Rabu, 19 Februari 2014

THAILAND III



BAGIAN III
CATATAN PERJALANAN WISATA
KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

SABTU, 8 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Century Pattaya
Pukul 05.00 WP
Seperti subuh kemarin, telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, peneleponnya juga sama, yakni karyawan front office hotel. Mereka sengaja melakukannya agar kami terbangun dari tidur yang lelap.
Peristiwa yang terjadi kali kedua ini membuatku sampai pada kesimpulan bahwa membangunkan tidur para tamunya pada setiap pukul 05.00 WP (Waktu Pattaya) boleh jadi termasuk bagian dari tugas mereka, sehingga para tamu tak boleh protes apalagi marah-marah. Entahlah. Mengenai hal ini belum sempat kukomfirmasikan dengan Mr. Wong.

Pukul 06.00 WP
Begitu terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok gigi, dan mandi. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman sekamarku. Kami bergantian menggunakan kamar mandi hotel.

Pukul 07.00 WP
Kami masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum air putih dan teh manis.
Beberapa teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, atau roti tawar yang diolesi mentega plus gula putih (atau diolesi selai nenas), dan ada yang memilih mengonsumsi mie instan saja. Mie instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan di sini karena agak sensitive.

Pukul 08.00 WP
Kami checkout dari Hotel Royal Century Pattaya dan bergegas masuk ke dalam bis yang sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Sopir bis (pria) dan kondekturnya (wanita) rupanya memilih tidur di dalam bis, tidak pulang ke rumah atau ikut tidur di hotel. Bisa jadi jarak rumah keduanya agak jauh dari lokasi hotel ini sehingga lebih praktis dan lebih hemat tidur di dalam bis saja. Entahlah.

Nongnoch Garden
09.30 WP
Bis meluncur melewati jalan-jalan protocol yang ada di kota Pattaya. Menuru Mr. Wong, tempat yang akan kami kunjungi pagi ini adalah Nongnoch Garden (NG). Sebuah taman bunga, tempat pertunjukan cabaret, dan atraksi gajah.
Begitu tiba di kilometer 163 Jalan Sukhumvit, pak supir membelokkan bis yang dikemudikannya ke kiri jalan, rupanya kami sudah hampir tiba di tempat tujuan. Kulihat di kiri kanan jalan masuk ke NG dipenuhi dengan tanaman palm berukuran besar yang dipasang berjejer, rapi sekali.
NG dimiliki oleh seorang wanita bernama Nongnoch. Meskipun bukan keturunan bangsawan namun Nongnoch berhasil meraih reputasi yang sangat mengangumkan, yakni menjadi orang yang paling kaya di Thailand. NG berada di areal seluas 2,5 kilometer persegi. Diperlukan waktu sekitar 2 jam untuk mengelilinginya dengan cepat. Taman bunganya ditata dengan apik sehingga menggoda para wisatawan untuk mengambil gambar di seantero tempat ini.  

Atraksi Gajah Pintar
11.00 WP
Selepas dari taman bunga ini kami dibawa Mr. Wong ke wahana lain yang masih berada di areal NG. Di tempat ini kami disuguhi pertunjukan cabaret oleh para seniman setempat. Gedung pertunjukkannya sangat sederhana, dibangun dari balok kayu, dan papan, dengan atap rumbia.
Selain mempertunjukkan sejumlah tarian tradisonal khas Thailand, di gedung ini juga dipertunjukkan Thai Boxing yang dikemas dalam bentuk cerita humor. Dalam salah satu adegan digambarkan seorang pelatih Thai Boxing yang menempati sudut merah terkena jotosan petinju lawan. Akibatnya ia pingsan dan harus ditandu ke sisi panggung untuk disadarkan oleh anak buahnya.
Sementara itu pertandingan Thai Boxing tetap berlangsung dengan serunya. Namun, sekali lagi terjadi insiden lucu. Wasit pertandingan ini terkena jotosan kedua petinju, hingga pingsan dan digotong ke luar ring. Namun, seiring dengan itu ring digulung dan pertunjukan Thai Boxing berakhir. Penonton tertawa ngakak karena merasa terhibur oleh pertunjukan yang mengelitik rawa itu.
Selanjutnya dipertunjukan adegan perang yang melibatkan dua puluhan prajurit yang saling adu senjata tajam. Perang berlangsung dalam suasana panas dan melibatkan dua ekor gajah yang penunggangnya saling berkonflik dan adu senjata tajam. Pertempuran gajah versus gajah ini berlangsung dalam dua sesi. Pertunjukkan selesai, para pemain member hormat, dan penonton memberikan tepuk tangannya yang meriah.
Kegiatan wisata selanjutnya adalah menyaksikan atraksi gajah pintar di bagian belakang gedung pertunjukkan. Gajah pintar yang ada di arena ini saling bergantian menunjukkkan kebolehan, seperti: main sepak bola, naik panser, naik sepeda, menari, dan melukis abstrak. Para wisatawan pada umumnya tidak melewatkan kesempatan berfoto ketika dirinya diangkat oleh dua ekor gajah dengan belalainya yang saling dipertautkan.
Selain itu, di lokasi yang sama juga dipertunjukkan belasan ekor harimau yang masih liar. Harimau dimaksud deibiarkan berleha-leha sambil berbaring, namun lehernya dilingkari dengan kalung besi. Para wisatawan juga boleh mengambil gambar dengan latar belakang harimau tidur dimaksud.
Sehabis lelah berkeliling tempat ini, kami kemudian diajak makan siang di sebuah restoran prasmanan yang terletak di areal dalam tempat wisata ini.

Big Bee Farm Company Limited
13.00
Selain Gems Gallery Pattaya (GGP),, masih ada satu tempat wisata lagi yang juga wajib dikunjungi oleh para wisatawan, yakni: Big Bee Farm Company Limited (BBFCL), pusat penjualan madu asli Thailand. Dalam hal ini pemerintah Thailand mewajibkan para pemandu wisatanya membawa para wisatawan yang dipandunya singgah ke tempat ini. Jika tidak, maka pemandu wisata dimaksud akan terkena sanksi skorsing.
      Gedung BBFCL terletak di tepi jalan raya utama di pinggiran kota Pattaya. Begitu tiba, kami para wisatawan dipersilakan masuk ke dalam suatu ruangan untuk mendengarkan penjelasan tentang madu asli Thailand produk BBFCL.
Karyawan atau karyawati yang bertugas sebagai pemberi penjelasan disesuaikan dengan asal negara para wisatawan. Mereka menyediakan pemberi penjelasan yang fasih berbahasa asing sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh rombongan wisatawan yang datang berkunjung. Karyawan yang bertugas memberikan penjelasan kepada kami bernama Adnan, seorang Muslim. Orang Thailand ini adalah Alumnus Sastra Melayu dari sebuah perguruan tinggi di Malaysia. Selain itu ia juga pernah 16 tahun bekerja di sebuah perusahaan perikanan di Maluku.
Selain memproduksi madu asli, BBFCL juga memproduksi Bee Pollen, dan Royal Jelly. Merk produk BBFCL adalah Thepprasit Honey. Penjelasan tentang keunggulan produk mereka sangat memikat sehingga para wisatawan menjadi tertarik untuk membeli produk mereka. Harga produk mereka relative mahal, satu paket lengkap dihargai TBH 500 setara dengan Rp. 1.500.000,- (kurs Rp. 300,- per TBH 1). Pembayaran bisa dilakukan denghan uang rupiah. Banyak anggota tour wisata yang tertarik membelinya.
 Selepas transaksi, kami diajak ke sebuah areal di samping gedung BBFCL. Di sini diperlihatkan bagaimana lebah madu dipeternakan dan bagaimana caranya pengambilan madu yang masih berada di sarang lebah sebelum diproduksi di pabrik penyulingan modern. Pusat peternakan lebah madu milik BBFCL sesungguhnya berada di hutan alami yang terletak di Chiangmai, yakni di daerah segi tiga emas. Pohon yang dijadikan sebagai tempat lebah bersarang dan berkembang biak adalah pohon candu yang dibiarkan tumbuh subur di daerah segi tiga emas sana. Namun, candunya tidak diproduksi dan diperjual-belikan karena dianggap sebagai barang terlarang secara internasional.

Bowtip Supermarket
14.30 WP
Kami meninggalkan kota Pattaya untuk kembali ke kota Bangkok. Di tengah jalan kami singgah di Bowtip Supermarket, sebuah supermarket yang menjual produk makanan dan souvenir khas Thailand.
Di tempat ini anggota tour wisata membeli oleh-oleh berupa keripik durian, lempok durian, buah-buahan, aneka jenis keripik, aneka jenis coklat, aneka jenis ikan kering (termasuk cumi-cumi), pakaian jadi, sandal, gantungan kunci, dan banyak lagi yang lainnya.
Selain itu, ketika berada di tempat ini, anggota tour wisata banyak memanfaatkan kesempatan mencicipi durian monthong yang terkenal legit, dan mencicipi kelapa bakar yang lezat. Tidak hanya itu, mereka juga tidak melewatkan kesempatan mencicipi kelezatan es krim khas Thailand.

Mega Banga Supermarket
16.30 WB
Kami tiba di Mega Banga Supermarket sebagai mall yang khusus menjual barang-barang berkelas produksi luar negeri. Ini adalah kesempatan terakhir bagi anggota tour wisata untuk membelanjakan bath miliknya, karena selepas ini tidak ada lagi acara singgah untuk berbelanja. Masih ada satu agenda yang tersisa, yakni makan malam di Restoran Royal Dragon Restoran.

Royal Dragon Restoran
19.00 WB
Kami tiba di Royal Dragon Restoran (RDR), sebuah restoran yang berhasil meraih salah satu rekor dunia menurut versi Guinnes Book of Record.
Desain interior restoran  menonjolkan cita rasa artistic orang Cina. Tata ruangnya didominasi oleh warna merah dan kuning. Arealnya sangat luas.
Menu yang disajikan sangat istemewa. Sehingga tempat makan ini selalu penuh dengan pelanggan, terutama sekali pada malam hari.
Satu hal unik, pesanan makanan diantarkan oleh para pramusaji dengan mengenakan sepatu roda, karena jarak antara dapur dengan tempat makan para tamu cukup jauh.
Bahkan, ketika kami makan di sana, kami melihat ada seorang pramusaji mengantarkan pesanan dengan cara terbang, yakni menggunakan semacam alat yang dirancang khusus (kawat elektronik yang dipasang di atas kepalanya)

Hotel Royal Pasifik
21.00 WB
Kegiatan hari ketiga di kota Bangkok ditutup dengan acara chekin di Hotel Royal Pasifik. Aku malam ini tidur di kamar nomor 3019.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar