JUM’AT, 28 JUNI 2013
Pukul 06.30 Wite
Kami
semua sudah siap berangkat menuju ke lapangan terbang internasional Kota Kinabalu.
Begitu tiba di halaman Penginapan Api-api Centre kami sudah dikerubungi oleh
para sopir taksi yang mangkal di situ. Dengan menumpang dua buah mobil taksi
kami beriringan menuju ke lapangan terbang.
Taksi yang kutumpangi berulang kali melewati flyover dan masuk ke jalan satu arah yang beraspal mulus dan bebas hambatan. Jalan ini bukan jalan tol karena tidak ada pungutan ketika masuk ke dan keluar dari jalan bebas hambatan ini. Di Indonesia, jalan satu arah yang bebas hambatan seperti ini disebut jalan tol karena untuk masuk dan berlalu-lintas di jalan ini para pengendara atau penyetir mobil harus membayar dengan sejumlah uang yang telah ditentukan di loket masuk.
Dari dalam taksi yang kutumpangi kulihat topografi Kota Kinabalu hamper sama dengan Kabupaten Kotabaru di Kalsel, yakni paduan antara kawasan laut dan pegunungan. Di kawasan laut kulihat perkampungan penduduk yang dibangun di atas permukaan air dalam bentuk rumah panggung yang berderet-deret. Aku tidak melihat ada rumah lanting dibangun di kawasan ini.
Menurut informasi Wikipedia (2013), Kota Kinabalu terletak di pantai barat Negara Bagian Sabah, tepatnya di dataran yang sempit antara Banjaran Crocker ke timur dan Laut Cina Selatan di barat. Ada 6 pulau di luar pantai kota, yakni Gaya, Manukan, Mamutik, Sepanggar, Sapi, dan Suluk.
Tanah datar terkonsentrasi di pusat kota, beberapa tempat yang dijadikan sebagai distrik pusat bisnis dibangun di atas tanah urugan (hasil reklamasi pantai). Dataran tinggi berupa bukit-bukit yang ada di sekitar pusat Kota Kinabalu tetap dibiarkan ditumbuhi oleh pepohonan yang membentuk hutan hujan tropis sebagai penyuplai udara segar bagi warga kota setempat. Begitu pula halnya dengan beberapa tempat di tepi pantai dibiarkan sebagai tempat tumbuhnya hutan bakau, tempat ini dikenal sebagai Kota Kinabalu Wetlands.
Kota Kinabalu memiliki iklim hutan hujan tropis, di bawah klasifikasi iklim Koppen. Namun, kota ini memiliki musim-musim yang terasa lebih basah dan lebih kering. Bulan Februari, kota ini menerima curah hujan rata-rata 60 mm, yang layak untuk iklim hujan tropis. Dua musim hujan yang menjadi ciri iklim Negara Bagian Sabah ini adalah Muson Timur Laut (Maret dan November) dan Muson Barat Daya (Mei dan September).
Pejabat pemerintahan tertinggi di Kota Kinabalu dipegang oleh seorang walikota. Status kota untuk Kota Kinabalu ditetapkan oleh Kerajaan Malaysia sejak 2 Februari 2000. Walikota yang pernah memerintah di Kota Kinabalu antara lain Datuk Abdul Ghani Rashid (2000-2006), Datuk Ilyas Ibrahim (2006-2011), dan Datuk Abidin Madingkir (2011-sekarang).
Selain menjadi pusat pemerintah, Kota Kinabalu juga merupakan pusat utama perdagangan dan perindustrian di Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur. Sektor indutri utama Kota Kinabalu adalah pertanian, perikanan, kehutanan, minyak, dan gas bumi. Tidak hanya perdagangan dalam negeri yang maju pesat, tetapi juga perdagangan luar negeri. Demi memudahkan pengurusan bisnis yang dijalankan warganegaranya masing-masing, maka beberapa negara sahabat sudah pula menempatkan seorang konsulat jenderalnya di kota ini, yakni Australia, Brunei Darussalam, Indonesia, Jepang, Rumania, dan Swedia.
Jarak dari tempat penginapan ke lapangan terbang antarbangsa Kota Kinabalu Cuma sekitar 15 kilometer saja, sehingga dalam tempo kurang dari 30 menit kami sudah tiba di tempat tujuan. Setelah urusan tiket dan boarding pas beres, kami berlima segera ikut antri untuk masuk ke ruang dalam lapangan terbang. Ketika menjalani deteksi metal petugas yang memeriksaku menyapa dengan ramah.
“Assalammualaikum,
selamat pagi, Cikgu.”
“Waalaikum
salam,” jawabku.
Aku
segera menjawab salam itu, karena ujar pak ustadz mengucap salam hukumnya
sunat, namun menjawab salam hukumnya wajib.
Diam-diam
aku merasa heran, kok petugas deteksi metal ini bisa dengan tepat menebak statusku
sebagai seorang cikgu (guru, tepatnya dosen atau pensyarah dalam bahasa Melayu
Malaysia). Aku menebak-nebak, mungkin karena busana yang kukenakan. Pagi itu
aku mengenakan jas mini warna hitam yang pada lengannya tertera lambang daerah
Pemprov Kalsel. Jas mini ini sendiri kuperoleh sebagai peserta pembekalan bagi
PNS Pemprov Kalsel yang bakal pensiun
tahun 2014.
Aku sengaja mengenakan jas mini ketika bepergian kemana-mana, karena sakunya terletak di dalam dan jumlahnya banyak, sehingga aku bisa menempatkan paspor, tiket pesawat, boarding pas, uang kas, dan handphone di saku-saku bagian dalam jas mini dimaksud.
Namun, bisa jadi petugas pendeteksi metal itu dapat menebak dengan tepat statusku karena modelku rambutku yang menurut mahasiwaku bergaya Morgan Smesh, atau karena warna janggutku yang dua warna, yakni separo hitam dan separo putih. Hehehehe.
Petugas deteksi metal itu menggeladah tubuhku dan sejurus kemudian aku dipersilakan masuk karena memang tidak ditemukan segala sesuatu yang mencurigakan. Tas pakaianku juga lolos dari pemeriksaan X-Ray.
Selama menjalani pemeriksaan dengan alat pendeteksi metal itu aku dan petugas terlibat pembicaraan yang sangat intim. Ia bertanya tentang dari mana dan hendak ke mana. Berapa lama di Malaysia. Kapan pulang ke tanah air? