Kamis, 4 Juni 1993
Pukul 17.15 WM
Bus Perkasa Ekspress yang akan kutumpangi dari kota
Johor Bahru ke kota Kuala Lumpur dijadwalkan akan berangkat pukul 18.00 waktu
setempat.
Ketika itu hari baru pukul 17.15 sebagai pengisi waktu
luang aku membeli surat kabar Utusan
Melayu di sebuah kios koran di terminal bus Johor Bahru.
Sesuai jadwal, pukul 18.00 bus Perkasa Ekspres
meninggalkan kota Johor Bahru menuju ke kota Kuala Lumpur. Sekadar bertegur
sapa aku bertanya kepada penumpang yang duduk persis di sebelahku.
“Kapan bus ini tiba di Kuala Lumpur?”
“Sekitar pukul 24.00 tengah malam.”
Aku terkejut mendengarnya, sebab ini berarti aku akan
berada di kota Kuala Lumpur pada saat-saat yang kurang begitu menguntungkan.
Tengah malam berada di kota besar yang sama sekali
asing, tentu saja merupakan pengalaman yang mendebarkan.
Sepanjang jalan aku merasa was-was. Aku khawatir akan
mengalami hal-hal yang tidak diinginkan di kota Kuala Lumpur nantinya.
Kaset yang diputarkan oleh awak bus sebagai hiburan
bagi para penumpang memperdengarkan lagu-lagu penyanyi Indonesia. Namun,
lagu-lagu itu sama sekali tak bisa kunikmati dengan baik.
Begitu pula halnya dengan tayangan video filem yang
diputarkan oleh awak bus kemudian. Dalam bayanganku ketika itu, kota Kuala
Lumpur juga rawan kejahatan sebagaimana halnya dengan kota Jakarta dan
kota-kota besar lainnya di tanah air kita.
“Kota Kuala Lumpur pastilah juga dipenuhi dengan para
pencopet, penjambret, dan para pelaku tindak kriminal lainnya,” batinku ketika
itu.
Aku khawatir setibanya di terminal Pudu Raya Kuala
Lumpur nanti aku akan disambut oleh gerombolan preman muda yang tengah mencari
mangsa.
Begitulah, karena dipengaruhi oleh referensi yang
sepenuhnya berasal dari fenomena kerawanan sosial di terminal-terminal bus di
berbagai kota besar di tanah air kita, maka aku menjadi begitu cemas
membayangkan situasi buruk yang mungkin akan kualami begitu tiba di terminal
Pudu Raya Kuala Lumpur.
Saking cemasnya aku bahkan sempat berdo’a semoga bus
yang tengah aku tumpangi malam itu mengalami kerusakan kecil di tengah jalan,
sehingga bus tiba di tempat tujuan terlambat sekitar 4-5 jam.
Aku berharap bus yang kutumpangi akan tiba di kota
Kuala Lumpur menjelang pagi sekitar pukul 06.00 atau pukul 07.00.
Pukul 24.00 WM
Ternyata doaku tidak dikabulkan Tuhan. Bus yang
kutumpangi melaju terus tanpa hambatan yang berarti dan tiba tepat waktu di
terminal Pudu raya.
Satu demi satu penumpang turun dari bus. Kulihat di
sekeliling terminal tampak gelap gulita. Aku bergegas meninggalkan tempat gelap
itu menuju ke tempat yang masih ramai dan terang benderang di seberang
terminal.
Aku sengaja menghindari tempat yang gelap, karena
tempat gelap merupakan tempat yang rawan bahaya. Para penjahat akan lebih
leluasa berbuat jahat di tempat gelap. Tapi, sudahlah, aku tawakal saja.
Begitu tiba di seberang, aku juga ikut berdiri dengan
sikap seolah-olah tengah menunggu bus tumpangan yang trayeknya sesuai dengan
arah yang kutuju.
