Kamis, 11 Juli 2013

SATU JAM BERADA DI RUANG TUNGGU KEBERANGKATAN LAPANGAN TERBANG INTERNASIONAL KOTA KINABALU

   
JUM’AT, 28 JUNI 2013
Pukul 06.30 Wite
Kami semua sudah siap berangkat menuju ke lapangan terbang internasional Kota Kinabalu. Begitu tiba di halaman Penginapan Api-api Centre kami sudah dikerubungi oleh para sopir taksi yang mangkal di situ. Dengan menumpang dua buah mobil taksi kami beriringan menuju ke lapangan terbang.

Taksi yang kutumpangi berulang kali melewati flyover dan masuk ke jalan satu arah yang beraspal mulus dan bebas hambatan. Jalan ini bukan jalan tol karena tidak ada pungutan ketika masuk ke dan keluar dari jalan bebas hambatan ini. Di Indonesia, jalan satu arah yang bebas hambatan seperti ini disebut jalan tol karena untuk masuk dan berlalu-lintas di jalan ini para pengendara atau penyetir mobil harus membayar dengan sejumlah uang yang telah ditentukan di loket masuk. 

Dari dalam taksi yang kutumpangi kulihat topografi Kota Kinabalu hamper sama dengan Kabupaten Kotabaru di Kalsel, yakni paduan antara kawasan laut dan  pegunungan. Di kawasan laut kulihat perkampungan penduduk yang dibangun di atas permukaan air dalam bentuk rumah panggung yang berderet-deret. Aku tidak melihat ada rumah lanting dibangun di kawasan ini.

Menurut informasi Wikipedia (2013), Kota Kinabalu terletak di pantai barat Negara Bagian Sabah, tepatnya di dataran yang sempit antara Banjaran Crocker ke timur dan Laut Cina Selatan di barat. Ada 6 pulau di luar pantai kota, yakni Gaya, Manukan, Mamutik, Sepanggar, Sapi, dan Suluk.

Tanah datar terkonsentrasi di pusat kota, beberapa tempat yang dijadikan sebagai distrik pusat bisnis dibangun di atas tanah urugan (hasil reklamasi pantai). Dataran tinggi berupa bukit-bukit yang ada di sekitar pusat Kota Kinabalu tetap dibiarkan ditumbuhi oleh pepohonan yang membentuk hutan hujan tropis sebagai penyuplai udara segar bagi warga kota setempat. Begitu pula halnya dengan beberapa tempat di tepi pantai dibiarkan sebagai tempat tumbuhnya hutan bakau, tempat ini dikenal sebagai Kota Kinabalu Wetlands.

Kota Kinabalu memiliki iklim hutan hujan tropis, di bawah klasifikasi iklim Koppen. Namun, kota ini memiliki musim-musim yang terasa lebih basah dan lebih kering. Bulan Februari, kota ini menerima curah hujan rata-rata 60 mm, yang layak untuk iklim hujan tropis. Dua musim hujan yang menjadi ciri iklim Negara Bagian Sabah ini adalah Muson Timur Laut (Maret dan November) dan Muson Barat Daya (Mei dan September).

Pejabat pemerintahan tertinggi di Kota Kinabalu dipegang oleh seorang walikota. Status kota untuk Kota Kinabalu ditetapkan oleh Kerajaan Malaysia sejak 2 Februari 2000. Walikota yang pernah memerintah di Kota Kinabalu antara lain Datuk Abdul Ghani Rashid (2000-2006), Datuk Ilyas Ibrahim (2006-2011), dan Datuk Abidin Madingkir (2011-sekarang).

Selain menjadi pusat pemerintah, Kota Kinabalu juga merupakan pusat utama perdagangan dan perindustrian di Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur. Sektor indutri utama Kota Kinabalu adalah pertanian, perikanan, kehutanan, minyak, dan gas bumi. Tidak hanya perdagangan dalam negeri yang maju pesat, tetapi juga perdagangan luar negeri. Demi memudahkan pengurusan bisnis yang dijalankan warganegaranya masing-masing, maka beberapa negara sahabat sudah pula menempatkan seorang konsulat jenderalnya di kota ini, yakni Australia, Brunei Darussalam, Indonesia, Jepang, Rumania, dan Swedia.

Jarak dari tempat penginapan ke lapangan terbang antarbangsa Kota Kinabalu Cuma sekitar 15 kilometer saja, sehingga dalam tempo kurang dari 30 menit kami sudah tiba di tempat tujuan. Setelah urusan tiket dan boarding pas beres, kami berlima segera ikut antri untuk masuk ke ruang dalam lapangan terbang. Ketika menjalani deteksi metal petugas yang memeriksaku menyapa dengan ramah.
“Assalammualaikum, selamat pagi, Cikgu.”
“Waalaikum salam,” jawabku.
Aku segera menjawab salam itu, karena ujar pak ustadz mengucap salam hukumnya sunat, namun menjawab salam hukumnya wajib.
Diam-diam aku merasa heran, kok petugas deteksi metal ini bisa dengan tepat menebak statusku sebagai seorang cikgu (guru, tepatnya dosen atau pensyarah dalam bahasa Melayu Malaysia). Aku menebak-nebak, mungkin karena busana yang kukenakan. Pagi itu aku mengenakan jas mini warna hitam yang pada lengannya tertera lambang daerah Pemprov Kalsel. Jas mini ini sendiri kuperoleh sebagai peserta pembekalan bagi PNS  Pemprov Kalsel yang bakal pensiun tahun 2014.

Aku sengaja mengenakan jas mini ketika bepergian kemana-mana, karena sakunya terletak di dalam dan jumlahnya banyak, sehingga aku bisa menempatkan paspor, tiket pesawat, boarding pas, uang kas, dan handphone di saku-saku bagian dalam jas mini dimaksud.

Namun, bisa jadi petugas pendeteksi metal itu dapat menebak dengan tepat statusku karena modelku rambutku yang menurut mahasiwaku bergaya Morgan Smesh, atau karena warna janggutku yang dua warna, yakni separo hitam dan separo putih. Hehehehe.

Petugas deteksi metal itu menggeladah tubuhku dan sejurus kemudian aku dipersilakan masuk karena memang tidak ditemukan segala sesuatu yang mencurigakan. Tas pakaianku juga lolos dari pemeriksaan X-Ray.

Selama menjalani pemeriksaan dengan alat pendeteksi metal itu aku dan petugas terlibat pembicaraan yang sangat intim. Ia bertanya tentang dari mana dan hendak ke mana. Berapa lama di Malaysia. Kapan pulang ke tanah air? Dst dst.
“Silakan, Cikgu. Semoga keselamatan selalu menyertai Cikgu selama dalam perjalanan dan selamat kembali pulang ke tanah air.”
 “Amin.”
Kami saling bersalaman.
Duh, akrab sekali.

Aku berlari-lari kecil menguntit teman-temanku yang lain yang rupanya sudah lebih dulu selesai menjalani pemeriksaan. Kami berjalan beriringan menuju ke gate 13 yang terletak di ujung gedung keberangkatan.

Lapangan terbang antarbangsa Kota Kinabalu (Kota Kinabalu International Airport, disingkat KKIA). Kode panggilannya menurut versi ATA adalah BKI, dan panggilan resmi versi ICAO adalah WBKK. Terletak kira-kira 8 kilometer dari pusat kota Kota Kibalu. KKIA merupakan lapangan terbang antarbangsa yang tersibuk kedua setelah lapangan terbang antarbangsa Kualalumpur. Arus penumpang yang datang dari luar dan pergi ke luar KKIA diperkirakan sekitar 4 juta orang per tahun.

Menurut Wikipedia Indonesa, KKIA dibangun oleh Bala Tentara Dai Nippon pada tahun 1942. Ketika meletus Perang Dunia II, KKIA rusak berat akibat dibombardir oleh Allied Forces. Tahun 1945, Bala Tentara Dai Nippon menyerah kalah tanpa syarat kepada pasukan tempur Sekutu.
KKIA kemudian dibina oleh Departemen Penerbangan Sipil Borneo Utara (Departement of Civil Aviation of North Borneo). Tahun 1957, landasan pacu yang semula berupa jalan berumput ditingkatkan kualitasnya menjadi landasan pacu beraspal mulus. Tahun 1959, panjang landasan pacu ditambah menjadi 1.593 meter untuk memungkinkan pesawat terbang milik maskapai penerbangan Malaysia Airways Viscoount Aircraft mendarat di sini.

Perbaikan dan penambahan fasilitas kembali dilakukan pada tahun 1963, panjang landasan pacu bertambah menjadi 1.921 meter, sehingga mampu didarati oleh .pesawat terbang berbadan besar yang dioperasikan oleh Comet 4. Tahun 1969, seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penerbangan komersial yang beroperasi di sini, maka pemerintah setempat kemudian menunjukkan sebuah Firma Konsultan British untuk merancang pembangunan terminal baru KKIA yang lebih modern lagi.   

Sekarang ini, KKIA mempunyai 2 terminal. Terminal I mempunyai fasilitas berupa 12 pintu masuk, 5 gate, dan 4 ruang pengambilan bagasi. Terminal I mampu melayani arus penumpang sebanyak 2,5 juta orang per tahun. Target penumpang yang dipatok pada tahun-tahun mendatang adalah 9 juta orang.

Sementara itu Terminal II dibangun di seberang Terminal I, mulai dibuka sejak 1 Januari 2007. Fasilitas yang dimilikinya antara lain landasan pacu sepanjang 3.780 meter, 26 konter masuk bagi calon penumpang untuk penerbangan local dan internasional yang dilengkapi dengan 7 set mesin x-ray, 6 tempat parker pesawat Boeing 737 dan Airbus A320, satu ruang tunggu VIP, dan 13 konter imigrasi. Terminal II ini mampu melayani arus penumpang sebanyak 3 juta penumpang per tahun.

Arus penumpang di KKIA diprediksi akan semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal ini sejalan dengan program yang dijalankan oleh Maskapai Penerbangan Air Asia Malaysia yang akan menjadikannya sebagai terminal transit bagi para penumpang Malaysia dan mancanegara yang akan berangkat ke atau akan datang dari daratan China dan Indo China, yakni Guilin, Xianmen, Hong Kong, dan Vietnam.    

Pukul 09.00 Wite,
Calon penumpang Malaysia Airways Sistem dipanggil masuk ke dalam pesawat terbang. Aku dan kawan-kawan serombongan segera memenuhi panggilan itu. Ternyata pesawat terbang yang kami tumpangi tidak begitu besar. Mungkin sejenis pesawat terbang yang dioperasikan oleh Maskapai Penerbangan Wing Air Indonesia yang melayani rute Surabaya Denpasar pulang pergi.

Pukul 09.30 Wite
Pesawat terbang Malaysia Airways yang kutumpangi tinggal landas menuju ke lapangan terbang internasional Labuan. Lapangan terbang internasional Kota Kinibalu dibangun di tepi laut, layaknya lapangan terbang internasional Ngurah Rai di Bali.

Aku kagum melihat Kota Kinibalu dari atas pesawat. Gedung-gedung tinggi, rumah-rumah penduduk yang dibangun di darat, rumah-rumah penduduk yang dibangun di tepi laut, pelabuhan, kapal laut, speed boat, pulau-pulau hijau, lautan yang membiru, sangat asyik dan menawan mata untuk melihatnya. Inilah kesempatan pertama aku melihat pemandangan indah Kota Kinibalu dari atas pesawat terbang.

Tadi malam kami sebenarnya sudah melintasinya, namun karena pesawat Air Asia Malaysia yang membawa kami melintasinya pada malam hari, maka aku tidak bisa melihat pemandangan alam nun di bawah saja, karena kota ini ketika itu diliputi awan hitam.

Situasinya berbeda dengan sekarang, langit pagi Kota Kinibalu yang cerah membuat semua pemandangan yang ada di bawah dapat kulihat keindahannya.

TENGAH MALAM DI KOTA KINABALU

KAMIS, 27 JUNI 2013          
Pukul 01.00 Wite
Aku menulis status facebook bahwa aku akan nonaktif selama beberapa hari karena bepergian ke Kota Kinabalu, Labuan, dan Kualalumpur. Tujuan penulisan status ini adalah agar teman-teman faceboker bisa memakluminya jika pesan-pesan dan kometar-komentar yang mereka kirimkan kepadaku tidak bisa kubalas dan kutanggapi dengan cepat sebagaimana mestinya.

Masih melelalui status facebook itu juga aku memohon doa kepada teman-teman faceboker. Cukup banyak doa dan komentar yang kuterima. Beberapa diantaranya dikirimkan oleh rekan-rekanku sesama sastrawan Kalsel dan para mahasiswaku di PBSID STKIP PGRI Banjarmasin.
Tidak lupa kuucapkan terima kasih kepada semuanya.

Pukul 07.30 Wite
Aku meninggalkan rumah menuju ke kantor. Tidak seperti biasanya hari ini aku diantarkan dengan sepeda motor oleh adik iparku.  Biasanya aku berangkat ke kantor sendiri dengan mengendarai sepeda motorku.
Kegiatan pertama yang kulakukan di kantor adalah mengisi daftar hadir, kemudian ikut apel pagi, setelah itu lapor kepada atasan langsung mengenai rencana keberangkatanku ke Kota Labuan, dan terakhir masuk ke ruang kerjaku.

Pukul 09.30 Wite
Aku jalan kaki ke Taman Budaya Banjarmasin, di tempat ini kami berkumpul untuk kemudian pergi bersama-sama ke lapangan terbang Syamsuddin Banjarbaru. Tidak berapa lama datanglah Saudara YS Agus Suseno, kemudian Saudara Irwan Alfiadin. Dari jauh kulihat mobil Pak Syarifuddin, kami bergegas menuju ke tempat Pak Syarifuddin menunggu.

Kami kemudian masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Syarifuddin dan langsung dibawa ke rumah beliau. Kami kemudian ganti mobil dan berangkat ke lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru dengan diantarkan oleh anak Pak Syarifuddin.

Ketika melewati Jalan Pramuka Banjarmasin, tepatnya di sekitar Kantor Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Kalimamntan Selatan, mobil berhenti untuk memberikan kesempatan kepada Saudara Micky Hidayat untuk naik ke mobil. Selanjutnya mobil melaju ke lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru.

Pukul 10.15 Wite
Kami tiba di lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru. Di pintu masuk kami menjalani pemeriksaan X-Ray dan pemeriksaan metal detector, setelah itu menunggu pengurusan tiket dan boardingpas yang dilakukan oleh Saudara Irwan Alfiadin. Selanjutnya naik ke ruang keberangkatan di lantai dua.

Sementara menunggu panggilan masuk ke pesawat terbang kami minum kopi dan teh di sebuah cafe yang ada di lantai dua. Sekitar 15 menit kemudian kami dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat terbang. Dari beranda ruang keberangkatan kami dibawa dengan dua buah bis menuju ke sisi pesawat terbang Lion Air Indonesia yang bakal membawa kami ke lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.

Pukul 10.30 Wite
Pesawat terbang Lion Air Indonesia tinggal landas meninggalkan lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru menuju ke lapangan terbanginternasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Kulihat semua kursi terisi dengan penumpang. Maklumlah, sekarang ini sedang musim liburan sekolah.

Aku sempat tertidur sejenak di dalam pesawat, namun terbangun karena dikejutkan oleh pengumuman rutin yang sebenarnya tidak begitu penting.

Otoritas pesawat terbang Lion Air Indonesia yang kami tumpangi mengumumkan bahwa mencuri baju pelampung adalah perbuatan melanggar hukum, dan untuk itu kepada pelakunya akan dikenakan sanksi hukuman penjara. Tidak lupa pula diumumkan bahwa pihak otoritas akan melakukan razia atas barang bawaan penumpang.

“Akh.,Siapa juga yang mau mencuri baju pelampung itu?” gumamku kesal karena harus terbangun oleh pengumuman rutin yang sebenarnya tidak pentiung menurut versiku, tetapi termasuk penting menurut versi pihak otoritas kapal terbang ini.

Bisa jadi pengumuman rutin tersebut merupakan petunjuk bahwa pihak Lion Air Indonesia telah menderita kerugian yang sangat signifikan akibat ulah para kleptomania yang mencuri baju pelampung milik perusahaan yang berharga mahal itu. Entahlah. 

Pukul 11.450 Wite
Pesawat terbang Lion Air Indonesia yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.

Kami tidak langsung menuju ke Terminal II Keberangkatan Luar Negeri, tetapi singgah dulu untuk makan minum di sebuah longe yang ada di Terminal I Kedatangan Dalam Negeri.

Pukul 16.30 Wite
Kami meninggalkan Terminal I Kedatangan Dalam Negeri menuju ke Terminal II Keberangkatan Luar Negeri. Kami naik bis yang melayani trayek dari terminal ke terminal yang ada di lingkungan lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.

Setelah mengurus tiket dan boardingpas, kami menjalani pemeriksaan X-Ray dan pemeriksaan metal detector. Selanjutnya kami berjalan beriringan menuju ke konter imigrasi. Ternyata antrian di konter imigrasi ini sangat panjang. Setelah selesai menjalani pemeriksaaan paspor kami diperbolehkan masuk ke ruang tunggu di Gate 6.

Pukul 19.00 Wite
Kami dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat terbang Air Asia Malaysia yang akan membawa kami terbang ke lapangan terbang internasional Kota Kinabalu. Kami diantar ke sisi pesawat dengan menumpang tiga buah bis.
.
Pukul 19.30 Wite
Pesawat terbang Air Asia Malaysia tinggal landas meninggalkan lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Kulihat semua kursi terisi dengan penumpang.

Tidak banyak yang bisa kulihat selama dalam perjalanan melintasi Pulau Borneo atau Pulau Kalimantan pada malam hari ini. Pemandangan yang kulihat nun di bawah sana cuma gelap semata. Maklumlah, cuaca ketika itu sedang buruk dan awan tebal menutupi daerah-daerah yang dilintasi pesawat terbang yang kutumpangi.

Selama dalam perjalanan ini aku berusaha memejamkan mata sambil merasakan tubuh yang sangat lelah. Maklumlah, sepanjang hari ini aku tak sempat istirahat dalam pengertian yang sebenarnya.

Pukul 23.00 Wite
Pesawat terbang yang kutumpangi mendarat dengan mulus di lapangan terbang internasional Kota Kinabalu. Inilah tempat pertama yang kujejak di Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur. Aku berharap bisa berulang kali lagi menjejak tempat ini dan tempat-tempat lain yang ada di kawasan ini. Amin.   

Aku dan kawan-kawan seperjalanan saling beriringan menuju ke konter imigrasi. Kulihat ada petugas setempat yang menyorotkan kamera  ke arah kami dan para penumpang lainnya. Boleh jadi, hal ini merupakan prosedur tetap di lapangan terbang internasional Kota Kinabalu, yang sengaja dilakukan oleh para petugas setempat sebagai bagian dari kegiatan untuk memastikan keamanan nasional Negara Malaysia. Maklumlah, pesawat yang kami tumpangi baru datang dari negara tetangga (baca luar negeri). Entahlah.

"Nak apa, encik ke KK?," petugas Imigrasi Malaysia yang memeriksa pasporku bertanya tanpa menoleh ke arahku. Matanya tetap menatap ke arah pasporku. Dia seorang wanita dengan seragam kerjanya yang keren hingga menambah wibawanya sebagai seorang petugas.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan itu, karena ada satu kata yang tidak kupahami, yakni KK. Di telingaku sendiri KK terdengar diucapkan Qiqi oleh petugas Imigrasi Malaysia dimaksud. Namun, tidak berselang lama aku dapat memahaminya, KK adalah inisial untuk menyebut Kota Kinabalu.

"Nak, ikut Dialog Boneo Kalimantan di Labuan"
"Apa tu?
"Pertemuan antarbangsa para pengarang, sarjana dan peminat bahasa, sastra, dan budaya yang tinggal di  kawasan Borneo atau Kalimantan."
“Encik naik apa ke Labuan?”
“MAS” (Kuucapkan dengan logat Inggeris: mess). Malaysia Airlines Sistem,” ujarku melengkapi.
"Nak berapa masa di Labuan?"
"Empat hari."
"Berapa ramai yang datang bersama encik ke Labuan?"
Aku berpikir sejenak, aku mencoba memahami kosa-kata ramai, setelah memahaminya lalu kujawab
"Lima orang"
Kulihat ada petugas Imigrasi Malaysia lain mendekat ke meja kerja wanita yang sedang mewawancaraiku itu. Boleh jadi, ia adalah atasannya.
Namun, tak berselang lama, petugas Imigrasi Malaysia itu menyerahkan pasporku dan aku dipersilakan masuk ke Kota Kinibalu.
Hanya aku yang diwawancarai oleh petugas Imigrasi Malaysia, temanku yang lain bisa langsung melenggang masuk ke Kota Kinabalu tanpa ditanya apa-apa.
"Mungkin, karena aku yang paling ganteng. Hehehe."

Setelah selesai menjalani pemeriksaaan di Konter Imigrasi, aku dan kawan-kawan seperjalanan segera memesan taksi untuk menuju ke tempat penginapan di tengah Kota Kinibalu.
Jarak antara lapangan terbang internasional Kota Kinabalu dengan tempat penginapan ternyata tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan.

Malam itu kami menginap di Penginapan Api-api Centre, sebuah bangunan besar yang terdiri  dari beberapa blok bertingkat 7. Menilik dari bentuk fisik dan tata ruangnya aku menduga bangunan ini adalah paduan antara bangunan pasar dan penginapan. Toko-toko di pasar itu sudah tutup semua, yang masih buka adalah tempat kerja manajemen penginapan, restoran (di dalam ruangan tertutup), rumah makan (di ruangan terbuka), dan warnet yang dibuka semalam suntuk.

Kami naik lift menuju ke lantai tiga nomor 146 yang terletak di blok satu, seorang karyawan penginapan memandu kami menuju ke sana. Kulihat semua kamar memiliki dua pintu, pintu pertama berupa pintu berjeruji besi, dan pintu kedua berupa papan. Setiap pintu dilengkapi dengan kunci masing-masing. Setelah meletakkan barang bawaan di kamar penginapan, aku dan kawan-kawan seperjalanan turun ke lantai dasar untuk makan malam.

Malam itu kami makan malam di sebuah warung makan minum milik seorang warga Malaysia keturunan Pakistan. Hal ini kuketahui dari nama restoran dan wajah pemiliknya berikut para anak buahnya yang melayani kami makan minum malam itu. Suasananya sangat ramai karena banyak orang yang makan minum di sini.

Aku memesan nasi goreng dengan lauk-pauk telur ayam masak habang (bumbu Bali), untuk minumannya aku memesan teh tarik (yang ternyata adalah teh susu), dan ais kosong (air es).

Selepas makan minum, aku sebenanrnya ingin sekali masuk ke warnet yang malam itu tampak penuh sesak. Aku ingin mengirim kabar berita via facebook, namun tak jadi karena tak ada yang mau menemani. Hehehe, dari pada tak tahu jalan kembali menuju ke kamar penginapan dan harus tidur di warnet, maka adalah lebih baik aku tak singgah di warnet.

Pintu masuk dan dinding depan warnet dimaksud terbuat dari kaca polos, sehingga dari luar siapa saja bisa melihat dengan jelas apa yang sedang berlangsung di dalam ruangan warnet. Dari tempatku berdiri di luar ruangan, kulihat semua komputer yang ada di warnet tersebut diletakkan berjajar di sebuah meja panjang, tempat online mereka tidak disekat-sekat seperti lajimnya di warnet-warnet yang ada di Kota Banjarmasin. Sehingga para onliner bisa saling melihat monitor onliner yang lainnya.

Tata ruang yang terbuka seperti ini membuat para onliner tidak dapat dengan leluasa membuka situs-situs porno yang ada di internet. Tidak seperti di Kota Banjarmasin, warnet-warnet sudah menjadi tempat kencan yang nyaman bagi muda-mudi berlainan jenis. Bahkan lebih dari pada itu sudah menjadi tempat yang asyik untuk bercumbu rayu tanpa takut diganggu orang lain.

Tata ruang warnet yang disekat-sekat sedemikian rupa menjadikannya sebagai bilik-bilik pribadi yang rawan digunakan sebagai tempat berbuat mesum. Demi mengurangi dampak negative yang memprihatinkan kita semua, maka tata ruang warnet di Kota Banjarmasin tampaknya patut meniru tata ruang warnet di Kota Kinabalu.

Setelah selesai makan, aku dan kawan-kawan seperjalanan kembali ke kamar penginapan dan berusaha untuk memejamkan mata masing-masing, sambil membayangkan bagaimana perjalanan ke Pulau Labuan esok pagi. Namun, mata kami sulit dipejamkan, karena nun di bawah sana terdengar bunyi raungan mobil dan motor yang sengaja dipacu dengan kencangnya sepanjang malam. Raungan mobil dan motor itu sangat jelas terdengar di telinga kami, padahal, kamar tempat kami menginap malam itu berada cukup tinggi, yakni di lantai 3.


ENAM JAM TRANSIT DI LAPANGAN TERBANG INTERNASIONAL KUALALUMPUR



MINGGU, 30 JUNI 2013
Pukul 06.00 Wite                    
            Aku dan kawan-kawan serombongan sudah siap berangkat meninggalkan halaman Penginapan Api-api Centre di Kota Kinabalu. Kami menumpang dua buah taksi menuju ke lapangan terbang internasional Kota Kinabalu. Sekitar 15 menit kami sudah tiba di tempat tujuan karena jaraknya cuma sekitar 10 kilometer.
Pengambilan tiket, boardingpas, pemeriksaan X-Ray, pemeriksaan metal detector dapat kami lalui dengan mudah tanpa insiden apa-apa. Tidak seperti biasanya kali ini aku diloloskan begitu saja tanpa ditanya apa-apa oleh para petugas.
Diantara kawan-kawan serombongan akulah yang paling sering berurusan dengan para petugas di lapangan terbang, minimal diajak bicara ini itu oleh mereka. Di mata mereka profilku boleh jadi agak mysterious sehingga menarik perhatian mereka.
Secara berkelakar YS Agus Suseno menyebutku sebagai orang yang manis dagingan, orang yang sering diincar orang untuk dijadikan mangsa (korban). Memang, dalam beberapa kali perjalanan, terutama yang lakukan sendirian, atau yang kulakukan berdua dengan istriku, aku sering mengalami hal-hal tidak biasanya.
Namun, justru hal-hal yang tidak biasanya inilah yang menjadi bumbu-bumbu penyebab dalam catatan perjalananku. Mula-mula memang menegangkan, tapi pada akhirnya justru berakhir happy ending.
Pukul 07.30Wite
            Sesuai dengan data yang tertera pada tiket dan boardingpas, kami berlima segera menuju ke Gate 3. Pesawat terbang yang kami tumpangi kali ini adalah Air Asia Malaysia tujuan Kualalumpur. Pesawat berangkat sesuai jadwal, tidak ada penundaan sama sekali.
            Perjalanan udara kali ini berlangsung mulus tanpa gangguan apa-apa. Meskipun langit yang kami lalui ketika tampak berkabut. Kabut dimaksud konon berasal dari asap pembakaran lahan yang melayang dari wilayah Provinsi Riau.
             
Pukul 09.30 Wite
            Pesawat terbang yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di lapangan terbang internasional Kualalumpur. Kami tiba di Terminal Kedatangan Dalam Negeri. Setelah menjalani pemeriksaan wajib kami segera ke luar gedung terminal.
            Setelah melihat situasi dan memperoleh informasi yang diperlukan tentang tempat yang harus kami tuju setelah ini, kami berlima masuk ke sebuah warung makan yang  berada tak jauh dari situ. Ternyata pengunjungnya banyak sekali. Kami ikut antri seperti pengunjung lainnya. Cukup lama kami antri di rumah makan ini.
            Aku memilih nasi lemak dengan lauk-paut telur mata sapi dan sepotong ayam gorng, dan untuk minumannya aku memilih kopi. Ternyata kopinya pahit sekali, aku sudah memasukan 3 sachet gula ke dalam cangkirku itu, namun kopinya tetap terasa pahit. Tidak ada pilihan lain aku kemudian mengambil air putih kemasan sebagai penggantinya.
Pukul 10.30 Wite   
            Selepas makan, kami ke luar warung, lalu mencari tempat strategis untuk menunggu bis regular di halte yang terletak di seberang jalan. Aku mengeluarkan rokokku, namun tak jadi, karena di dekatku berdiri ada papan bertulisan dilarang merokok. Tidak hanya itu, di papan itu juga ada tulisan bahwa siapa saja yang merokok di tempat itu akan terkena sanksi hukuman penjara 2 tahun atau denda 2 juta ringgit.
            Aku berseloroh, bahwa ada orang Indonesia yang tinggal di Malaysia selama 2 tahun, semua biaya akomodasi dan konsumsi ditanggung oleh Kerajaan Malaysia alias gratis. Modalnya juga murah, yakni Cuma berupa sebatang rokok yang disulut di tempat terlarang. Cuma sayang seribu kali sayang tempat tinggalnya bukan di rumah atau di hotel mewah, tetapi di hotel pordeo. Hehehehe….
            Cukup lama juga kami berdiri menunggu kedatangan bis regular yang melayani trayek dari Terminal Kedatangan Dalam Negeri ke Terminal Keberangkatan Luar Negeri. Micky Hidayat yang sudah kebelet ingin merokok memilih menyeberang jalan karena di tempat siapa saja boleh merokok. Kulihat para petugas juga meokok di tempat itu.
            Ketika itulah melintas ide iseng di benakku. Ide itu langsung kuterapkan. Tak jauh dari tempatku berdiri ada seorang pria bule berusia sekitar 30 tahun berjalan menuju ke tempatku berdiri. Iseng, kutatap wajah bule itu dengan mimic seolah-olah aku mengenalnya. Bule itu membalas tatapanku dengan mimik seolah-olah ia juga mengenalku.
Namun sejurus kemudian ia rupanya haqqul yaqin aku bukan orang yang penah dikenalnya.
            Aku membayangkan bule itu berguman: “Akh, persetan. Kenal enggak kenal. Emangnya gue pikirin?”
            “Hehehe, emang masalah buat lo.”
            Untunglah, bule itu cuma tersenyum sambil berlalu begitu saja, tidak meninjuku. Sungguh, apa yang kulakukan barusan adalah iseng-iseng berbahaya, bukan iseng-iseng berhadiah.

Pukul 11.30 Wite
            Tidak lama kemudian bis regular yang kami tunggu-tunggu datang dan berhenti di halte tempat di mana kami berdiri menunggunya. Kami dan para penumpang lainnya segera naik ke bis secara tertib satu demi satu tidak berebutan sebagaimana yang lajim terjadi di tanah air kita.
            Ketika dalam perjalanan dari Terminal Kedatangan Dalam Negeri ke Terminal Keberangkatan Luar Negeri, aku melihat di kiri kanan jalan banyak ditanami pepohonan. Sementara itu di kejauhan tampak merimbun kelapa sawit. Ketika berada di udara sesaat sebelum tinggal landas perkebunan kelapa sawit merupakan pemandangan yang menjadi ciri khas lapangan terbang internasional Kualalumpur.
            Pemandangan hijau aneka jenis pepohonan yang dipadu dengan perkebunan kelapa sawit itu membuat lapangan terbang internasional Kualalumpur seolah-olah berada di tengah hutan. Ternyata, menurut catatan yang ada di Wikepedia Indonesia, citra dimaksud memang sengaja diciptakan oleh Kisho Kurokawa yang menjadi perancangnya. Dalam hal ini ia dibantu oleh Institut Penelitian Hutan Negara Malaysia.
            Luas areal lapangan terbang internasional Kualalumpur 100 kilometer persegi. Mampu menampung 130 juta penumpang per tahun. Supaya tidak terjadi penumpukan di satu titik, maka tata ruangnya sengaja didesain begitu rupa, sehingga calon penumpang menjadi tersebar di beberapa titik. Demi kemudahan pelayanan, maka disediakan 216 konter untuk keperluan pembelian tiket, boardingpas, pemeriksaan X-Ray, dan pemeriksaan metal detector.
            Para petugas dan fasilitas yang ada di lapangan terbang internasional Kualalumpur mampu mengelola 120 pergerakan penerbangan per 60 menit. Sistem pengelolaan yang dipakai merujuk kepada TAMS (Total Airport Managemen Sistem). Dilengkapi dengan dua menara pengendali lalu lintas udara, menara utama tingginya 130 meter. Bentuk menara ini seperti obor Olimpiade. Fungsinya sebagai pengendali system lalu lintas udara dan peralatan radar.
            Lapangan terbang internasional Kualalumpur mempunyai 2 landasan pacu yang dibangun parallel dengan panjang 4 kilometer dan lebar 600 meter. Setiap landasan pacu mempunyai 10 jalur antri pesawat terbang dengan waktu tunggu per pesawat terbang antara 1-11 menit. Dalam waktu dekat kedua landasan pacu ini akan mampu didarati oleh peswat terbang berjenis Airbus A380.

Pukul  12.00 Wite
            Kami tiba di Terminal Keberangkatan Luar Negeri, ternyata bis yang kami tumpangi berhenti di lokasi yang relative jauh dari tempat di mana kami harus mengurus tiket, boardingpas, pemeriksaan X-Ray, pemeriksaan metela detector, dan konter imigrasi. Kami kemudian berjalan secara beriringan menuju ke tempat yang dituju.
            Menurut jadwal yang tertea di tiket dan boardingpas, pesawat terbang Lion Air Indonesia baru tinggal landas pukul 15.30 Wite. Masih banyak waktu bagi kami untuk melihat-lihat segala sesuatu yang ada di lingkungan dalam lapangan terbang internasional Kualalumpur ini.
            Namun, aku dan kawan-kawan serombongan memilih jalan aman, yakni langsung menuju ke Gate 6. Kami ke sana menumpang trem listrik. Fasilitas trem listrik merupakan salah satru keistimewaan yang ada di lapangan terbang internasional Kualalulmpur.
            Begitu sampai di Gate 6, belum ada kegiatan apa-apa di sini. Para petugas memang sudah siap sedia di tempatnya, namun tempat pemeriksaan X-Ray, dan pemeriksaan metal detector masih belum dioperasikan.

Pukul 14.45 Wite
            Menjelang tibanya waktu keberangkatan, Gate 6 mulai dipenuhi olkeh calon penumpang. Ternyata jumlah mereka banyak sekali. Sebentar saja Gate 6 sudah penuh sesak dengan calon penumpang.

Pukul 15.30
            Pesawat terbang Lion Air Indonesia tinggal landas menuju ke lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.

Pukul 17.45
            Pesawat terbang Lion Air Indonesia mendarat dengan mulus di lapangan terbang internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten.
            Setelah menjalani pemeriksaan yang diwajibkan kami segera keluar dari Terminal Kedatangan Luar Negeri menuju ke Terminal Keberangkatan Dalam Negeri,. Kami menumpang bis regular yang melayani trayek dari terminal ke terminal yang disediakan oleh otoritas lapangan terbang.
            Begitu tiba di Terminal Keberangkatan Luar Negeri kami tidak langsung ke Gate  12 sebagaimana yang tertera pada tioket dan boardingpas, tetapi singgah dulu ke longe untuk makan minum.

Pukul 19.30
            Pihak maskapai penerbangan Lion Air Indonesia mengumumkan bahwa penerbangan tujuan ke lapangan terbang Syamusddin Noor Banjarbaru ditunda selama 30 menit.

Pukul 20.00 Wite
            Kami diminta masuk ke dalam pesawat terbang. Tidak lama kemudian pesawat terbang tinggal landas.

Pukul 21.45
            Pesawat terbang Lion Air Indonesia mendarat dengan mulus di lapangan terbang Syamsuddin Noor Banjarbaru. Begitu turun dari pesawat kami langsung berebutan masuk ke dalam bis yang bakal membawa kami ke terminal kedatangan.
            Malam itu kami dijemput oleh Saudara Ismail, kerabat dari Bapak Syarifuddin R. Sesampainya di Gambut kami singgah dulu untuk makan malam di sebuah warung nasi.
            Setelah itu Saudara Ismail mengantarkan kami satu per satu. Mula-mula mengantarkan Saudara Micky Hidayat yang tinggal di bilangan Jalan Pramuka, kemudian mengantarkan YS Agus Suseno yang turun di Taman Budaya Banjarmasin.
            Setelah mengantarkan Pak Syarifuddin R, Saudara Ismail  mengantarkan Saudara Irwan Alfiadin yang tinggal di Jalan Zafry Zamzam, dan mengantarkanku ke Jalan Mayjen Soetoyo S, Gang Sepakat, Banjarmasin.

DUA HARI DI KOTA LABUAN



JUM’AT, 28 JUNI 2013
Pukul 09.30 Wite                    
            Pesawat terbang Malaysia Airways Sistem mendarat dengan mulus di lapangan terbang antarbangsa Kota Labuan (IATA: LBU, dan ICAO: WBKL). Tidak lama kemudian kami dijemput oleh panitia Dialog Borneo Kalimantan XI (DBK XI) dengan bis Perbadanan Labuan.
Dalam perjalanan dari lapangan terbang internasional Kota Labuan menuju ke tempat acara DBK XI, aku melihat di sepanjang tepi kanan jalan raya ditanami dengan sejenis pohon yang sangat kukenali, yakni pohon galam. Pohon-pohon galam dimaksud ditanam secara berjejer dengan jarak antara 1-2 meter. Kulihat batangnya sudah sebesar tungkai kakiku. Pohon galam dengan tinggi sekitar 2 meter itu berdaun sangat rimbun.
Pemandangan unik ini menimbulkan inspirasi di hatiku alangkah eloknya jika di tepi kiri dan kanan Jalan Ahmad Yani di bilangan Gambut dan Lianganggang ditanami dengan pohon galam.

Pukul 10.00 Wite
Ternyata jarak tempat acara DBK XI tidak begitu jauh, hanya sekitar 30 menit perjalanan kami sudah tiba di tempat tujuan. Kegiatan DBK XI dipusatkan di salah satu ruangan yang ada di areal Gedung Rektorat Universitas Malaysia Sabah Kampus Antarbangsa Labuan (UMS-KAL).
Panitia DBK XI kemudian menempatkan rombongan kami di sebuah asrama mahasiwa yang diberi nama Kolej Kediaman Blok II/Beta. Asrama ini terdiri dari 5 tingkat. Kami menempati tiga buah kamar yang ada di lantai 3. Asrama semacam ini sangat banyak dibangun di tempat ini.
Kompleks UMS-KAL berada di atas tanah dengan kontur berbukit-bukit, arealnya sangat luas. Bukit-bukit yang mengelilingi bagian belakang komplek ini ditumbuhi dengan aneka jenis pepohonan yang tumbuh dengan suburnya. Pemandangan alamnya menjadi semakin berrtambah indah karena berada di tepi Laut Cina Selatan.
Selama berada di sini aku dan beberapa kawan berulang kali berjalan kaki mendekat ke pantai yang tampak lengang. Hanya sekali-sekali tampak kapal berlayar nun jauh di sana. Kuliah di sini pastilah sangat menyenangkan.
Tata ruang Komplek UMS-KAL sangat rapi, tata ruang semacam ini kukira patut dicontoh oleh lembaga pendidikan yang ingin membangun kampus yang dipadukan dengan asrama mahasiswa, dan fasilitas penunjang pendidikan lainnya. Sesuai dengan namanya maka mahasiswa yang kuliah di sini berasal dari mancanegara. Ketika kami berada di sana para mahasiswanya sedang libur kuliah dan pulang ke kampung halaman atau ke negaranya masing-masing.

 Pukul 10.30 Wite
Selepas mandi dan berpakaian rapi kami dibawa panitia ke tempat acara untuk mengikuti pembentangan makalah di Gedung Teater.
Pada saat mendaftarkan diri sebagai peserta aku menerima nomor bukti pemuatan puisi dalam Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat (Penyelenggara Rusdi Awang, Siti Hadiah Haji Abdul Mutalib, dan Masmah Mohd. Ali, Penerbit Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sabah, 2013).
Pada kesempatan itu aku mengajukan diri kepada Panitia DBK XI sebagai wakil teman-teman sastrawan Kalsel untuk menerimakan dan membawakan Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat sebagai nomor bukti pemuatan  puisi-puisi mereka. Alhamdulillah, Panitia DBK XI berkenan menyetujuinya.
Berikut ini nama-nama sastrawan Kalsel yang puisinya ikut dimuat dalam Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat.
  1. Abdurrahman El Husaini
  2. Ali Syamsuddin Arsi
  3. Arief Rahman Heriansyah
  4. Hajriansyah
  5. Hudan Nur
  6. Helwatin Najwa
  7. Sabhan Saberi Syukur
  8. Samsuni Sarman
  9. Tajuddin Noor Ganie
  10. Zulfaisal Putera
Selain itu aku juga menerimakan nomor bukti pemuatan puisi atas nama Wyaz Ibn Sinentang (Wahyu Yudi, Ketapang, Kalbar), karena beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Kota Labuan, yang bersangkutan mengontakku via inbox facebook, minta tolong diwakili untuk mengambilkan Antologi Puisi Bersama Kepada Sahabat. Masih ada satu lagi yang kuwakili pengambilan nomor bukti pemuatan puisinya, yakni Ibnu HS (Sukamara, Kalteng).
Ada 2 judul puisiku yang ikut dimuat di dalamnya, yakni: Zikir Pancaindra dan Zikir Tanah Warisan.

                                                                                        ZIKIR PANCAINDRA
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Sungai-sungai yang airnya mengalir
dari balik bebatuan di kaki-kaki bukit rimbun
                                                                           kata orang bermuara di lautan lepas
padahal air sungai-sungai itu 
bermuara di ujung lidah-lidah kita
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Kayu-kayu gelondongan yang milir
di sungai-sungai yang gelisah
kata orang bermuara di lidah-lidah
mesin-mesin pencacah kayu-kayu belah bergetah
padahal, penebangan pohon-pohon
di kaki-kaki bukit rimbun
akhirnya membuat angin
yang bertapa di gurun-gurun
leluasa menerbangkan duri-duri pasir
ke ruang-ruang semesta
lalu menebar-nebarkannya
ke kelopak mata kita yang rabun senja
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Bunyi mesin yang menderu-deru
di pabrik-pabrik kayu lapis
kata orang mengembara
mengikuti arah angin ke segenap semesta
padahal, deru mesin-mesin yang gemuruh itu
akhirnya melaju dan masuk ke dalam
gendang-gendang telinga kita
lalu dengan leluasa mendendangkan
lagu-lagu hewaniah di sana
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Asap hitam yang mengepul-ngepul
di cerobong-cerobong pabrik kayu lapis
kata orang mengembara
ke balik-balik awan nun jauh di sana
padahal, asap hitam yang mengepul-ngepul itu
tidak pergi ke mana-mana
ia cuma melayang-layang sejenak
kemudian turun ke bumi
dan menyusup diam-diam
ke dalam paru-paru kita
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Limbah pabrik kayu lapis
atau sampah-sampah rumah tangga
yang kita tumpahkan tanpa rasa bersalah
ke sungai-sungai yang mengalir gelisah
kata orang menguap jadi makanan lelumutan
padahal warnanya yang pasi
diam-diam menyusup masuk ke dalam pori-pori
dan kemudian bergerak leluasa
mencari mangsa di kulit jangat kita
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah

                                                                                     ZIKIR TANAH WARISAN
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Bayang-bayang siapa yang memekat
membuat pelangi pucat di langit barat
sungai terguguk mengidap rabuk lumut
air asinnya mengombak gugup ke laut
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Kupanggil angin, angin bisu
Kupanggil burung, burung bisu
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Lalu, bayang-bayang siapa yang menghitam
menghambur-hamburkan bubuk racun
di tanah warisan ini
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Malam ini bulan mestinya menata langit
menata kilau bintang, menjaga tanah warisan
dari amukan hujan dari amukan badai
tapi kenapa bulan pucat pasi?
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Kupanggil angin, angin bisu
Kupanggil burung, burung bisu
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah

Lalu, bayang-bayang siapa yang menghitam
menghambur-hambur bubuk racun
di tanah warisan ini
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Akh, bila isyaratku
tak disahut angin tak disahut burung
kutadahkan tangan ke langit dan kupuji Tuhan
Subhanallah
Subhanallah
Subhanallah
Sampai rubuh
bersimpuh di kaki-Nya
Yang Maha Kukuh
Allahhuakbar
Allahhuakbar
Allahhuakbar
Allah Maha Besar

Pukul 14.30 Wite
Selepas sholat Jum'at, kami kembali mengikuti pembentangan makalah-makalah oleh para ahli.

SABTU, 29 JUNI 2013
Pukul 06.00 wite
Aku dan YS Agus Suseno berjalan-jalan mengelilingi areal UMS-KAL, setelah itu menuju ke pantai yang terletak tak jauh dari UMS-KAL.  Cukup lama kami berdua berada di kawasan pantai ini.


Pukul 08.00 Wite
Selepas sarapan pagi di kantin, kami mengikuti pemaparan makalah-makalah di Ruang Teater. Kegiatan ini kami ikuti sampai pukul 13.00 Wite. Selepas itu istirahat untuk sholat dan makan siang.

Pukul 14.00 Wite
Para peserta Dialog Borneo Kalimantan XI (DBK XI) dibawa panitia mengunjungi beberapa tempat wisata dan bersejarah di seputaran Kota Labuan.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Taman Damai Layang-layang, sebuah tempat wisata di tepi Laut Cina Selatan. Di tempat ini dibangun Tugu Peringatan Pertempuran Bersejarah antara Tentara Australia versus Tentara Jepang di tahun 1942.
Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Muzium Kimney, yang dibangun di bekas areal Tambang Batubara milik pengusaha Inggeris. Tempat ini berada di atas bukit. Penanda yang paling utama adalah cerobong asap yang menjulang tinggi. Cerobong asap ini dibangun dari batu bata merah.
Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah Muzium Labuan yang terletak di pusat Kota Labuan. Di tempat ini kami melihat diorama yang menggambarkan kronologi peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di KJota Labuan.
Tempat ke-empat yang kami kunjungi adalah Tugu Peringatan Perang Dunia II. Di sekitar tugu ini ditempatkan banyak sekali beton bertulis yang memuat nama-nama tentara Australia yang gugur dalam Perang Dunia II melawan tentara Jepang di kawasan Kota Labuan.
Tempat ke lima yang kami kunjungi adalah Pelabuhan Feri Kota Labuan. Di tempat ini banyak dijual oleh-oleh khas Kota Labuan.
Perjalanan wisata ke lima tempat di atas membuat kami berkesempatan melihat kampung-kampung penduduk yang dibangun di sepanjang jalan yang kami lalui. Kulihat rumah-rumah penduduk banyak yang dibangun dalam bentuk rumah panggung.
Selain itu kami juga berkesempatan melihat-lihat tata ruang Kota Labuan, seperti bangunan gedung perkantoran, hotel-hotel bertingkat, rumah toko, taman-taman kota, dan ragam kehidupan warga kotanya.

Pukul 19.00 Wite
Kami diantar oleh panitia penyelenggara DBK XI ke Lapangan Terbang Antarbangsa Kota Labuan. Kami dijadwalkan berangkat pukul 21.30, ternyata terjadi penundaan sekitar 30 menit dari jadwal yang tertera di tiket dan boardingpas.

Pukul 22.00 Wite,
Pesawat terbang Malaysia Airways Sistem (MAS) tinggal landas menuju ke kota Kinibalu. Ketika itu hujan turun rintik-rintik.

Pukul 22.30 Wite
Setengah jam kemudian kami tiba di Lapangan Terbang Antarbangsa Kota Kinibalu. Ketika kami datang suasana sudah sepi, boleh jadi pesawat terbang yang kami tumpangi adalah pesawat terbang terakir yang datang malam itu. di  Setelah menjalani pemeriksaan wajib, kami ke luar kawasan lapangan terbang, dan selanjutnya menumpang taksi ke Penginapan Api-api Centre.
Ternyata tidak ada kamar yang kosong. Kami disarankan untuk mendatangi pengelola Blok VI yang terletak di seberang jalan, tapi masih di kawasan yang sama. Alhamdulillah ada kamar kosong.
Setelah meletakan barang-barang, kami ke luar hotel untuk makan malam. Kali ini kami makan malam di restoram milik warga negara Malaysia keturunan Tamil Srilangka.
Di Malaysia kulihat banyak sekali orang keturunan Tamil, di berbagai tempat seperti di lapangan terbang banyak sekali ditemui orang-orang keturunan Tamil yang bekerja di berbagai sektor formal dan informal.
Suatu ketika aku pernah berada di Stasiun Kereta Api di Kuala Lumpur, di sana kulihat hampir semua pekerjanya adalah warga negara Malaysia keturunan India.
Setelah makan malam kami segera kembali ke kamar hotel untuk istirahat, menabung tenaga karena besok hari kami harus bangun pukul 05.00 Wite. Pesawat Air Asia yang kami tumpangi menuju ke Kuala Lumpur dijadwalkan tinggal landas pukul 06.00 Wite.

SEKILAS TENTANG KOTA LABUAN
Menurut Wikipedia Indonesia, nama Kota Labuan secara etimologis berasal dari kata labuhan dalam bahasa Melayu, artinya labuhan atau pelabuhan. Kota Labuan terletak di Pulau Labuan, sekitar 10 kilometer dari Pantai Sabah, atau sekitar 30 menit perjalanan dengan pesawat terbang dari Kota Kinabalu, dan 2,5 jam dari Kota Kualalumpur. Luasnya diperkirakan sekitar 98 kilometer persegi. Jumlah penduduknya sekitar 78.000 jiwa (Data, Tahun 2000).
Secara topografis kondisi tanah tempat berdirinya Kota Labuan merupakan gabungan dari tanah daratan yang datar dengan tanah daratan yang bergelombang. Titik tertinggi tanahnya sekitar 85 meter di atas permukaan laut. Hampir 80% kawasannya masih ditutupi oleh hutan vegetasi.
Di sekitar Pulau Labuan terdapat enam pulau kecil lainnya, yakni: Burung, Daat, Kuraman, Papan, dan Rusukan Besar. Pulau-pulau inilah yang secara keseluruhan disebut sebagai Wilayah Persekutuan Labuan dengan ibukotanya Kota Labuan. Daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah adminitrasi pemerintahannya ada 6, yakni Batu Arang, Batu Manikar. Labuan, Layang-layang, dan Lebok Tamiang.
Kota Labuan termasuk kawasan yang terbilang penting di Malaysia Timur. Sejak tahun 1990-an berstatus sebagai pusat keuangan di kawasan lepas pantai Laut Cina Selatan. Selain itu, Labuan juga menjadi kawasan eksplorasi minyak dan gas bumi perairan dalam yang hasilnya sangat signifikan. Tercatat tidak kurang dari 6.500 buah perusahaan besar beroperasi di lepas pantai Pulau Labuan.
Pada awal sejarahnya, Pulau Labuan adalah pulau yang tidak berpenghuni di lepas pantai Pulau Borneo di kawasan Laut Cina Selatan. Mulai dihuni sejak tahun 1840, yakni ketika Inggeris menjadikannya sebagai pangkalan militer untuk menumpas kompolotan bajak laut yang ketika itu bersimaharajalela di Luat Cina Selatan. Ketika itu masih termasuk ke dalam wilayah territorial Kerajaan Brunei Darussalam.
Tahun 1846, Sultan Brunei Omar Ali Saifuddin menanda-tangani surat penyerahan Pulau Labuan kepada Inggeris. Sejak itu Pulau Labuan berkembang pesat menjadi pulau yang penting di kawasan Laut Cina Selatan. Tahun 1848, James Brooke yang ketika itu menjadi penguasa Serawak diangkat menjadi Gubernur Pulau Labuan.
Tahun 1849, diketahui bahwa tanah di Pulau Labuan mengandung deposit batubara dalam jumlah yang melimpah. Sejak itu sebuah perusahaan ditunjuk untuk mengekploitasi dan mengekspor batubara ke Cina.
Ketika meletus Perang Dunia II, Pulau Labuhan dan sekitar sempat dikuasai oleh Angkatan Darat ke 37 Bala Tentera Dai Nippon, yakni antara bulan Desember 1941 sampai dengan Juni 1945. Namanya kemudian diganti menjadi Pulau Maeda sesuai dengan nama panglima yang menjadi penguasanya ketika itu, yakni: Marquis Toshinari Maeda.
Juni 1945, Pasukan Sekutu dibawah komando Jenderal Mac Arthur mendarat di Pulau Labuhan. Sempat terjadi pertempuran sengit di segenap matra tempur, yakni: laut, darat, dan udara antara Pasukan Sekutu dan Tentera Dai Nippon. 9 September 1945, Jenderal Masao Baba, akhirnya dipaksa untuk menanda-tangani surat penyerahan diri di Pulau Layang-layang, sesaat sebelum Komandan Divisi Tentara Australia Mayor Jenderal George F. Wooten tiba di sana.
Juli 1946, Pulau Labuan menjadi bagian dari British North Borneo, hingga kemudian menjadi bagian dari Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur, pada tahun 1963. Selanjutnya, tahun 1984, Pulau Labuan diserahkan kepada pemerintah federal. Sekarang berstatus sebagai Wilayah Persekutuan Labuan.