BAGIAN
I
CATATAN
PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND
RABU,
5 FEBRUARI 2014
Rumahku
di Banjarmasin
Pukul 10.00 Wite
Sebelum berangkat
ke kantor, aku sekali lagi mengecek barang bawaanku yang telah dimasukkan ke
dalam tas bawaanku, yakni: baju (empat potong), celana panjang (2 potong),
celana dalam (4 potong), kaus dalam alias singlet (4 potong), kaus kaki (1
pasang), minyak angin, obat-obatan (obat masuk angin, obat sakit gigi, obat
sakit perut), dan sikat gigi lengkap dengan pastanya.
Selain itu aku
juga mengecek amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 4.000.000,-, dompet (tempat
di mana aku menyimpan KTP, SIM, Askes, dan uang kas sebesar Rp. 1.000.000,- dan
uang Thailand Bath (THB) sebesar 2.000.
Setelah yakin
tidak ada yang tertinggal, aku lantas beranjak ke luar rumah ke tempat parkir
sepeda motorku. Lalu menghidupkan mesin sepeda motorku dan pamit kepada
isteriku yang sejak tadi sudah berdiri di pintu pagar untuk mengantarkan
keberangkatanku. Hal ini selalu dilakukannya setiap kali aku berangkat ke
kantor. Namun, kali ini situasinya agak khusus karena selepas dari kantor aku
tidak pulang ke rumah lagi, tetapi langsung berangkat ke Bandara Syamsuddin
Noor Banjarbaru.
Kantorku di
Banjarmasin
Pukul 10.15
Wite
Tidak
seperti biasanya, sesiang ini aku baru berangkat ke kantor, ada beberapa pekerjaan
yang belum selesai kukerjakan di rumah. Pekerjaan dimaksud harus kuselesaikan sebelum
aku melakukan perjalanan wisata ke Negeri Gajah Putih selama 4 hari (5-9
Februari 2014).
Begitu
tiba di kantor, aku mengerjakan tugas-tugas rutinku sebagai PNS. Di sela-sela
mengerjakan tugas kantor itu aku menerima kedatangan 3 orang mahasiswaku yang
datang untuk berbagai kepentingan yang ada hubungannya dengan kegiatan
perkuliahan. Sejatinya sekarang ini masih dalam status libur kuliah, namun aku
tetap bersedia menerima kedatangan para mahasiswaku itu.
Jalan Veteran
Banjarmasin
Pukul 14.00
Wite
Mobil
Avansa milik agen perjalanan wisata datang menjemputku di kantor. Aku segera
naik ke mobil jemputan itu. Ternyata, di dalam mobil sudah ada 4 anggota tour
wisata lainnya. Selanjutnya kami berlima diantarkan ke Bandara Syamsuddin Noor
Banjarbaru.
Mobil
yang kami tumpangi cukup lama terjebak kemacetan di ruas Jalan Veteran
Banjarmasin. Jalan yang semula satu arah, mulai hari ini dikembalikan menjadi
dua arah. Namun banyak pengguna jalan raya yang datang dari dalam kota yang rupanya
tidak mengetahuinya sehingga mereka terlanjur menempatkan mobil yang
disopirinya atau sepeda motor yang dikendarainya di jalur kanan.
Sementara
itu para pengguna jalan raya lainnya yang datang dari arah luar kota juga telah
terlanjur menempatkan mobil atau motornya di jalur yang sama. Akibatnya
terjadilah tubrukan arus lalulintas di salah satu jalan protocol di kota
Banjarmasin ini.
Untunglah,
kemacetan lalulintas itu pada akhirnya berhasil diuraikan oleh beberapa orang
anggota Polisi Lalulintas yang bertugas di sana. Mobil yang kami tumpangi
sekali lagi terjebak kemacetan di ruas Jalan Gatot Soebroto Banjarmasin. Pemicunya
sama. Namun, syukurlah kami tiba di tempat tujuan jauh sebelum kegiatan chekin
dilakukan.
Bandara
Syamsuddin Noor Banjarbaru
Pukul 16.00
Wite
Ternyata
jumlah anggota tour wisata ke Thailand ini ada sebanyak 16 orang. Empat di
antaranya pria dan 12 lainnya wanita. Dua diantaranya masih remaja, yakni
seorang gadis berusia 15 tahun dan seorang perjaka berusia 18 tahun. Keduanya
adik kakak dan berangkat ke Thailand bersama ayah dan ibunya.
Setelah
menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami
semua naik ke ruang tunggu bandara yang terletak di Lantai II.
Pukul17.45 Wite
Seiring dengan
berjalannya waktu, para penumpang akhirnya dipanggil masuk ke ruang tunggu,
lalu dipersilakan naik ke bis, dan akhirnya masuk ke dalam pesawat terbang yang
bakal membawa kami semua ke Jakarta. Aku duduk di kursi nomor 28/D.
Keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi kali ini sempat tertunda
sekitar satu jam dari jadwal yang tertera pada tiket yang kupegang. Aku tiba di Jakarta pukul 18.00 WIB.
Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Pukul 20.40 Wib
Di pintu kedatangan
dalam negeri Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, kami sudah
ditunggu oleh karyawan Hotel Amaris Jakarta yang rupanya juga didampingi oleh
karyawan agen perjalanan wisata kami di Jakarta. Malam itu kami menginap di
Hotel Amaris yang beralamat di Jalan Husien Sastranegara Jakarta.
Aku ditempatkan
di kamar Nomor 3015. Teman sekamarku adalah seorang bapak berusia sekitar 50
tahun. Sudah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yang sudah besar-besar. Bapak
ini berasal dari Tanah Batak dan menikah dengan seorang wanita berdarah Dayak
Siang (Kalteng)
Aku sama
sekali tidak merasa canggung berada dalam satu kamar dengannya. Maklumlah, kami
dulunya pernah berdinas di sebuah instansi yang sama. Namun, setelah otonomi
daerah ia memilih menjadi PNS Pusat dan aku sendiri memilih menjadi PNS Pemprov
Kalsel.
Setelah
meletakan barang bawaan masing-masing, kami segera ke luar kamar untuk makan
malam bersama di sebuah Rumah Makan Padang yang terletak persis di sebelah
Hotel Amaris. Ketika itu kota Jakarta diguyur hujan lebat.
Setelah makan
malam bersama, kami segara naik dan masuk ke kamar hotel masing-masing. Dalam
tempo singkat aku sudah terlelap di alam mimpi.
KAMIS,
6 FEBRUARI 2014
Hotel Amaris Jakarta
Pukul 05.00 Wib
Aku dan teman
sekamarku sudah terbangun dari tidur kami yang lelap. Kegiatan pertama yang
kami lakukan adalah mandi dan gosok gigi secara bergantian di dalam kamar mandi
hotel.
Sekitar dua
jam kemudian kami turun ke lobi hotel untuk checkout. Pihak hotel menjamu kami sarapan
pagi dengan menu dua biji kue dan sebotol air mineral.
Setelah itu
pihak hotel mengantarkan kami ke Terminal Keberangkatan Luar Negeri.
Pengantaran ini termasuk dalam bagian servise mereka kepada kami selaku penginap
di hotel mereka. Service yang sangat mengesankan.
Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Pukul 08.45 Wib
Setelah
menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami
semua masuk ke sebuah kantin untuk memesan makanan dan minuman.
Pagi
itu aku memesan semangkok bakso isi lima biji dan secangkir teh panas. Teman
lainnya memesan makanan dan minuman sesuai dengan seleranya masing-masing. Ada
yang memesan nasi goreng, dan ada pula yang memesan nasi sop.
Aku
sendiri masih kurang enak badan, dalam dua hari ini aku kurang berselera makan
nasi. Khawatir masuk angin, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskan
lima biji bakso yang ada di hadapanku. Sungguh, sangat riskan jika perutku
dibiarkan kosong berhari-hari. Alhamdulillah, bakso itu akhirnya berhail
kuhabiskan juga. Lumayan sebagai pengganjal perut ketika kesehatan tubuh tengah
menurun.
Selanjutnya
kami naik ke ruang tunggu bandara yang terletak di Gate Z-4. Pukul 08.45 Wib,
pesawat terbang Mandala Tiger Air tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta.
Aku duduk di kursi Nomor 25/D.
Bandara
Suvarnabhumi Bangkok
Pukul 12.00 WIB
Pesawat
yang kami tumpangi mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Ternyata pada saat
yang hampir bersamaan juga mendarat sejumlah pesawat terbang lainnya di Bandara
Suvarnabhumi Bangkok. Akibatnya konter imigrasi menjadi penuh sesak dengan
antrian orang-orang yang akan masuk ke Negara Thailand. Lebih dari 1 jam aku berdiri
ikut antri di depan konter imigrasi ini.
Menurut
informasi yang terdapat di dalam situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya,
Bandara Suvarnabhumi (dibaca Suwannapun) adalah bandara internasional (IATA:BKK
dan ICAO: VTBS) yang melayani penerbangan dari dan ke kota Bangkok. Mulai
digunakan sejak 28 September 2006, yakni sebagai pengganti bandara lama Don
Muang.
Bandara seluas
563.000 meter persegi ini terletak 25 kilometer di sebelah Timur kota Bangkok,
tepatnya di daerah Racha Thewa, Distrik Bang Phli, Provinsi Samut Prakan.
Dikelola oleh Airpots of Thailand dan menjadi markas utama untuk maskapai
penerbangan Bangkok Airways, Orient Thai Airlines, dan Thai Airways
International.
Nama
Suvarnabhumi diberikan oleh Raja Bhumibol Adulyadej, artinya Tanah Emas.
Bandara ini memiliki menara control setinggi 132,2 meter dan merupakan bandara
dengan menara control tertinggi di dunia. Tercatat sebagai bandara tersibuk ke
empat di dunia setelah Bandara Internasional Haneda di Jepang, Bandara
Internasional Beijing di RRC, dan Bandar Udara Internasional Hongkong di RRC.
Kami sempat
cukup lama mondar-mandir di selasar luar
bandara sebelum akhirnya bertemu dengan penjemput kami. Ternyata penjemput kami
adalah seorang lelaki setengah baya berpenampilan eksentrik sebagaimana
layaknya seorang seniman. Rambutnya yang tipis dikuncir di bagian belakang
sehingga menyerupai ekor kuda. Ia memperkenalkan dirinya kepada kami: Mr. Wong.
“Wong Bangkok.
Bukan Wong Kam Pong,” ujarnya berseloroh.
Kami terkekeh
dibuatnya.
Awal yang baik
tampaknya.
Mr. Wong
ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia, namun logat bicara seperti orang
Malaysia. Ia mengaku asli orang Thailand dan menganut agama Budha. Ia belajar
bahasa Indonesia secara otodidak dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaannya
sebagai seorang pemandu wisata.
Menurut Mr.
Wong, penghasilannya sebagai pemandu wisata menjadi semakin bertambah besar
berkat kefasihannya berbahasa Indonesia. Maklumlah, dalam 5 tahun terakhir ini
semakin banyak saja wisatawan Indonesia yang datang ke Thailand.
Selanjutnya
kami mengikuti langkah kaki Mr. Wong menuju ke tempat parkiran bis yang
terletak tidak jauh dari pintu ke luar bandara. Di depan pintu bis sudah
menunggu seorang gadis berpakaian tradisional Thailand. Satu demi satu kami
dikalunginya dengan roncean bunga kering.
Pengalungan
bunga merupakan tradisi yang dilakukan sebagai symbol penghormatan kepada para
tamu yang berkenan datang ke negara mereka. Pengalungan bunga itu diabadikan
langsung oleh seorang fotografer professional. Sungguh, kami semua merasa
tersanjung dibuatnya.
Bis wisata
yang disediakan Mr. Wong adalah bis wisata berukuran besar dengan kafasitas 40
orang penumpang. Mengingat jumlah kami cuma 16 orang, maka kami bisa dengan
leluasa menempati 2-3 kursi sekaligus. Tidak ada di antara kami yang duduk saling
berdampingan 2-3 orang di kursi pada lajur yang sama. Aku sendiri sengaja
memilih duduk di bangku paling belakang dengan tujuan agar dapat dengan leluasa
menikmati pemandangan indah yang terpampang di luar sana.
Wisata Keliling Kota Bangkok
Pukul 13.35 WB
Tidak lama berselang bis wisata yang kami
tumpangi bergerak ke luar dari areal Bandara Suvarnabhumi menuju ke pusat kota
Bangkok. Dari dalam bis kulihat kota Bangkok dipenuhi dengan jalan layang yang
dibangun saling silang menyilang. Sungguhpun demikian, kota Bangkok masih tetap
mengalami kemacetan lalulintas di sana-sini. Lebih-lebih pada saat jam
berangkat kerja di pagi hari dan pulang kerja di sore hari. Aneka jenis mobil
tampak merayap di hampir semua ruas jalan utama yang kami lalui pada hari ini.
Menurut situs
Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, nama kota Bangkok berasal dari Bang
Makok, Bang sebutan dalam bahasa Thailand bagian Tengah untuk kota
atau desa yang berlokasi di tepian sungai, dan Makok adalah nama dalam
bahasa Thailand untuk Spondias pinnata, Spondias mombin atau Elaeocarpus hygrophilus
(tanaman yang menghasilkan buah seperti buah olive). Tapi, ada juga pendapat
lain bahwa Bangkok berasal dari kata Bang Koh. Bang artinya pusat pemukiman, dan
Koh berarti pulau. Ini berarti Bangkok artinya pulau yang menjadi
pusat pemukiman.
Kota Bangkok pada
awal sejarahnya adalah sebuah pusat perdagangan kecil dan pelabuhan di tepi
Barat sungai Chao Phraya. Kota Bangkok pertama
kali dibangun oleh Khun Pha Muang dan Bang Khun Klang Thao pada tahun 1238.
Mereka menyebut kerajaan mereka sebagai Kerajaan Sukothai atau kerajaan fajar
atau kerajaan bahagia.
Tahun
1279-1298, Raja Ramkamhaeng Agung berkuasa di Thailand, ia adalah raja yang
paling terkenal dari dinasti Sukhotai. Selain berhasil memperluas wilayah
kerajaannya, Raja Ramkamhaeng juga berhasil mendorong para cendikiawan kerajaaan
untuk berkreasi menciptakan, memperkenalkan, dan menyebar-luaskan alfabet khas
Thailand yang bentuknya mirip hanacaraka (tulisan Jawa kuno).
Setelah
Raja Ramkamhaeng mangkat pada tahun 1298, tampuk pemerintah beralih kepada
raja-raja dinasti Ayutthaya (1350-1767). Pada masa pemerintahan Lan Na,
Kerajaan Ayutthaya berhasil memperluas pengaruhnya atas sejumlah kerajaan lain
yang selama ini menjadi negara tetangganya, banyak di antaranya adalah mantan
suzerains dari Sukhothai.
Namun,
setelah Lan Na mangkat, Kerajaan Ayutthaya semakin melemah karena konflik
internal. Tahun 1767, Kerajaan Ayutthaya kehilangan kekuasaannya atas wilayah
Chiang Mai. Wilayah yang sangat vital ini jatuh ke tangan para raja yang
berkuasa di Kerajaan Burma. Tidak hanya berhasil merebut Chiang Mai, Kerajaan
Burma juga berhasil menganeksasi wilayah kekuasaan Kerajaan Ayutthaya lainnya
yang berada di wilayah utara.
Sehubungan
dengan kekalahan yang dialaminya dalam peperangan melawan Kerajaan Burma pada
tahun 1767 dimaksud, maka Raja Taksin, raja terakhir Kerajaan Ayutthaya,
menyingkir dari kota Bangkok dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Thonburi. Masa
pemerintahan Taksin berakhir pada tahun 1782, ia digantikan Raja Buddha Yodfa Chulaloke.
Pada masa
pemerintahannya ini Raja Buddha Yodfa Chulaloke membangun ulang ibu kota di
sisi timur sungai, dan memberikannya nama resmi Krung Thep Mahanakhon Amon
Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom
Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam
Prasit dan kemudian disingkat menjadi Krung Thep Maha Nakhon.
Namun demikian, kota baru tersebut juga ikut
menerima nama Bangkok, yang terus digunakan oleh orang-orang asing untuk
menunjuk kepada seluruh wilayah kota dan menjadi nama resmi dalam Bahasa
Inggris, sedangkan dalam Bahasa Thailand nama Bangkok tetap hanya menunjukan
kepada kota tua di tepi barat sungai.
Ketika Raja Mongkut berkuasa, nama resmi kota
Bangkok yang diberikan oleh Raja Buddha Yodfa Chulaloke, diralatnya menjadi: Krung
Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat
Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit
Sakkathattiya Witsanukam Prasit. Nama ini merupakan kombinasi dari dua
bahasa kuno India, yakni Pali dan Sanskerta.
Setelah dilakukan penyusunan ulang nama kota
Bangkok kemudian ditulis sebagai berikut: Krung-dēvamahānagara
amararatanakosindra mahindrayudhyā mahātilakabhava navaratanarājadhānī
purīrāmasya utamarājanivēsana mahāsthāna amaravimāna avatārasthitya
shakrasdattiya vishnukarmaprasiddhi. Nama lengkap Bangkok ini telah
didaftarkan oleh lembaga Guinness Book of Records sebagai nama
ibukota negara yang terpanjang di dunia.
Arti kata di atas adalah sebagai berikut: kota
malaikat, kota besar, kota intan abadi, kota Dewa Indra yang tidak
tergoyahkan, ibu kota agung dunia yang dikaruniai sembilan batu permata
berharga, kota kebahagiaan, penuh dengan Istana Kerajaan yang sangat besar yang
menyerupai surga dimana pemerintahan adalah reinkarnasi dewa-dewa, sebuah kota
yang diberikan oleh Indra dan dibangun oleh Wisnu.
Selama berabad-abad kota Bangkok dikembangkan oleh
para raja yang berkuasa silih berganti. Pembangunan infrastruktur terus
digalakkan, sehingga kota Bangkok berkembang menjadi kota metropolis yang
modern. Luas kota Bangkok sekarang ini sekitar 1.587 km persegi dengan
ketinggian 1,5 meter di atas permukaan laut.
Restoran Chan Siaw Bangkok
Pukul 15.40 WB
Kira-kira dua
jam perjalanan, bis yang kami tumpangi
belok kiri dan masuk ke pelataran parkir Restoran Chan Siaw alias Al Hilal
alias Bulan Sabit. Mr. Wong sudah memesan dua meja untuk menjamu kami makan
siang pertama di kota Bangkok. Kami duduk mengelilingi dua buah meja putar,
setiap meja putar dikelilingi oleh 8 orang.
Masakan yang
disajikan untuk kami siang itu sangatlah beragam, yakni: ikan, ayam, daging, sayur,
mie, kuah sop, lalapan, tongyam, dan banyak lagi yang lainnya. Secara umum
dapat dikatakan bahwa masakan khas Thailand didominasi oleh aroma rempah yang
tajam, dengan citarasa asam, asin, dan pedas.
Semua masakan yang
disajikan di restoran ini menurut Mr. Wong dijamin halal bagi kaum Muslimin
karena restoran ini dimiliki oleh seorang pengusaha Muslim warga Negara
Thailand keturunan Turki. Seiring dengan semakin derasnya arus kedatangan
wisatawan Indonesia ke Thailand, maka dalam lima tahun terakhir ini semakin banyak
saja pengusaha setempat yang tertarik menanamkan modalnya di bisnis restoran
yang khusus menyediakan kuliner halal bagi para wisatawan Indonesia, yang pada
umumnya beragama Islam (Muslim).
Pendek kata,
para wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia tidak perlu khawatir akan
mengalami kesulitan mencari restoran yang menyajikan kuliner halal. Mr. Wong
memastikan bahwa di semua titik kota Bangkok ditemukan banyak sekali restoran halal
bagi para wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia.
Masih
berkaitan dengan derasnya arus wisatawan Indonesia yang datang ke Thailand,
para pihak yang bergerak di sector wisata di Negara Gajah Putih ini juga banyak
yang merasa perlu belajar bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Sekarang ini,
tidak hanya para pemandu wisata saja yang fasih berbahasa Indonesia, tetapi
juga para penjual souvenir di pasar-pasar tradisional yang lokasinya berada di
kawasan wisata. Tidak hanya itu, uang rupiah bahkan sudah diterima sebagai alat
pembayaran yang sah dalam transaksi jual beli souvenir di banyak tempat wisata
di Thailand.
Menyaksikan Demonstrasi Antipemerintah di Pusat
Kota Bangkok
16.00 WB
Sehabis makan
siang yang agak terlambat jadwalnya itu, kami dibawa Mr. Wong ke pusat kota
Bangkok. Namun, bis kami tidak bisa merapat terlalu dekat ke tempat tujuan
karena jalanan setempat diblokir oleh aparat keamanan. Hal ini dilakukan
sehubungan dengan adanya aksi unjuk rasa antipemerintah PM Yinluck Sinawarta.
Aku melihat di
sana-sini di sepanjang jalan yang kami lalui tampak terparkir mobil aparat
keamanan. Jalan-jalan dibarikade dengan kawat berduri, palang kayu, atau
setidak-tidaknya dibentangi dengan tali warna-warni. Aparat keamanan bersenjata
lengkap juga tampak berjaga-jaga di sudut-sudut jalan yang dianggap rawan
kerusuhan.
Salah satu
lokasi aksi demonstrasi antipemerintah di kota Bangkok yang sempat kukunjungi
terletak di tengah-tengah pasar kaki lima di pusat kota, dekat dengan Museum
Patung Lilin Madame Tusaud. Aksi unjuk rasa dimaksud kulihat berlangsung damai
cuma diisi dengan pidato-pidato agitasi para tokoh oposisi dan sebagai selingan
diisi dengan pertunjukan aneka jenis kesenian oleh para seniman yang
antipemerintah.
Para pengunjuk
rasa tampaknya tidak beringas seperti lajimnya di tanah air kita, tidak ada
pembakaran ban bekas, apalagi aksi anarkis membakar dan menjarah toko-toko.
Para demonstrans kulihat berbaur dengan para pedagang kaki lima dan para
pembeli lainnya. Selebihnya, mereka kulihat duduk-duduk bergerombol, berebahan
secara bergerombol juga, atau tidur di dalam tenda-tenda yang jumlahnya relatif
banyak. Suasananya persis seperti tenda-tenda para jemaah haji ketika tengah
wukup di Padang Arafah. Bedanya, tenda yang dipasang aneka warna, tidak sewarna
seperti di Padang Arafah sana
Sungguhpun demikian,
aparat keamanan dengan menenteng senjata lengkap kulihat tampak siap siaga
berjaga-jaga dengan ketat di mana-mana. Pokoknya mereka siap tempur, boleh jadi
statusnya adalah siaga satu. Akses jalan ditutup dengan barikade kawat berduri,
palang kayu, dan tali-tali seperti garis polisi malang melitang di mana-mana.
Tidak hanya itu, mobil-mobil aparat keamanan diparkir di tempat yang menyolok mata
di mana-mana. Tapi, para pejalan kaki sama sekali tidak dilarang ke luar masuk
lokasi demonstrasi.
Fokus
perhatian para demonstran adalah pidato-pidato atau atraksi kesenian di
panggung terbuka berukuran besar yang dibangun di tengah pasar. Keadaan di
seantero pasar terasa teduh karena sinar matahari terhalang oleh bangunan jalan
layang yang banyak malang melintang nun di atas sana. Kegiatan yang berlangsung
di panggung terbuka itu bisa diikuti melalui layar monitor yang dipasang di mana-mana.
Posisi
panggung terbuka yang demikian itu sebenarnya sangat rawan bagi para tokoh
oposisi yang berpidato di sana. Para penembak jitu mempunyai banyak tempat yang
stragis untuk membidik kepala mereka. Gedung-gedung pusat perbelanjaan yang
mengelilingi lokasi tersebut merupakan tempat yang strategis bagi para penembak
jitu yang tentunya propemerintah Yinluck Sinawarta.
Museum Patung Lilin
Madame Tussaud Bangkok
18.00 WB
Aku dan
anggota tour wisata lainnya dipandu oleh Mr. Wong jalan kaki menyelinap di
antara kerumunan para demonstran yang berbaur dengan para pedagang kaki lima
dan para pengunjung pasar. Tempat yang kami tuju adalah Museum Patung Lilin
Madame Tussaud yang terletak di lantai 6 Siam Discovery Mall. Tiket masuk ke
museum ini cukup mahal, yakni THB 700, yang setara dengan Rp. 280.000,- (kurs Rp. 400,- per bath).
Cukup lama
kami berada di museum patung lilin ini, karena hampir semua teman tour wisataku
menggunakan kesempatan yang ada untuk berfoto-foto di samping patung lilin
tokoh idolanya masing-masing. Patung lilin dimaksud dibuat sangat persis dengan
sosok asli tokoh yang dipatung-lilinkan.
Selepas dari
museum patung lilin ini, Mr. Wong mempersilakan kami melihat-lihat aneka jenis
barang yang dijual di sebuah mall besar yang berlokasi tak jauh dari museum
patung lilin. Aku sendiri lebih memilih mengambil gambar suasana aksi
demonstrasi dan suasana pasar kaki lima di luar mall.
Ketika itu di
panggung tengah digelar pertunjukkan music pop. Seorang penyanyi pria berusia
setengah baya kulihat sedang melantunkan lagu-lagu bertema protes social di panggung
sana. Bisa jadi semacam lagu-lagu karangan Iwan Fals pada periode Namaku Bento atau Bongkar tempo hari. Sambutan hadirin kulihat standar saja, mereka
cuma bertepuk tangan . Tidak ada di antara mereka yang meneriakkan yel-yel
panas antipemerintah.
Tanpa sengaja
aku menoleh ke atas karena dipicu oleh suara gemuruh. Ternyata suara gemuruh
itu berasal dari mesin lokomotif kereta api (atau trem listrik, kurang jelas
kulihat) yang sedang melintas di sebuah jalan layang yang dibuat khusus untuk
itu. Ternyata, di atas sana banyak malang melintang jalan layang yang dibangun
meliuk-liuk di sela-sela gedung pencakar langit. Selain sebagai sarana
memperlancar arus lalulintas, jalan layang dan gedung pencakar langit itu juga
berfungsi sebagai penaung buatan untuk tempat demonstrasi dan pasar kaki lima
sehingga tidak terkena sinar matahari langsung.
Sejurus
kemudian aku tersadar bahwa uang bath di kantongku sudah berkurang cukup
banyak, yakni THB 700, untuk membeli tiket masuk ke Museum Patung Lilin Madame
Tussaud. Ini berarti uang bath yang ada di kantongku ketika itu tinggal THB 1.300.
Aku kemudian masuk ke dalam mall dengan harapan di sana ada konter penukaran
valuta asing. Ternyata yang ada cuma kantor bank kecil (semacam kantor kas).
Aku masuk ke bank kecil itu, namun, hasilnya negative, karyawati bank kecil
dimaksud menolak menerima penukaran uang rupiah milikku dengan uang bath.
Deg. Rasa
nasionalismeku mendadak tersulut. Hatiku merasa terusik, karena uang rupiah
merupakan salah satu symbol yang mewakili negaraku (Indonesia). Dan, uang
rupiah yang menjadi salah satu symbol negaraku ternyata tidak dihargai di bank
kecil ini. Ini berarti uang rupiah tidak ada artinya di sini. Meskipun kita
misalnya kita membawa uang rupiah dalam jumlah puluhan juta rupiah, uang itu
sama sekali tak berarti di sini. Tak lebih dari sejumlah lembaran kertas tak
berharga. Duh, malangnya Indonesia.
Makan Malam di Restoran
sebuah Hotel di Bangkok
20.00 WB
Selepas dari
mall ini, Mr. Wong mengajak kami makan malam di sebuah restoran hotel yang
menurut informasi Mr. Wong adalah restoran paling tersohor di kawasan ini.
Ketika makan minum di restoran ini aku melihat nun di seberang sana ada konter
penukaran valuta asing. Ketika teman-teman setour wisataku masih asyik
menikmati aneka makanan dan minuman yang disajikan di restoran, aku diam-diam
menyelinap dan menyeberang ke konter poenukaran valuta asing itu. Sungguh apes,
uang rupiah juga ditolak di sini.
Hotel Royal Pasifik Bangkok
21.00 WB
Kegiatan hari
pertama di kota Bangkok ditutup dengan acara chekin di Hotel Royal Pasifik.
Hotel ini terletak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Bangkok. Mr. Wong
sengaja menginapkan kami di sini dengan dua pertimbangan, yakni: jauh dari
pusat kegiatan aksi demonstrasi dan dekat dengan kota Pattaya yang akan kami
kunjungi besok hari.
Teman
sekamarku tidak berubah. Maklumlah, tidak ada pilihan lain karena di dalam tour
wisata kami ada 4 orang pria, dua pria lain berstatus sebagai ayah dan anak,
jadi tidak mungkin keduanya ditempatkan terpisah di dalam kamar hotel yang
berbeda. Tidak apa alias tidak masalah
bagiku. Kami tidur di kamar 3019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar