BAGIAN
III
CATATAN
PERJALANAN WISATA
KE NEGERI
GAJAH PUTIH THAILAND
SABTU,
8 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Century Pattaya
Pukul 05.00 WP
Seperti subuh
kemarin, telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, peneleponnya juga
sama, yakni karyawan front office hotel. Mereka sengaja melakukannya agar kami
terbangun dari tidur yang lelap.
Peristiwa yang
terjadi kali kedua ini membuatku sampai pada kesimpulan bahwa membangunkan
tidur para tamunya pada setiap pukul 05.00 WP (Waktu Pattaya) boleh jadi
termasuk bagian dari tugas mereka, sehingga para tamu tak boleh protes apalagi
marah-marah. Entahlah. Mengenai hal ini belum sempat kukomfirmasikan dengan Mr.
Wong.
Pukul 06.00 WP
Begitu
terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi yang
bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok gigi,
dan mandi. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman sekamarku. Kami bergantian menggunakan kamar mandi hotel.
Pukul 07.00 WP
Kami
masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu
nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum
air putih dan teh manis.
Beberapa
teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, atau roti
tawar yang diolesi mentega plus gula putih (atau diolesi selai nenas), dan ada
yang memilih mengonsumsi mie instan saja. Mie
instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan
di sini karena agak sensitive.
Pukul 08.00 WP
Kami
checkout dari Hotel Royal Century Pattaya dan bergegas masuk ke dalam bis yang
sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Sopir bis (pria) dan kondekturnya
(wanita) rupanya memilih tidur di dalam bis, tidak pulang ke rumah atau ikut
tidur di hotel. Bisa jadi jarak rumah keduanya agak jauh dari lokasi hotel ini
sehingga lebih praktis dan lebih hemat tidur di dalam bis saja. Entahlah.
Nongnoch Garden
09.30 WP
Bis
meluncur melewati jalan-jalan protocol yang ada di kota Pattaya. Menuru Mr.
Wong, tempat yang akan kami kunjungi pagi ini adalah Nongnoch Garden (NG).
Sebuah taman bunga, tempat pertunjukan cabaret, dan atraksi gajah.
Begitu
tiba di kilometer 163 Jalan Sukhumvit, pak supir membelokkan bis yang
dikemudikannya ke kiri jalan, rupanya kami sudah hampir tiba di tempat tujuan.
Kulihat di kiri kanan jalan masuk ke NG dipenuhi dengan tanaman palm berukuran besar
yang dipasang berjejer, rapi sekali.
NG
dimiliki oleh seorang wanita bernama Nongnoch. Meskipun bukan keturunan
bangsawan namun Nongnoch berhasil meraih reputasi yang sangat mengangumkan,
yakni menjadi orang yang paling kaya di Thailand. NG berada di areal seluas 2,5
kilometer persegi. Diperlukan waktu sekitar 2 jam untuk mengelilinginya dengan
cepat. Taman bunganya ditata dengan apik sehingga menggoda para wisatawan untuk
mengambil gambar di seantero tempat ini.
Atraksi Gajah
Pintar
11.00 WP
Selepas
dari taman bunga ini kami dibawa Mr. Wong ke wahana lain yang masih berada di
areal NG. Di tempat ini kami disuguhi pertunjukan cabaret oleh para seniman
setempat. Gedung pertunjukkannya sangat sederhana, dibangun dari balok kayu,
dan papan, dengan atap rumbia.
Selain
mempertunjukkan sejumlah tarian tradisonal khas Thailand, di gedung ini juga
dipertunjukkan Thai Boxing yang dikemas dalam bentuk cerita humor. Dalam salah
satu adegan digambarkan seorang pelatih Thai Boxing yang menempati sudut merah
terkena jotosan petinju lawan. Akibatnya ia pingsan dan harus ditandu ke sisi
panggung untuk disadarkan oleh anak buahnya.
Sementara
itu pertandingan Thai Boxing tetap berlangsung dengan serunya. Namun, sekali
lagi terjadi insiden lucu. Wasit pertandingan ini terkena jotosan kedua
petinju, hingga pingsan dan digotong ke luar ring. Namun, seiring dengan itu
ring digulung dan pertunjukan Thai Boxing berakhir. Penonton tertawa ngakak
karena merasa terhibur oleh pertunjukan yang mengelitik rawa itu.
Selanjutnya
dipertunjukan adegan perang yang melibatkan dua puluhan prajurit yang saling
adu senjata tajam. Perang berlangsung dalam suasana panas dan melibatkan dua
ekor gajah yang penunggangnya saling berkonflik dan adu senjata tajam.
Pertempuran gajah versus gajah ini berlangsung dalam dua sesi. Pertunjukkan
selesai, para pemain member hormat, dan penonton memberikan tepuk tangannya
yang meriah.
Kegiatan
wisata selanjutnya adalah menyaksikan atraksi gajah pintar di bagian belakang
gedung pertunjukkan. Gajah pintar yang ada di arena ini saling bergantian
menunjukkkan kebolehan, seperti: main sepak bola, naik panser, naik sepeda,
menari, dan melukis abstrak. Para wisatawan pada umumnya tidak melewatkan
kesempatan berfoto ketika dirinya diangkat oleh dua ekor gajah dengan
belalainya yang saling dipertautkan.
Selain
itu, di lokasi yang sama juga dipertunjukkan belasan ekor harimau yang masih
liar. Harimau dimaksud deibiarkan berleha-leha sambil berbaring, namun lehernya
dilingkari dengan kalung besi. Para wisatawan juga boleh mengambil gambar
dengan latar belakang harimau tidur dimaksud.
Sehabis
lelah berkeliling tempat ini, kami kemudian diajak makan siang di sebuah
restoran prasmanan yang terletak di areal dalam tempat wisata ini.
Big Bee Farm
Company Limited
13.00
Selain Gems Gallery Pattaya (GGP),, masih ada satu
tempat wisata lagi yang juga wajib dikunjungi oleh para wisatawan, yakni: Big Bee
Farm Company Limited (BBFCL), pusat penjualan madu asli Thailand. Dalam hal ini
pemerintah Thailand mewajibkan para pemandu wisatanya membawa para wisatawan
yang dipandunya singgah ke tempat ini. Jika tidak, maka pemandu wisata dimaksud akan terkena
sanksi skorsing.
Gedung BBFCL terletak di tepi jalan raya utama di pinggiran kota Pattaya. Begitu tiba, kami para wisatawan dipersilakan masuk ke dalam suatu ruangan untuk mendengarkan penjelasan tentang madu asli Thailand produk BBFCL.
Gedung BBFCL terletak di tepi jalan raya utama di pinggiran kota Pattaya. Begitu tiba, kami para wisatawan dipersilakan masuk ke dalam suatu ruangan untuk mendengarkan penjelasan tentang madu asli Thailand produk BBFCL.
Karyawan
atau karyawati yang bertugas sebagai pemberi penjelasan disesuaikan dengan asal
negara para wisatawan. Mereka menyediakan pemberi penjelasan yang fasih
berbahasa asing sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh rombongan wisatawan
yang datang berkunjung. Karyawan yang bertugas memberikan penjelasan kepada kami
bernama Adnan, seorang Muslim. Orang Thailand ini adalah Alumnus Sastra Melayu
dari sebuah perguruan tinggi di Malaysia. Selain itu ia juga pernah 16 tahun bekerja
di sebuah perusahaan perikanan di Maluku.
Selain
memproduksi madu asli, BBFCL juga memproduksi Bee Pollen, dan Royal Jelly. Merk
produk BBFCL adalah Thepprasit Honey. Penjelasan tentang keunggulan produk
mereka sangat memikat sehingga para wisatawan menjadi tertarik untuk membeli
produk mereka. Harga produk mereka relative mahal, satu paket lengkap dihargai
TBH 500 setara dengan Rp. 1.500.000,- (kurs Rp. 300,- per TBH 1). Pembayaran
bisa dilakukan denghan uang rupiah. Banyak anggota tour wisata yang tertarik
membelinya.
Selepas transaksi, kami diajak ke sebuah areal
di samping gedung BBFCL. Di sini diperlihatkan bagaimana lebah madu
dipeternakan dan bagaimana caranya pengambilan madu yang masih berada di sarang
lebah sebelum diproduksi di pabrik penyulingan modern. Pusat peternakan lebah
madu milik BBFCL sesungguhnya berada di hutan alami yang terletak di Chiangmai,
yakni di daerah segi tiga emas. Pohon yang dijadikan sebagai tempat lebah bersarang
dan berkembang biak adalah pohon candu yang dibiarkan tumbuh subur di daerah
segi tiga emas sana. Namun, candunya tidak diproduksi dan diperjual-belikan
karena dianggap sebagai barang terlarang secara internasional.
Bowtip
Supermarket
14.30 WP
Kami meninggalkan kota Pattaya untuk kembali ke
kota Bangkok. Di tengah jalan kami singgah di Bowtip Supermarket, sebuah
supermarket yang menjual produk makanan dan souvenir khas Thailand.
Di tempat ini anggota tour wisata membeli
oleh-oleh berupa keripik durian, lempok durian, buah-buahan, aneka jenis
keripik, aneka jenis coklat, aneka jenis ikan kering (termasuk cumi-cumi), pakaian
jadi, sandal, gantungan kunci, dan banyak lagi yang lainnya.
Selain itu, ketika berada di tempat ini, anggota
tour wisata banyak memanfaatkan kesempatan mencicipi durian monthong yang
terkenal legit, dan mencicipi kelapa bakar yang lezat. Tidak hanya itu, mereka
juga tidak melewatkan kesempatan mencicipi kelezatan es krim khas Thailand.
Mega Banga
Supermarket
16.30 WB
Kami tiba di Mega Banga Supermarket sebagai mall
yang khusus menjual barang-barang berkelas produksi luar negeri. Ini adalah
kesempatan terakhir bagi anggota tour wisata untuk membelanjakan bath miliknya,
karena selepas ini tidak ada lagi acara singgah untuk berbelanja. Masih ada
satu agenda yang tersisa, yakni makan malam di Restoran Royal Dragon Restoran.
Royal Dragon
Restoran
19.00 WB
Kami tiba di Royal Dragon Restoran (RDR), sebuah
restoran yang berhasil meraih salah satu rekor dunia menurut versi Guinnes Book
of Record.
Desain interior restoran menonjolkan cita rasa artistic orang Cina.
Tata ruangnya didominasi oleh warna merah dan kuning. Arealnya sangat luas.
Menu yang disajikan sangat istemewa. Sehingga
tempat makan ini selalu penuh dengan pelanggan, terutama sekali pada malam
hari.
Satu hal unik, pesanan makanan diantarkan oleh
para pramusaji dengan mengenakan sepatu roda, karena jarak antara dapur dengan
tempat makan para tamu cukup jauh.
Bahkan, ketika kami makan di sana, kami melihat
ada seorang pramusaji mengantarkan pesanan dengan cara terbang, yakni
menggunakan semacam alat yang dirancang khusus (kawat elektronik yang dipasang
di atas kepalanya)
Hotel Royal
Pasifik
21.00 WB
Kegiatan hari
ketiga di kota Bangkok ditutup dengan acara chekin di Hotel Royal Pasifik. Aku malam
ini tidur di kamar nomor 3019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar