BAGIAN II
CATATAN
PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND
JUM’AT,
7 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Pasifik Bangkok
Pukul 05.00 WB
Telepon di
kamar hotelku berdering nyaring sekali, ternyata yang menelepon adalah karyawan
front office hotel. Bisa jadi mereka sengaja melakukannya agar kami terbangun
dari tidur yang lelap.
Aku tidak
segera bangkit dari tempat tidurku. Demikian pula dengan teman sekamarku. Kami
berdua berusaha melanjutkan tidur kami barang sejenak lagi. Mataku masih berat
untuk dibuka. Badan terasa capek sekali.
Maklumlah,
kemarin hampir seharian penuh aku beraktifitas fisik berkeliling kota Bangkok.
Di mana sebagian diantaranya kulakukan dengan cara yang sangat tradisonal,
yakni melaku sikil (bahasa Jawa)
alias jalan kaki.
Pukul 06.00 WB
Sudah tidak
ada pilihan lain bagiku kecuali segera bangkit dari tempat tidur. Jika tidak,
maka akan mengganggu jadwal tour wisata kami secara keseluruhan. Mr. Wong sudah
mewanti-wanti bahwa semua anggota tour wisata yang dipandunya harus siap
berangkat pukul 08.00 WB jika tidak maka dapat dipastikan perjalanan kami ke berbagai
objek wisata bakal terhambat karena bis akan terjebak macet.
Begitu
terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi
yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok
gigi, dan mandi. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman sekamarku. Kami
bergantian menggunakan kamar mandi hotel.
Pukul 07.00 WB
Kami
masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu
nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum
air putih dan teh manis.
Beberapa
teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, roti
tawar yang diolesi mentega plus gula putih, atau diolesi selai nenas, dan ada
yang memilih mengonsumsi mie instan saja.
Mie
instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan
di sini karena agak sensitive.
Pukul 08.00 WB
Kami
checkout dari Hotel Royal Pasifik Bangkok dan bergegas masuk ke dalam bis yang
sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Sopir bis (pria) dan kondekturnya
(wanita) rupanya memilih tidur di dalam bis, tidak pulang ke rumah atau ikut
tidur di hotel. Bisa jadi jarak rumah keduanya agak jauh dari lokasi hotel ini
sehingga lebih praktis dan lebih hemat tidur di dalam bis saja. Entahlah.
Bis
meluncur melewati jalan-jalan protocol yang ada di kota Bangkok. Kami antara
lain melewati Istana Raja Thailand dan Gedung Parlemen. Tujuan wisata kami pagi
ini adalah mengunjungi Kuil Wat Po. Sebelum tiba di tempat tujuan kami melewati
alun-alun kota Bangkok yang sangat luas arealnya dan istana lama Raja Thailand
yang juga sangat luas arealnya. Jalan raya sudah mulai macet di sana-sini.
Istana Raja
10.00 WB
Bis
yang kami tumpangi melintas di jalan raya di samping alun-alun istana dan
bangunan istana raja (Grand Falace) yang sudah tidak digunakan lagi, karena
Raja Thailand sekarang ini mendiami istana baru yang dibangun di tempat lain.
Istana ini dibangun tahun 1782 dan berada dalam suatu areal yang sangat luas,
yakni 218.400 meter persegi.
Sekarang,
Istana Raja ini dijadikan objek wisata, yang dibuka sejak pagi hari. Atraksi
menarik yang dapat dilihat para wisatawan adalah apel pagi para penjaga istana
berseragam lengkap. Para wisatawan boleh masuk ke istana tanpa dipungut biaya,
namun, jika mereka ingin melihat-lihat koleksi istana mereka harus membayar
tiket masuk yang berbeda-beda untuk setiap wahana wisata.
Aku
dan teman-teman peserta tour wisata hanya bisa mengambil foto-foto dari arah
dalam bis saja, karena menurut Mr. Wong
kami tidak singgah ke istana ini. Alasannya akan terlalu banyak makan
waktu dan suasananya juga tidak menyenangkan. Kami harus berdesak-desakan
dengan para wisatawan lainnya jumlahnya sangat banyak.
Kuil Wat Po
10.15 WB
Kami tiba di Kuil Wat Po. Harga tiket masuk
100 bath. Sebelum masuk ke kuil kami harus melepaskan alas kaki dan
memasukkannya ke dalam tas kain yang sudah disediakan oleh pengelola. Selama
berada di dalam kuil tas kain berisi alas kaki dimaksud harus ditenteng
sendiri.
Seorang
wanita anggota tour wisata dicegah masuk oleh petugas, ia diminta untuk
mengenakan sarung yang sudah disediakan. Kulihat pagi itu ia cuma mengenakan
celana pendek sehingga paha mulusnya masih kelihatan menyolok mata. Tidak ada
pilihan lain, anggota tour wisata dimaksud terpaksa menuruti apa yang dikatakan
oleh petugas.
Kuil
Wat Po dibangun di sebuah areal yang luasnya sekitar 20 hektar. Dibuat dari
beton yang sangat kokoh padahal usia bangunan ini sudah sangat tua, yakni
sekitar 1982 tahun. Mulai dibangun sejak tahun 1782, atau sekitar 200 tahun sebelum
kota Bangkok dijadikan ibukota Kerajaan Thailand. Didalamnya ditempatkan Patung
Budha yang sedang tidur berbaring (Budha Reclining). Ukuran patung ini sangat
besar, panjangnya kurang lebih 46 meter, lebar 7 meter, tinggi 15 meter, dan
berat 5,5 ton. Dibuat dari beton yang dilapisi dengan emas sehingga berwarna
kuning kemerah-merahan.
Kuil
Wat Po termasuk objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Posisinya
sangat strategis, yakni di tepi jalan raya di pusat kota Bangkok. Sehingga
tempat ini juga menjadi tempat mencari nafkah yang favorit bagi para sopir
bajaj (shongtew, tuktuk) dan sopir taksi argometer. Selain itu, di kawasan yang
sama juga banyak pedagang kaki lima menggelar jualannya. Mereka menjual
makanan, minuman, dan souvenir khas Thailand. Minuman favorit di kawasan ini
adalah kelapa muda. Buahnya kecil, namun airnya manis dan isi daging dalamnya
sangat lembut seperti kelapa kopyor. Harganya 30 bath sebutir.
Salah
satu keistimewaan objek wisata di kota Bangkok adalah tidak ditemukannya
pengemis atau gelandangan yang sedang melakukan praktek mencari nafkah.
Setidak-tidaknya selama aku berada di kota ini aku tidak pernah melihatnya.
Satu
lagi keistemewaan kota Bangkok adalah tidak ditemukannya orang berjualan
premium eceran di pinggir jalan, dan semua SPBU di Thailand bersih dari para
pengantri solar. SPBU di sana tampak selalu lengang, tidak ada antrian sama
sekali.
Supir
bis wisata yang melayani kami selama berada di kota Bangkok dan Pattaya, sangat
professional. Ia tidak pernah membelokan bis yang disupirinya ke SPBU.
Pengisian bahan bakar minyak bisa jadi dilakukannya setelah mendrop kami ke
hotel selepas pukul 20.00 WP, sehingga tidak mengganggu kelancaran perjalanan
wisata kami.
Kuil Wat Arun
11.30 WB
Mr. Wong memandu kami masuk ke sebuah
lorong di pasar tradisional yang lokasinya tak jauh dari Kuil Wat Po. Di kiri
dan kanan lorong kulihat banyak orang berjualan ikan basah, ikan kering, sayur
mayur, dan warung makan-minum. Ternyata lorong dimaksud bermuara ke sebuah
dermaga kelotok penyeberangan (dong, dalam bahasa Thailand).
Setelah
menerima tiket yang dibelikan Mr. Wong seharga THB 3,5 per lembar, kami satu
demi satu masuk ke dalam kelotok berbaur dengan penumpang lain: warga setempat
dan wisatawan asing lainnya. Tak lama kemudian mesin kelotok dihidupkan oleh
pengemudinya, dan perlahan tapi pasti kelotok itu bergerak memotong derasnya arus
sungai Chao Phraya yang ketika itu sangat ramai.
Suasananya
persis seperti keramaian di sungai Martapura, Banjarmasin. Aneka jenis kapal
lalu lalang melintas di sungai Chao Phraya, beberapa di antaranya melaju dengan
kecepatan tinggi, sehingga membentuk gelombang yang cukup besar. Sekitar 5
menit kemudian kelotok yang kami tumpangi merapat di dermaga.
Tak
jauh dari dermaga, kulihat di dalam sungai Chao Phraya banyak sekali ikan patin
bergerombol memperebutkan remah roti yang ditebarkan oleh para pengunjung.
Konon, tidak ada seorangpun berani menangkap ikan patin dimaksud karena
khawatir akan terkena musibah akibat melanggar larangan yang berlaku di sana.
Namun, jika ikan patin itu berada di luar wilayah suakanya, maka siapa saja
boleh menangkap untuk kemudian memakannya.
Menurut
situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, sungai Chao Phraya berhulu di
sungai Ping, sekitar 372 km dari kota Bangkok. Hilir sungai ini terletak di
Teluk Thailand. Nama asli sungai ini adalah Mae Nam Chao Phraya, artinya ibu
kandung atas semua sumber mata air di dunia. Sungai ini memiliki endapan alluvial yang rendah dan
menyebar secara merata ke seluruh Thailand. Akibat endapan alluvial inilah maka
air sungai Chao Phraya selalu berwarna keruh kekuning-kuningan. Selain kota
Bangkok, ada sejumlah kota besar dan terbilang penting lainnya yang juga
dibangun di tepi sungai Chao Phraya, yakni: Nokhon Sawan, Uthai Thani, Chainat,
Singburi, Ang Thong, Ayutthaya, Pathan Thai, Nonthonburi, dan Samut Prakan.
Belum
begitu jauh kaki ini melangkah meninggalkan dermaga kelotok penyeberangan, kami
sudah disambut meriah oleh para pengiat wisata di sana. Ada yang menawarkan penyewaan
pakaian khas Thailand untuk kepentingan berpose, atau menawarkan aneka jenis
barang kerajinan tangan, seperti kaus oblong bergambar khas alam lingkungan dan
kebudayaan Thailand.
Kami
semua akhirnya tertarik untuk menerima tawaran berfoto bersama dengan latar
belakang Kuil Wat Arun. Para juru foto kemudian mengatur posisi kami agar hasil
foto bersama ini nantinya enak dipandang mata. Tidak lupa pula para juru foto
meminta kami untuk memegang kain berwarna merah dengan tulisan berwarna putih:
Welcome to Thailand Bangkok Wat Arun.
Menurut situs
Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, Wat Arun artinya Candi
Fajar (Temple of Dawn). Terletak di distrik Bangkok Yai. Tepatnya di Thonburi
barat hulu sungai Chao Phraya. Tarif masuk bagi para wisatawan asing
adalah THB 50 (berlaku sejak September 2010).
Kuil ini berstatus sebagai kuil utama Kerajaan Thailand.
Mulai dibangun sejak ibukota Thailand masih di Ayutthaya dan awalnya dikenal
sebagai Wat Makok. Masa itu disebut sebagai periode Rattanakosin. Kemudian pada
saat ibukota dipindahkan ke Thonburi, Raja Thaksin merubah nama tempat ini
menjadi Wat Chaeng. Nama inilah yang populer di kalangan warga lokal.
Selanjutnya, Raja Rama II memugarkan kuil ini dan memberikan
nama baru kepadanya, yakni Wat Arunratchatharam. Pada masa pemerintahan Raja
Rama IV, kuil ini kembali direstorasi dengan menambah sejumlah bangunan di
sekitarnya. Sejak itu namanyaberubah nama Wat Arunratchawararam, yang bertahan
hingga sekarang ini. Namun, kebanyakan orang menyebutnya Wat Arun saja.
Arsitektur kuil ini sangat indah sehingga banyak
menawan hati para wisatawan. Kuil ini memiliki menara megah (prang) setinggi 70
meter. Di dalam setiap ruangan besar di keempat sisi menaranya yang tinggi itu
diletakkan patung gajah. Teknologi ketika kuil ini dibangun tentunya masih
sangat sederhana, sehingga dapat dibayangkan betapa sulitnya orang-orang
Thailand pada masa itu menempatkan keempat patung gajah yang begitu besar dan
berat itu ke atas tempat tertinggi di kuil ini.
Julukan Kuil Wat Arun sebagai Temple of Dawn ada
hubungannya dengan hiasan berupa potongan-potongan kecil kaca warna-warni dan
porselen Cina yang dilekatkan dengan semen pada keseluruhan bangunannya. Hiasan
dimaksud dilekatkan dengan sangat hati-hati dan teliti ke dalam pola-pola yang
begitu rumit. Secara fisik Kuil Wat Arun sangat menakjubkan jika dilihat pada
saat matahari terbenam. Pecahan kaca warna-warni dan porselen Cina yang
menempel pada bangunan kuil ini akan memantulkan cahaya yang gemerlapan di malam
hari.
Selesai foto bersama, Mr. Wong membebaskan kami
untuk pergi ke mana saja di areal komplek Kuil Wat Arun ini. Waktu yang
diberikan sekitar 90 menit. Aku sendiri memilih masuk ke areal dalam Kuil Wat
Arun. Kudengar suara burung gagak berkaok-kaok nun jauh di atas sana di tempat
tertinggi kuil ini. Setelah itu aku masuk ke pasar souvenir yang berlokasi tak
jauh dari Kuil Wat Arun.
Aku membeli beberapa potong kaos oblong bersulam
gambar-gambar ikon Thailand yang khas. Menurut Mr. Wong, harga souvenir di
pasar ini paling murah dibandingkan dengan di tempat lain. Uniknya, semua
souvenir yang dijual di sini bisa dibeli dengan menggunakan uang rupiah. Para
penjualnya juga fasih melakukan tawar menawar dalam bahasa Indonesia. Mereka
sengaja belajar bahasa Indonesia setelah mengetahui bahwa wisatawan yang
berkunjung ke tempat mereka mencari nafkah ini adalah para wisatawan dari
Indonesia.
Sesuai dengan kesepakatan, 90 menit kemudian kami
berkumpul lagi di dekat pintu masuk ke Kuil Wat Arun. Selanjutnya Mr. Wong
memandu kami untuk menyeberang kembali dengan menumpang kelotok. Di seberang
sudah menunggu bis wisata yang akan membawa kami ke sebuah rumah makan.
Kami makan siang di sebuah rumah makan yang khusus
menyediakan menu buat kaum Muslimin. Setelah makan kami sholat di ruang atas
rumah makan ini. Selanjutnya, supir bis membawa kami ke Pattaya. Jarak dari
Bangkok ke Pattaya sekitar 150 kilometer dan dapat ditempuh selama 2 jam.
Kota Pattaya
Pukul 13.30 WP
Nama Patthaya
merujuk kepada angin yang bertiup dari Barat daya ke Timur Laut pada setiap
awal musim hujan. Selain itu ada sumber
lain yang menghubungkannya dengan Thap Phraya, artinya Pasukan Angkatan Darat
Phraya. Angkatan Darat dimaksud berada dibawah komando Jenderal Phraya Tak yang
kelak di kemudian hari menjadi Raja Taksin yang berkuasa di daerah setempat.
Posisinya itu membuatnya bermusuhan dengan Jenderal Nai Klom yang juga memimpin
pasukan perang yang sangat banyak jumlahnya.
Suatu ketika
keduanya saling berhadap-hadapan dalam formasi siap tempar. Namun, begitu
bertatap muka, Jenderal Nai Klom justru terpesona dengan kepiawaian Jenderal Phraya
Tak dalam mendisiplinkan anak buahnya. Jenderal Nai Klom dengan sukarela
menyerahkan diri dan pasukannya kepada Jenderal Pharya Tak. Sejak itu, Jenderal
Phraya Tak menjadi penguasa tunggal di daerah, dan ia kemudian menobatkan
dirinya sebagai Raja Taksin.
Menurut situs
Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, Pattaya
terletak di pesisir tenggara kota Bangkok, tepatnya di pesisir Teluk
Thailand. Pada pada awal sejarahnya, Pattaya tak lebih dari sebuah desa kecil
yang dihuni oleh para nelayan tradisional yang pada umumnya hidup pas-pasan.
Daerah seluas 22,2 kilometer persegi ini mulai
menggeliat sebagai tempat pemukiman yang ramai sejak tahun 1960-an. Ketika itu,
26 April 1961, 100 pasukan Angkatan
Udara Amerika Serikat yang sedang melaksana tugas berperang melawan pasukan
pemerintah Vietnam Utara yang komunis berada di tempat ini untuk melakukan
relaksasi setelah penat bertempur di medan perang Vietnam yang ganas itu.
Bermula dari peristiwa itu, Angkatan Udara Amerika Serikat kemudian membangun pangkalan
militer mereka di tempat ini.
Sejak itu, kota Pattaya tumbuh pesat menjadi
sebuah kota metropolitan, sebagian besar perekonomian kota ini ditunjang dari
perolehan yang dipungut dari ajang wisata malam. Setelah perang Vietnam
berakhir, para prajurit Amerika Serikat ditarik pulang kembali ke tanah airnya.
Saat itulah kota Pattaya sempat terpuruk ke kubangan krisis finansial, namun tidak
berselang lama, kota ini berhasil bangkit kembali dan tumbuh kuat berkat
derasnya arus wisatawan asing yang datang berbondong-bondong ke Pattaya.
Sejak tahun 1976, Pattaya berstatus sebagai
Kotamadya, Daerah Tingkat II yang termasuk di dalam wilayah Provinsi Chonburi. Sekarang ini Pattaya adalah kota
wisata yang terbilang penting di Thailand. Ada berbagai objek wisata andalan
yang setiap tahunnya banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Sehingga
mengalirkan banyak devisa yang membuat kota Pattaya menjadi kaya raya secara
financial.
Gems Galeri
Pattaya
Pukul 13.30 WP
Bis yang kami tumpangi belok kiri ke halaman Gems
Gallery Pattaya (GGP), sebuah pusat pengolahan batu permata yang beralamat di
Moo 6, Jalan Nakula Nomor 98, Pattaya
Utara, Chonbori, 20150. Pemerintah Thailand mewajibkan para pemandu wisatanya
membawa wisatawan yang dipandunya singgah ke tempat ini. Jika tidak, maka
pemandu wisata dimaksud akan terkena sanksi skorsing.
Tiket
masuk ke GGP adalah TBH 25. GGP merupakan pusat pengolahan permata yang resmi
dan digaransi oleh pemerintah Thailand. Begitu tiba di beranda GGP kami
disambut dengan ramah oleh dua orang karyawati berpakaian tradisional Thailand.
Setelah memberi penghormatan dengan cara menangkupkan kedua tangan di dada, mereka
lantas menempelkan stiker yang menunjukkan nomor group kami. Stiker bernomor
itu mereka tempelkan di sebelah kanan atas baju kami.
Begitu
masuk ke lobi kami disuguhi minuman dingin yang begitu diminum maknyus langsung
menyegarkan tenggorokan. Setelah itu kami dipersilakan naik ke kereta listrik
(monotrain) yang kemudian membawa kami masuk ke sebuah ruangan bawah tanah yang
berpenerangan minim.
Sejurus
kemudian kami sudah tiba di ruangan diorama yang terdiri dari 3 kamar. Kamar
pertama bercerita tentang proses terciptanya batu permata di dalam perut bumi,
yakni melalui proses pemanasan di bawah tanah, kemudian dimuntahkan ke permukaan
melalui peristiwa meletusnya gunung berapi atau gempa bumi.
Kamar
kedua bercerita tentang proses penambangan batu permata yang dilakukan secara
tradisional. Di sana digambarkan bagaimana orang menggali tanah di dalam gua
dengan menggunakan cangkul, memukul-mukul dinding gua, dan menyemprotkan air ke
dinding gua. Setelah terkumpul batu mulia itu dimasukan ke dalam ember,m
kemudian digerek ke atas dengan menggunakan tali.
Kamar
ketiga bercerita tentang eksploitasi tambang batu permata dengan menggunakan alat-alat
mekanis yang lebih canggih dan modern pada masa sekarang ini. Cerita visual
diorama itu didukung dengan ilustrasi music dan tata cahaya yang sangat mengesankan.
Penjelasan
tentang segala sesuatu yang digambarkan secara fisik melalui diorama yang kami
lihat dilakukan oleh seorang narrator dalam bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Sudah barang tentu penjelasan dimaksud sudah direkam lebih dulu. Bahasa
pengantar untuk menjelaskannya disesuai dengan bahasa yang digunakan para
wisatawan yang mengunjunginya secara berkelompok. Petugas tinggal memencet
kenop bahasa yang dipilih.
Selepas
ruang bawah tanah kami dibawa oleh pemandu wisata memasuki ruang produksi
permata. Di tempat ini kami dapat melihat langsung bagaimana para pekerja
mengolah batu permata yang masih mentah menjadi batu permata yang indah sebagai
mata cincin, anting-anting, kalung, gelang, dan aneka jenis perhiasan berharga
mahal lainnya.
Selanjutnya,
para wisatawan di bawa ke ruang pamer (galeri) yang sangat mengesaankan. Selama
berada di lokasi itu, pihak GGP menugaskan para karyawannya mendampingi para
wisatawan. Para karyawan GGP berbicara dalam bahasa yang digunakan para
wisatawan yang didampinginya. Isi pokok pembicaraan para pendamping ini sudah
barang tentu adalah mempromosikan keunggulan permata produksi GGP.
Produksi
GGP yang paling diandalkan adalah berlian, blue safir, emerald, jade, mirah
Siam, opal, dan topaz. Lokasi tambang batu permata dimaksud tersebar di
berbagai tempat di Thailand dan bahkan di luar negeri (Negara tetangga). Provinsi
Cantabury dan Provinsi Trat merupakan dua propinsi di Thailan yang menjadi
pemasok utama bahan baku yang diolah di GGP.
Aku
termasuk wisatawan yang kemana pergi selalu ditempel oleh seorang karyawan GGP
yang fasih berbahasa Indonesia. Boleh jadi mereka menganggapku sebagai seorang
calon pembeli yang potensial (bonafit) atau sebaliknya mereka mencurigaiku
sebagai wisatawan yang perlu diwaspadai gerak-geriknya. Hehehe.
Pada
kesempatan itu aku sempat berbincang-bincang dengan karyawan GGP yang mendampingiku
bahwa di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalsel, juga ada tambang intan.
Intan-intan dimaksud ditambang secara tradisional dan digosok sendiri oleh para
ahli setempat dengan menggunakan alat-alat penggosokan intan semimodern. Hanya
saja, intan-intan dimaksud tidak diperjualkan di tempat khusus seperti di GGP
ini.
“Oh,
ya?” hanya itu komentar karyawan GGP itu. Ada kesan ia kurang berminat
mendengarkannya, karena sesuai dengan tugasnya maka focus mereka adalah
mempromosikan batu permata produksi mereka, bukan sebaliknya malah tertarik
dengan informasi yang disampaikan para wisatawan yang didampinginya.
Misi
mereka menjual batu permata kepada anggota tour wisata dari Kalsel hari itu
berhasil dengan sukses. Banyak di antara angota rombongan tour wisata yang
tertarik untuk membeli produk mereka yang berharga minimal Rp. 1.000.000,-.
Pembayaran bisa dilakukan dengan uang rupiah.
Nah,
lho. Para wisatawan yang tinggal di dekat pusat penggosokan dan perdagangan intan
tertarik membeli batu permata di Negara Thailand. Itulah hebatgnya promosi yang
dikemas secara apik dan professional. Presentasi marketing yang
divisualisasikan dengan menggunakan teknologi digital yang tepat guna terbukti
mampu meningkatkan hasil penjualan. Motto marketing mereka: permata adalah
symbol cinta untuk orang tercinta.
Selepas itu, kami dipersilakan duduk di lobi
gedung GGP sambil menikmati minuman hangat atau dingin (sesuai pesanan
masing-masing) yang disuguhkan secara gratis. Lobi ini sengaja disediakan pihak
GGP bagi para wisatawan yang sedang menunggu proses akhir (finishing) atas batu
permata yang dibelinya.
GPP
bukan satu-satunya di Thailand. Tempat wisata semacam ini juga dibangun di
Bangkok, Phuket, dan Chiangmai. Hal ini dengan gamblang menunjukkan bahwa
bisnis batu permata merupakan bisnis yang menjanjikan laba bagi para pelakunya
di Thailand.
Salah
satu pusat penjualan permata yang terkemuka di Thailand adalah Jewelery Trade
Center (JTC) yang beralamat di 99/1 Siloam Road, Bangkok. JTC dibangun di atas
areal seluas 18.000 meter persegi. JTC terdiri dari bangunan utama, yakni North
Tower (56 lantai) dan South Tower (18 lantai). Fedung ini didesain oleh
Hellmuth, Obata, dan Kassabaum, selesai dibangun tahun 1996 dan langsung
dioperasikan pada tahun itu juga.
Pusat
perbelanjaan batu permata terletak di lantai Lower Groud hingga lantai 4 yang
terdiri atas The Shopping Plaza, The Gallery Plaza, dan The Bangkok Bank
(Public) Company Limited JTC. Didalam plaza-plaza dimaksud para pengunjung bisa
melihat dan membeli koleksi emas permata yang didatangkan dari seluruh penjuru
Thailand. Keistimewaan batu permata produksi Thailand terletak pada tingkat
kemurnian dan pengerjaannya yang sangat teliti. Daya tarik lainnya adalah semua
batu permata yang dijual di JTC telah lolos uji yang dilakukan oleh AIGS yang
berada di Lantai 6 North Tower. JTC dibuka setiap hari, Pukul 09.30-18.30 WP.
Pantai Pattaya
Pukul 16.00 WP
Setelah
pesanan batu permata teman-teman serombongan selesai dikerjakan, maka kami
segera masuk ke dalam bis. Selanjutnya supir memacu bis ke tujuan wisata
selanjutnya, yakni: pantai Pattaya.
Pantai
Pattaya terbentang sepanjang 3 kilometer. Lautnya sangat tenang dan berombak kecil
sehingga sangat cocok bagi para wisatawan yang ingin berjemur, berenang dan
berjogging. Pasir pantainya tidak terlalu halus namun bersih. Pantai Pattaya
merupakan surga bagi para wisatawan yang ingin berjemur atau menikmati matahari
terbenam. Tersedia banyak kursi sewaan lengkap dengan payungnya sekaligus.
Selain
itu juga tersedia banyak tukang pijat yang siap melemaskan otot-otot para
wisatawan yang kejang karena terlalu lama jalan kaki selama berada di Thailand,
atau terlalu lama duduk di kursi bis atau mobil ketika melakukan perjalanan
jauh dari kota Bangkok atau kota-kota lainnya di seantero Thailand. Pantai
Pattaya sepi pengunjung di pagi hari, dan mulai menggeliat sejak pukul 17.00 WP.
Pagi hari penduduk local dan para wisatawan asing lebih suka tidur di rumah
atau di kamar hotel setelah kecapekan karena semalam suntuk berpesta di bar-bar
atau pub-pub yang menjamur di sepanjang jalan-jalan utama di kota Pattaya.
Tidak hanya pantai Pattaya yang sepi pada siang
hari, tetapi juga jalan-jalan utama. Tidak banyak penduduk local dan wisatawan
asing yang beraktifitas siang hari di luar rumah atau di luar kamar hotel,
sehingga jalan-jalan utama di kota Pattaya menjadi lengang. Faktor lain yang
menjadi penyebabnya adalah factor cuaca. Matahari di kota Pattaya bersinar
terik sekali di siang hari.
Panggung
Pertunjukkan Alcazar
Pukul 17.45 WP
Setelah
mengambil foto pribadi dan foto bersama dengan para anggota tour wisata
lainnya, kami kembali digiring masuk bis oleh Mr. Wong. Selanjutnya bis melaju
ke lokasi pertunjukkan cabaret Alcazar di pusat kota Pattaya (78/14 M 9,
Pattaya 2, Road Pattaya City, 20150). Tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini
sudah dipesan oleh Mr. Wong melalui telepon. Harganya TBH 700 setara dengan Rp.
280.000,- Tidak semua anggota tour wisata kami menyaksikan pertunjukkan cabaret
Alcazar ini. Ada 4 orang yang tidak ikut menyaksikan, 2 orang karena factor usia
(masih remaja), dan 2 orang lainnya adalah ayah dan ibu kedua remaja yang
bersangkutan.
Pertunjukkan
berlangsung pukul 18.30 WP, namun pukul 18.00 WP tempat ini sudah penuh sesak
dengan calon penonton yang pada umumnya adalah para wisatawan yang datang dari
Indonesia, Afrika, Australia, Cina, Filipina, India, Jepang, Korea, Rusia, dan
beberapa negara dari kawasan Eropa. Jumlah wisatawan asing yang bersengaja
datang untuk menyaksikan pertunjukkan cabaret Alcazar ini minimal 4 juta orang.
Selama
10-30 menit menunggu pintu masuk dibuka, setiap calon penonton diberi suguhan
minuman dingin gratis oleh pengelola. Pertunjukkan berlangsung selama 90 menit.
Semua pemain cabaret adalah waria (ladysboy, shemale, alias kathoey). Meskipun
demikian secara fisik mereka lebih cantik dan lebih bahenol dibandingkan dengan
kebanyakan wanita. Beberapa diantaranya
adalah para pemenang lomba Miss Waria tinggkat dunia yang diselenggarakan
setiap tahun d Thailand.
Selama
90 menit mereka mempertunjukkan kebolehannya menarikan sejumlah tarian yang
berasal dari negara-negara Asia dan Barat. Pertunjukkan mereka sangat menarik
karena didukung oleh tata music, tata cahaya, dan tata panggung yang dikerjakan
oleh para professional.
Selanjutnya,
seusai pertunjukkan, semua artis cabaret Alcazar ke luar gedung pertunjukan.
Mereka berdiri di tempat terbuka di samping kiri gedung pertunjukan untuk
melayani para penonton yang berminat untuk foto bersama. Tarif sekali berfoto
adalah THB 40 setara dengan Rp. 16.000,- cukup murah. Tidak heran jika banyak
wisatawan asing yang tergiur untuk mengambil foto bersama dengan para artis
cabaret Alcazar ini. Hitung-hitung sebagai bukti otentik bahwa mereka telah
melakukan perjalanan ke Thailand.
Asiatic The
River Front
Pukul 19.45 WP
Setelah
anggota tour wisata yang berminat selesai mengambil foto bersama dengan para artis
cabaret Alcazar, kami kembali digiring masuk bis oleh Mr. Wong. Selanjutnya bis
melaju ke lokasi Asiatic The River Front yang terletak di tepi sungai Chao
Phraya, Pattaya (sungai mengalir sampai ke kota Bangkok).
Wahana
yang ada di lokasi Asiatic ini adalah sebuah komidi putar raksasa yang
bercahaya terang benderang di malam hari. Namun, Asiatic sejatinya adalah pasar
malam yang dibangun di tepi sungai. Toko-toko yang ada di lokasi ini pada
umumnya menjual aneka jenis souvenir dan aneka jenis kuliner khas Thailand.
Suasananya sangat meriah karena banyak dikunjungi orang.
Restoran Word
Bigges Savoy Pattaya
Pukul 21.45 WP
Setelah
mondar-mandir selama 2 jam di kawasan pasar malam Asiatic, kami kemudian dibawa
Mr. Wong makan malam bersama di Restoran World Savoy Pattaya, sebuah restoran siap
saji di salah satu sudut kota Pattaya.
Hotel Royal
Century Pattaya
Pukul 22.30 WP
Kegiatan
wisata hari ini diakhiri dengan chekin di Hotel Royal Century Pattaya. Malam
ini aku tidur di Kamar Nomor 4038.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar