Rabu, 19 Februari 2014

THAILAND I



BAGIAN I
CATATAN PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

RABU, 5 FEBRUARI 2014
Rumahku di Banjarmasin
Pukul 10.00 Wite
Sebelum berangkat ke kantor, aku sekali lagi mengecek barang bawaanku yang telah dimasukkan ke dalam tas bawaanku, yakni: baju (empat potong), celana panjang (2 potong), celana dalam (4 potong), kaus dalam alias singlet (4 potong), kaus kaki (1 pasang), minyak angin, obat-obatan (obat masuk angin, obat sakit gigi, obat sakit perut), dan sikat gigi lengkap dengan pastanya.
Selain itu aku juga mengecek amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 4.000.000,-, dompet (tempat di mana aku menyimpan KTP, SIM, Askes, dan uang kas sebesar Rp. 1.000.000,- dan uang Thailand Bath (THB) sebesar 2.000.
Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, aku lantas beranjak ke luar rumah ke tempat parkir sepeda motorku. Lalu menghidupkan mesin sepeda motorku dan pamit kepada isteriku yang sejak tadi sudah berdiri di pintu pagar untuk mengantarkan keberangkatanku. Hal ini selalu dilakukannya setiap kali aku berangkat ke kantor. Namun, kali ini situasinya agak khusus karena selepas dari kantor aku tidak pulang ke rumah lagi, tetapi langsung berangkat ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru.

Kantorku di Banjarmasin
Pukul 10.15 Wite
Tidak seperti biasanya, sesiang ini aku baru berangkat ke kantor, ada beberapa pekerjaan yang belum selesai kukerjakan di rumah. Pekerjaan dimaksud harus kuselesaikan sebelum aku melakukan perjalanan wisata ke Negeri Gajah Putih selama 4 hari (5-9 Februari 2014).
Begitu tiba di kantor, aku mengerjakan tugas-tugas rutinku sebagai PNS. Di sela-sela mengerjakan tugas kantor itu aku menerima kedatangan 3 orang mahasiswaku yang datang untuk berbagai kepentingan yang ada hubungannya dengan kegiatan perkuliahan. Sejatinya sekarang ini masih dalam status libur kuliah, namun aku tetap bersedia menerima kedatangan para mahasiswaku itu.

Jalan Veteran Banjarmasin
Pukul 14.00 Wite
Mobil Avansa milik agen perjalanan wisata datang menjemputku di kantor. Aku segera naik ke mobil jemputan itu. Ternyata, di dalam mobil sudah ada 4 anggota tour wisata lainnya. Selanjutnya kami berlima diantarkan ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru.
Mobil yang kami tumpangi cukup lama terjebak kemacetan di ruas Jalan Veteran Banjarmasin. Jalan yang semula satu arah, mulai hari ini dikembalikan menjadi dua arah. Namun banyak pengguna jalan raya yang datang dari dalam kota yang rupanya tidak mengetahuinya sehingga mereka terlanjur menempatkan mobil yang disopirinya atau sepeda motor yang dikendarainya di jalur kanan.
Sementara itu para pengguna jalan raya lainnya yang datang dari arah luar kota juga telah terlanjur menempatkan mobil atau motornya di jalur yang sama. Akibatnya terjadilah tubrukan arus lalulintas di salah satu jalan protocol di kota Banjarmasin ini.
Untunglah, kemacetan lalulintas itu pada akhirnya berhasil diuraikan oleh beberapa orang anggota Polisi Lalulintas yang bertugas di sana. Mobil yang kami tumpangi sekali lagi terjebak kemacetan di ruas Jalan Gatot Soebroto Banjarmasin. Pemicunya sama. Namun, syukurlah kami tiba di tempat tujuan jauh sebelum kegiatan chekin dilakukan.

Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru
Pukul 16.00 Wite
Ternyata jumlah anggota tour wisata ke Thailand ini ada sebanyak 16 orang. Empat di antaranya pria dan 12 lainnya wanita. Dua diantaranya masih remaja, yakni seorang gadis berusia 15 tahun dan seorang perjaka berusia 18 tahun. Keduanya adik kakak dan berangkat ke Thailand bersama ayah dan ibunya.
Setelah menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami semua naik ke ruang tunggu bandara yang terletak di Lantai II.

Pukul17.45 Wite
Seiring dengan berjalannya waktu, para penumpang akhirnya dipanggil masuk ke ruang tunggu, lalu dipersilakan naik ke bis, dan akhirnya masuk ke dalam pesawat terbang yang bakal membawa kami semua ke Jakarta. Aku duduk di kursi nomor 28/D. Keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi kali ini sempat tertunda sekitar satu jam dari jadwal yang tertera pada tiket yang kupegang.  Aku tiba di Jakarta pukul 18.00 WIB.

Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Pukul 20.40 Wib
Di pintu kedatangan dalam negeri Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, kami sudah ditunggu oleh karyawan Hotel Amaris Jakarta yang rupanya juga didampingi oleh karyawan agen perjalanan wisata kami di Jakarta. Malam itu kami menginap di Hotel Amaris yang beralamat di Jalan Husien Sastranegara Jakarta.
Aku ditempatkan di kamar Nomor 3015. Teman sekamarku adalah seorang bapak berusia sekitar 50 tahun. Sudah menikah dan dikaruniai 3 orang anak yang sudah besar-besar. Bapak ini berasal dari Tanah Batak dan menikah dengan seorang wanita berdarah Dayak Siang (Kalteng)
Aku sama sekali tidak merasa canggung berada dalam satu kamar dengannya. Maklumlah, kami dulunya pernah berdinas di sebuah instansi yang sama. Namun, setelah otonomi daerah ia memilih menjadi PNS Pusat dan aku sendiri memilih menjadi PNS Pemprov Kalsel. 
Setelah meletakan barang bawaan masing-masing, kami segera ke luar kamar untuk makan malam bersama di sebuah Rumah Makan Padang yang terletak persis di sebelah Hotel Amaris. Ketika itu kota Jakarta diguyur hujan lebat.
Setelah makan malam bersama, kami segara naik dan masuk ke kamar hotel masing-masing. Dalam tempo singkat aku sudah terlelap di alam mimpi.

KAMIS, 6 FEBRUARI 2014
Hotel Amaris Jakarta
Pukul 05.00 Wib
Aku dan teman sekamarku sudah terbangun dari tidur kami yang lelap. Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah mandi dan gosok gigi secara bergantian di dalam kamar mandi hotel.
Sekitar dua jam kemudian kami turun ke lobi hotel untuk checkout. Pihak hotel menjamu kami sarapan pagi dengan menu dua biji kue dan sebotol air mineral.
Setelah itu pihak hotel mengantarkan kami ke Terminal Keberangkatan Luar Negeri. Pengantaran ini termasuk dalam bagian servise mereka kepada kami selaku penginap di hotel mereka. Service yang sangat mengesankan.

Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Pukul 08.45 Wib
Setelah menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami semua masuk ke sebuah kantin untuk memesan makanan dan minuman.
Pagi itu aku memesan semangkok bakso isi lima biji dan secangkir teh panas. Teman lainnya memesan makanan dan minuman sesuai dengan seleranya masing-masing. Ada yang memesan nasi goreng, dan ada pula yang memesan nasi sop.
Aku sendiri masih kurang enak badan, dalam dua hari ini aku kurang berselera makan nasi. Khawatir masuk angin, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskan lima biji bakso yang ada di hadapanku. Sungguh, sangat riskan jika perutku dibiarkan kosong berhari-hari. Alhamdulillah, bakso itu akhirnya berhail kuhabiskan juga. Lumayan sebagai pengganjal perut ketika kesehatan tubuh tengah menurun. 
Selanjutnya kami naik ke ruang tunggu bandara yang terletak di Gate Z-4. Pukul 08.45 Wib, pesawat terbang Mandala Tiger Air tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi Nomor 25/D. 

Bandara Suvarnabhumi Bangkok
Pukul 12.00 WIB
Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Ternyata pada saat yang hampir bersamaan juga mendarat sejumlah pesawat terbang lainnya di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Akibatnya konter imigrasi menjadi penuh sesak dengan antrian orang-orang yang akan masuk ke Negara Thailand. Lebih dari 1 jam aku berdiri ikut antri di depan konter imigrasi ini.
Menurut informasi yang terdapat di dalam situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, Bandara Suvarnabhumi (dibaca Suwannapun) adalah bandara internasional (IATA:BKK dan ICAO: VTBS) yang melayani penerbangan dari dan ke kota Bangkok. Mulai digunakan sejak 28 September 2006, yakni sebagai pengganti bandara lama Don Muang.
Bandara seluas 563.000 meter persegi ini terletak 25 kilometer di sebelah Timur kota Bangkok, tepatnya di daerah Racha Thewa, Distrik Bang Phli, Provinsi Samut Prakan. Dikelola oleh Airpots of Thailand dan menjadi markas utama untuk maskapai penerbangan Bangkok Airways, Orient Thai Airlines, dan Thai Airways International.
Nama Suvarnabhumi diberikan oleh Raja Bhumibol Adulyadej, artinya Tanah Emas. Bandara ini memiliki menara control setinggi 132,2 meter dan merupakan bandara dengan menara control tertinggi di dunia. Tercatat sebagai bandara tersibuk ke empat di dunia setelah Bandara Internasional Haneda di Jepang, Bandara Internasional Beijing di RRC, dan Bandar Udara Internasional Hongkong di RRC.
Kami sempat cukup lama mondar-mandir  di selasar luar bandara sebelum akhirnya bertemu dengan penjemput kami. Ternyata penjemput kami adalah seorang lelaki setengah baya berpenampilan eksentrik sebagaimana layaknya seorang seniman. Rambutnya yang tipis dikuncir di bagian belakang sehingga menyerupai ekor kuda. Ia memperkenalkan dirinya kepada kami: Mr. Wong.
“Wong Bangkok. Bukan Wong Kam Pong,” ujarnya berseloroh.
Kami terkekeh dibuatnya.
Awal yang baik tampaknya.
Mr. Wong ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia, namun logat bicara seperti orang Malaysia. Ia mengaku asli orang Thailand dan menganut agama Budha. Ia belajar bahasa Indonesia secara otodidak dengan tujuan untuk memudahkan pekerjaannya sebagai seorang pemandu wisata.
Menurut Mr. Wong, penghasilannya sebagai pemandu wisata menjadi semakin bertambah besar berkat kefasihannya berbahasa Indonesia. Maklumlah, dalam 5 tahun terakhir ini semakin banyak saja wisatawan Indonesia yang datang ke Thailand.
Selanjutnya kami mengikuti langkah kaki Mr. Wong menuju ke tempat parkiran bis yang terletak tidak jauh dari pintu ke luar bandara. Di depan pintu bis sudah menunggu seorang gadis berpakaian tradisional Thailand. Satu demi satu kami dikalunginya dengan roncean bunga kering.
Pengalungan bunga merupakan tradisi yang dilakukan sebagai symbol penghormatan kepada para tamu yang berkenan datang ke negara mereka. Pengalungan bunga itu diabadikan langsung oleh seorang fotografer professional. Sungguh, kami semua merasa tersanjung dibuatnya.
Bis wisata yang disediakan Mr. Wong adalah bis wisata berukuran besar dengan kafasitas 40 orang penumpang. Mengingat jumlah kami cuma 16 orang, maka kami bisa dengan leluasa menempati 2-3 kursi sekaligus. Tidak ada di antara kami yang duduk saling berdampingan 2-3 orang di kursi pada lajur yang sama. Aku sendiri sengaja memilih duduk di bangku paling belakang dengan tujuan agar dapat dengan leluasa menikmati pemandangan indah yang terpampang di luar sana.

Wisata Keliling Kota Bangkok
Pukul 13.35 WB
  Tidak lama berselang bis wisata yang kami tumpangi bergerak ke luar dari areal Bandara Suvarnabhumi menuju ke pusat kota Bangkok. Dari dalam bis kulihat kota Bangkok dipenuhi dengan jalan layang yang dibangun saling silang menyilang. Sungguhpun demikian, kota Bangkok masih tetap mengalami kemacetan lalulintas di sana-sini. Lebih-lebih pada saat jam berangkat kerja di pagi hari dan pulang kerja di sore hari. Aneka jenis mobil tampak merayap di hampir semua ruas jalan utama yang kami lalui pada hari ini.
Menurut situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, nama kota Bangkok berasal dari Bang Makok, Bang sebutan dalam bahasa Thailand bagian Tengah untuk kota atau desa yang berlokasi di tepian sungai, dan Makok adalah nama dalam bahasa Thailand untuk Spondias pinnata, Spondias mombin atau Elaeocarpus hygrophilus (tanaman yang menghasilkan buah seperti buah olive). Tapi, ada juga pendapat lain bahwa Bangkok berasal dari kata Bang Koh. Bang artinya pusat pemukiman, dan  Koh berarti pulau. Ini berarti Bangkok artinya pulau yang menjadi pusat pemukiman.
Kota Bangkok pada awal sejarahnya adalah sebuah pusat perdagangan kecil dan pelabuhan di tepi Barat sungai Chao Phraya. Kota Bangkok  pertama kali dibangun oleh Khun Pha Muang dan Bang Khun Klang Thao pada tahun 1238. Mereka menyebut kerajaan mereka sebagai Kerajaan Sukothai atau kerajaan fajar atau kerajaan bahagia.
Tahun 1279-1298, Raja Ramkamhaeng Agung berkuasa di Thailand, ia adalah raja yang paling terkenal dari dinasti Sukhotai. Selain berhasil memperluas wilayah kerajaannya, Raja Ramkamhaeng juga berhasil mendorong para cendikiawan kerajaaan untuk berkreasi menciptakan, memperkenalkan, dan menyebar-luaskan alfabet khas Thailand yang bentuknya mirip hanacaraka (tulisan Jawa kuno).
Setelah Raja Ramkamhaeng mangkat pada tahun 1298, tampuk pemerintah beralih kepada raja-raja dinasti Ayutthaya (1350-1767). Pada masa pemerintahan Lan Na, Kerajaan Ayutthaya berhasil memperluas pengaruhnya atas sejumlah kerajaan lain yang selama ini menjadi negara tetangganya, banyak di antaranya adalah mantan suzerains dari Sukhothai.
Namun, setelah Lan Na mangkat, Kerajaan Ayutthaya semakin melemah karena konflik internal. Tahun 1767, Kerajaan Ayutthaya kehilangan kekuasaannya atas wilayah Chiang Mai. Wilayah yang sangat vital ini jatuh ke tangan para raja yang berkuasa di Kerajaan Burma. Tidak hanya berhasil merebut Chiang Mai, Kerajaan Burma juga berhasil menganeksasi wilayah kekuasaan Kerajaan Ayutthaya lainnya yang berada di wilayah utara. 
Sehubungan dengan kekalahan yang dialaminya dalam peperangan melawan Kerajaan Burma pada tahun 1767 dimaksud, maka Raja Taksin, raja terakhir Kerajaan Ayutthaya, menyingkir dari kota Bangkok dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Thonburi. Masa pemerintahan Taksin berakhir pada tahun 1782, ia digantikan Raja Buddha Yodfa Chulaloke.
Pada masa pemerintahannya ini Raja Buddha Yodfa Chulaloke membangun ulang ibu kota di sisi timur sungai, dan memberikannya nama resmi Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit dan kemudian disingkat menjadi Krung Thep Maha Nakhon.
Namun demikian, kota baru tersebut juga ikut menerima nama Bangkok, yang terus digunakan oleh orang-orang asing untuk menunjuk kepada seluruh wilayah kota dan menjadi nama resmi dalam Bahasa Inggris, sedangkan dalam Bahasa Thailand nama Bangkok tetap hanya menunjukan kepada kota tua di tepi barat sungai.
Ketika Raja Mongkut berkuasa, nama resmi kota Bangkok yang diberikan oleh Raja Buddha Yodfa Chulaloke, diralatnya menjadi: Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Yuthaya Mahadilok Phop Noppharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathattiya Witsanukam Prasit. Nama ini merupakan kombinasi dari dua bahasa kuno India, yakni Pali dan Sanskerta.
Setelah dilakukan penyusunan ulang nama kota Bangkok kemudian ditulis sebagai berikut: Krung-dēvamahānagara amararatanakosindra mahindrayudhyā mahātilakabhava navaratanarājadhānī purīrāmasya utamarājanivēsana mahāsthāna amaravimāna avatārasthitya shakrasdattiya vishnukarmaprasiddhi. Nama lengkap Bangkok ini telah didaftarkan oleh lembaga Guinness Book of Records sebagai nama ibukota negara yang terpanjang di dunia.
Arti kata di atas adalah sebagai berikut: kota malaikat, kota besar, kota intan abadi, kota Dewa Indra yang tidak tergoyahkan, ibu kota agung dunia yang dikaruniai sembilan batu permata berharga, kota kebahagiaan, penuh dengan Istana Kerajaan yang sangat besar yang menyerupai surga dimana pemerintahan adalah reinkarnasi dewa-dewa, sebuah kota yang diberikan oleh Indra dan dibangun oleh Wisnu.
Selama berabad-abad kota Bangkok dikembangkan oleh para raja yang berkuasa silih berganti. Pembangunan infrastruktur terus digalakkan, sehingga kota Bangkok berkembang menjadi kota metropolis yang modern. Luas kota Bangkok sekarang ini sekitar 1.587 km persegi dengan ketinggian 1,5 meter di atas permukaan laut.

Restoran Chan Siaw Bangkok
Pukul 15.40 WB
Kira-kira dua jam perjalanan, bis  yang kami tumpangi belok kiri dan masuk ke pelataran parkir Restoran Chan Siaw alias Al Hilal alias Bulan Sabit. Mr. Wong sudah memesan dua meja untuk menjamu kami makan siang pertama di kota Bangkok. Kami duduk mengelilingi dua buah meja putar, setiap meja putar dikelilingi oleh 8 orang.
Masakan yang disajikan untuk kami siang itu sangatlah beragam, yakni: ikan, ayam, daging, sayur, mie, kuah sop, lalapan, tongyam, dan banyak lagi yang lainnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa masakan khas Thailand didominasi oleh aroma rempah yang tajam, dengan citarasa asam, asin, dan pedas.  
Semua masakan yang disajikan di restoran ini menurut Mr. Wong dijamin halal bagi kaum Muslimin karena restoran ini dimiliki oleh seorang pengusaha Muslim warga Negara Thailand keturunan Turki. Seiring dengan semakin derasnya arus kedatangan wisatawan Indonesia ke Thailand, maka dalam lima tahun terakhir ini semakin banyak saja pengusaha setempat yang tertarik menanamkan modalnya di bisnis restoran yang khusus menyediakan kuliner halal bagi para wisatawan Indonesia, yang pada umumnya beragama Islam (Muslim).
Pendek kata, para wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan mencari restoran yang menyajikan kuliner halal. Mr. Wong memastikan bahwa di semua titik kota Bangkok ditemukan banyak sekali restoran halal bagi para wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia. 
Masih berkaitan dengan derasnya arus wisatawan Indonesia yang datang ke Thailand, para pihak yang bergerak di sector wisata di Negara Gajah Putih ini juga banyak yang merasa perlu belajar bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Sekarang ini, tidak hanya para pemandu wisata saja yang fasih berbahasa Indonesia, tetapi juga para penjual souvenir di pasar-pasar tradisional yang lokasinya berada di kawasan wisata. Tidak hanya itu, uang rupiah bahkan sudah diterima sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi jual beli souvenir di banyak tempat wisata di Thailand.

Menyaksikan Demonstrasi Antipemerintah di Pusat Kota Bangkok
16.00 WB
Sehabis makan siang yang agak terlambat jadwalnya itu, kami dibawa Mr. Wong ke pusat kota Bangkok. Namun, bis kami tidak bisa merapat terlalu dekat ke tempat tujuan karena jalanan setempat diblokir oleh aparat keamanan. Hal ini dilakukan sehubungan dengan adanya aksi unjuk rasa antipemerintah PM Yinluck Sinawarta.
Aku melihat di sana-sini di sepanjang jalan yang kami lalui tampak terparkir mobil aparat keamanan. Jalan-jalan dibarikade dengan kawat berduri, palang kayu, atau setidak-tidaknya dibentangi dengan tali warna-warni. Aparat keamanan bersenjata lengkap juga tampak berjaga-jaga di sudut-sudut jalan yang dianggap rawan kerusuhan.   
Salah satu lokasi aksi demonstrasi antipemerintah di kota Bangkok yang sempat kukunjungi terletak di tengah-tengah pasar kaki lima di pusat kota, dekat dengan Museum Patung Lilin Madame Tusaud. Aksi unjuk rasa dimaksud kulihat berlangsung damai cuma diisi dengan pidato-pidato agitasi para tokoh oposisi dan sebagai selingan diisi dengan pertunjukan aneka jenis kesenian oleh para seniman yang antipemerintah.
Para pengunjuk rasa tampaknya tidak beringas seperti lajimnya di tanah air kita, tidak ada pembakaran ban bekas, apalagi aksi anarkis membakar dan menjarah toko-toko. Para demonstrans kulihat berbaur dengan para pedagang kaki lima dan para pembeli lainnya. Selebihnya, mereka kulihat duduk-duduk bergerombol, berebahan secara bergerombol juga, atau tidur di dalam tenda-tenda yang jumlahnya relatif banyak. Suasananya persis seperti tenda-tenda para jemaah haji ketika tengah wukup di Padang Arafah. Bedanya, tenda yang dipasang aneka warna, tidak sewarna seperti di Padang Arafah sana
Sungguhpun demikian, aparat keamanan dengan menenteng senjata lengkap kulihat tampak siap siaga berjaga-jaga dengan ketat di mana-mana. Pokoknya mereka siap tempur, boleh jadi statusnya adalah siaga satu. Akses jalan ditutup dengan barikade kawat berduri, palang kayu, dan tali-tali seperti garis polisi malang melitang di mana-mana. Tidak hanya itu, mobil-mobil aparat keamanan diparkir di tempat yang menyolok mata di mana-mana. Tapi, para pejalan kaki sama sekali tidak dilarang ke luar masuk lokasi demonstrasi. 
Fokus perhatian para demonstran adalah pidato-pidato atau atraksi kesenian di panggung terbuka berukuran besar yang dibangun di tengah pasar. Keadaan di seantero pasar terasa teduh karena sinar matahari terhalang oleh bangunan jalan layang yang banyak malang melintang nun di atas sana. Kegiatan yang berlangsung di panggung terbuka itu bisa diikuti melalui layar monitor yang dipasang di mana-mana.
Posisi panggung terbuka yang demikian itu sebenarnya sangat rawan bagi para tokoh oposisi yang berpidato di sana. Para penembak jitu mempunyai banyak tempat yang stragis untuk membidik kepala mereka. Gedung-gedung pusat perbelanjaan yang mengelilingi lokasi tersebut merupakan tempat yang strategis bagi para penembak jitu yang tentunya propemerintah Yinluck Sinawarta.

Museum Patung Lilin
Madame Tussaud Bangkok
18.00 WB
Aku dan anggota tour wisata lainnya dipandu oleh Mr. Wong jalan kaki menyelinap di antara kerumunan para demonstran yang berbaur dengan para pedagang kaki lima dan para pengunjung pasar. Tempat yang kami tuju adalah Museum Patung Lilin Madame Tussaud yang terletak di lantai 6 Siam Discovery Mall. Tiket masuk ke museum ini cukup mahal, yakni THB 700, yang setara dengan Rp. 280.000,-  (kurs Rp. 400,- per bath).
Cukup lama kami berada di museum patung lilin ini, karena hampir semua teman tour wisataku menggunakan kesempatan yang ada untuk berfoto-foto di samping patung lilin tokoh idolanya masing-masing. Patung lilin dimaksud dibuat sangat persis dengan sosok asli tokoh yang dipatung-lilinkan.
Selepas dari museum patung lilin ini, Mr. Wong mempersilakan kami melihat-lihat aneka jenis barang yang dijual di sebuah mall besar yang berlokasi tak jauh dari museum patung lilin. Aku sendiri lebih memilih mengambil gambar suasana aksi demonstrasi dan suasana pasar kaki lima di luar mall.
Ketika itu di panggung tengah digelar pertunjukkan music pop. Seorang penyanyi pria berusia setengah baya kulihat sedang melantunkan lagu-lagu bertema protes social di panggung sana. Bisa jadi semacam lagu-lagu karangan Iwan Fals pada periode Namaku Bento atau Bongkar tempo hari. Sambutan hadirin kulihat standar saja, mereka cuma bertepuk tangan . Tidak ada di antara mereka yang meneriakkan yel-yel panas antipemerintah.
Tanpa sengaja aku menoleh ke atas karena dipicu oleh suara gemuruh. Ternyata suara gemuruh itu berasal dari mesin lokomotif kereta api (atau trem listrik, kurang jelas kulihat) yang sedang melintas di sebuah jalan layang yang dibuat khusus untuk itu. Ternyata, di atas sana banyak malang melintang jalan layang yang dibangun meliuk-liuk di sela-sela gedung pencakar langit. Selain sebagai sarana memperlancar arus lalulintas, jalan layang dan gedung pencakar langit itu juga berfungsi sebagai penaung buatan untuk tempat demonstrasi dan pasar kaki lima sehingga tidak terkena sinar matahari langsung.
Sejurus kemudian aku tersadar bahwa uang bath di kantongku sudah berkurang cukup banyak, yakni THB 700, untuk membeli tiket masuk ke Museum Patung Lilin Madame Tussaud. Ini berarti uang bath yang ada di kantongku ketika itu tinggal THB 1.300. Aku kemudian masuk ke dalam mall dengan harapan di sana ada konter penukaran valuta asing. Ternyata yang ada cuma kantor bank kecil (semacam kantor kas). Aku masuk ke bank kecil itu, namun, hasilnya negative, karyawati bank kecil dimaksud menolak menerima penukaran uang rupiah milikku dengan uang bath.
Deg. Rasa nasionalismeku mendadak tersulut. Hatiku merasa terusik, karena uang rupiah merupakan salah satu symbol yang mewakili negaraku (Indonesia). Dan, uang rupiah yang menjadi salah satu symbol negaraku ternyata tidak dihargai di bank kecil ini. Ini berarti uang rupiah tidak ada artinya di sini. Meskipun kita misalnya kita membawa uang rupiah dalam jumlah puluhan juta rupiah, uang itu sama sekali tak berarti di sini. Tak lebih dari sejumlah lembaran kertas tak berharga. Duh, malangnya Indonesia.

Makan Malam di Restoran
sebuah Hotel di Bangkok
20.00 WB
Selepas dari mall ini, Mr. Wong mengajak kami makan malam di sebuah restoran hotel yang menurut informasi Mr. Wong adalah restoran paling tersohor di kawasan ini. Ketika makan minum di restoran ini aku melihat nun di seberang sana ada konter penukaran valuta asing. Ketika teman-teman setour wisataku masih asyik menikmati aneka makanan dan minuman yang disajikan di restoran, aku diam-diam menyelinap dan menyeberang ke konter poenukaran valuta asing itu. Sungguh apes, uang rupiah juga ditolak di sini.

Hotel Royal Pasifik Bangkok
21.00 WB
Kegiatan hari pertama di kota Bangkok ditutup dengan acara chekin di Hotel Royal Pasifik. Hotel ini terletak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Bangkok. Mr. Wong sengaja menginapkan kami di sini dengan dua pertimbangan, yakni: jauh dari pusat kegiatan aksi demonstrasi dan dekat dengan kota Pattaya yang akan kami kunjungi besok hari.
Teman sekamarku tidak berubah. Maklumlah, tidak ada pilihan lain karena di dalam tour wisata kami ada 4 orang pria, dua pria lain berstatus sebagai ayah dan anak, jadi tidak mungkin keduanya ditempatkan terpisah di dalam kamar hotel yang berbeda.  Tidak apa alias tidak masalah bagiku. Kami tidur di kamar 3019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar