Kamis, 05 September 2013

TENGAH MALAM DI KUALA LUMPUR




Kamis, 4 Juni 1993
Pukul 17.15 WM
Bus Perkasa Ekspress yang akan kutumpangi dari kota Johor Bahru ke kota Kuala Lumpur dijadwalkan akan berangkat pukul 18.00 waktu setempat.
Ketika itu hari baru pukul 17.15 sebagai pengisi waktu luang aku membeli surat kabar Utusan Melayu di sebuah kios koran di terminal bus Johor Bahru.
Sesuai jadwal, pukul 18.00 bus Perkasa Ekspres meninggalkan kota Johor Bahru menuju ke kota Kuala Lumpur. Sekadar bertegur sapa aku bertanya kepada penumpang yang duduk persis di sebelahku.
“Kapan bus ini tiba di Kuala Lumpur?”
“Sekitar pukul 24.00 tengah malam.”
Aku terkejut mendengarnya, sebab ini berarti aku akan berada di kota Kuala Lumpur pada saat-saat yang kurang begitu menguntungkan.
Tengah malam berada di kota besar yang sama sekali asing, tentu saja merupakan pengalaman yang mendebarkan.
Sepanjang jalan aku merasa was-was. Aku khawatir akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan di kota Kuala Lumpur nantinya.
Kaset yang diputarkan oleh awak bus sebagai hiburan bagi para penumpang memperdengarkan lagu-lagu penyanyi Indonesia. Namun, lagu-lagu itu sama sekali tak bisa kunikmati dengan baik.
Begitu pula halnya dengan tayangan video filem yang diputarkan oleh awak bus kemudian. Dalam bayanganku ketika itu, kota Kuala Lumpur juga rawan kejahatan sebagaimana halnya dengan kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di tanah air kita.
“Kota Kuala Lumpur pastilah juga dipenuhi dengan para pencopet, penjambret, dan para pelaku tindak kriminal lainnya,” batinku ketika itu.
Aku khawatir setibanya di terminal Pudu Raya Kuala Lumpur nanti aku akan disambut oleh gerombolan preman muda yang tengah mencari mangsa.
Begitulah, karena dipengaruhi oleh referensi yang sepenuhnya berasal dari fenomena kerawanan sosial di terminal-terminal bus di berbagai kota besar di tanah air kita, maka aku menjadi begitu cemas membayangkan situasi buruk yang mungkin akan kualami begitu tiba di terminal Pudu Raya Kuala Lumpur.
Saking cemasnya aku bahkan sempat berdo’a semoga bus yang tengah aku tumpangi malam itu mengalami kerusakan kecil di tengah jalan, sehingga bus tiba di tempat tujuan terlambat sekitar 4-5 jam.
Aku berharap bus yang kutumpangi akan tiba di kota Kuala Lumpur menjelang pagi sekitar pukul 06.00 atau pukul 07.00.

Pukul 24.00 WM
Ternyata doaku tidak dikabulkan Tuhan. Bus yang kutumpangi melaju terus tanpa hambatan yang berarti dan tiba tepat waktu di terminal Pudu raya.
Satu demi satu penumpang turun dari bus. Kulihat di sekeliling terminal tampak gelap gulita. Aku bergegas meninggalkan tempat gelap itu menuju ke tempat yang masih ramai dan terang benderang di seberang terminal.
Aku sengaja menghindari tempat yang gelap, karena tempat gelap merupakan tempat yang rawan bahaya. Para penjahat akan lebih leluasa berbuat jahat di tempat gelap. Tapi, sudahlah, aku tawakal saja.
Begitu tiba di seberang, aku juga ikut berdiri dengan sikap seolah-olah tengah menunggu bus tumpangan yang trayeknya sesuai dengan arah yang kutuju.
Ketika itu aku sebenarnya tengah berpikir untuk mencari informasi mengenai tempat menginap kelas melati yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.
“Maaf, Pak Cik. Boleh tanya sikit?”
“Boleh, mau tanya apa, Pak cik?”
“Apakah di sekitar sini ada tempat menginap yang murah?”
Orang Malaysia yang kutanyai tidak segera menjawab pertanyaanku. Ia lebih dulu memandangiku dengan pandangan menyelidik.
“Pak Cik, orang Indon rupanya?”
“Ya, aku orang Indonesia.”
Hehehe, meskipun sedang kepepet aku masih tetap mempertahankan ghirah kebangsaanku. Aku tidak mau mengiyakan bahwa aku orang Indon, sebaliknya langsung meluruskan bahwa aku orang Indonesia.
Indon adalah istilah yang lajim digunakan oleh orang Malaysia untuk melecehkan orang Indonesia yang sedang berada di Malaysia. Istilah Indon mengandung konotasi negatif.
Orang Malaysia itu terdiam. Ia tampak kikuk, karena merasa telah berbuat salah dengan menyebutku orang Indon.
Istilah Indon di kalangan orang Malaysia hanya digunakan secara in absentia, yakni ketika orang Indonesia tidak ada atau tidak hadir sebagai lawan bicara.
“ Saya dari Banjarmasin,” ujarku untuk memecah kebisuan dan menetralkan suasana sungkan.
“Banjarmasin, di mana itu, Pak Cik?”
“Pulau Borneo.”
“Oooo”
Demi kelancaran komunikasi aku terpaksa menggunakan istilah pulau Borneo bukan pulau Kalimantan.
“Apa maksud, Pak Cik datang ke KL ni. Mau cari kerjakah?”
“O, tidak. Aku ke sini mau ikut seminar sastra antar bangsa di kota Shah Alam.”
“O,” orang Malaysia itu kembali ber-o sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak seperti aktor Telly Savalas.
“Bagaimana, Cik. Bisa kasih informasi di mana penginapan murah di sekitar sini?”
Orang Malaysia itu menengadah lalu mengedarkan pandangnya berkeliling.
“Wah, aku rasa tak ada tempat menginap murah di sekitar ni. Itu semua memang hotel, tetapi tak ada yang tarifnya murah. Semuanya hotel berbintang 1-5.”
“Berapa ringgit tarifnya semalam, Pak Cik?”
“Sekitar 100-1000 ringit semalam.”
“Wah, mahal. Tak sanggup awak membayarnya.”
Hehehe, belum sampai 20 jam menginjakkan kaki di tanah Malaysia aku sudah mulai memakai istilah awak sebagai kata ganti orang pertama.
“Pak Cik banyak bawa wangkah?”
“Oh, tidak. Cuma sikit, Pak Cik.”
“Kalau begitu, pikir-pikir lagilah, Pak Cik.”
Aku cuma mengangguk.
“Bagaimana kalau untuk malam ini Pak Cik tidur di masjid saja. Gratis. Tak usah bayar. Di sana banyak orang Indonesia ikut numpang menginap.”
Hehehe, orang Malaysia itu rupanya tidak berani lagi menyebut istilah orang Indon. Syukurlah.
“Usul yang baik. Di mana masjid yang Pak Cik maksudkan?” tanyaku agak bersemangat.
“Sekitar 2 batu dari sini.”
“Cukup jauh komentarku.
“Ya, tapi kalau Pak Cik tidur di masjid, Pak Cik harus hati-hati. Situasi di sana agak rawan. Banyak pencopet.”
“Wah, kalau begitu aku rasanya lebih suka menginap di hotel bertarif murah saja, Pak Cik.”
“Kalau begitu, Pak Cik pergi ke Jalan Chokit saja. Di sana banyak hotel bertarif murah. Tarifnya natara 5-30 ringgit saja. Cuma tempatnya agak jauh dari sini.”
“Bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke jalan Chokit itu, Pak Cik?”
“Dari sini Pak Cik naik bus nomor 32. Tarifnya cuma 50 sen.”
“Baiklah, Pak Cik. Kalau begitu aku ke Jalan Chokit saja, dari pada tidur di masjid,” ujarku agak bersemangat.
Sementara menunggu kedatangan bus nomor 32 aku dan orang Malaysia itu saling bercakap-cakap dengan akrabnya. Kami saling bertukar informasi tentang negara kami masing-masing.
Orang Malaysia itu bertanya lebih jauh tentang kota Banjarmasin. Di mana letak persisnya. Selain itu ia juga bertanya bagaimana caranya sehingga aku bisa sampai ke KL (Kuala Lumpur).
Pada kesempatan itu ia juga mengingatkanku agar jangan lupa membawa kartu identitas ktika bepergian ke manapun di sentero Malaysia.
Orang Indonesia yang tertangkap tangan tidak membawa kartu identitas akan serta merta didakwa oleh polisi Diraja Malaysia sebagai pendatang haram.
Hukuman bagi pendatang haram Imigran gelap) sangat berat, yakni dikurung dalam penjara antara 1-6 bulan.
 “Itu bus ke Chokit. Ayo kita naik, Pak Cik,” tunjuk orang Malaysia itu.
Bus berhenti aku naik ke bus. Orang Malaysia itu ternyata juga menumpang di bus yang sama. Tapi ia turun di tengah jalan.
“Terima kasih, Pak Cik,” ujarku sambil menyalaminya sesaat sebelum ia turun dari bus.
Begitulah, sesuai dengan petunjuk orang Malaysia itu, aku segera melompat turun begitu kondektur bus memberi isyarat bahwa aku telah tiba di jalan Chokit.
“Chokit. Chokit. Turun,” teriak kodektur bus.

Pukul 01.00 WM
Untunglah, suasana di jalan Chokit masih cukup ramai. Masih banyak orang yang berlalu lalang. Suasananya seperti di jalan Molioboro Yogyakarta, atau di Pasar Belauran Banjarmasin.
Aku mulai turun naik dari satu rumah penginapan yang satu ke rumah penginapan yang yang lain. Semuanya penuh. Tapi, ada juga yang masih kosong, tapi tarifnya mahal.
Aku kemudian singgah di sebuah warung pinggir jalan. Aku memesan makanan. Sambil makan aku bertanya kepada pemilik warung apakah ada penginapan murah di sekitar tempat ini. Ketika itu aku disarankan untuk mencarinya ke jalan Dewan Sulaiman.
Setelah membayar harga makanan, aku segera berjalan menuju ke jalan yang ditunjukkan. Benar saja, di sana banyak kutemukan tempat penginapan. Aku masuk ke lobby Hotel Internasional.
Petugas resepsionis yang menerima kedatanganku ketika itu adalah seorang lelaki tua keturunan Tionghoa dengan penampilan seadanya. Ia cuma mengenakan sandal jepit, becelana pendek, dan berkaos kutang (T shirt).
Hehehe, namanya saja Hotel Internasional, tetapi petugas resipsionisnya kok berpakaian seragam seperti itu. Hehehe, ini yang aku suka, karena tarifnya pasti lebih murah dari Hotel Internasional sungguhan.
“Masih ada kamar kosong, Pak Cik?”
“Ada.”
“Berapa tarifnya semalam, Pak Cik?”
“Dua puluh ringgit.”
Nah, ternyata dugaanku benar. Tarifnya ternyata memang murah.
Aku diminta untuk memperlihat kartu tanda penduduk dan surat perjalanan laksana paspor. Setelah itu aku disuruh mengisi sendiri buku daftar penginap hotel. Aku tersenyum simpul penuh arti ketika menuliskan namaku, karena sekilas aku melihat ada nama Tajuddin Noor terdaftar pada buku dimaksud.
Hehehe, ternyata di Malaysia juga ada orang yang bernama Tajuddin Noor. Sama, seperti di Indonesia, terutama sekali di Kalsel, banyak sekali orang yang bernama Tajuddin Noor.
Setelah mengisi buku daftar penginap aku kemudian menyerahkan dua lembar uang sepuluh ringgit kepada petugas resepsionis. 
“Ini uangnya, Pak Cik.”
“Tanpa tanda terima pembayaran, Pak Cik.”
“Tidak usah. Jangan takut. Dijamin tidak akan ditagih dua kali.”
Aku terdiam sejenak.
 “Ini kunci kamarnya.”
“Tidak diantar, Pak Cik?”
“Cari sendiri,” ujar petugas resipsionis ketus.
“Kamarnya di mana, Pak Cik.”
“Lantai dua Nomor 232.”
 “Sialan, komentarku di dalam hati.
Aku sesungguhnya sangat kesal dengan pelayanan petugas resipsionis yang demikian itu. Tapi, apa mau dikata? Aku terpaksa mengalah. Maklumlah, bargaining positionku sangat lemah.
“Biarlah untuk kali ini aku mengalah saja. Lebih baik tidur di penginapan dengan pelayanan seburuk ini dari pada harus tidur di masjid, atau tidur di jalanan seperti gelandangan.
Salah-salah semua uang bawaanku malah ludes disikat oleh orang sebangsa yang ketika itu juga sedang kekepet secara ekonomi di negeri orang.
Begitulah, malam itu aku menginap di Hotel Internasional. Hehehe, namanya saja Hotel Internasional. Fasilitasnya nol besar. Tidak ada toilet apa lagi kamar mandi.
Untunglah, malam itu aku tidak buang air kecil dan buang air besar. Jika tidak, maka celakalah diriku.
Betapa tidak?
Sungguh mati, aku tidak tahu di mana letak toilet dan kamar mandi umum di Hotel Internasional ini. Mau tanya resepsionis. Malas.
“Nanti saja kalau sudah kebelet,” gumamku.
Aku mendekati wastafel dan membuka kerannya. Byur air ke luar dengan derasnya.
“Syukurlah, ini berarti aku bisa mencuci diri malam ini.”
Sebelum tidur aku membersihkan diriku dengan lap yang sudah dibasahi dengan air yang mengucur dari keran wastafel yang ada di dalam kamarku..
Setelah itu aku merebahkan diri di ranjang. Dari sana kulihat kaca-kaca jendela Hotel Internasional sudah banyak yang pecah. Cat kamar dan plafonnya juga sudah kusam.
Entah mengapa, aku kemudian bangun dan turun dari ranjang. Aku lalu berjalan menuju jendela. Dari sana aku memandang ke berbagai arah, termasuk ke arah bawah.
“Aman,” komentarku.
“Tidak ada maling yang tampaknya dapat masuk ke kamarku melalui jendela yang kacanya pecahnya itu. Letak kamarku terlampau tinggi, sehingga tidak mungkin ada maling yang bisa mencapainya dengan cara menaikinya dari arah luar jendela.”
Oh iya, bagaimana dengan nyamuk Malaysia? Ternyata tidak ada nyamuk di Hotel Internasional. Mungkin, nyamuk-nyamuk Malaysia tidak beroperasi di Hotel Internasional. Mereka hanya beroperasi di Hotel Lokal dan Regional saja. Hehehehehehe.

Keterangan
Pak Cik : sapaan untuk seorang pria yang belum dikenal.
Sikit : sedikit
Ringgit : uang Malaysia.
Ni: ini
Awak : aku
Batu : kilometer









































Tidak ada komentar:

Posting Komentar