Ketika itu aku sebenarnya tengah berpikir untuk mencari
informasi mengenai tempat menginap kelas melati yang berada tak jauh dari
tempatku berdiri.
“Maaf, Pak Cik. Boleh tanya sikit?”
“Boleh, mau tanya apa, Pak cik?”
“Apakah di sekitar sini ada tempat menginap yang
murah?”
Orang Malaysia yang kutanyai tidak segera menjawab
pertanyaanku. Ia lebih dulu memandangiku dengan pandangan menyelidik.
“Pak Cik, orang Indon rupanya?”
“Ya, aku orang Indonesia.”
Hehehe, meskipun sedang kepepet aku masih tetap
mempertahankan ghirah kebangsaanku. Aku tidak mau mengiyakan bahwa aku orang
Indon, sebaliknya langsung meluruskan bahwa aku orang Indonesia.
Indon adalah istilah yang lajim digunakan oleh orang
Malaysia untuk melecehkan orang Indonesia yang sedang berada di Malaysia.
Istilah Indon mengandung konotasi negatif.
Orang Malaysia itu terdiam. Ia tampak kikuk, karena
merasa telah berbuat salah dengan menyebutku orang Indon.
Istilah Indon di kalangan orang Malaysia hanya
digunakan secara in absentia, yakni ketika orang Indonesia tidak ada atau tidak
hadir sebagai lawan bicara.
“ Saya dari Banjarmasin,” ujarku untuk memecah
kebisuan dan menetralkan suasana sungkan.
“Banjarmasin, di mana itu, Pak Cik?”
“Pulau Borneo.”
“Oooo”
Demi kelancaran komunikasi aku terpaksa menggunakan
istilah pulau Borneo bukan pulau Kalimantan.
“Apa maksud, Pak Cik datang ke KL ni. Mau cari
kerjakah?”
“O, tidak. Aku ke sini mau ikut seminar sastra antar
bangsa di kota Shah Alam.”
“O,” orang Malaysia itu kembali ber-o sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak seperti aktor Telly Savalas.
“Bagaimana, Cik. Bisa kasih informasi di mana
penginapan murah di sekitar sini?”
Orang Malaysia itu menengadah lalu mengedarkan
pandangnya berkeliling.
“Wah, aku rasa tak ada tempat menginap murah di
sekitar ni. Itu semua memang hotel, tetapi tak ada yang tarifnya murah.
Semuanya hotel berbintang 1-5.”
“Berapa ringgit tarifnya semalam, Pak Cik?”
“Sekitar 100-1000 ringit semalam.”
“Wah, mahal. Tak sanggup awak membayarnya.”
Hehehe, belum sampai 20 jam menginjakkan kaki di tanah
Malaysia aku sudah mulai memakai istilah awak sebagai kata ganti orang pertama.
“Pak Cik banyak bawa wangkah?”
“Oh, tidak. Cuma sikit, Pak Cik.”
“Kalau begitu, pikir-pikir lagilah, Pak Cik.”
Aku cuma mengangguk.
“Bagaimana kalau untuk malam ini Pak Cik tidur di
masjid saja. Gratis. Tak usah bayar. Di sana banyak orang Indonesia ikut
numpang menginap.”
Hehehe, orang Malaysia itu rupanya tidak berani lagi
menyebut istilah orang Indon. Syukurlah.
“Usul yang baik. Di mana masjid yang Pak Cik
maksudkan?” tanyaku agak bersemangat.
“Sekitar 2 batu dari sini.”
“Cukup jauh komentarku.
“Ya, tapi kalau Pak Cik tidur di masjid, Pak Cik harus
hati-hati. Situasi di sana agak rawan. Banyak pencopet.”
“Wah, kalau begitu aku rasanya lebih suka menginap di
hotel bertarif murah saja, Pak Cik.”
“Kalau begitu, Pak Cik pergi ke Jalan Chokit saja. Di
sana banyak hotel bertarif murah. Tarifnya natara 5-30 ringgit saja. Cuma
tempatnya agak jauh dari sini.”
“Bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke jalan
Chokit itu, Pak Cik?”
“Dari sini Pak Cik naik bus nomor 32. Tarifnya cuma 50
sen.”
“Baiklah, Pak Cik. Kalau begitu aku ke Jalan Chokit
saja, dari pada tidur di masjid,” ujarku agak bersemangat.
Sementara menunggu kedatangan bus nomor 32 aku dan
orang Malaysia itu saling bercakap-cakap dengan akrabnya. Kami saling bertukar
informasi tentang negara kami masing-masing.
Orang Malaysia itu bertanya lebih jauh tentang kota
Banjarmasin. Di mana letak persisnya. Selain itu ia juga bertanya bagaimana
caranya sehingga aku bisa sampai ke KL (Kuala Lumpur).
Pada kesempatan itu ia juga mengingatkanku agar jangan
lupa membawa kartu identitas ktika bepergian ke manapun di sentero Malaysia.
Orang Indonesia yang tertangkap tangan tidak membawa
kartu identitas akan serta merta didakwa oleh polisi Diraja Malaysia sebagai
pendatang haram.
Hukuman bagi pendatang haram Imigran gelap) sangat
berat, yakni dikurung dalam penjara antara 1-6 bulan.
“Itu bus ke
Chokit. Ayo kita naik, Pak Cik,” tunjuk orang Malaysia itu.
Bus berhenti aku naik ke bus. Orang Malaysia itu
ternyata juga menumpang di bus yang sama. Tapi ia turun di tengah jalan.
“Terima kasih, Pak Cik,” ujarku sambil menyalaminya
sesaat sebelum ia turun dari bus.
Begitulah, sesuai dengan petunjuk orang Malaysia itu,
aku segera melompat turun begitu kondektur bus memberi isyarat bahwa aku telah
tiba di jalan Chokit.
“Chokit. Chokit. Turun,” teriak kodektur bus.
Pukul 01.00 WM
Untunglah, suasana di jalan Chokit masih cukup ramai.
Masih banyak orang yang berlalu lalang. Suasananya seperti di jalan Molioboro
Yogyakarta, atau di Pasar Belauran Banjarmasin.
Aku mulai turun naik dari satu rumah penginapan yang
satu ke rumah penginapan yang yang lain. Semuanya penuh. Tapi, ada juga yang
masih kosong, tapi tarifnya mahal.
Aku kemudian singgah di sebuah warung pinggir jalan.
Aku memesan makanan. Sambil makan aku bertanya kepada pemilik warung apakah ada
penginapan murah di sekitar tempat ini. Ketika itu aku disarankan untuk
mencarinya ke jalan Dewan Sulaiman.
Setelah membayar harga makanan, aku segera berjalan
menuju ke jalan yang ditunjukkan. Benar saja, di sana banyak kutemukan tempat
penginapan. Aku masuk ke lobby Hotel Internasional.
Petugas resepsionis yang menerima kedatanganku ketika
itu adalah seorang lelaki tua keturunan Tionghoa dengan penampilan seadanya. Ia
cuma mengenakan sandal jepit, becelana pendek, dan berkaos kutang (T shirt).
Hehehe, namanya saja Hotel Internasional, tetapi
petugas resipsionisnya kok berpakaian seragam seperti itu. Hehehe, ini yang aku
suka, karena tarifnya pasti lebih murah dari Hotel Internasional sungguhan.
“Masih ada kamar kosong, Pak Cik?”
“Ada.”
“Berapa tarifnya semalam, Pak Cik?”
“Dua puluh ringgit.”
Nah, ternyata dugaanku benar. Tarifnya ternyata memang
murah.
Aku diminta untuk memperlihat kartu tanda penduduk dan
surat perjalanan laksana paspor. Setelah itu aku disuruh mengisi sendiri buku
daftar penginap hotel. Aku tersenyum simpul penuh arti ketika menuliskan
namaku, karena sekilas aku melihat ada nama Tajuddin Noor terdaftar pada buku
dimaksud.
Hehehe, ternyata di Malaysia juga ada orang yang
bernama Tajuddin Noor. Sama, seperti di Indonesia, terutama sekali di Kalsel,
banyak sekali orang yang bernama Tajuddin Noor.
Setelah mengisi buku daftar penginap aku kemudian
menyerahkan dua lembar uang sepuluh ringgit kepada petugas resepsionis.
“Ini uangnya, Pak Cik.”
“Tanpa tanda terima pembayaran, Pak Cik.”
“Tidak usah. Jangan takut. Dijamin tidak akan ditagih
dua kali.”
Aku terdiam sejenak.
“Ini kunci
kamarnya.”
“Tidak diantar, Pak Cik?”
“Cari sendiri,” ujar petugas resipsionis ketus.
“Kamarnya di mana, Pak Cik.”
“Lantai dua Nomor 232.”
“Sialan,
komentarku di dalam hati.
Aku sesungguhnya sangat kesal dengan pelayanan petugas
resipsionis yang demikian itu. Tapi, apa mau dikata? Aku terpaksa mengalah.
Maklumlah, bargaining positionku sangat lemah.
“Biarlah untuk kali ini aku mengalah saja. Lebih baik
tidur di penginapan dengan pelayanan seburuk ini dari pada harus tidur di
masjid, atau tidur di jalanan seperti gelandangan.
Salah-salah semua uang bawaanku malah ludes disikat
oleh orang sebangsa yang ketika itu juga sedang kekepet secara ekonomi di
negeri orang.
Begitulah, malam itu aku menginap di Hotel
Internasional. Hehehe, namanya saja Hotel Internasional. Fasilitasnya nol
besar. Tidak ada toilet apa lagi kamar mandi.
Untunglah, malam itu aku tidak buang air kecil dan
buang air besar. Jika tidak, maka celakalah diriku.
Betapa tidak?
Sungguh mati, aku tidak tahu di mana letak toilet dan
kamar mandi umum di Hotel Internasional ini. Mau tanya resepsionis. Malas.
“Nanti saja kalau sudah kebelet,” gumamku.
Aku mendekati wastafel dan membuka kerannya. Byur air
ke luar dengan derasnya.
“Syukurlah, ini berarti aku bisa mencuci diri malam
ini.”
Sebelum tidur aku membersihkan diriku dengan lap yang
sudah dibasahi dengan air yang mengucur dari keran wastafel yang ada di dalam
kamarku..
Setelah itu aku merebahkan diri di ranjang. Dari sana
kulihat kaca-kaca jendela Hotel Internasional sudah banyak yang pecah. Cat
kamar dan plafonnya juga sudah kusam.
Entah mengapa, aku kemudian bangun dan turun dari
ranjang. Aku lalu berjalan menuju jendela. Dari sana aku memandang ke berbagai
arah, termasuk ke arah bawah.
“Aman,” komentarku.
“Tidak ada maling yang tampaknya dapat masuk ke
kamarku melalui jendela yang kacanya pecahnya itu. Letak kamarku terlampau
tinggi, sehingga tidak mungkin ada maling yang bisa mencapainya dengan cara
menaikinya dari arah luar jendela.”
Oh iya, bagaimana dengan nyamuk Malaysia? Ternyata
tidak ada nyamuk di Hotel Internasional. Mungkin, nyamuk-nyamuk Malaysia tidak
beroperasi di Hotel Internasional. Mereka hanya beroperasi di Hotel Lokal dan
Regional saja. Hehehehehehe.
Keterangan
Pak Cik : sapaan untuk seorang pria yang belum dikenal.
Sikit : sedikit
Ringgit : uang Malaysia.
Ni: ini
Awak : aku
Batu : kilometer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar