Rabu, 11 Desember 2013

CATATAN PERJALANAN MENGIKUTI KONFERENSI INTERNASIONAL BUDAYA DAERAH III DI SUKOHARJO, 7-8 DESEMBER 2013

PENGANTAR
Konferensi Internasional Budaya Daerah (KIBD) III diselenggarakan di Kampus Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, Jawa Tengah, 7-8 Desember 2013. Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (IKADBUDI), dan Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta.
KIBD III mengundang para pemakalah yang berasal dari kalangan pakar budaya, birokrat, budayawan, guru bahasa dan sastra daerah dari dalam dan luar negeri. Mereka diundang untuk tampil di depan forum memaparkan hasil penelitian dan hasil pemikirannya tentang salah satu kebudayaan daerah yang diamati dan diminatinya. 
Aku berkesempatan mengikuti kegiatan KIBD III dengan status sebagai pemakalah. Tercatat 28 orang pemakalah yang diundang panitia penyelenggara KIBD III. Adapun judul makalahku adalah Khasanah Pamali Banjar di Kalimantan Selatan. Pada kesempatan ini aku ingin berbagi cerita tentang sejumlah peristiwa yang kualami sebelum, selama, dan sesudah mengikuti KIBD III di kota Sukoharjo.  


BANJARMASIN-YOGYAKARTA
JUM’AT, 6 DESEMBER 2013
Pukul 14.30 Wite
Sebelum melangkahkan kaki ke luar rumah, aku sekali lagi mengecek barang bawaanku, yakni: amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 4.000.000,- (dalam bentuk pecahan Rp. 100.000,-), baju hem (empat potong), celana dalam (4 potong), celana panjang (2 potong), dompet (tempatku menyimpan KTP, SIM, Askes, dan uang kas sebesar Rp. 1.000.000,-), handuk (1 lembar), kaus dalam alias t-shirt (4 potong), kaus kaki (2 pasang), minyak angin, obat-obatan (obat masuk angin, obat sakit gigi, obat sakit perut), dan sikat gigi lengkap dengan pastanya. 

                  Selain itu aku juga mengecek cetakan surat menyurat yang kuterima dari panitia (dikirimkan via emailku), makalah lengkapku, daftar alamat yang bakal kutuju di sepanjang perjalanan nanti, dan amplop berisi tiket pesawat terbang Lion Air Banjarmasin-Yogyakarta. Tiket ini kubeli di agen perjalanan Raya Rindang Wisata Tour & Travel, Jalan Hasanuddin HM Nomor 92, Banjarmasin, 70111, dengan harga Rp. 720.000,-
Setelah yakin tidak ada yang ketinggalan, aku dengan mantap mulai mengayunkan langkahku meninggalkan rumah menuju ke Bandar Udara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Perjalanan dari rumah ke mulut Gang Sepakat kutempuh dengan cara naik sepeda motor bersama adik iparku. Begitu tiba di mulut gang yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahku, aku turun dari sepeda motor, selanjutnya sepeda motor itu dikendarai oleh adik iparku dan ia pulang kembali ke rumahku.
Aku kemudian menyeberangi Jalan Mayjen Soetoyo S untuk menunggu taksi kota di sana. Tak lama berselang sebuah taksi kota melintas di depanku. Aku segera memberi isyarat dengan mengacungkan jari telunjukku. Sopir taksi kota memperlahan laju mobil yang disetirnya dan menepikannya tak jauh dari tempatku berdiri. Ternyata sopir taksi kota ini adalah temanku nongkrong di pasar koran. 

        Begitu tiba di kawasan Simpang Sudimampir aku harus berganti taksi kota. Taksi kota yang disopiri temanku ini hanya sampai di Terminal Pangeran Antasari saja. Sementara tujuanku hari ini adalah ke Terminal Kilometer Enam. Setelah membayar ongkos taksi kota sebesar Rp. 4.000,-, aku turun dan naik ke taksi kota yang lain. Taksi kota yang kutumpangi kali ini adalah taksi kota dengan tujuan ke Terminal Kilometer Enam.

               Teman sopirku itu sebenarnya menolak uang pembayaranku, namun kupaksa, hingga ia akhirnya mau menerimanya. Meskipun berstatus sebagai teman baik, aku tak mau digratiskan. Apalagi kulihat jumlah penumpang yang dibawanya ketika itu cuma 3 orang. Aku tahu dengan pasti bahwa uang yang diterimanya dari 3 penumpang sama sekali belum dapat menutupi biaya operasional yang harus dikeluarkannya.
Sekitar 30 menit kemudian aku sudah tiba di Terminal Kilometer Enam. Setelah membayar ongkos taksi kota sebesar Rp. 4.000,- aku segera naik ke taksi colt jurusan Banjarmasin-Martapura yang mangkal di situ. Aku sengaja meminta kepada Pak Sopir agar diberi tempat duduk pada posisi di depan, atau di bangku baris ke dua dekat pintu. Pak Sopir menyetujuinya setelah kuberi tahu alasannya, bahwa aku akan turun di bundaran pintu  masuk ke Bandar Udara Syamsuddin Noor. Jika aku duduk di posisi lain, maka aku akan mengalami kesulitan ketika ke luar dari mobil nantinya.
Sebenarnya jumlah penumpang yang ikut menumpang di dalam taksi colt ketika itu masih kurang satu orang, namun ada seorang penumpang di bagian belakang yang berteriak kepada Pak Sopir bahwa ia bersedia membayar dua kali lipat. Ia rupanya sudah bosan karena terlalu lama menunggu sampai penumpang taksi colt berjumlah 14 orang. Taksi colt segera melaju meninggalkan terminal.
Aku turun di tempat yang kutuju, yakni di dekat bundaran jalan masuk ke bandara. Tarifnya Rp. 12.000,- Dalam hitungan detik seorang tukang ojek yang mangkal di lokasi itu segera menghampiriku. Tanpa bicara, aku segera duduk di sadel belakang sepeda motor tukang ojek itu, dan wuss… lima menit kemudian aku sudah tiba di pintu masuk menuju ke bangunan induk bandara. Tarifnya Rp. 10.000,-


Pukul 15.45 Wite
Pencatatan/pencetakan tiket dan boardingpass untuk para penumpang pesawat terbang JT 0523 Lion Air Banjarmasin-Yogyakarta baru dibuka Pukul 16.00 Wite. Namun aku minta izin kepada petugas penjaga pintu untuk masuk lebih awal.
“Silakan, Pak.”
Ketika itu para petugas darat maskapai penerbangan Lion Air kulihat sedang sibuk melayani para penumpang yang akan berangkat ke jurusan lain (lupa mencatatnya).
Bosan menunggu, aku mendekatkan diri ke loket Lion Air yang lain. Kulihat petugas darat di loket ini baru saja selesai melayani pencetakan tiket dan boardingpass untuk para penumpang yang akan terbang ke suatu tujuan (lupa mencatatnya).
Pucuk dicinta ulam tiba, berkat rajin bertanya, petugas darat di sini bersedia mencetakkan tiketku dan boardingpassnya sekaligus. Selepas itu aku segera membayar tiket masuk ke ruang tunggu sebesar Rp. 25.000,-  Setelah itu aku naik dan masuk ke ruang tunggu.

Pukul18.00 Wite
Seiring dengan berjalannya waktu, para penumpang akhirnya dipanggil masuk ke ruang tunggu, lalu dipersilakan naik ke bus, dan akhirnya masuk ke dalam pesawat terbang yang bakal membawaku ke Yogyakarta. Aku duduk di kursi nomor 15/B. 
Pukul 18.00 Wib
 Keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi kali ini sempat tertunda sekitar 30 menit dari jadwal yang tertera pada tiket yang kupegang. Aku tiba di Yogyakarta pukul 18.00 WIB.
Di pintu ke luar Bandar Udara Laksamana Muda Adi Sucipto Yogyakarta aku menyempatkan diri bertanya kepada seorang petugas keamanan.
“Maaf, Pak. Boleh numpang tanya?”
“Boleh. Silakan, Pak.”
“Apakah di sekitar sini ada penginapan, Pak?”
“Ada, sekitar 500 meter dari sini. Bapak ke luar dari sini, belok kiri, jalan kaki saja, menyeberang jalan, cari lokasi Galeri Sapto Hoedoyo, persis di sampingnya ada jalan masuk menuju ke Hotel Bandara Asri.”
“Terima kasih, Pak.”
“Ya, sama-sama.”
Begitu ke luar dari gedung induk bandara aku langsung disambut oleh beberapa orang sopir taksi yang menawarkan jasanya. Semua tawaran itu kutolak dengan isyarat, karena aku sudah berencana untuk jalan kaki saja ke hotel yang direkomendasikan oleh petugas keamanan. Namun, begitu melihat situasi dan kondisinya, aku berpikir ulang, apalagi ketika itu hujan turun dengan lebatnya, membuat  kawasan bandara menjadi basah kuyup dibuatnya.
“Taksi, Pak?”
“Ke Hotel Bandara Asri, berapa?”
“Empat puluh lima ribu rupiah.”
“Dua puluh lima ribu rupiah.”
“Maaf, tidak bisa, Pak.”
“Katanya hotelnya dekat.”
“Itu tarif yang normal di sini, Pak.”
“Tidak pakai argometer?”
“Tidak, Pak. Mobil saya Avanza pribadi, Pak.”
Situasi dan kondisi yang kuhadapi saat itu membuatku terdorong untuk menyetujui tarif  yang ditawarkan oleh Pak Sopir. Tadinya aku mengira mobil taksi yang ditawarkannya berjenis sedan seperti lajimnya. Menilik dari merek mobilnya, maka memang kurang pantas jika tarifnya cuma Rp. 25.000,- Tarif yang ditawarkan Pak Sopir kupikir sepadan saja dengan merek mobilnya.
Sopir taksi dimaksud kulihat masih muda, mungkin sekitar 25-30 tahun. Menilik dari postur tubuhnya yang tinggi tegap, potongan rambutnya yang cepak, dan penampilannya yang necis, aku menduga ia bukanlah sopir taksi biasa. Artinya, menjadi sopir taksi bukanlah pekerjaan utamanya, tapi cuma pekerjaan sambilannya di malam hari saja.
Begitulah, dengan diantar oleh Pak Sopir dimaksud aku akhirnya tiba di Hotel Bandara Asri. Benar saja, lokasi hotel yang kutuju cuma berjarak sekitar 300-500 meter dari bandara.  Tarifnya Rp. 275.000,- per malam sudah termasuk makan pagi di restoran hotel. Selain itu, pihak hotel memberikan tambahan service berupa jasa layanan pengantaran ke bandara, stasiun kereta api, dan terminal bus.
Malam itu aku menginap di kamar S yang kukira Nomor 5. Fasilitas kamar  yang tersedia antara lain: ranjang berukuran besar, lemari pakaian, pesawat televise 29 inci, air condition, kamar mandi dan wc berada di dalam kamar.
Aku sengaja menginap di hotel yang lokasinya berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Maguwo. Hal ini sejalan dengan pilihanku naik kereta api untuk perjalananku ke kota Solo besok hari. Setelah urusan pemesanan kamar selesai, aku menemui Pak Sopir untuk membayar tarif jasanya. Sebelum berpisah ia mengajakku untuk saling bertukar nomor handphone.
“Bila ada masalah selama Bapak berada di Yogyakarta, bapak jangan ragu-ragu untuk menghubungi saya melalui nomor ini. Saya siap membantu. Terima kasih, Pak. Sampai jumpa lagi di lain waktu dan kesempatan.”
Kami saling bersalaman. Hangat sekali.
Pak Sopir segera meninggalkan area parkir hotel, dan aku segera masuk ke kamar hotelku. Di dalam kamar aku melepaskan baju yang kukenakan karena sudah mengeluarkan bau tertentu. Maklumlah, karena sudah dikenakan seharian penuh dalam cuaca yang silih berganti: hujan, panas, hujan, panas.

Pukul 19.30 Wib
Setelah mandi dan berpakaian aku ke luar hotel untuk mencari warung makan. Aku berjalan kaki ke luar area hotel. Kulihat ada beberapa warung makan di pinggir jalan Laksamana Muda Adi Sucipto Kilometer 9 Yogyakarta.
Aku tidak tertarik singgah di salah satu warung itu karena menu yang mereka tawarkan tidak sesuai dengan selera makanku dan kebutuhan nutrisiku malam ini. Kulihat menu yang mereka tawarkan sama merata, antara lain: bakso, mie goreng, dan mie kuah.
Aku terus jalan kaki melenggang sambil memperhatikan tanda-tanda tempatan yang menyolok dan mudah diingat. Tanda-tanda tempatan itu harus diingat karena akan berguna sebagai petunjuk jalan supaya nanti tidak tersesat ketika kembali ke hotel.
Aku akhirnya belok kiri ke sebuah rumah makan dengan bangunan yang begitu megah dan berukuran luas: Andrawina Loka Gudeg Bu Tjitro. Suasana rumah makan ketika itu sudah sepi. Aku satu-satunya pengunjung yang makan di ruangan restoran yang begitu luas.
 “Pesan apa, Pak?”
“Nasi goreng?”
“Habis, Pak.”
“Soto ayam?”
“Juga habis, Pak.”
“Lalu, apa yang ada?”
“Cuma nasi gudeg, Pak.”
“Kenapa yang ada cuma nasi gudeg saja?”
“Maklumlah, Pak. Kami sudah mau tutup. Jadi semua menu sudah pada habis.”
“Jam berapa tutupnya?”
“Jam Sembilan, Pak.”
“Sekarang sudah pukul 19.45 Wib. Kalau begitu, apa boleh buat. Aku pesan nasi gudeg. Minumnya teh es.”
Tidak berselang lama, pesananku sudah terhidang di atas meja. Kucicipi sedikit. Eh, ternyata enak juga. Dalam tempo singkat nasi gudeg itu sudah ludes. Ternyata harganya relative murah, cuma Rp. 17.600,- dengan perincian sebagai berikut: nasi gudeg berlauk-pauk sayap ayam dan sebutir telur harganya Rp. 13.000,-  es teh manis harganya Rp. 4.000,- dan PPN 10% sebesar Rp. 1.600,-.
Selesai makan aku kembali ke hotel, masih dengan cara yang sama yakni melaku sikil alias jalan kaki. Kulihat jalan masuk ke lokasi hotel tampak sepi. Aku menoleh ke belakang: aman. Tak ada pemalak menghadangku di depan dan tak ada kuntilanak mengikutiku di belakang. Hehehe....
Hotel Bandara Asri terletak di Jalan Kenanga Nomor 3, letaknya hampir-hampir berhadapan dengan Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta dan Stasiun Kereta Api Maguwo Yogyakarta. Memiliki 20 kamar dengan ukuran, fasilitas, dan tarif yang berbeda-beda, yakni: Executive tersedia sebanyak 3 kamar dengan tarif Rp. 475.000,- per malam; Superior tersedia sebanyak  6 kamar dengan tarif Rp. 410.000,-, per malam: Deluxe Twin tersedia sebanyak 5 kamar dengan tarif Rp. 350.000,- per malam; Deluxe Kingsize tersedia sebanyak 6 kamar dengan tarif Rp. 325.000,- per malam; dan Standart tersedia sebanyak 6 buah dengan tarif Rp. 275.000,- per malam. 

Pukul 20.30 Wib
Aku masuk ke kamar hotel. menonton televise. Tak lama kemudian mataku terserang kantuk berat. Padahal ada acara televise favoritku malam ini, yakni: Dua Dunia di Trans TV. Apa boleh buat. Malam itu aku tertidur pulas, namun durasinya relative pendek, cuma berselang antara 5-10 menit saja. Aku berulang-kali: tidur-bangun, tidur-bangun. Aku terbangun karena harus buang air kecil. Selain itu, mimpi-mimpi yang kualami malam ini hampir semuanya berdurasi pendek, seperti layaknya durasi sinetron kejar tayang.      


YOGYAKARTA-SOLO-SUKOHARJO
SABTU, 7 DESEMBER 2013
Pukul 05.00 Wib
Aku terbangun pukul 05.00 Wib, mandi, dan segera berkemas-kemas untuk memulai perjalanan hari ini. Sekitar pukul 07.00 Wib, aku sudah siap berangkat ke Solo. Mula-mula aku masuk ke kafetaria hotel untuk sarapan pagi. Menu yang tersedia pagi itu adalah roti bakar, bubur ayam, bakso, dan soto ayam. Aku memilih menu bubur ayam dan minum kopi.
Selesai makan aku masuk ke lobby hotel untuk menyerahkan kunci kamar (chekout). Sesuai janji, aku kemudian diantarkan ke Stasiun Kereta Api Maguwo yang letaknya sekitar 500 meter dari hotel, namun karena jalannya satu arah maka mobil yang kutumpangi harus memutar cukup jauh. Stasiun Kereta Api Maguwo berseberangan dengan bangunan induk Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta.
Stasiun Kereta Api Maguwo bukanlah stasiun induk, tetapi cuma stasiun pembantu. Aku kemudian membeli tiket tujuan Stasiun Solo Balapan. Tarifnya cuma Rp. 10.000,-  dan pada tiket yang kubeli terdapat tulisan tanpa tempat duduk.
“Di mana tempat menunggu kereta apinya, Pak?” tanyaku.
“Di seberang sana, Pak.”
Kereta api dijadwalkan baru berangkat pukul 08.16 WIB, ketika itu baru pukul 07.10 WIB.  Aku kemudian memilih jalan-jalan ke lingkungan areal kedatangan bandara.
Suasana di sini sangat ramai, tepatnya hiruk pikuk. Di sana aku silih berganti diajak bicara oleh beberapa sopir taksi dan tukang ojek yang mangkal mencari rezeki di lokasi ini. Mereka menawarkan jasanya masing-masing. Aku menjelaskan bahwa aku sudah membeli tiket kereta api Sriwedari Non AC tujuan ke Stasiun Solo Balapan. Kepada salah seorang dari mereka aku bertanya berapa tarif taksi ke Solo. Ternyata tarifnya mahal juga, Rp. 375.000,- dengan mobil berjenis Avanza.
Pada kesempatan lain ada tukang ojek menawarkan jasa mengantarkanku ke terminal bis, tarifnya Rp. 30.000,-. Lebih cepat katanya, karena kereta api baru berangkat  satu jam lagi. Lebih cepat satu jam tiba di Solo. Paparan yang logis, aku hampir saja tergiur. Selain itu aku juga mendapat informasi bahwa di sekitar sini juga banyak terdapat tempat penginapan lain selain Hotel Bandara Asri yang kuinapi tadi malam.
Pukul 07.30 Wib aku kembali ke stasiun kereta api Maguwo. Kulihat orang turun naik silih berganti dari gerbong kereta api yang datang dan pergi silih berganti di pagi yang cerah pada hari ini. Sesuai jadwal, kereta api Sriwedari Non AC yang juga popular disebut sebagai Prambanan Ekspres (Prameks) berhenti di stasiun Maguwo.
Aku dan para penumpang lainnya segera berloncatan masuk ke dalam gerbong yang terdekat dari tempat kami berdiri. Ternyata kereta api sudah penuh dengan penumpang sejak ia memulai perjalanannya dari stasiun  induk di pusat kota Yogyakarta sana. Pantas saja dalam setiap tiket yang dibeli di stasiun Maguwo terdapat tulisan tanpa tempat duduk.
Beruntung, masih ada bangku yang kosong, aku segera mendudukinya. Aku duduk berdampingan dengan seseorang yang kuduga orang Korea. Bertubuh kurus, kulitnya putih, pakai kaos putih, bercelana pendek warna putih, dan mengenakan topi model seniman. Di tangannya tertenteng sebuah tustel.
“Bangku ini, kosong, Pak?”
Orang Korea itu cuma mengangguk.
Setelah itu kami asyik dengan diri masing-masing, begitu pula halnya dengan para penumpang lainnya. Maklumlah, di antara kami tidak saling kenal satu sama lainnya. Kereta api melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga dalam tempo kurang dari satu setengah jam sudah tiba di Stasiun Purwosari.

Pukul 09.15 Wib
Aku turun dari gerbong kemudian masuk ke sebuah warung di samping stasiun kereta api Purwosari. Aku memesan teh hangat, dan pada kesempatan itu mengudap sebiji kue bakwan.
“Kalau mau ke Sukoharjo, naik apa, Bu?” tanyaku kepada pemilik warung ketika membayar harga makanan dan minuman.
“Kalau tidak salah naik angklutan kota warna kuning gading dengan nomor lambung 54.
“Terima kasih, Bu.”
Begitu keluar stasiun aku disambangi oleh seorang bapak berusia setengah baya.
“Mau ke mana, Pak?”
“Ke Sukoharjo, Pak.”
“Naik bis Harapan Mulya, Pak. Bapak bisa menunggunya di sebelah kiri jalan itu,” jelasnya sambil menunjuk ke arah jalan raya yang dimaksudkannya.
“Kalau bapak mau naik ojek, saya bersedia mengantar, Pak.”
“Tarifnya berapa, Pak?”
“Dua puluh lima ribu rupiah.”
Tidak mau repot akhirnya aku memilih tawaran naik ojek ini. Tukang ojek ini belakangan kuketahui bernama Yoyok usianya sekitar 50 tahun.
Jarak antara Solo-Sukoharjo sekitar 15 kilometer, jarak itu ditempuh oleh Pak Yoyok dalam tempo 20 menit. Di tengah jalan aku melihat papan nama hotel yang direkomendasikan oleh panitia KIBD III. Aku meminta Pak Yoyok agar singgah sebentar untuk memesan kamar di hotel di sini. Ternyata semua kamar sudah habis diinapi oleh peserta KIBD III yang datang lebih dulu.
Aku kemudian disarankan untuk menginap di Hotel Brother yang terletak sekitar 5 kilometer dari tempat ini. Aku meminta Pak Yoyok untuk mengantarku ke Hotel Brother. Cukup lama aku berurusan di tempat ini, mungkin sekitar 30 menit. Tarifnya Rp. 275.000,- per malam. Tarif ini sudah dikorting 50% dari harga semestinya karena masih dalam tahap uji coba setelah diresmikan pengoperasiannya sekitar 2 minggu yang lalu. Untung saja masih uji coba, jika tidak maka aku harus membayar Rp. 590.000,- per malam. Hotel ini terletak di Jalan Ir. Soekarno Blok AC 25 (Kawasan Solo Baru Sukoharjo).
Hotel ini memiliki 60 kamar Deluxe King (luas 22 sqm) bertarif Rp. 590.000,- 92 kamar Deluxe Twin (luas 22 sqm) bertarif Rp. 590.000,- dan 8 kamar Suite (luas 44 sqm) bertarif 925.000,-. Extra bed Rp. 200.000,-. Fasilitas yang disediakan antara lain: TV 29 inci, LCD dengan 41 TV Channel, 100% cotton bed sheets dan duvet, security key card, tea anda coffe maker, lemari es, AX, meja kerja, shower, toilet standart internasional, sandal, pengering rambut, perlengkapan kamar mandi, laundry, dan telepon.
Setelah urusan pemesanan kamar selesai, aku segera diantar ke kamar oleh petugas resepsionis hotel. Di dalam kamar aku berganti baju, dan segera turun ke bawah menemui Pak Yoyok yang sabar menanti di bawah sana. Sebelum Pak Yoyok menghidupkan sepeda motornya aku terlebih dahulu membayar ongkos ojek sebesar Rp. 60.000,-. Pak Yoyok menerimanya dengan sukacita.
“Terima kasih, Pak," ucapnya.
“Sama-sama,” ujarku sambil menggenggam erat tangannya.  
Pak Yoyok menghidupkan sepeda motornya, aku segera naik ke boncengan di belakangnya. Sesaat kemudian Pak Yoyok memacu laju kendaraannya menuju ke Kampus Universitas Veteran Bangun Nusantara di pusat kota Sukoharjo.
Sekitar 15 menit kemudian kami tiba di tempat tujuan, yankni tempat diselenggarakannya KIBD III. Pak Yoyok pamit pulang kembali ke Solo. Kami bersalaman sekali lagi. Setelah itu aku masuk ke ruangan tempat acara dilaksanakan.
Hal pertama yang kulakukan adalah mendaftarkan diri kepada panitia yang sudah stand by menerima kedatangan para peserta di beranda auditorium kampus. Aku datang persis ketika acara pembukaan dimulai, yakni ketika para peserta mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
KIBD III dibuka oleh Wakil Bupati Sukoharjo, tadinya direncanakan akan dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Tengah: Bapak Ganjar Pranowo. Namun beliau berhalangan hadir karena harus menghadiri acara Festival Film Indonesia (FFI) di kota Semarang.
Namun, pada hari itu juga beliau berkenan menyempatkan diri untuk melakukan telekonferensi dengan Rektor Universitas Veteran Bangun Nusantara (Prof. Dr. H. Trisno Martono) dan Ketua Panitia KIBD (Dr. Farida Nugrahani, M. Hum).
Sejak itu aku bertahan di tempat konferensi mengikuti kegiatan pemaparan makalah-makalah dan sessi tanya jawab. Kegiatan hari ini berakhir pukul 17.00 Wib. Aku kemudian diantarkan ke Hotel Brother oleh panitia dengan menumpang bis kampus. Di bis ini juga menumpang para peserta lain yang menginap di luar hotel yang direkomendasikan oleh panitia KIBD III.
Di kamar hotel aku langsung mandi kemudian merebahkan diri dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Magrib. Setelah itu aku menonton televise. Sekitar pukul 20.00 Wib aku menyempatkan diri menyambangi sebuah mini market yang terletak persis di seberang Hotel Brother. Aku membeli buah belimbing, manggis dan ubi cilembu kukus. Inilah menu tambahan makan malamku hari ini. Sepulang dari mini market aku menonton televise, namun tak lama kemudian aku mengantuk dan tertidur.

SUKOHARJO-SOLO-SURABAYA
SABTU, 7 DESEMBER 2013
Pukul 04.30 Wib
Aku terbangun dari tidurku sekitar pukul 04.30 Wib. Setelah buang air kecil aku terlelap lagi hingga pukul 06.00 Wib. Setelah mandi, aku Sholat Subuh, dan kemudian berjalan-jalan santai ke pasar pagi yang berlokasi persis di jalanan dekat Hotel Brother. Suasananya cukup ramai. Salah satu moda transportasi yang relative unik adalah delman yang ditarik oleh seekor kuda.

Pukul 07.00 Wib
Pukul 07.00 Wib aku sarapan pagi di restoren hotel tempatku menginap, menu yang kupilih adalah soto ayam dan teh hangat. Pukul 07.15 Wib aku checkout dari Hotel Brother, dan meminta bantuan kepada karyawan hotel untuk memanggilkan taksi argometer. Cukup lama aku menunggu kedatangan taksi argometer ini (sekitar 20 menit), Pak Sopir meminta maaf atas keterlambatannya menjemputku. Sekitar 15 menit taksi yang kutumpangi tiba di tempat konferensi. Tarifnya Rp. 26.000,-
Aku segera melaporkan diri kepada penanggung jawab Sidang Komisi B bahwa aku sudah siap untuk memaparkan makalahku sesuai jadwal KIBD III yang sudah ditetapkan. Aku sengaja segera melaporkan diri pada kesempatan pertama karena khawatir panitia mengira aku tidak bisa datang untuk menghadiri KIBD III.
Sebelum acara dimulai aku sempat berbincang-bincang dengan salah seorang peserta dari Semarang yang duduk di sampingku. Kami saling berkenalan, dan ia terkejut ketika kusebut namaku. Menurutnya, ia sudah cukup lama mengenal namaku, karena banyak mahasiswanya yang mengutip isi buku-bukuku. Hehehe…  masa iya.  
Pukul 08.00 WIB
Sesuai jadwal aku tampil membacakan makalahku di hadapan peserta Sidang Komisi B bertempat di Auditorium. Hari ini aku tampil berdua dengan Bapak Dr. Yayat Sudaryat, M. Hum (Universitas Pendidikan Indonesia Bandung) dengan moderator Saudara Achmad Zulfikar dari Ujungpandang.
Ada 3 komentar yang ditujukan kepadaku. Semua komentar dimaksud kutanggapi sebisaku. Setelah pemaparan makalah berakhir kami menerima tanda mata dari Kepala Taman Budaya Jawa Tengah Bapak Pardi Suratno.
Tanda mata yang diberikan berupa buku berjudul Gusti Ora Sare 90 Mutiara Nilai Kearifan Budaya Jawa yang ditulisnya bersama dengan Heniy Astiyanto (Penerbit Adiwacana Yogyakarta, 2009). Pada kesempatan yang sama aku juga memberikan bukuku berjudul Menguak Mitos Pamali Banjar (Rumah Pustaka Folklor Banjar, Banjarmasin, 2013).
Kegiatan selanjutnya adalah menyimak pemaparan makalah Dr. Aone van Engelenhoven (Universitas Leiden Belanda).

Pukul 12.00 Wib
KIBD III ditutup dengan resmi oleh Dekan FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara. Setelah istirahat, makan siang, dan sholat, kami para peserta KIBD dari luar diajak berkunjung ke Keraton Surakarta. Di sini kami diterima langsung oleh Ibu Dra. GKR Wandansari, M. Pd. Ketika kegiatan ramah tamah tengah berlangsung hujan turun dengan lebatnya mengguyur kota Solo (Pukul 14.00 Wib).


Pukul 14.05
Panitia KIBD III mengantarkan kami ke berbagai tempat sesuai dengan pilihan jalan pulang masing-masing, yakni ke Bandara Adi Soemarmo, Stasiun Kereta Api Solo Balapan, dan ke Terminal Bis Tirtonadi. Aku dan seorang peserta KIBD III dari Jakarta memilih diantarkan ke terminal bis Tirtonadi. Di sini kami mencari bis jurusan Malang, namun batal, karena bis baru berangkat pukul 21.00 Wib. Kami akhirnya memilih bis tujuan Surabaya.
Sesuai dengan rekomendasi teman seperjalananku kami menunggu kedatangan bis Patas Eka. Menurut temanku, sesuai dengan statusnya sebagai bis Patas maka bis ini hanya menurun-naikkan penumpang di terminal resmi saja, sementara bis lain diperbolehkan menurun-naikkan penumpang di sembarang tempat. Di mana karena itulah maka bis Patas Eka lebih cepat tiba di terminal Purabaya, dibandingkan dengan bis lainnya. Kami membiarkan begitu saja bis-bis lainnya berlalu meninggalkan stasiun Tirtonadi.
Hujan turun dengan lebatnya ketika bis Patas Eka tiba di stasiun Tirtonadi. Aku dan temanku naik bis tanpa mempedulikan rambuit yang basah kuyup karena diguyur hujan lebat. Celanaku basah kuyup karena berjalan di atas genangan air yang merendam kawasan stasiun.
Malang, ternyata bis ini sudah penuh sesak dengan penumpang. Mereka adalah para penumpang yang naik di terminal bis Yogyakarta. Hanya ada satu bangku kosong. Aku mengalah dan turun dari bis, temanku ikut naik bis itu ke terminal Purabaya.
Aku berharap masih ada bis Patas Eka berikutnya yang singgah menjemput penumpang di terminal Tirtonadi ini.  Namun bis yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang ke terminal. Hari sudah semakin sore dan hujan masih turun dengan lebatnya. Suasana di terminal menjadi kurang kondusif tampak diliputi gelap di mana-mana.

Pukul 16.00 Wib
Aku akhirnya terpaksa naik bis non AC. Tarifnya Rp. 36.000,- Benar, ternyata bis jenis ini acapkali berhenti untuk menurun-naikan penumpang di sembarang tempat. Masih dibawah guyuran hujan lebat bis yang kutumpangi melaju meninggalkan kota demi kota yang ada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur: Karanganyar, Masaran, Sragen, Mantingan, Sidowayah (Jawa Tengah), Ngawi, Geneng, Glodok, Maospati, Madiun, Balerejo, Caruban, Saradan, Bagor, Nganjuk, Baron, Kertosono, Perak, Jombang, Mojo Agung, Mojokerto, Krian, dan Surabaya (Jawa Timur).
Penumpang yang  duduk di sampingku silih berganti, ada yang lama, dan ada yang cuma sejenak. Suatu ketika aku tertidur lelap, dan begitu terbangun, orang yang duduk di sampingku sudah berganti. Kesempatan duduk berdampingan dengan banyak orang di sepanjang perjalanan dari Solo ke Surabaya ini sering kumanfaatkan untuk mengobrol saling bertukar informasi. Tidak jarang informasi berharga berkaitan dengan perjalananku kali ini kuperoleh dengan cara ini.

Pukul 23.30 Wib    
        Bis yang kutumpangi tiba di Terminal Purabaya, Bungurasih, Surabaya. Ternyata kota Surabaya juga diguyur hujan lebat. Begitu turun dari bis aku langsung menuju ke toilet terdekat yang ada di kawasan terminal. Setelah itu aku masuk ke sebuah warung makanan/minuman. Aku memesan teh hangat dan soto ayam. Ketika membayar harga makanan/minuman yang kupesan aku bertanya kepada pemilik warung:
“Pukul 23.45 Wib ini apakah masih ada bis tujuan ke Malang, Pak?”
“Enggak ada, pak. Nanti pukul 04.00 Wib baru ada.”
“Bapak mau ke Malang?”
“Iya.”
“Bapak bisa duduk-duduk di ruang tunggu di sana aman, Pak. Ada banyak orang bermalam di sana dan ada petugas piket yang menjadi penjaga keamanannya.”
“Apakah di sekitar terminal ini ada hotel bertarif murah, Pak.”
“Ada”
“Di mana, Pak?”
“Tunggu, kupanggilkan tukang ojek temanku supaya aman. Ia tahu di mana lokasi hotel murah di sekitar terminal ini.”
 Tidak lama kemudian datanglah tukang ojek dimaksud. Aku lalu diantarkan ke hotel bertarif murah. Ongkos ojeknya Rp. 15.000,- dan tarif hotelnya Rp. 90.000,-.
Aku mendapat kamar nomor 22 yang berada di lantai bawah. Fasilitas yang tersedia cuma kipas angin. Toilet terletak di luar kamar, untunglah jaraknya tak jauh dari kamarku. Hawa panas kota Surabaya membuatku harus memencet tombol on kipas angin sepanjang malam. Aku tidak tahu persis kapan aku mulai tertidur.     

SURABAYA-MALANG
MINGGU, 8 DESEMBER 2013
Pukul 07.00 Wib
Aku cheqout dari hotel, ternyata hotel yang kuinapi malam tadi terletak di kawasan pertokoan Ramayana, Bungurasih, Surabaya. Dari papan nama yang terpampang di depannya kuketahui pengelolaan hotel ini berada di bawah managemen sebuah CV dengan nama yang khas Jawa Timur. Setelah mengambil KTP di resepsionis aku ke luar hotel dan berjalan kaki menuju ke terminal Purabaya.
Kulihat banyak tukang ojek mangkal di pinggir jalan yang kulalui pagi itu. Aneh bin ajaib tak seorangpun yang tergiur untuk menawarkan jasanya kepadaku. Hal yang sama juga dilakukan oleh para sopir angkutan kota. Sungguh, aku tak habis pikir, ada apa ya dengan mereka? Padahal tukang ojek dan sopir angkutan kota biasanya berebutan menawarkan jasanya begitu ada orang lewat di depan mereka. Mereka sama agresifnya dengan para calo di terminal-terminal. Aku terus berjalan dan akhirnya tiba di terminal Purabaya.
Sebelum naik ke bis tujuan Malang aku lebih dulu sarapan pagi di warung makanan/minuman yang kusinggahi tadi malam. Ternyata penjaganya sudah berganti. Kali ini yang berjaga adalah 2 orang wanita, bisa jadi anak dan isterinya. Aku memesan teh panas dan soto ayam. Setelah perut berisi aku melangkah menuju ke terminal khusus bagi bis tujuan Malang. Aku sengaja memilih bis Patas AC. Tarifnya Rp. 20.000,-

Pukul 08.00 Wib
Bis yang kutumpangi meninggalkan terminal Purabaya. Penumpang yang dibawanya cukup banyak. Di bawah cuaca yang cerah, bis melaju menjejaki jarak yang ada dari kota ke kota, yakni: Waru, Gedangan, Sidoarjo, Tanggul Angin, Porong, Japanan, Apolo, Pandaan, Suwayuwu, Sukorejo, Purwosari, Lawang, Singosari, Lawang, dan Malang.

Pukul 10.00 Wib
Begitu tiba di Malang aku dihampiri oleh seorang tukang ojek yang belakangan kukenal bernama Nawawi. Tukang ojek inilah yang kemudian membawaku ke suatu jalan tempat di mana mesin yang kucari dijual orang. Mesin yang kucari adalah mesin peraut bilah bambu. Aku membelinya untuk adikku Awaluddin yang berprofesi sebagai pembuat sangkar burung di kota Banjarbaru. Harga disepakati Rp. 4.000.000,- dan ongkos kirim Rp. 1.000.000,-.
Pada kesempatan itu aku diajari oleh pembuatnya bagaimana caranya mengoperasikan mesin tersebut. Hari itu aku membayar porsekot pemesanan sebesar Rp. 1.000.000,- dan berjanji akan mengirimkan sisa pembayaran lainnya sepulangnya dari Surabaya. Pihak pembuat juga berjanji akan mengirimkan mesin pesananku itu 2 minggu setelah uang pembayaran kukirimkan via rekening koran pihaknya.   

Pukul 12.00 Wib
Setelah transaksi selesai dilakukan, aku kembali naik sepeda motor yang diojeki oleh Nawawi menunju ke terminal bis Malang. Sebelum berpisah aku dan Nawawi saling bertukar nomor telepon. Selanjutnya aku naik ke bis non Patas AC. Tarifnya Rp. 10.000,- Pukul 12.00 Wib aku tiba kembali di terminal Purabaya. Sebelum bis masuk ke terminal aku melihat di sepanjang Letjen Soetoyo S banyak berdiri hotel bertarif murah yang merangkap sebagai kantor agen travel. Melihat dari tampilan luarnya hotel-hotel yang ada di kawasan ini sepertinya lebih baik dibandingkan dengan hotel yang kuinapi malam tadi.
Begitu tiba di terminal Purabaya aku segera masuk ke bis Damri yang khusus melayani para penumpang yang ingin ke Bandar Udara Juanda. Tarifnya Rp. 20.000,-.Begitu tiba di bandar udara aku segera menuju ke loket pembelian tiket di Maskapai Penerbangan Lion Air, ternyata tiket untuk penerbangan hari ini sudah habis terjual, dan tiket untuk penerbangan besok hari harganya Rp. 960.000,- Harga ini terlalu mahal bagiku, maklumlah, 4 kali lipat dari harga biasanya. Aku batal membeli tiket dan merencanakan untuk pulang dengan menumpang kapal laut saja. 

Pukul 13.30 Wib
Aku kembali lagi ke terminal Purabaya dengan menumpang bus Damri dengan tarif Rp. 20.000,- Sesampainya di terminal Purabaya aku mencari bis tujuan Pelabuhan Tanjung Perak untuk mengecek jadwal kapal laut Surabaya-Banjarmasin. Ternyata bis yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Aku akhirnya naik bis yang melewati Pasar Turi dengan pertimbangan di kawasan ini ada sejumlah travel yang bisa kumintai informasinya terntang jadwal kapal laut. Tarifnya Rp. 5.000,-.
Namun, begitu ke luar dari jalan tol, bis yang kutumpangi melaju di jalan raya yang sangat kukenali, karena pada tahun 1990-an aku sering berkunjung ke daerah ini. Aku memutuskan untuk turun dari bis di daerah Dupak Perahu. Ternyata travel milik pengusaha Banjar sudah tidak beroperasi lagi (menurut informasi tetangganya pengusaha yang bersangkutan sudah lama meninggal dunia). Aku terus berjalan memasuki jalan Dupak Perahu itu dengan harapan bisa tembus ke jalan Demak. Ternyata jarak yang harus kutempuh dengan jalan kaki itu cukup jauh juga, sekitar 2 kilometer.
Begitu tiba di Jalan Demak aku menghampiri tukang becak dan bertanya apakah di sekitar tempat itu ada penginapan murah. Aku kemudian diantarkan oleh tukang becak ke sebuah hotel yang ada di Jalan Demak. Tarif becaknya lumayan mahal Rp. 15.000,- untuk jarak sekitar setengah kilometer. Syukurlah masih ada kamar kosong, tarifnya Rp. 55.000,-. Aku segera masuk ke kamar Nomor 212.
Sesuai dengan tarifnya, fasilitas hotel ini sangat minim. Bangunannya kulihat sudah sangat tua, berdinding dan berlantai semen. Tempat tidurnya berupa ranjang kayu, bertilam busa, berbantal busa, dan bersprei kain dril. Kamar mandi dan wc ada di dalam kamar masing-masing. "Dengan tarif semurah ini maka tak ada masalah jika harus berada di Surabaya selama 1 minggu," gumamku.
Inilah masa-masa paling sulit yang kualami selama melakukan perjalanan kali ini. Betapa tidak? Aku terancam harus membeli tiket pesawat terbang dengan harga selangit. Empat kali lipat dari harga normal, yang biasanya cuma berharga Rp. 230.000,--Rp. 250.000,-. Aku lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang sudah bau naga karena seharian penuh beraktifitas di alam terbuka dengan hawa yang relative panas.

Pukul 14.10 Wib
Setelah mandi, tubuhku terasa segar, setelah berpakaian rapi aku menuju ke bagian resepsionis hotel untuk mencari informasi. Di sana aku bertanya kepada karyawan hotel apakah di sekitar Jalan Demak ini ada travel agen yang melayani pembelian tiket kapal laut. Jawabannya positif: ada. Ternyata tempat itu cukup jauh dan hujan gerimis turun membasahi jalan yang kulalui. Aku memanggil tukang becak yang mangkal di pinggir jalan.
“Tolong, antarkan aku ke agen penjualan tiket kapal laut,” ujarku.
Percaya atau tidak, tukang becak tersebut membawaku ke halaman sebuah hotel.
“Di mana tempat penjualan tiketnya?” tanyaku heran.
“Di atas, Pak. Di dalam hotel,” jawab tukang becak itu meyakinkan sekali.
Aku lalu menapaki tangga menuju ke lobi hotel. Di depan pintu masuk aku disambut oleh karyawan hotel.
“Apa yang bisa saya bantu, Pak?”
“Saya mau beli tiket kapal laut, Pak.”
“Penjual tiketnya bukan di sini, Pak. Tapi, di sebelah bangunan hotel ini,” ujarnya sambil menunjuk  ke suatu arah.
“Terima kasih, atas informasinya, Pak.”
Aku kembali naik becak dan ternyata jalan menuju tempat penjualan tiket itu adalah jalan satu arah dan tukang becak itu nekat melawan arus lalu lintas. Aku merasa ngeri dan minta turun untuk kemudian berjalan kaki saja. Kebetulan lokasi penjualan tiket itu sudah dekat, aku segera masuk ke rumah toko, dan di sana aku mendapatkan informasi bahwa kapal laut tujuan Banjarmasin akan berlayar Selasa, 10 Desember 2013, Pukul 23.00 Wib. Harga tiketnya Rp. 260.000,-
“Kalau tiket pesawat terbang Lion Air untuk penerbangan besok hari berapa, Pak?”
Melalui computer yang ada di depan matanya, karyawan travel agen tersebut berselancar mencari informasi tentang harga tiket pesawat terbang yang dijualnya untuk keberangkatan esok hari.
“Besok, harganya  mahal, Pak.”
“Berapa?”
“Rp. 660.000,-“
“Besoknya lagi?”
“Rp. 440.000,-“
“Besoknya lagi?”
“Rp. 550.000,-“
Akhirnya kuputuskan untuk membeli tiket pesawat terbang Lion Air seharga Rp. 660.000,- harga ini Rp. 300.000,- lebih murah dibandingkan dengan harga tiket yang ditawarkan oleh petugas penjualan tiket di Juanda siang tadi.
Hatiku sangat lega, tiket sudah ada di tangan. Ini berarti aku tidak jadi naik kapal laut selama 18 jam mengarungi Laut Jawa. Alhamdulillah. Aku kembali naik becak yang sama. Tidak ada pilihan lain aku mengikut saja ketika tukang becak itu mengayuh becaknya melawan arus lalu lintas. Akhirnya aku tiba kembali di hotel tempatku menginap. Tukang becak itu meminta bayaran Rp. 20.000,-. Tanpa banyak cincong kubayar sesuai permintaannya. Aku masuk kamar hotel dan menelepon isteriku bahwa aku akan pulang besok sore dengan pesawat Lion Air penerbangan terakhir pada pukul 17.50 Wib.
Hujan kembali turun dengan lebatnya, aku berdiam diri saja di kamar. Sehabis Sholat Magrib perutku terasa lapar. Tidak ada pilihan lain aku harus ke luar kamar hotel untuk mencari warung makanan/minumkan. Ternyata tak jauh dari hotel ada warung yang menawarkan menu makanan laut (seafood). Aku memesan nasi berlauk-pauk dua ekor ikan lele goreng, dan untuk minumnya aku memesan teh es. Harganya Rp. 13.000,-
Setelah perut kenyang aku kembali ke kamar. Sebelum mata mengantuk aku melakukan pengaturan ulang atas barang bawaanku. Seteleh selesai aku merebahkan diri, dan akhirnya tertidur pulas sampai pukul 05.00 Wib.

SURABAYA-BANJARMASIN
SELASA, 10 DESEMBER 2013
Pukul 07.00 Wib
Aku sudah chekout dari hotel dan langsung menyeberangi jalan. Sesuai dengan informasi yang kuperoleh kemarin, bis kota jurusan terminal Purabaya, akan melintas di jalan ini.
Sudah 1 jam aku menunggu, namun bis yang ditunggu tak kunjung datang. Tiba-tiba ada seorang wanita setengah baya mendekatiku.
“Mau ke mana, Pak?” sapanya dengan nada bertanya.
“Terminal Purabaya,” jawabku pendek.
“Sama kalau begitu, Pak.”
Hening sejenak tak ada yang bicara di antara kami.
“Setelah ke Bungurasih, tujuan bapak selanjutnya ke mana?”
“Ke Juanda.”
“Mau terbang ke mana, Pak.”
“Banjarmasin.”
“O, bapak orang Banjar rupanya.”
“Iya.”
“Sudah punya tiket, Pak.”
“Sudah.”
“Seandainya belum beli, bisa saya bantu, Pak. Saya kerja di bagian pengiriman barang di Juanda, Pak.”
“O, begitu.”
“Tiket pesawat terbang Lion Air tujuan Banjarmasin untuk penerbangan hari ini sangat mahal. Biasanya harganya cuma Rp. 230.000,- paling mahal Rp. 250.000,-. Kemarin kubeli dengan harga Rp. 660.000,- bahkan di loket Lion Air di Juanda harganya mencapai Rp. 960.000,-“
“Wah, mahal sekali. Sayang sekali kita baru bertemu hari ini, Pak. Jika sebelum-sebelumnya kita sudah bertemu, pasti bapak akan kubantu. Aku sering membantu membokingkan tiket untuk para pejabat dari Palangka Raya dan Manokwari. Pembayaran dilakukan belakangan setelah tiket digunakan dan mereka bertemu saya di Juanda.”
“Wow, super sekali.”
Benar saja, tiba-tiba handphone berdering dan dari percakapan yang berhasil kucuri dengar telepon itu berasal dari seseorang yang minta bantuan membokingkan tiket maskapai penerbangan tertentu berjumlah 12 lembar.
“Bapak tadi malam tidur di hotel seberang itu, ya?”
“Iya.”
“Berapa tarifnya, Pak?”
“Murah, cuma Rp. 55.000,- per malam.”
“Di sebelah sana ada hotel dengan harga sama tapi fasilitasnya lebih lengkap, Pak.”
“O, begitu.”
Aku kemudian bercerita bagaimana kemarin aku sempat kelimpungan mencari hotel bertarif murah di kota Surabaya ini. Hingga akhirnya naik becak dan diantarkan oleh tukang becak ke hotel di seberang itu.
“Nanti di terminal Purabaya bapak jangan naik taksi menuju ke Juanda. Di sana sekarang ini sudah ada bis Damri yang khusus melayani para penumpang yang ingin ke Juanda. Tarifnya Cuma Rp. 20.000,-“
“Ya, aku sudah dua kali menaikinya kemarin,” ujarku.
Pembicaraan terhenti karena bis yang ditunggu sudah tampak melaju ke arah kami berdiri. Wanita itu memberi isyarat agar bis berhenti. Begitu bis berhenti aku dan wanita itu segera naik ke bis. Ternyata bis sudah penuh sesak dengan penumpang. Aku dan wanita itu terpaksa berdiri. Tarifnya cuma Rp. 5.000,-
Untunglah, tidak berapa lama kemudian ada penumpang yang turun. Aku dan wanita itu segera duduk di bangku kosong yang ditinggalkan oleh penumpang yang sudah tiba di tempat tujuannya. Setelah itu bis melaju di jalan tol dan tidak ada lagi aktifitas penurunan dan penaikan penumpang.
Tidak lama kemudian, bis yang kutumpangi tiba di terminal Purabaya. Aku dan wanita itu segera turun. Ia mengaku off bekerja hari ini karena ada langganan tiketnya yang minta bertemu di salah satu café yang ada di terminal Purabaya.

Pukul 08.30 Wib 
Aku segera naik ke bis Damri tujuan ke Juanda. Petugas pemungut uang tiket menolak ketika kusodorkan uang Rp. 50.000,-.
“Pakai uang pas, Pak?”
“Tak ada kataku.”
Petugas pemungut uang tiket itu berlalu tidak jadi memungut uang tiketku.
Tidak lama kemudian, bis bergerak meninggalkan terminal. Menjelang tiba di Juanda, supir bis menghentikan bis yang disopirinya. Ternyata ia kembali memunguti uang tiket yang belum dibayar penumpangnya, termasuk uang tiketku.   

Pukul 09.00 Wib
        Aku sudah tiba di Juanda. Jadwal keberangkatan pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi masih lama, masih sekitar 9 jam lagi. Waktu selama itu mestinya dapat kugunakan untuk jalan-jalan keliling kota Surabaya. Namun, hal itu tidak kulakukan karena situasinya sangat genting. Jika sampai terlambat tiba di Juanda karena terlalu asyik jalan-jalan, atau karena ada masalah dalam hal kelancaran transportasi yang kutumpangi maka hal itu pastilah akan membuatku mengalami kesulitan besar.
Ternyata banyak orang yang menempuh jalan seperti yang kulakukan, lebih memilih berada di Juanda berlama-lama daripada menggunakan waktu yang ada untuk jalan-jalan atau melakukan kegiatan lainnya di kota Surabaya. Di Juanda aku duduk berdekatan dengan pasangan suami istri yang ingin berangkat ke Balikpapan pukul 18.30 Wib nanti. Selain itu aku juga duduk dengan pasangan suami istri lainnya yang juga mengambil sikap seperti yang kami lakukan.
Aku merasakan perutku minta diisi, maklumlah ketika berangkat tadi aku sengaja tidak singgah di warung untuk makan/minum. Aku memang tidak terbiasa makan di waktu pagi. Aku biasanya baru makan setelah pukul 10.00 Wib. Tak jauh dari tempatku duduk ada Restoran Bangkalan. Aku masuk ke sana dan memesan soto ayam dan teh hangat. Tarifnya Rp. 40.000,-.
Supaya tidak bosan duduk berlama-lama di satu tempat aku kemudian berjalan-jalan dari ujung ke ujung. Mulai dari terminal dalam negeri hingga terminal luar negeri. Selebihnya kuisi waktuku dengan bolak-balik ke toilet. Kadang kala aku terlibat pembicaraan dengan orang-orang yang berada di Juanda. Banyak orang dari berbagai profesi dan asal daerah telah terlibat pembicaraan denganku. Banyak hal yang kami bahas sekadar untuk mengisi waktu luang selama berada di kawasan Juanda yang hawanya panas ini.

Pukul 14.00 Wib
Perutku kembali minta diisi dan aku masuk lagi ke Restoran Bangkalan. Kali ini aku memesan nasi rawon dan secangkir teh es. Tarifnya Rp. 45.000,- Setelah itu aku membeli es krim seharga Rp. 12.500,- per cangkir. Eh, ternyata es krimnya enak sekali. Aku kembali membeli secangkir lagi dengan harga tetap Rp. 12.500,-. Selama di Juanda aku juga membeli SKH Kompas Jakarta dan SKH Media Indonesia Jakarta. Keduanya memuat berita tentang tabrakan maut antara truk tangki BBM versus kereta api di lintasan kereta api yang ada di kawasan Bintaro.

 Pukul 15.00 Wib
Aku masuk ke ruang pencetakan ticketing dan boardingpas.  Tapi, aku tak bisa melakukan pencetakan tiket dan boardingpass. “Belum waktunya, Pak!” kata orang yang bertugas di sana.
Sekitar pukul 16.00 Wib tiba-tiba masuk satu rombongan besar ke ruang pencetakan ticketing dan boardingpass. Laki, wanita, tua, muda, langsung antri di depan loket. Tidak ada pemberitahuan pada papan elektronik di atas loket itu. Namun, petugas yang ada di sana aktif melayani mereka. Dari pembicaraan yang kucuri dengar kuketahui bahwa mereka berasal dari Kalsel, sama denganku.
Waw, jika aku harus ikut antri bersama mereka maka pastilah akan memakan waktu lama. Hampir bisa dikata loket ketika itu dikuasai secara dominan oleh mereka. Aku maju ke loket yang ada di sebelahnya, kebetulan di situ juga ada petugasnya. 
"Maaf, Pak. Apakah tiket dan boardingpass untuk penerbangan pesawat Lion Air berkode JT 212 bisa didaftarkan dan dicetak di loket ini, Pak?". 
"Ya!," jawab petugas.
Aku lalu menyodorkan surat keterangan pembelian tiket yang diterbitkan oleh agen perjalanan PT. Sinar Mulya Anugerah, Jalan Demak 449 Surabaya. Petugas itu kemudian mencetak tiket dan boardingpass atas namaku.
“Rombongan di sebelah, dari mana, pak. Kok banyak sekali?"   
“Mereka rombongan ziarah Walisongo dari Kalsel. Jumlahnya  95 orang. Mereka semua akan terbang satu pesawat dengan Bapak.”
“O, pantas.”
Setelah itu aku langsung naik ke Gate 3 sesuai petunjuk yang tertera pada tiket dan boardingpassku. Ternyata di ruang tunggu ini sudah penuh sesak dengan calon penumpang yang akan berangkat ke berbagai pelosok tanah air: Jakarta, Tarakan, Bali, Mataram dan lain-lain. Ruang tunggu ini tak pernah sepi, begitu satu rombongan diberangkatkan masuk lagi rombongan lain. Begitulah seterusnya.
Semakin lama semakin banyak  orang yang masuk ke ruang tunggu ini. Lebih-lebih ketika Rombongan Ziarah Walisongo dari Kalsel selesai menjalani proses administrasi di loket ticketing dan boardingpass. Mereka semua sudah barang tentu juga masuk ke ruang tunggu ini.

Pukul 18.00 Wib
        Pesawat terbang Lion Air dengan kode penerbangan JT 0224 tinggal landas menuju Bandar Udara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Satu jam kemudian pesawat mendarat dengan mulusnya. Alhamdulillah.

        Aku tidak perlu ikut antri berlama-lama mengambil tas di bagian bagasi karena barang bawaanku telah lengkap kumuat di dalam sebuah tas yang dapat kubawa dengan mudah ke dalam pesawat dengan cara ditenteng saja. Tidak seperti seorang menteri yang mentang-mentang berstatus sebagai pejabat negara tanpa malu-malu nekat membawa 6 buah kopernya masuk ke dalam pesawat terbang yang ditumpanginya.
         Tak jauh dari pintu ke luar bangunan induk bandara kulihat orang-orang berjubel antri memesan taksi bandara yang bakal membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak ikut memesan taksi bandara, tarif taksi bandara ke rumahku di bilangan Jalan Mayjen Soetoyo S relatif mahal, yakni Rp. 150.000,- (harga dua bulan yang lalu).  
         Aku langsung berjalan kaki melenggang ke luar areal bandara, beberapa orang supir taksi menawarkan jasanya dengan tarif lebih murah yakni Rp. 110.000,-. Patut diduga harga ini  masih bisa ditawar. Aku sendiri memilih jasa ojek untuk mengantarkanku ke lokasi bundaran jalan masuk ke bandara. Tarifnya Rp. 15.000,- sekitar lima menit aku sudah tiba di tempat tujuan.
        Aku kemudian berdiri menunggu taksi colt lewat di jalan raya Jenderal Ahmad Yani Kilometer 24, Landasan Ulin, Banjarbaru. Cukup lama aku berdiri di tepi jalan raya ini, lebih 1 jam baru ada taksi colt yang melintas di depanku. Aku memberi isyarat dengan tanganku, supir taksi colt menghentikan mobilnya, dan aku segera naik ke dalamnya. Kulihat cuma ada 2 penumpang yang dibawa taksi colt ini. Untunglah, tidak lama kemudian, tepatnya di kawasan Liang Anggang masuk lagi enam orang penumpang. Dari percakapan yang kudengar antara pak sopir dan salah seorang penumpang yang duduk di depan, kuketahui bahwa taksi colt ini berasal dari Kandangan.
Sekitar 30 menit kemudian taksi colt yang kutumpangi tiba di Terminal Kilometer Enam. Ternyata taksi colt tidak masuk ke dalam terminal. Para penumpang diturunkan di dekat kerumunan tukang ojek yang mangkal di sana. Pak sopir menarik tarif sebesar Rp. 10.000,- untuk jasanya membawaku dari kawasan Landasan Ulin, Banjarbaru, ke Terminal Kilometer 6 Banjarmasin.
        Semua penumpang ternyata memilih naik ojek. Tidak ada pilihan lain, karena tidak ada taksi kota yang mangkal di sini malam itu. Aku sendiri naik ojek ke RSUD Ulin Banjarmasin. Tarifnya Rp. 20.000,-. Aku sengaja minta singgah di RSUD Ulin karena ingin singgah di sebuah warung yang ada di pinggir jalan raya di dekat jalan ke luar RSUD Ulin Banjarmasin. Ternyata warung itu tidak buka malam ini.
Aku kemudian melenggang menuju ke jalan raya untuk mencari ojek kembali. Ketika itulah di belakangku kudengar ada seseorang menawarkan jasanya. 
“Ojek, Pak?”
 "Ya!" sahutku spontan. 
Akhirnya disepakati tarifnya Rp. 20.000,- dan sesuai dengan kesepakatan aku diantarkan olehnya sampai ke depan pagar rumahku. Begitulah, aku akhirnya tiba dengan selamat di rumah dan bertemu kembali dengan anak dan istriku setelah berpisah selama 4 hari 4 malam. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt semata. 
       
                 Banjarmasin, 11 Desember 2013.
   
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar