Rabu, 19 Februari 2014

THAILAND II



BAGIAN II
CATATAN PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

JUM’AT, 7 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Pasifik Bangkok
Pukul 05.00 WB
Telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, ternyata yang menelepon adalah karyawan front office hotel. Bisa jadi mereka sengaja melakukannya agar kami terbangun dari tidur yang lelap.
Aku tidak segera bangkit dari tempat tidurku. Demikian pula dengan teman sekamarku. Kami berdua berusaha melanjutkan tidur kami barang sejenak lagi. Mataku masih berat untuk dibuka. Badan terasa capek sekali.
Maklumlah, kemarin hampir seharian penuh aku beraktifitas fisik berkeliling kota Bangkok. Di mana sebagian diantaranya kulakukan dengan cara yang sangat tradisonal, yakni melaku sikil (bahasa Jawa) alias jalan kaki.

Pukul 06.00 WB
Sudah tidak ada pilihan lain bagiku kecuali segera bangkit dari tempat tidur. Jika tidak, maka akan mengganggu jadwal tour wisata kami secara keseluruhan. Mr. Wong sudah mewanti-wanti bahwa semua anggota tour wisata yang dipandunya harus siap berangkat pukul 08.00 WB jika tidak maka dapat dipastikan perjalanan kami ke berbagai objek wisata bakal terhambat karena bis akan terjebak macet.
Begitu terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok gigi, dan mandi. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman sekamarku. Kami bergantian menggunakan kamar mandi hotel.

Pukul 07.00 WB
Kami masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum air putih dan teh manis.

Beberapa teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, roti tawar yang diolesi mentega plus gula putih, atau diolesi selai nenas, dan ada yang memilih mengonsumsi mie instan saja.
Mie instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan di sini karena agak sensitive.

Pukul 08.00 WB
Kami checkout dari Hotel Royal Pasifik Bangkok dan bergegas masuk ke dalam bis yang sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Sopir bis (pria) dan kondekturnya (wanita) rupanya memilih tidur di dalam bis, tidak pulang ke rumah atau ikut tidur di hotel. Bisa jadi jarak rumah keduanya agak jauh dari lokasi hotel ini sehingga lebih praktis dan lebih hemat tidur di dalam bis saja. Entahlah.
Bis meluncur melewati jalan-jalan protocol yang ada di kota Bangkok. Kami antara lain melewati Istana Raja Thailand dan Gedung Parlemen. Tujuan wisata kami pagi ini adalah mengunjungi Kuil Wat Po. Sebelum tiba di tempat tujuan kami melewati alun-alun kota Bangkok yang sangat luas arealnya dan istana lama Raja Thailand yang juga sangat luas arealnya. Jalan raya sudah mulai macet di sana-sini.

Istana Raja
10.00 WB
Bis yang kami tumpangi melintas di jalan raya di samping alun-alun istana dan bangunan istana raja (Grand Falace) yang sudah tidak digunakan lagi, karena Raja Thailand sekarang ini mendiami istana baru yang dibangun di tempat lain. Istana ini dibangun tahun 1782 dan berada dalam suatu areal yang sangat luas, yakni 218.400 meter persegi.
Sekarang, Istana Raja ini dijadikan objek wisata, yang dibuka sejak pagi hari. Atraksi menarik yang dapat dilihat para wisatawan adalah apel pagi para penjaga istana berseragam lengkap. Para wisatawan boleh masuk ke istana tanpa dipungut biaya, namun, jika mereka ingin melihat-lihat koleksi istana mereka harus membayar tiket masuk yang berbeda-beda untuk setiap wahana wisata.
Aku dan teman-teman peserta tour wisata hanya bisa mengambil foto-foto dari arah dalam bis saja, karena menurut Mr. Wong  kami tidak singgah ke istana ini. Alasannya akan terlalu banyak makan waktu dan suasananya juga tidak menyenangkan. Kami harus berdesak-desakan dengan para wisatawan lainnya jumlahnya sangat banyak.

Kuil Wat Po
10.15 WB
 Kami tiba di Kuil Wat Po. Harga tiket masuk 100 bath. Sebelum masuk ke kuil kami harus melepaskan alas kaki dan memasukkannya ke dalam tas kain yang sudah disediakan oleh pengelola. Selama berada di dalam kuil tas kain berisi alas kaki dimaksud harus ditenteng sendiri.
Seorang wanita anggota tour wisata dicegah masuk oleh petugas, ia diminta untuk mengenakan sarung yang sudah disediakan. Kulihat pagi itu ia cuma mengenakan celana pendek sehingga paha mulusnya masih kelihatan menyolok mata. Tidak ada pilihan lain, anggota tour wisata dimaksud terpaksa menuruti apa yang dikatakan oleh petugas.
Kuil Wat Po dibangun di sebuah areal yang luasnya sekitar 20 hektar. Dibuat dari beton yang sangat kokoh padahal usia bangunan ini sudah sangat tua, yakni sekitar 1982 tahun. Mulai dibangun sejak tahun 1782, atau sekitar 200 tahun sebelum kota Bangkok dijadikan ibukota Kerajaan Thailand. Didalamnya ditempatkan Patung Budha yang sedang tidur berbaring (Budha Reclining). Ukuran patung ini sangat besar, panjangnya kurang lebih 46 meter, lebar 7 meter, tinggi 15 meter, dan berat 5,5 ton. Dibuat dari beton yang dilapisi dengan emas sehingga berwarna kuning kemerah-merahan.   
Kuil Wat Po termasuk objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Posisinya sangat strategis, yakni di tepi jalan raya di pusat kota Bangkok. Sehingga tempat ini juga menjadi tempat mencari nafkah yang favorit bagi para sopir bajaj (shongtew, tuktuk) dan sopir taksi argometer. Selain itu, di kawasan yang sama juga banyak pedagang kaki lima menggelar jualannya. Mereka menjual makanan, minuman, dan souvenir khas Thailand. Minuman favorit di kawasan ini adalah kelapa muda. Buahnya kecil, namun airnya manis dan isi daging dalamnya sangat lembut seperti kelapa kopyor. Harganya 30 bath sebutir.
Salah satu keistimewaan objek wisata di kota Bangkok adalah tidak ditemukannya pengemis atau gelandangan yang sedang melakukan praktek mencari nafkah. Setidak-tidaknya selama aku berada di kota ini aku tidak pernah melihatnya.

Satu lagi keistemewaan kota Bangkok adalah tidak ditemukannya orang berjualan premium eceran di pinggir jalan, dan semua SPBU di Thailand bersih dari para pengantri solar. SPBU di sana tampak selalu lengang, tidak ada antrian sama sekali.
Supir bis wisata yang melayani kami selama berada di kota Bangkok dan Pattaya, sangat professional. Ia tidak pernah membelokan bis yang disupirinya ke SPBU. Pengisian bahan bakar minyak bisa jadi dilakukannya setelah mendrop kami ke hotel selepas pukul 20.00 WP, sehingga tidak mengganggu kelancaran perjalanan wisata kami.   

Kuil Wat Arun
11.30 WB
      Mr. Wong memandu kami masuk ke sebuah lorong di pasar tradisional yang lokasinya tak jauh dari Kuil Wat Po. Di kiri dan kanan lorong kulihat banyak orang berjualan ikan basah, ikan kering, sayur mayur, dan warung makan-minum. Ternyata lorong dimaksud bermuara ke sebuah dermaga kelotok penyeberangan (dong, dalam bahasa Thailand).
Setelah menerima tiket yang dibelikan Mr. Wong seharga THB 3,5 per lembar, kami satu demi satu masuk ke dalam kelotok berbaur dengan penumpang lain: warga setempat dan wisatawan asing lainnya. Tak lama kemudian mesin kelotok dihidupkan oleh pengemudinya, dan perlahan tapi pasti kelotok itu bergerak memotong derasnya arus sungai Chao Phraya yang ketika itu sangat ramai.
Suasananya persis seperti keramaian di sungai Martapura, Banjarmasin. Aneka jenis kapal lalu lalang melintas di sungai Chao Phraya, beberapa di antaranya melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga membentuk gelombang yang cukup besar. Sekitar 5 menit kemudian kelotok yang kami tumpangi merapat di dermaga.
Tak jauh dari dermaga, kulihat di dalam sungai Chao Phraya banyak sekali ikan patin bergerombol memperebutkan remah roti yang ditebarkan oleh para pengunjung. Konon, tidak ada seorangpun berani menangkap ikan patin dimaksud karena khawatir akan terkena musibah akibat melanggar larangan yang berlaku di sana. Namun, jika ikan patin itu berada di luar wilayah suakanya, maka siapa saja boleh menangkap untuk kemudian memakannya.
Menurut situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, sungai Chao Phraya berhulu di sungai Ping, sekitar 372 km dari kota Bangkok. Hilir sungai ini terletak di Teluk Thailand. Nama asli sungai ini adalah Mae Nam Chao Phraya, artinya ibu kandung atas semua sumber mata air di dunia. Sungai ini  memiliki endapan alluvial yang rendah dan menyebar secara merata ke seluruh Thailand. Akibat endapan alluvial inilah maka air sungai Chao Phraya selalu berwarna keruh kekuning-kuningan. Selain kota Bangkok, ada sejumlah kota besar dan terbilang penting lainnya yang juga dibangun di tepi sungai Chao Phraya, yakni: Nokhon Sawan, Uthai Thani, Chainat, Singburi, Ang Thong, Ayutthaya, Pathan Thai, Nonthonburi, dan Samut Prakan.
Belum begitu jauh kaki ini melangkah meninggalkan dermaga kelotok penyeberangan, kami sudah disambut meriah oleh para pengiat wisata di sana. Ada yang menawarkan penyewaan pakaian khas Thailand untuk kepentingan berpose, atau menawarkan aneka jenis barang kerajinan tangan, seperti kaus oblong bergambar khas alam lingkungan dan kebudayaan Thailand.
Kami semua akhirnya tertarik untuk menerima tawaran berfoto bersama dengan latar belakang Kuil Wat Arun. Para juru foto kemudian mengatur posisi kami agar hasil foto bersama ini nantinya enak dipandang mata. Tidak lupa pula para juru foto meminta kami untuk memegang kain berwarna merah dengan tulisan berwarna putih: Welcome to Thailand Bangkok Wat Arun.
Menurut situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, Wat Arun artinya Candi Fajar (Temple of Dawn). Terletak di distrik Bangkok Yai. Tepatnya di Thonburi barat hulu sungai Chao Phraya. Tarif masuk bagi para wisatawan asing adalah THB 50 (berlaku sejak September 2010).
Kuil ini berstatus sebagai kuil utama Kerajaan Thailand. Mulai dibangun sejak ibukota Thailand masih di Ayutthaya dan awalnya dikenal sebagai Wat Makok. Masa itu disebut sebagai periode Rattanakosin. Kemudian pada saat ibukota dipindahkan ke Thonburi, Raja Thaksin merubah nama tempat ini menjadi Wat Chaeng. Nama inilah yang populer di kalangan warga lokal.
Selanjutnya, Raja Rama II memugarkan kuil ini dan memberikan nama baru kepadanya, yakni Wat Arunratchatharam. Pada masa pemerintahan Raja Rama IV, kuil ini kembali direstorasi dengan menambah sejumlah bangunan di sekitarnya. Sejak itu namanyaberubah nama Wat Arunratchawararam, yang bertahan hingga sekarang ini. Namun, kebanyakan orang menyebutnya  Wat Arun saja.
Arsitektur kuil ini sangat indah sehingga banyak menawan hati para wisatawan. Kuil ini memiliki menara megah (prang) setinggi 70 meter. Di dalam setiap ruangan besar di keempat sisi menaranya yang tinggi itu diletakkan patung gajah. Teknologi ketika kuil ini dibangun tentunya masih sangat sederhana, sehingga dapat dibayangkan betapa sulitnya orang-orang Thailand pada masa itu menempatkan keempat patung gajah yang begitu besar dan berat itu ke atas tempat tertinggi di kuil ini.
Julukan Kuil Wat Arun sebagai Temple of Dawn ada hubungannya dengan hiasan berupa potongan-potongan kecil kaca warna-warni dan porselen Cina yang dilekatkan dengan semen pada keseluruhan bangunannya. Hiasan dimaksud dilekatkan dengan sangat hati-hati dan teliti ke dalam pola-pola yang begitu rumit. Secara fisik Kuil Wat Arun sangat menakjubkan jika dilihat pada saat matahari terbenam. Pecahan kaca warna-warni dan porselen Cina yang menempel pada bangunan kuil ini akan memantulkan cahaya yang gemerlapan di malam hari.
Selesai foto bersama, Mr. Wong membebaskan kami untuk pergi ke mana saja di areal komplek Kuil Wat Arun ini. Waktu yang diberikan sekitar 90 menit. Aku sendiri memilih masuk ke areal dalam Kuil Wat Arun. Kudengar suara burung gagak berkaok-kaok nun jauh di atas sana di tempat tertinggi kuil ini. Setelah itu aku masuk ke pasar souvenir yang berlokasi tak jauh dari Kuil Wat Arun.
Aku membeli beberapa potong kaos oblong bersulam gambar-gambar ikon Thailand yang khas. Menurut Mr. Wong, harga souvenir di pasar ini paling murah dibandingkan dengan di tempat lain. Uniknya, semua souvenir yang dijual di sini bisa dibeli dengan menggunakan uang rupiah. Para penjualnya juga fasih melakukan tawar menawar dalam bahasa Indonesia. Mereka sengaja belajar bahasa Indonesia setelah mengetahui bahwa wisatawan yang berkunjung ke tempat mereka mencari nafkah ini adalah para wisatawan dari Indonesia.
Sesuai dengan kesepakatan, 90 menit kemudian kami berkumpul lagi di dekat pintu masuk ke Kuil Wat Arun. Selanjutnya Mr. Wong memandu kami untuk menyeberang kembali dengan menumpang kelotok. Di seberang sudah menunggu bis wisata yang akan membawa kami ke sebuah rumah makan.
Kami makan siang di sebuah rumah makan yang khusus menyediakan menu buat kaum Muslimin. Setelah makan kami sholat di ruang atas rumah makan ini. Selanjutnya, supir bis membawa kami ke Pattaya. Jarak dari Bangkok ke Pattaya sekitar 150 kilometer dan dapat ditempuh selama 2 jam.  



Kota Pattaya
Pukul 13.30 WP
Nama Patthaya merujuk kepada angin yang bertiup dari Barat daya ke Timur Laut pada setiap awal musim hujan.  Selain itu ada sumber lain yang menghubungkannya dengan Thap Phraya, artinya Pasukan Angkatan Darat Phraya. Angkatan Darat dimaksud berada dibawah komando Jenderal Phraya Tak yang kelak di kemudian hari menjadi Raja Taksin yang berkuasa di daerah setempat. Posisinya itu membuatnya bermusuhan dengan Jenderal Nai Klom yang juga memimpin pasukan perang yang sangat banyak jumlahnya.
Suatu ketika keduanya saling berhadap-hadapan dalam formasi siap tempar. Namun, begitu bertatap muka, Jenderal Nai Klom justru terpesona dengan kepiawaian Jenderal Phraya Tak dalam mendisiplinkan anak buahnya. Jenderal Nai Klom dengan sukarela menyerahkan diri dan pasukannya kepada Jenderal Pharya Tak. Sejak itu, Jenderal Phraya Tak menjadi penguasa tunggal di daerah, dan ia kemudian menobatkan dirinya sebagai Raja Taksin.
Menurut situs Wikipedia Indonesia dan sumber lainnya, Pattaya terletak di pesisir tenggara kota Bangkok, tepatnya di pesisir Teluk Thailand. Pada pada awal sejarahnya, Pattaya tak lebih dari sebuah desa kecil yang dihuni oleh para nelayan tradisional yang pada umumnya hidup pas-pasan.
Daerah seluas 22,2 kilometer persegi ini mulai menggeliat sebagai tempat pemukiman yang ramai sejak tahun 1960-an. Ketika itu, 26 April 1961,  100 pasukan Angkatan Udara Amerika Serikat yang sedang melaksana tugas berperang melawan pasukan pemerintah Vietnam Utara yang komunis berada di tempat ini untuk melakukan relaksasi setelah penat bertempur di medan perang Vietnam yang ganas itu. Bermula dari peristiwa itu, Angkatan Udara Amerika Serikat kemudian membangun pangkalan militer mereka di tempat ini.
Sejak itu, kota Pattaya tumbuh pesat menjadi sebuah kota metropolitan, sebagian besar perekonomian kota ini ditunjang dari perolehan yang dipungut dari ajang wisata malam. Setelah perang Vietnam berakhir, para prajurit Amerika Serikat ditarik pulang kembali ke tanah airnya. Saat itulah kota Pattaya sempat terpuruk ke kubangan krisis finansial, namun tidak berselang lama, kota ini berhasil bangkit kembali dan tumbuh kuat berkat derasnya arus wisatawan asing yang datang berbondong-bondong ke Pattaya.
Sejak tahun 1976, Pattaya berstatus sebagai Kotamadya, Daerah Tingkat II yang termasuk di dalam wilayah Provinsi Chonburi. Sekarang ini Pattaya adalah kota wisata yang terbilang penting di Thailand. Ada berbagai objek wisata andalan yang setiap tahunnya banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Sehingga mengalirkan banyak devisa yang membuat kota Pattaya menjadi kaya raya secara financial.

Gems Galeri Pattaya
Pukul 13.30 WP
Bis yang kami tumpangi belok kiri ke halaman Gems Gallery Pattaya (GGP), sebuah pusat pengolahan batu permata yang beralamat di Moo 6, Jalan Nakula  Nomor 98, Pattaya Utara, Chonbori, 20150. Pemerintah Thailand mewajibkan para pemandu wisatanya membawa wisatawan yang dipandunya singgah ke tempat ini. Jika tidak, maka pemandu wisata dimaksud akan terkena sanksi skorsing.
Tiket masuk ke GGP adalah TBH 25. GGP merupakan pusat pengolahan permata yang resmi dan digaransi oleh pemerintah Thailand. Begitu tiba di beranda GGP kami disambut dengan ramah oleh dua orang karyawati berpakaian tradisional Thailand. Setelah memberi penghormatan dengan cara menangkupkan kedua tangan di dada, mereka lantas menempelkan stiker yang menunjukkan nomor group kami. Stiker bernomor itu mereka tempelkan di sebelah kanan atas baju kami.
Begitu masuk ke lobi kami disuguhi minuman dingin yang begitu diminum maknyus langsung menyegarkan tenggorokan. Setelah itu kami dipersilakan naik ke kereta listrik (monotrain) yang kemudian membawa kami masuk ke sebuah ruangan bawah tanah yang berpenerangan minim.
Sejurus kemudian kami sudah tiba di ruangan diorama yang terdiri dari 3 kamar. Kamar pertama bercerita tentang proses terciptanya batu permata di dalam perut bumi, yakni melalui proses pemanasan di bawah tanah, kemudian dimuntahkan ke permukaan melalui peristiwa meletusnya gunung berapi atau gempa bumi.
Kamar kedua bercerita tentang proses penambangan batu permata yang dilakukan secara tradisional. Di sana digambarkan bagaimana orang menggali tanah di dalam gua dengan menggunakan cangkul, memukul-mukul dinding gua, dan menyemprotkan air ke dinding gua. Setelah terkumpul batu mulia itu dimasukan ke dalam ember,m kemudian digerek ke atas dengan menggunakan tali. 
Kamar ketiga bercerita tentang eksploitasi tambang batu permata dengan menggunakan alat-alat mekanis yang lebih canggih dan modern pada masa sekarang ini. Cerita visual diorama itu didukung dengan ilustrasi music dan tata cahaya yang sangat mengesankan.
Penjelasan tentang segala sesuatu yang digambarkan secara fisik melalui diorama yang kami lihat dilakukan oleh seorang narrator dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sudah barang tentu penjelasan dimaksud sudah direkam lebih dulu. Bahasa pengantar untuk menjelaskannya disesuai dengan bahasa yang digunakan para wisatawan yang mengunjunginya secara berkelompok. Petugas tinggal memencet kenop bahasa yang dipilih.
Selepas ruang bawah tanah kami dibawa oleh pemandu wisata memasuki ruang produksi permata. Di tempat ini kami dapat melihat langsung bagaimana para pekerja mengolah batu permata yang masih mentah menjadi batu permata yang indah sebagai mata cincin, anting-anting, kalung, gelang, dan aneka jenis perhiasan berharga mahal lainnya.
Selanjutnya, para wisatawan di bawa ke ruang pamer (galeri) yang sangat mengesaankan. Selama berada di lokasi itu, pihak GGP menugaskan para karyawannya mendampingi para wisatawan. Para karyawan GGP berbicara dalam bahasa yang digunakan para wisatawan yang didampinginya. Isi pokok pembicaraan para pendamping ini sudah barang tentu adalah mempromosikan keunggulan permata produksi GGP.
Produksi GGP yang paling diandalkan adalah berlian, blue safir, emerald, jade, mirah Siam, opal, dan topaz. Lokasi tambang batu permata dimaksud tersebar di berbagai tempat di Thailand dan bahkan di luar negeri (Negara tetangga). Provinsi Cantabury dan Provinsi Trat merupakan dua propinsi di Thailan yang menjadi pemasok utama bahan baku yang diolah di GGP.
Aku termasuk wisatawan yang kemana pergi selalu ditempel oleh seorang karyawan GGP yang fasih berbahasa Indonesia. Boleh jadi mereka menganggapku sebagai seorang calon pembeli yang potensial (bonafit) atau sebaliknya mereka mencurigaiku sebagai wisatawan yang perlu diwaspadai gerak-geriknya. Hehehe.
Pada kesempatan itu aku sempat berbincang-bincang dengan karyawan GGP yang mendampingiku bahwa di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalsel, juga ada tambang intan. Intan-intan dimaksud ditambang secara tradisional dan digosok sendiri oleh para ahli setempat dengan menggunakan alat-alat penggosokan intan semimodern. Hanya saja, intan-intan dimaksud tidak diperjualkan di tempat khusus seperti di GGP ini.
“Oh, ya?” hanya itu komentar karyawan GGP itu. Ada kesan ia kurang berminat mendengarkannya, karena sesuai dengan tugasnya maka focus mereka adalah mempromosikan batu permata produksi mereka, bukan sebaliknya malah tertarik dengan informasi yang disampaikan para wisatawan yang didampinginya.
Misi mereka menjual batu permata kepada anggota tour wisata dari Kalsel hari itu berhasil dengan sukses. Banyak di antara angota rombongan tour wisata yang tertarik untuk membeli produk mereka yang berharga minimal Rp. 1.000.000,-. Pembayaran bisa dilakukan dengan uang rupiah.
Nah, lho. Para wisatawan yang tinggal di dekat pusat penggosokan dan perdagangan intan tertarik membeli batu permata di Negara Thailand. Itulah hebatgnya promosi yang dikemas secara apik dan professional. Presentasi marketing yang divisualisasikan dengan menggunakan teknologi digital yang tepat guna terbukti mampu meningkatkan hasil penjualan. Motto marketing mereka: permata adalah symbol cinta untuk orang tercinta.
 Selepas itu, kami dipersilakan duduk di lobi gedung GGP sambil menikmati minuman hangat atau dingin (sesuai pesanan masing-masing) yang disuguhkan secara gratis. Lobi ini sengaja disediakan pihak GGP bagi para wisatawan yang sedang menunggu proses akhir (finishing) atas batu permata yang dibelinya.
GPP bukan satu-satunya di Thailand. Tempat wisata semacam ini juga dibangun di Bangkok, Phuket, dan Chiangmai. Hal ini dengan gamblang menunjukkan bahwa bisnis batu permata merupakan bisnis yang menjanjikan laba bagi para pelakunya di Thailand.
Salah satu pusat penjualan permata yang terkemuka di Thailand adalah Jewelery Trade Center (JTC) yang beralamat di 99/1 Siloam Road, Bangkok. JTC dibangun di atas areal seluas 18.000 meter persegi. JTC terdiri dari bangunan utama, yakni North Tower (56 lantai) dan South Tower (18 lantai). Fedung ini didesain oleh Hellmuth, Obata, dan Kassabaum, selesai dibangun tahun 1996 dan langsung dioperasikan pada tahun itu juga.
Pusat perbelanjaan batu permata terletak di lantai Lower Groud hingga lantai 4 yang terdiri atas The Shopping Plaza, The Gallery Plaza, dan The Bangkok Bank (Public) Company Limited JTC. Didalam plaza-plaza dimaksud para pengunjung bisa melihat dan membeli koleksi emas permata yang didatangkan dari seluruh penjuru Thailand. Keistimewaan batu permata produksi Thailand terletak pada tingkat kemurnian dan pengerjaannya yang sangat teliti. Daya tarik lainnya adalah semua batu permata yang dijual di JTC telah lolos uji yang dilakukan oleh AIGS yang berada di Lantai 6 North Tower. JTC dibuka setiap hari, Pukul 09.30-18.30 WP.

Pantai Pattaya
Pukul 16.00 WP
Setelah pesanan batu permata teman-teman serombongan selesai dikerjakan, maka kami segera masuk ke dalam bis. Selanjutnya supir memacu bis ke tujuan wisata selanjutnya, yakni: pantai Pattaya.
Pantai Pattaya terbentang sepanjang 3 kilometer. Lautnya sangat tenang dan berombak kecil sehingga sangat cocok bagi para wisatawan yang ingin berjemur, berenang dan berjogging. Pasir pantainya tidak terlalu halus namun bersih. Pantai Pattaya merupakan surga bagi para wisatawan yang ingin berjemur atau menikmati matahari terbenam. Tersedia banyak kursi sewaan lengkap dengan payungnya sekaligus.
Selain itu juga tersedia banyak tukang pijat yang siap melemaskan otot-otot para wisatawan yang kejang karena terlalu lama jalan kaki selama berada di Thailand, atau terlalu lama duduk di kursi bis atau mobil ketika melakukan perjalanan jauh dari kota Bangkok atau kota-kota lainnya di seantero Thailand. Pantai Pattaya sepi pengunjung di pagi hari, dan mulai menggeliat sejak pukul 17.00 WP. Pagi hari penduduk local dan para wisatawan asing lebih suka tidur di rumah atau di kamar hotel setelah kecapekan karena semalam suntuk berpesta di bar-bar atau pub-pub yang menjamur di sepanjang jalan-jalan utama di kota Pattaya.
Tidak hanya pantai Pattaya yang sepi pada siang hari, tetapi juga jalan-jalan utama. Tidak banyak penduduk local dan wisatawan asing yang beraktifitas siang hari di luar rumah atau di luar kamar hotel, sehingga jalan-jalan utama di kota Pattaya menjadi lengang. Faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah factor cuaca. Matahari di kota Pattaya bersinar terik sekali di siang hari.

Panggung Pertunjukkan Alcazar
Pukul 17.45 WP
Setelah mengambil foto pribadi dan foto bersama dengan para anggota tour wisata lainnya, kami kembali digiring masuk bis oleh Mr. Wong. Selanjutnya bis melaju ke lokasi pertunjukkan cabaret Alcazar di pusat kota Pattaya (78/14 M 9, Pattaya 2, Road Pattaya City, 20150). Tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini sudah dipesan oleh Mr. Wong melalui telepon. Harganya TBH 700 setara dengan Rp. 280.000,- Tidak semua anggota tour wisata kami menyaksikan pertunjukkan cabaret Alcazar ini. Ada 4 orang yang tidak ikut menyaksikan, 2 orang karena factor usia (masih remaja), dan 2 orang lainnya adalah ayah dan ibu kedua remaja yang bersangkutan.
Pertunjukkan berlangsung pukul 18.30 WP, namun pukul 18.00 WP tempat ini sudah penuh sesak dengan calon penonton yang pada umumnya adalah para wisatawan yang datang dari Indonesia, Afrika, Australia, Cina, Filipina, India, Jepang, Korea, Rusia, dan beberapa negara dari kawasan Eropa. Jumlah wisatawan asing yang bersengaja datang untuk menyaksikan pertunjukkan cabaret Alcazar ini minimal 4 juta orang.
Selama 10-30 menit menunggu pintu masuk dibuka, setiap calon penonton diberi suguhan minuman dingin gratis oleh pengelola. Pertunjukkan berlangsung selama 90 menit. Semua pemain cabaret adalah waria (ladysboy, shemale, alias kathoey). Meskipun demikian secara fisik mereka lebih cantik dan lebih bahenol dibandingkan dengan kebanyakan  wanita. Beberapa diantaranya adalah para pemenang lomba Miss Waria tinggkat dunia yang diselenggarakan setiap tahun d Thailand.
Selama 90 menit mereka mempertunjukkan kebolehannya menarikan sejumlah tarian yang berasal dari negara-negara Asia dan Barat. Pertunjukkan mereka sangat menarik karena didukung oleh tata music, tata cahaya, dan tata panggung yang dikerjakan oleh para professional.
Selanjutnya, seusai pertunjukkan, semua artis cabaret Alcazar ke luar gedung pertunjukan. Mereka berdiri di tempat terbuka di samping kiri gedung pertunjukan untuk melayani para penonton yang berminat untuk foto bersama. Tarif sekali berfoto adalah THB 40 setara dengan Rp. 16.000,- cukup murah. Tidak heran jika banyak wisatawan asing yang tergiur untuk mengambil foto bersama dengan para artis cabaret Alcazar ini. Hitung-hitung sebagai bukti otentik bahwa mereka telah melakukan perjalanan ke Thailand.             

Asiatic The River Front
Pukul 19.45 WP
Setelah anggota tour wisata yang berminat selesai mengambil foto bersama dengan para artis cabaret Alcazar, kami kembali digiring masuk bis oleh Mr. Wong. Selanjutnya bis melaju ke lokasi Asiatic The River Front yang terletak di tepi sungai Chao Phraya, Pattaya (sungai mengalir sampai ke kota Bangkok).
Wahana yang ada di lokasi Asiatic ini adalah sebuah komidi putar raksasa yang bercahaya terang benderang di malam hari. Namun, Asiatic sejatinya adalah pasar malam yang dibangun di tepi sungai. Toko-toko yang ada di lokasi ini pada umumnya menjual aneka jenis souvenir dan aneka jenis kuliner khas Thailand. Suasananya sangat meriah karena banyak dikunjungi orang.

Restoran Word Bigges Savoy Pattaya
Pukul 21.45 WP
Setelah mondar-mandir selama 2 jam di kawasan pasar malam Asiatic, kami kemudian dibawa Mr. Wong makan malam bersama di Restoran World Savoy Pattaya, sebuah restoran siap saji di salah satu sudut kota Pattaya.

Hotel Royal Century Pattaya
Pukul 22.30 WP
Kegiatan wisata hari ini diakhiri dengan chekin di Hotel Royal Century Pattaya. Malam ini aku tidur di Kamar Nomor 4038.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar