HARI PERTAMA DI MALAYSIA, RABU, 4 APRIL 2012
Pukul 12.00 WM
Pesawat terbang Lion Air yang kutumpangi mendarat di
lapangan terbang internasional Subang, Kuala Lumpur, Malaysia.
Aku dan rombongan keluar dengan tertib dari badan
pesawat menuju ke terminal kedatangan. Kami naik trem listrik menuju ke konter
imigrasi dan mengambil bagasi.
Pukul 13.00 WM
Kami semua selesai menjalani proses administrasi di
konter imigrasi, dan segera mengambil barang bawaan kami di konter bagasi.
Tiba-tiba
HP-ku berbunyi, ada pesan masuk, ternyata SMS dari operator selular yang
mengucapkan selamat datang di Malaysia. Sejak itu, HP-ku tak bisa digunakan
untuk menghubungi nomor-nomor yang ada di tanah air, begitu pula sebaliknya. Kami
cuma bisa berhubungan dengan fasilitas SMS, dengan tarif Rp. 5.000,- per SMS. Aku harus ganti nomor HP
selama berada di Malaysia. Tapi itu tak kulakukan.
Ternyata, penjemput kami dari Pertubuhan Banjar
Malaysia (PBM) Kuala Lumpur, sudah menunggu. Kami segera masuk ke dalam bis
jemputan yang disediakan.
Pukul 14.00 WM
Bis mulai bergerak meninggalkan tempat parkirnya di
samping gedung utama lapangan terbang internasional Subang.
Menurut keterangan penjemput kami (. Idris Ali Badrun),
bis yang kami tumpangi sedang melaju menuju ke rumah Timbalan Yang Dipertua (TYD)
PBM yang terletak di pusat kota Shah Alam.
Namun, baru berjalan sekitar 30 menit, bis sudah dibelokan
supirnya ke tempat parkir di lingkungan sebuah komplek pertokoan yang disebut pakan oleh penjemput yang bertindak
selaku pemandu kami.
“Kita singgah satumat
di pakan untuk beristirahat barang
sejenak. Bapak ibu dipersilakan untuk ke toilet, babarasih awak di kamar mandi, sholat Zuhur, atau makan, minum di
kedai. Perjalanan kita masih jauh,” ujar penjemput kami menjelaskan.
Yes, kataku di dalam hati.
Inilah yang kutunggu-tunggu sejak tadi. Aku sudah kebelet ingin segera buang air kecil.
Maklumlah keinginan arus bawah itu
sudah sejak tadi kutahan-tahan pelampiasannya.
Aku tak berani masuk toilet (tandas awam) yang ada di areal lapangan terbang Subang, aku takut
ditinggal kawan-kawan seperjalananku, dan kehilangan jejak mereka di negeri
serumpun ini. Kekhawatiran yang sangat berlebihan, tentu saja, bagaimana
mungkin kawan-kawan seperjalananku tega meninggalkanku pelangak-pelongok di negeri jiran ini.
Meskipun pernah berkunjung ke Malaysia pada tahun 1993
yang lalu, namun, pengetahuanku tentang seluk beluk jalan-jalan di kota Kuala
Lumpur sangatlah minim. Pendek kata, aku dijamin pasti kesasar, jika dibiarkan
mencari jalan sendiri menuju ke alamat kantor pusat PBM di Kuala Lumpur.
Aku bergegas ke arah yang ditunjukan oleh penjemput
kami yang bertindak sebagai pemandu perjalanan. Setelah selesai buang air
kecil, aku kemudian berkeliling komplek pertokoan untuk mencari tempat
penukaran uang. Tanpa uang ringgit aku tidak bisa membeli apapun juga di sini.
Padahal, aku mau beli minuman dan makan bakso. Setelah lelah berkeliling aku
kemudian bertanya kepada salah seorang penjaga warung makan.
“Tanya, Cik. Kalau mau tukar uang di mana, Cik?”
“Money changer. Tak ada di sini, Cik. Cik mau tukar
uang berapa banyak?”
“Seratus ringgit.”
“Bisa tukar sama awak, Cik. Tiga ratus lima puluh ribu
rupiah. Mau, Cik?
“Mau,” ujarku spontan, sambil mengeluarkan 7 lembar
uang lima puluhan dari dalam dompetku yang ketika itu masih tebal (bal).
“Hehehe, itu mah kecil,” ujarku di dalam hati sambil
tersenyum kepada penjaga warung makan itu.
Belakangan, dalam percakapan lebih lanjut
terbongkarlah identitasnya. Ia ternyata orang Indonesia jua, sama seperti
diriku. Ia orang Aceh yang sedang menjalani profesi sebagai tenaga kerja
Indonesia di negeri jiran ini.
Setelah itu, aku pamit padanya dan segera bergabung
dengan kawan-kawan seperjalanan yang duduk berkelompok-kelompok di sejumlah
warung makan di komplek pertokoan itu.
Ternyata, ada beberapa kawan yang masih kebingungan
mencari tempat penukaran uang. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, mau pesan
makanan atau minuman tidak bisa. Mau minta traktir sama teman, sungkan.
“Imak di mana
bahurup duit, Din?” Tanya Micky Hidayat.
“Di situ, ayo kutunjukkan,” ujarku.
Aku segera membawa Micky Hidayat ke lokasi penukaran
uang dadakan di sekitar komplek pertokoan dimaksud.
Bermodal uang ringgit di tangan, aku dan Micky Hidayat
kemudian memesan makanan sejenis bakso di sebuah warung milik orang Srilangka.
Selesai makan, aku dan Micky Hidayat menyulut rokok masing-masing. Nikmat.
Pukul 15.30 WM
Tidak berselang lama, kami diminta untuk masuk kembali
ke bis. Bis yang kami tumpangi sangat besar, mampu menampung semua anggota rombongan
yang jumlahnya 60 orang. Kami berasal
dari dua rombongan, yakni rombongan pengurus Dewan Kesenian Kalsel (DKKS) dan
rombongan para pemain tenis yang berasal dari berbagai daerah di Kalsel.
Aku sendiri termasuk dalam rombongan DKKS di bawah
pimpinan Bapak Drs. H. Syarifuddin R, selaku Ketua Harian. Dalam rombongan kami
juga ikut Jon Tralala dan Hendra, keduanya akan tampil melantunkan syair-syair
Madihin di hadapan orang-orang Malaysia keturunan Banjar.
Menurut rencana rombongan kami akan berada di Malaysia
selama 5 hari. Status kami adalah sebagai tamu resmi KBM. Agaknya perlu
kujelaskan bahwa PBM adalah organisasi social tempat berhimpunnya segenap anak,
cucu, intah, piat keturunan perantau Banjar di Malaysia.
Mereka inilah yang menjadi tuan rumah kami selama
berada di Malaysia. Organisasi PBM ada di semua negara bagian. Pihak yang
menjadi tuan tumah kami berganti-ganti sesuai dengan wilayah tempat di mana
kami berada.
Meskipun berada jauh dari tanah leluhurnya, dan banyak
diantara mereka yang belum pernah berkunjung ke tanah leluhurnya, namun mereka
masih menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa ibu di kalangan mereka.
“Jangan cakap bahasa Indonesia, cakaplah dalam bahasa
Banjar. Kami di sini tak mengerti bahasa Indonesia,” ujar salah seorang
pengurus KBM ketika berbincang-bincang denganku.
“O, ya, ya. Baiklah,” ujarku.
Usul yang masuk akal kataku. Jika aku menggunakan
bahasa Indonesia, maka lawan bicaraku tak bisa langsung mengerti, apa yang
kukatakan. Sebaliknya jika teman bicaraku menggunakan bahasa Melayu, maka aku juga
yang tidak langsung mengerti apa yang dikatakannya.
Begitulah,
selama 5 hari berada di Malaysia kami seperti berada tak jauh dari kota
Banjarmasin. Rasa-rasanya kami pada waktu itu sedang berada di daerah di Banua
Lima saja. Topografi alamnya sama sekali tak beda dengan topografi daerah Banua
Lima. Raut wajah orang-orang PBM sendiri tak beda dengan wajah kami pada
umumnya, karena memang berasal dari satu genetic suku bangsa yang sama,
ditambah lagi dengan bahasa yang kami gunakan juga sama, yakni bahasa Banjar.
Pukul 17.00 WM
Setelah menempuh perjalanan sekitar 90 menit nus yang
kami tumpangi tiba di tempat tujuan, yakni rumah TYD PBM yang terletak di pusat kota Shah Alam.
Tahun 1993,
aku pernah mondar-mandir naik taksi dan jalan kaki selama 3 hari berturut-turut
di sejumlah tempat di kota Shah Alam ini. Ketika itu aku datang sebagai tamu
Gabungan Penulis Nasional (GAPENA) Malaysia, yakni sebagai peserta Hari Sastra
Malaysia. Kulihat, kota Shah Alam sudah jauh berbeda dengan kota Shah Alam
sekitar 18 tahun yang silam.
Aku sebenarnya ingin melakukan perjalanan napak tilas
di kota ini, tapi bagaimana mungkin, aku sendiri sudah lupa sudut-sudut kota
mana saja yang dulu sempat kukunjungi.
Benar saja, di rumah TYD PBM ini kami dijamu makan
besar oleh tuan rumah. Setelah acara makan-makan selesai, maka dimulailah acara
ramah tamah. Ada pidato sambutan dari TYD PBM selaku tuan rumah, dan ada pidato
balasan dari Pak Syarifuddin R.
Pukul 18.30 WM
Setelah acara jamuan makan selesai, kami diantar ke
tempat penginapan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Letaknya masih di
tengah kota Shah Alam.
Selain acara makan malam, tidak ada acara lain pada
malam itu. Selepas Isya kami mengobrol di lobi penginapan dengan teman-teman
serombongan.
Beberapa teman yang mempunyai kontak pribadi dengan
koleganya di Malaysia segera minta diri karena dijemput oleh koleganya
masing-masing. Aku dan beberapa teman lain tetap tinggal di penginapan.
Setelah lelah berbincang-bincang di lobi, aku minta
diri untuk tidur. Ranjangku berada di ruang terbuka, tidak di dalam kamar, tak
jauh dari situ ada kipas angin yang dinyalakan semalam suntuk.
HARI KEDUA DI MALAYSIA, KAMIS, 5 APRIL 2012
Pukul 08.00 WM
Rombongan kami di bawa melancong keliling kota Kuala
Lumpur. Tujuan kami sebenarnya adalah berkunjung ke Gedung Parlemen Malaysia.
Menurut pemandu kami ada acara bagus yang layak disimak
di sana, yakni dengar pendapat dengan sejumlah anggota cabinet. Di mana
beberapa orang di antaranya merupakan warga Negara Malaysia keturunan Banjar.
Jadi masih kolega PBM juga.
Aku melihat kanan-kiri jalan-jalan besar yang
menghubungkan kota Shah Alam dan Kuala Lumpur ini ditanami dengan kelapa sawit,
dan aneka jenis pepohonan lainnya. Pepohonan yang berfungsi sebagai penaung
jalan raya itu tampak jelas sengaja ditata dengan sentuhan tangan-tangan
terampil para ahli lanskap yang piawai.
Begitu pula halnya dengan rerumputan dan tanaman hias
lainnya sangat indah dipandang mata. Di sana-sini kulihat para petugas
pertamanan sedang sibuk bekerja memastikan keasrian taman dengan rajinnya
Di kota-kota
besar di tanah air kita, pohon-pohon besar yang rindang di tepi jalan,
lebih-lebih yang tumbuh di dekat tanah lapang adalah tempat yang ideal untuk
berjualan bakmi, bakso, es campur, es nyiur,
gorengan, pentol, telur puyuh dan lain-lain. Di sini, di kota Shah Alam,
dan Kuala Lumpur, tak ada orang berjualan di bawah pohon-pohon besar yang
tumbuh rindang di pinggir jalan.
Selain itu, kulihat, hampir-hampir tak ada rumah
penduduk yang dibangun tepat di pinggir jalan raya yang kami lalui. Jejeran atap-atap
rumah penduduk kulihat berada nun jauh di sana, mungkin sekitar 2 kilometer
dari jalan raya. Pemandangan itu menimbulkan kesan bahwa komplek pemukiman
warga kota sengaja dibangun jauh dari jalan raya. Boleh jadi rumah-rumah itu
dulunya juga terletak di tepi jalan raya, namun kemudian digusur menjauhi jalan
raya. Entahlah, aku tak sempat menanyakannya kepada pemandu kami.
Tak lama berselang, salah seorang pemandu kami
membagi-bagikan balpoin bertuliskan KBM Kulaaan banjar Malaysia). Seorang kawan
menyeletuk bahwa beliau adalah agen Toko Taat di Malaysia. Hahaha, hampir semua
orang tertawa ngakak mendengar celetukan itu.
Bagaimana mungkin Toko Taat punya agen di Shah Alam?
Hahaha, kawan kami yang satu ini memang dikenal punya banyak ide lucu.
Lelucon-leluconnya membuat suasana menjadi semakin hangat dan semarak saja
dibuatnya. Sangat menghibur, terima kasih, kawan.
Toko Taat
adalah toko penjual alat-alat tulis yang terbilang cukup dikenal di kota
Banjarmasin. Setiap awal tahun ajaran Toko Taat menjadi tempat yang paling
banyak dituju oleh warga kota Banjarmasin yang ingin berbelanja berbagai macam
alat tulis keperluan sekolah.
09.30 WM
Sama seperti kemarin, perjalanan darat dengan bis dari
Shah Alam ke Kuala Lumpur memakan waktu tempuh sekitar 90 menit. Bis kami tiba
di tempat tujuan, yakni Gedung Parlemen Malaysia.
Aku segera turun dari bis karena sejak tadi kebelet pipis. Aku masuk ke pos satpam
karena yakin di sana pasti ada toilet. Benar saja, setelah menyalami para
petugas yang ada di sana, aku minta izin untuk menumpang buang air kecil.
Baru sebentar berada di toilet sudah ada orang yang
mengetuk pintunya. Salah seorang anggota satpam sengaja melakukan pengetukan.
Patut diduga satpam itu khawatir aku bertelur
alias buang hajat besar di toilet itu. Sungguh, sejatinya aku memang ingin numpang
bertelur di situ. Hehehe, gagal deh.
Setelah melalui proses protokoler yang lumayan
panjang, ketat, dan rumit, kami akhirnya bisa
masuk ke gedung untuk menyimak jalannya acara dengar pendapat. Tidak
semua anggota rombongan diizinkan masuk ke gedung parlemen, karena mereka mengenakan
celana jeans, baju berlengan pendek, atau mengenakan sandal.
Aku termasuk orang yang dibolehkan masuk ke gedung
parlemen, karena mengenakan baju resmi DKKS yang berlengan panjang.
Sebelum masuk ke ruang sidang, semua telepon genggam kami ditaruh di meja petugas keamanan yang
berjaga di dekat pintu masuk. Sebelum duduk di kursi yang ada di ruang sidang
parlemen, kami semua harus memberi hormat kepada ketua parlemen dengan cara
menundukkan kepala.
Selama berada di ruang sidang parlemen para hadirin dilarang
keras mengantuk apa lagi tidur mendengkur. Aku melihat dengan mata kepalaku
sendiri, seorang petugas keamanan
mendatangi seorang pengunjung sidang yang kepalanya terangguk-angguk karena
menahan kantuk. Ia diberi peringatan dan jika memang dalam keadaan mengantuk
berat disarankan untuk ke luar saja dari ruang sidang yang terhormat itu.
Hehehe, di
tanah air kita, jangan kata pengunjung sidang, anggota dewan yang terhormat sekalipun
boleh saja mengikuti sidang sambil tidur mendengkur. Bahkan, pernah terjadi ada
anggota dewan yang berani mengikuti sidang sambil memirsa film blue atau video
porno.
Nah, lho. Di
gedung parlemen Malaysia jangan harap bisa begitu, risikonya sangat besar, dan
anggota parlemen yang bersangkutan akan mendapat malu besar karena perilaku
buruknya itu sudah pasti akan terekam dengan jelasnya dalam sorotan kamera CCTV
dan kamera telvisi.
Dari tempat dudukku, aku melihat ada seorang anggota
parlemen wanita yang berulang kali mengangkat tangan minta izin bicara kepada
ketua parlemen, tetapi ketua parlemen tak pernah mengizinkannya.
Dari seorang kawan yang duduk di sampingku. aku
memperoleh informasi bahwa anggota parlemen itu adalah Nurul Izzah anak tokoh
oposisi Malaysia Anwar Ibrahim. Agaknya perlu aku jelaskan bahwa kawanku ini
adalah salah seorang pengagum berat Nurul Izzah.
Saking kagumnya, maka ia pernah bersengaja menulis
puisi pujian untuk idolanya itu. Bahkan ia ketika itu berkata kepadaku bahwa
jika pada suatu hari nanti ia berkesempatan mengunjungi Malaysia, maka ia akan
menyerahkan puisinya itu langsung setangan kepada Nurul Izzah.
Hehehe, sampai pulang kembali ke Banjarmasin,
puisi dimaksud tak kunjung bisa disampaikannya kepada Nurul Izzah. Selama
berada di Malaysia ia tak punya kesempatan untuk memenuhi keinginan lamanya
itu. Kasihan, hehehe…
“Kirim lewat
pos saja, Bung,” saranku. “Atau kirimkan lewat duta besar.” .
Pukul 14.00 WM
Sepulang dari gedung parlemen kami dibawa lagi ke
kawasan Stadium Olahraga Nasional Malaysia yang berada di Bukit Jalil. Di sini
kami menonton pertandingan tenis antara rombongan dari Kalsel melawan tuan
rumah.
Sesuai dengan kepentingan masing-masing, maka
rombongan dibagi dua, rombongan pemain tenis tetap melanjutkan pertandingannya
di tempat itu, dan rombongan kesenian melanjutkan perjalanan ke Sabak Bernam
dengan bis yang baru dicarter. Bis lama stand by menunggu sampai berakhirnya
pertandingan tenis.
Pukul 15.30 WM
Aku dan rombongan dibawa melaju ke pusat kota Kuala
Lumpur. Kami singgah sekitar 120 menit di kawasan Menara Kembar Petronas.
Masing-masing anggota rombongan diberi kebebasan untuk masuk ke pusat
perbelanjaan yang ada di kawasan itu, dan akan dijemput 120 menit kemudian.
Pukul 17.30
Sesuai jadwal yang disepakati kami dijemput di tempat
berkumpul yang sudah ditetapkan. Tapi, tak lama berjalan, bis kami berhenti lagi di kawasan Pudu Raya,
masih di pusat kota Kuala Lumpur. Kami kembali diberi waktu untuk
berjalan-jalan di kawasan ini selama 120 menit juga. Setelah menurunkan kami, bis
segara berlalu meninggalkan kami, bis tidak boleh parkir di kawasan ini.
Pukul 20.00 WM
Kawasan Pudu
Raya adalah kawasan yang pernah kukunjungi pada tahun 1993. Aku kembali
menapak-tilasi perjalanan pada 19 tahun yang lalu. Aku kembali berdiri di
tempat di mana dulu sempat kebingungan mencari tempat penginapan bertarif murah
di kawasan ini. Jika dulu momennya terjadi pada pukul 24.00 WM maka kini
terjadi pada pukul 20.00 WM.
Suasana di kawasan ini masih sangat ramai. Banyak orang
berlalu lalang kian kemari, mobil, dan sepeda motor berseliweran seperti tak
pernah habis-habisnya. Aku dan beberapa kawan bersepakat untuk mencari warung
makan di sekitar tempat itu. Ternyata di setiap gang di kawasan ini ada sejumlah
warung makan yang murah meriah. Tarif makannya per porsi antara 5-7 ringgit
(Rp. 15.000,- sampai 21.000,-). Tak jauh beda dengan harga makanan di kota
Banjarmasin.
Berbeda dengan di kawasan pusat pertokoan di dekat lapangan
terbang internasional Subang kemarin, di kawasan Pudu Raya banyak kujumpai
tempat-tempat penukaran uang. Aku kembali menukarkan uang rupiahku dengan
ringgit. Harganya sama, yakni Rp. 350.000,- untuk 100 ringgit. Uang ringgitku
sebenarnya masih tersisa 90 ringgit, karena baru kugunakan 10 ringgit untuk
membayar makan minum kemarin. Aku sengaja menukarkan uang lagi karena khawatir
kehabisan uang ringgit, dan mengalami kesulitan untuk menukarannya di Sabak
Bernam nanti.
Setelah menukarkan uang di money changger aku dan dua
orang kawan singgah di sebuah warung makan yang kebetulan agak sepi
pengunjungnya, sehingga urusan mengisi perut ini menjadi lancar karenanya. Malam
itu aku memesan nasi putih dengan lauk pauk ayam goreng. Harganya 5 ringgit
atau sekitar Rp. 17.500,-
Sehabis makan, aku dan dua orang kawan tadi berjalan-jalan
cuci mata ke kawasan pasar malam yang situasi dan kondisinya lebih ramai dari
pasar belauran atau pasar tungging di Banjarmasin. Kami bermaksud membeli
oleh-oleh berupa kaos oblong bergambar Menara Kembar Petronas.
Namun, selama berada di kawasan pasar malam itu aku
merasa terganggu, karena kulihat sebentar-sebentar ada kilatan cahaya senter.
Kilatan cahaya senter itu mengiringi ke mana pun kami berjalan. Aku tidak tahu
apa maksud orang itu menyalakan senter. Apakah itu sebagai isyarat bagi para
pengunjung pasar malam agar berhati-hati karena ada copet sedang berkeliaran mengincar
dompet mereka. Ataukah itu merupakan isyarat bagi kami, bahwa di sekitar kami ada
copet local sedang mengincar dompet kami. Atau bisa juga itu bukan merupakan
isyarat apa-apa, tetapi cuma sekadar ulah iseng pedagang kaki lima yang jengkel
karena kami tak jadi membeli kaos oblong yang dijualnya. Wallahualam bissawab.
21.00 WM
Sekitar 60 menit, kami semua sudah merasa kelelahan
berjalan-jalan cuci mata di kawasan pasar malam. Kami lalu berkumpul di tempat
yang sudah ditetapkan oleh pemandu. Sopir bis segera dihubungi untuk segera
menjemput kami. Sementara menunggu kedatangan bis jemputan itu, aku melihat sebuah pemandangan ganjil tak jauh dari
tempatku berdiri. Kulihat ada antrian panjang di tempat yang diberi beratap
sebagaimana layaknya lorong-lorong koridor di rumah sakit.
Aku sangat penasaran dengan pemandangan itu, lalu aku
bertanya kepada penjual es yang mangkal di sekitar tempat itu. Penjual es
menjelaskan bahwa orang-orang itu tengah menunggu kedatangan bis reguler dengan
tujuan kota tertentu. Mengagumkan, bis yang mereka tunggu belum datang, dan tak
tahu kapan datangnya, tapi mereka sebagai calon penumpangnya sudah antri
menunggu dengan sabar dan tertib di tempat yang disediakan untuk itu.
Di Indonesia,
calon penumpang bis tidak pernah mau antri seperti itu, dan lagi tempat
antrinya juga tak ada. Mereka berdiri di mana mereka suka di halte-halte yang
sangat minim fasilitasnya. Ketika bis yang ditunggu datang, mereka akan segera
berlarian, saling berlomba adu cepat mengejar bis itu, dan naik berebutan
sambil melakukan sikut menyikut ke kiri dan kanan. Tidak jarang dalam drama adu
cepat merebut tempat duduk di bis ini, jatuh korban sia-sia. Ada yang terjerembab,
terkilir, luka ringan, atau luka parah akibat terinjak-injak calon penumpang
lain, atau bahkan ada yang tewas secara mengenaskan akibat dilindas mobil lain
yang melintas kencang di tempat kejadian perkara.
Tidak lama kemudian, bis regular antar kota yang
mereka tunggu tiba di tempat antrian. Kulihat seorang wanita muda turun dari
dalam bis, ia rupanya kondektur bis itu. Pakaian dinas yang dikenakannya warna
putih bersetrip merah di leher baju, lengan baju, dan di bagian kancing baju.
Begitu turun dari bis, kondektur wanita itu bergerak
cepat menghitung calon penumpang yang sedang antri itu. Tak ada satu pun calon
penumpang yang langsung bergegas masuk ke dalam bis. Mereka dengan sabar
menunggu hingga kondektur selesai menghitung calon penumpang yang boleh masuk
ke dalam bis sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia.
Entah sampai hitungan ke berapa, kondektur wanita itu
kulihat berhenti dengan sikap tubuh menghalangi langkah maju calon penumpang
yang berada persis di hadapannya. Ia lalu mempersilakan calon penumpangnya
masuk ke dalam bis. Calon penumpang yang tak terangkut karena bis sudah penuh, harus
bersabar menunggu kedatangan bis regular berikutnya. Tidak ada penumpang yang
protes atau pun berbuat ulah macam-macam. Sungguh tertib calon penumpang bis di
kota Kuala Lumpur ini.
“Amboi,
mengagumkan,” gumam kami serempak sambil tersenyum simpul penuh arti. “Kapan
bangsa kita bisa antri dengan disiplin seperti mereka,” timpal seorang kawan. “Ya,
kapan budaya saling berebutan bisa dienyahkan dari kehidupan keseharian bangsa
kita,” timpal yang lain.
“Mungkin masih satu abad lagi, karena hingga kini bangsa
kita setiap hari masih dipaksa oleh situasi dan kondisi untuk selalu berebutan
dalam meraih sesuatu. Setiap orang di tanah air kita, tanpa kecuali, harus
selalu siap sedia untuk saling fight
satu sama lainnya.”
Di tanah air kita
tidak ada pembatasan calon penumpang bis seperti di Malaysia, semua boleh masuk
ke dalam bis yang sudah sarat penumpang sekalipun. Mereka yang tidak kebagian
tempat duduk harus rela berdiri sambil bergelantungan di sepanjang perjalanan.
Ironisnya, tidak ada potongan tarif untuk mereka, berdiri atau duduk tarifnya
sama saja.
Bepergian
dengan bis angkutan umum di tanah air kita adalah perjalanan yang sangat
menyiksa. Bis selalu penuh sesak dengan penumpang, hawa panas membuat tubuh
berpeluh, bau apak dan bau keringat berpadu jadi satu, dan banyak copet yang
siap mengambil alih dompet kita. Ketidak-nyaman
itulah yang membuat mereka menjadi traumatis naik angkutan umum.
Setiap tahun
menjelang tibanya hari raya idul fitri, orang-orang lebih suka pulang mudik
dengan mengendarai sepeda motor, tak peduli jika untuk itu mereka harus
menghadapi kemungkinan mengalami kecelakaan di jalan raya. Setiap tahun, ribuan
orang pemudik lebaran di tanah air kita tewas sia-sia karena sepeda motor yang mereka
tunggangi mengalami kecelakaan fatal di jalan raya.
Pukul 22.00 WM
Tidak lama kemudian datanglah bis jemputan kami. Malam
itu bis kami melaju kencang menuju ke Sabak Bernam.
Pukul 01.00 WM
Bis kami singgah di sebuah rumah makan. Kami dijamu makan
malam oleh seorang pejabat local yang juga menjadi petinggi PBM di distrik setempat.
Setelah makan malam, kami diantar ke tempat penginapan. Ternyata rombongan
pemain tenis sudah datang lebih dulu di tempat penginapan. Kami diinapkan di
asrama tempat pendidikan dan pelatihan bagi para guru di wilayah Sabak Bernam.
Sabak Barnam adalah nama kota di Negara Bagian
Selangor, sekitar 80 kilometer dari kota Kuala Lumpur. Nama Sabak Bernam
berasal dari kata sabak artinya dapur dan bernam artinya enam. Jadi sabak
bernam artinya dapur milik enam orang sahabat. Pemilik dapur dimaksud terdiri
dari lima orang pria dan satu orang wanita. Mereka adalah orang yang dulu
berjasa membuka daerah ini sebagai tempat pemukiman.
HARI KETIGA DI MALAYSIA, JUM.AT, 6 APRIL 2012
Pukul 07.00 WM
Rombongan pemain tenis sudah siap meninggalkan Serbak
Bernam menuju ke kota Johor Bahru. Selepas bertanding main tenis di Johor
Bahru, rombongan mereka akan kembali ke tanah air melalui lapangan terbang
internasional Changi Singapura. Rombongan kami sendiri tetap tinggal di Serbak
Bernam. Agenda kami memang berbeda dengan mereka.
Tiba-tiba
HP-ku berbunyi, ada pesan masuk, ternyata SMS dari adikku (Ardiansyah Noor) di
Batu Kajang, Kaltim, mengabarkan bahwa mertua adikku (Sri Dartika) yang tinggal
di Samarinda, Kaltim, meninggal dunia subuh tadi (pukul 06.00 WIT). Akan
dikebumikan pada hari ini juga setelah sholat Jum’at, pukul 14.00 WIT.
Aku segera
mengirim SMS balasan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Turut berduka cita
atas meninggalnya ibunda. Semoga beliau mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.
Amin. SMS yang sama kukirimkan ke nomor HP milik adikku (Sri Dartika) yang tinggal di Samarinda. Adik-adikku
terkejut begitu mengetahui bahwa aku sekarang ini sedang berada di Sabak
Bernam, Malaysia. Jangan lupa oleh-olehnya kata mereka lewat SMS juga.
Pada saat itu
terbayanglah peristiwa yang terjadi setahun yang lalu. Itulah kali yang pertama
aku dan istriku bertemu dengan mertua adikku yang baru saja dipanggil-Nya pada
hari ini. Memang, inilah kali yang pertama aku dan istriku bisa mengunjungi
beliau di Samarinda. Ketika itu aku dan istriku datang ke Samarinda sebagai
pembicara dalam acara Dialog Borneo 2011. Aku dan istriku bersengaja datang
sehari lebih awal dari jadwal agar bisa mengunjungi adikku. Adikku sendiri
sudah tinggal di Samarinda sejak tahun 1980-an.
Pukul 12.00 WM.
Aku dan anggota rombongan lainnya pergi ke masjid yang
letaknya tak jauh dari tempat penginapan kami untuk melaksanakan shalat Jum’at
berjemaah. Sementara menunggu tibanya waktu shalat Jum’at, takmir masjid menggelar
acara majelis taklim dengan pembicara seorang ulama setempat. Ceramah agama disampaikan
dengan menggunakan sarana teknologi canggih sebagaimana lajimnya yang digunakan
oleh para dosen ketika mereka memberikan kuliah di kampus-kampus.
Begitu tiba waktunya, majelis taklim ditutup dengan
doa, setelah itu bilal mengumandangkan azan. Selesai azan, sholat sunat 2
rakaat, dan khatib naik ke atas mimbar (bukan podium). Topik khutbah yang
disampaikan khatib ketika itu adalah tentang kesesatan aliran Syiah. Khutbah
Jum’at juga disampaikan dengan menggunakan sarana teknologi canggih sebagaimana
yang digunakan pada saat majelis taklim (dalam hal ini khatib dibantu oleh
seorang operator).
Materi khutbahnya sangat keras mengkritisi kesesatan aliran
Syiah. Gerakan anti-Syiah di Malaysia didukung sepenuhnya oleh pemerintah,
materi khutbah anti-aliran Syiah diproduksi oleh jawatan ugama, khatib tinggal
membacakannya saja. Cara ini tampaknya juga patut dipertimbangkan untuk diterapkan
di tanah air kita.
Selepas sholat Jum’at, aku mengucapkan do’a-do’a
rutinku kepada Allah Swt. Ya, Allah berilah kelapangan kubur kepada ayahku,
ibuku, kedua mertuaku, kakekku dan nenekku di kedua belah pihak, nini datuku di
kedua belah pihak, saudara-saudaraku, saudara-saudara ayahku, saudara-saudara
ibuku, dan mertua adikku yang baru saja Kau panggil hari ini. Limpahkan
rahmat-Mu kepada mereka semua. Berilah mereka semua tempat yang layak di
sisi-Mu, ya Allah… dst.
Pukul 14.00 WM
Kami diajak berwisata ke Malawati, sebuah objek wisata
di atas bukit yang relative tinggi. Kali ini kami tidak lagi menumpang bis,
tapi menumpang 6 buah mobil pribadi milik para anggota PBM Sebak Bernam. Jumlah
penumpang untuk setiap mobil berbeda-beda sesuai dengan kafasitas daya
tampungnya.
Dari puncak bukit Malawati kami dapat memantau situasi
dan kondisi yang terjadi di Selat Malaka. Pada zaman penjajahan Inggeris dulu, Bukit
Malawati dijadikan sebagai benteng pertahanan para pejuang Malaysia. Di tempat
ini pernah terjadi pertempuran sengit yang banyak membawa korban di kedua belah
pihak.
Sekarang, bukit ini difungsikan sebagai suaka
margasatwa untuk monyet berbulu hitam legam (bahasa Banjar, hirangan). Cukup banyak monyet
hitam,yang menghuni tempat ini. Sama seperti monyet di Pulau Kembang, Barito
Kuala, Kalsel, monyet-monyet hitam itu juga sangat jinak, dan tidak takut
bercengkrema dengan para wisatawan yang datang ke bukit Malawati. Para
wisatawan yang ingin memberi makan monyet bisa membeli kacang kulit yang banyak
dijual di lokasi wisata ini.
Tidak jauh dari lokasi ini ada akuarium ikan air tawar
dan taman burung endemic khas Malaysia. Kami juga diajak berwisata ke tempat
ini. Di sini kami dijamu oleh pengelola lokasi wisata. Salah satu suguhannya yang
sangat mengesankan adalah makan ubi kayu rebus campur ikan asin. Tak beda
dengan yang biasa kita lakukan di Kalsel.
Pukul 18.30 WM
Pulang dari sana, kami singgah di sebuah masjid besar
yang terletak di pinggir jalan, kami sholat Maghrib berjemaah di sana. Setelah
itu kami dibawa singgah di sebuah rumah makan untuk makan malam bersama.
Pukul 20.00 WM
Tak jauh dari tempat penginapan kami ada pasar malam, malam
itu kami sempat jalan-jalan melihat-lihat suasana pasar malam di Serbak Bernam.
Suasananya sama saja dengan pasar malam yang ada di kota Banjarmasin. Kami
hanya jalan-jalan melihat-lihat keadaan tanpa membeli barang suatu apa pun
juga. Tidak ada seorang pun yang tahu kami adalah warga asing. Maklumlah postur
tubuh dan wajah kami tak jauh berbeda dengan mereka.
Pukul 21.00 WM
Malam hari, tempat kami menginap dikunjungi oleh banyak
tokoh PBM. Mereka datang tidak hanya dari Sarbak Bernam, tetapi juga datang
dari tempat-tempat yang jauh, yakni dari Kuala Lumpur (tiga jam perjalanan) dan
kota-kota besar lainnya di Malaysia.
Suasananya sangat ramai, penuh kekeluargaan,
sebagaimana lajimnya dua kelompok sahabat kembali bertemu setelah lama hidup
terpisah. Kami saling bertukar cerita lucu satu sama lainnya, sehingga suasana
pertemuan pada malam itu menjadi penuh canda dan tawa.
HARI KEMPAT DI MALAYSIA, SABTU, 7 APRIL 2012
Pukul 08.00 WM
Hari ke empat di Malaysia, setelah makan pagi kami
dijemput untuk dibawa ke Kampung Sungai Manik Parit 5 oleh para pengurus KBM
Serbak Bernam. Kami menumpang 6 buah mobil yang berbeda merk dan kafasitas daya
tampungnya. Sebelum ke Kampung Sungai Manik Parit 5, kami menyempatkan diri
singgah di pasar Teluk Intan. Tepatnya kami singgah di menara condong yang
dibangun di sebuah lapangan terbuka.
Menurut penjelasan warga setempat, menara condong
berbentuk pagoda ini dibangun pada tahun 1895, Dibuat dari susunan batu bata
dan papan tebal. Pada mulanya difungsikan sebagai tandon air (water tank).
Tempatnya sangat strategis, sehingga mudah dikunjungi orang.
Dibandingkan tempat wisata lainnya, tempat ini tercatat
sebagai tempat wisata yang paling banyak dikunjungi orang di Negara Bagian
Perak Darul Riduan. Hari itu kulihat banyak turis local dan turis asing
berkunjung ke sini. Dari kaos oblong yang mereka kenakan diketahui bahwa
sebagian dari mereka datang dari Negara Bagian Sabah dan Sarawak.
Di
Banjarmasin, menara air semacam ini juga ada, yakni tower PDAM di Jalan Mayjen
Soetoyo S. Tower yang dibangun dengan memakan biaya sangat besar ini tak pernah
digunakan sesuai rencana. Kesalahan teknis dalam pembangunannya membuatnya
menjadi bangunan mubazir symbol ketidak-becusan para insinyur yang
merancang-bangunnya di masa lalu. Tower PDAM ini masih ada hingga sekarang ini,
tapi selama keberadaannya tak pernah punya arti sama sekali.
Pukul 12.00 WM
Setelah cukup lama berada di sini, kami melanjutkan perjalanan
menuju ke Kampung Sungai Manik Parit 5. Kampung Sungai Manik Parit 5 merupakan
pusat pemukiman orang Banjar di Negara Bagian Perak Darul Ridwan. Semua kampung
orang Banjar di kawasan Sungai Manik ini diberi nama Parit, untuk membedakannya
kampung-kampung dimaksud diberi nomor 1 dst.
Kedatangan kami di Kampung Sungai Manik Parit 5 disambut
dengan tabuhan gendang sinoman hadrah yang dimainkan oleh anak-anak sekolah di
daerah setempat. Kami lalu dipersilakan masuk ke beranda masjid setempat. Acara
penyambutan resmi dilangsungkan di tempat ini.
Ada kata sambutan dari kedua belah pihak. Setelah itu
acara makan bersama. Aku duduk berdekatan dengan seorang anak muda, kami saling
berbincang-bincang akrab. Tidak lama setelah acara makan siang berakhir,
masuklah waktu Zuhur. Ternyata temanku berbincang tadi adalah imam besar masjid
dimaksud.
12.30 WM
Setelah sholat Zuhur kami diantar ke tempat penginapan
berupa rumah tinggal dengan kamar sebanyak 4 buah. Sebagian awak rombongan
tidur di luar kamar. Penginapan ini terletak di perkampungan etnis Tionghoa. Jaraknya
cukup jauh dari Kampung Sungai Manik Parit 5. Di sana kami istirahat.
Kesempatan yang ada juga kami gunakan untuk berlatih main teater japin carita,
aku kebagian peran sebagai teman akrab orang kaya.
18.00 WM
Setelah sholat Maghrib kami dijemput lagi untuk dibawa
ke Kampung Sungai Manik Parit 5. Di tempat tujuan, kedatangan kami kembali
disambut dengan tabuhan gendang sinoman hadrah. Semakin lama orang-orang yang
datang ke tempat pertunjukan semakin banyak. Merdeka datang berbondong-bondong
dari tempat-tempat pemukiman yang ada di sekitar Kampung Sungai Manik Parit 5.
Ternyata tidak hanya kedatangan kami saja yang
disambut dengan tabuhan gendang sinoman hadrah. Para pejabat tinggi yang datang
ke tempat itu juga disambut dengan cara serupa. Kudengar tidak kurang dari 5
kali tabuhan gendang sinoman hadrah diperdengarkan pada malam itu, ini berarti
setidak-tidaknya ada 5 pejabat tinggi atau tokoh terhormat di daerah setempat yang
datang ke tempat acara.
Pukul 21.00 WM
Acara dimulai. Kembali diadakan acara
sambutan-sambutan, pemberian cindera mata kepada kami, dan setelah itu acara makan
bersama. Acara pertujukan seni budaya Banjar pada malam itu dibuka dengan acara
pembacaan syair Madihin oleh Jon Tralala dan Hendra. Malam itu keduanya banyak menyelipkan
kata-kata kocak yang menggelitik tawa hadirin. Aplus panjang diberikan penonton
ketika keduanya mengakhiri pertunjukan.
Nama Jon Tralala dan Hendra sangat popular di kalangan
orang Banjar di Malaysia. Kaset-kaset vcd pertunjukan Madihin kedua anak
beranak ini sudah beredar luas sejak lama di kalangan mereka. Jon Tralala
adalah orang yang paling banyak mendapat
sambutan selama rombongan kami berada di Malaysia.
Setelah itu menyusul pementasan japin carita, Hayatun Nufus (karangan Bakhtiar
Sanderta almarhum). Bercerita tentang seorang pria (diperankan oleh Iwan
Lawang) yang jatuh cinta kepada seorang gadis (Fatia Elfira Luthviyani) anak
seorang saudagar kaya (Tarmudzi). Tapi lamarannya ditolak karena saudagar kaya
itu ingin anaknya bersuamikan seorang ulama, sementara si pemuda sendiri cuma
seorang pengangguran.
Atas saran pamannya (Mukhlis Maman), si pemuda
kemudian berpura-pura menjadi seorang ulama yang baru datang menuntut ilmu
agama Islam di Hadra Maut, Yaman. Ia diundang ceramah oleh saudagar kaya, pada
saat itulah kedoknya ketahuan. Dalam pementasan ini aku, Micky Hidayat, dan Taufik
Arbain berperan sebagai teman akrab saudagar kaya. Para nayaga Abdurrahman
(babun/gendang), Anang Hermansyah (Biola), dan Abdullah SP (gong).
Pukul 24.00 WM
Pertunjukan selesai, kami dibawa pulang kembali ke
penginapan. Sebelum tiba di penginapan kami ditraktir makan-minum di sebuah
restoran milik orang India Muslim. Restoran ini merupakan salah satu dari puluhan
buah restoran yang berada di bawah jaringan usaha milik seorang pengusaha
Malaysia keturunan India. Ciri khas restoran ini semua pekerjanya adalah lelaki muda (tidak ada
wanita) keturunan India.
Pada kesempatan itu, Jon Tralala mengerjai salah
seorang pekerjanya dengan mengajaknya bicara dalam bahasa India karangannya
sendiri. Orang India itu bingung karena tak mampu memahami bahasa India yang
diucapkan Jon Tralala. Begitu mengetahui bahwa ia cuma dikerjai, orang India
itu tersenyum. Selama berada di Malaysia kami sering dibuat ketawa ngakak oleh
Jon Tralala dengan cerita-cerita humornya.
Tiba di penginapan kami semua langsung merebahkan diri.
Maklumlah, jam ketika itu sudah menunjukkan pukul 01.30 WM dinihari.
HARI KELIMA DI MALAYSIA,
MINGGU, 8 APRIL 2012
Pukul 08.00 WM
Hari ke lima di Malaysia, kami dijemput untuk dibawa
kembali ke penginapan di Sabak Bernam. Di tengah jalan kami ditraktir makan
pagi di sebuah rumah makan milik orang Aceh.
Pukul 11.30 WM
Hari itu, salah seorang anggota PBM Sabak Bernam
mengadakan walimah perkawinan anaknya. Kami dijemput untuk menghadiri undangan
itu. Kedatangan kami disambut dengan tabuhan gendang sinoman hadrah dan kedatangan
kami diumumkan melalui pengeras suara. Para hadirin berdiri dan melepaskan
senyum ramah mereka kepada kami. Pulang dari sana kami mendapat oleh-oleh dari
tuan rumah.
Pukul 16.30 WM
Kami berlatih bermain teater japin carita berjudul
Bomoh Tipuan (judul asli Dukun Palsu, naskah karya Bakhtiar Sanderta almarhum).
Latihan dipimpin langsung oleh sutradara (Mukhlis Maman) dan asisten sutradara (YS
Agus Suseno).
Pukul 18.30 WM
Sehabis Sholat Magrib dan makan malam kami dibawa ke
tempat pertunjukan, sebuah gedung kesenian yang cukup besar. Mula-mula Jon
Tralala dan Hendra tampil mengocok perut penonton dengan syair-syair Madihinnya
yang banyak diselepi dengan ungkapan-ingkapan humor yang menggelitik tawa.
Pukul 21.30 WM
Pertunjukkan teater japin carita Bomoh Tipuan dimulai.
Pertunjukan dimulai dengan pemetasan tari Banjar yang dibawakan oleh Bu Erna,
Aisyah, Fatia, Sirajul Huda, Mukhlis Maman, dan Iwan Lawang. Para pemain japin
carita yang tampil malam itu Iwan Lawang, Iwan Pribadi, Mukhlis Maman, YS Agus
Suseno, Tarmudzi, Aisyah, Fatia, Tajuddin Noor Ganie, Micky Hidayat, dan Taufik
Arbain. Para nayaga Abdurrahman (babun/gendang), Anang Hermansyah (Biola), dan
Abdullah SP (gong). Malam itu aku berperan sebagai tukang khitan.
Pukul 24.00 WM
Acara berakhir. Sebelum diantar pulang kembali ke penginapan
kami dijamu makan minum dulu di ruangan samping kanan gedung pertunjukan.
HARI KEENAM DI MALAYSIA, SENIN, 9 APRIL 2012
Pukul 07.00 WM
Hari ke enam di Malaysia. Kami dijemput untuk makan
pagi di sebuah restoran milik warga Negara Malaysia keturunan Banjar di Sabak
Bernam. Pemilik restoran suka cita menerima kedatangan kami semua.
Pukul 08.30 WM
Selepas itu, kami
diantar ke lapangan terbang internasional Subang dengan menumpang 6 buah mobil.
Aku, Pak Djantera Kawi, Micky Hidayat, dan Irwan Alfiadin menumpang di satu
mobil yang sama. Pengantar kami adalah Bapak Haji Zaini bin Haji Andan (Terima
kasih pak haji, semoga Allah Swt membalas budi baik bapak kepada kami,. Amin).
Pukul 11.30 WM
Mumpung waktunya masih ada, kami diajak singgah di
sebuah masjid yang begitu megah di kawasan Putra Jaya. Kulihat banyak turis
asing dari Jepang dan Korea mengunjunginya. Turis asing non-Muslim itu harus
mengenakan pakaian khusus warna biru yang disediakan oleh pengelola masjid.
Kami berada di kawasan masjid ini sekitar 60 menit.
Ketika berada
di kawasan masjid ini, pikiranku melayang ke kampung halaman, bukan teringat
istri atau anak yang baru enam hari kutinggalkan, tapi teringat kepada
masjid-masjid yang ada di sana yang juga bisa dijadikan sebagai objek wisata
religi bagi para turis local, luar daerah, atau luar negeri. Dalam hali aku
antara lain teringa dengan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Masjid Sultan
Suriansyah, Masjid Al Qaromah Martapura, Masjid Al Qaromah Kampung Banua Halat
Kiri di Rantau, dan banyak lagi masjid-masjid bersejarah lainnya yang tersebar
di berbagai kota besar di berberbagai kota dan kabupaten di Kalsel.
Pukul 12.30 WM
Kami tiba di lapangan terbang internasional Subang
Kuala Lumpur. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Haji Zaini bin Haji
Andan sambil menyalami beliau. Selanjutnya kami melaporkan diri dan memasukkan
bagasi ke konter maskapai penerbangan Lion Air yang pesawatnya kami tumpangi
menuju ke lapangan terbang internasional Soekarno Hatta di Cengkareng Jakarta.
Pukul 13.00 WM
Pesawat terbang Lion Air yang kami tumpangi tinggal
landas dari lapangan terbang internasional Subang. Selamat tinggal Malaysia
sampai jumpa lagi di masa-masa yang akan datang.
Keterangan
WM = waktu Malaysia (yang sama dengan WITE)
PBM =Pertubuhan Banjar Malaysia
Timbalan Yang Dipertua = Wakil Ketua
Satumat = bahasa Banjar, sebentar atau sejenak
Pakan = pasar
babarasih = bersih-bersih (bahasa Banjar)
Yes = ya.
Cik = sapaan untuk seorang pria yang belum dikenal.
Ringgit = uang Malaysia.
Imak di mana bahurup duit,
Din? = bahasa Banjar artinya kamu di mana menukar uang, Din (nama panggilanku)”
Awak = aku
Bomoh = dukun