupakan tempat yang strategis bagi para penembak jitu yang tentunya propemerintah Yinluck Sinawarta.

Museum Patung Lilin
Madame Tussaud Bangkok
18.00 WB
Aku dan anggota tour wisata lainnya dipandu oleh Mr. Wong jalan kaki menyelinap di antara kerumunan para demonstran yang berbaur dengan para pedagang kaki lima dan para pengunjung pasar. Tempat yang kami tuju adalah Museum Patung Lilin Madame Tussaud yang terletak di lantai 6 Siam Discovery Mall. Tiket masuk ke museum ini cukup mahal, yakni THB 700, yang setara dengan Rp. 280.000,-  (kurs Rp. 400,- per bath).
Cukup lama kami berada di museum patung lilin ini, karena hampir semua teman tour wisataku menggunakan kesempatan yang ada untuk berfoto-foto di samping patung lilin tokoh idolanya masing-masing. Patung lilin dimaksud dibuat sangat persis dengan sosok asli tokoh yang dipatung-lilinkan.
Selepas dari museum patung lilin ini, Mr. Wong mempersilakan kami melihat-lihat aneka jenis barang yang dijual di sebuah mall besar yang berlokasi tak jauh dari museum patung lilin. Aku sendiri lebih memilih mengambil gambar suasana aksi demonstrasi dan suasana pasar kaki lima di luar mall.
Ketika itu di panggung tengah digelar pertunjukkan music pop. Seorang penyanyi pria berusia setengah baya kulihat sedang melantunkan lagu-lagu bertema protes social di panggung sana. Bisa jadi semacam lagu-lagu karangan Iwan Fals pada periode Namaku Bento atau Bongkar tempo hari. Sambutan hadirin kulihat standar saja, mereka cuma bertepuk tangan . Tidak ada di antara mereka yang meneriakkan yel-yel panas antipemerintah.
Tanpa sengaja aku menoleh ke atas karena dipicu oleh suara gemuruh. Ternyata suara gemuruh itu berasal dari mesin lokomotif kereta api (atau trem listrik, kurang jelas kulihat) yang sedang melintas di sebuah jalan layang yang dibuat khusus untuk itu. Ternyata, di atas sana banyak malang melintang jalan layang yang dibangun meliuk-liuk di sela-sela gedung pencakar langit. Selain sebagai sarana memperlancar arus lalulintas, jalan layang dan gedung pencakar langit itu juga berfungsi sebagai penaung buatan untuk tempat demonstrasi dan pasar kaki lima sehingga tidak terkena sinar matahari langsung.
Sejurus kemudian aku tersadar bahwa uang bath di kantongku sudah berkurang cukup banyak, yakni THB 700, untuk membeli tiket masuk ke Museum Patung Lilin Madame Tussaud. Ini berarti uang bath yang ada di kantongku ketika itu tinggal THB 1.300. Aku kemudian masuk ke dalam mall dengan harapan di sana ada konter penukaran valuta asing. Ternyata yang ada cuma kantor bank kecil (semacam kantor kas). Aku masuk ke bank kecil itu, namun, hasilnya negative, karyawati bank kecil dimaksud menolak menerima penukaran uang rupiah milikku dengan uang bath.
Deg. Rasa nasionalismeku mendadak tersulut. Hatiku merasa terusik, karena uang rupiah merupakan salah satu symbol yang mewakili negaraku (Indonesia). Dan, uang rupiah yang menjadi salah satu symbol negaraku ternyata tidak dihargai di bank kecil ini. Ini berarti uang rupiah tidak ada artinya di sini. Meskipun kita misalnya kita membawa uang rupiah dalam jumlah puluhan juta rupiah, uang itu sama sekali tak berarti di sini. Tak lebih dari sejumlah lembaran kertas tak berharga. Duh, malangnya Indonesia.

Makan Malam di Restoran
sebuah Hotel di Bangkok
20.00 WB
Selepas dari mall ini, Mr. Wong mengajak kami makan malam di sebuah restoran hotel yang menurut informasi Mr. Wong adalah restoran paling tersohor di kawasan ini. Ketika makan minum di restoran ini aku melihat nun di seberang sana ada konter penukaran valuta asing. Ketika teman-teman setour wisataku masih asyik menikmati aneka makanan dan minuman yang disajikan di restoran, aku diam-diam menyelinap dan menyeberang ke konter poenukaran valuta asing itu. Sungguh apes, uang rupiah juga ditolak di sini.

Hotel Royal Pasifik Bangkok
21.00 WB
Kegiatan hari pertama di kota Bangkok ditutup dengan acara chekin di Hotel Royal Pasifik. Hotel ini terletak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Bangkok. Mr. Wong sengaja menginapkan kami di sini dengan dua pertimbangan, yakni: jauh dari pusat kegiatan aksi demonstrasi dan dekat dengan kota Pattaya yang akan kami kunjungi besok hari.
Teman sekamarku tidak berubah. Maklumlah, tidak ada pilihan lain karena di dalam tour wisata kami ada 4 orang pria, dua pria lain berstatus sebagai ayah dan anak, jadi tidak mungkin keduanya ditempatkan terpisah di dalam kamar hotel yang berbeda.  Tidak apa alias tidak masalah bagiku. Kami tidur di kamar 3019.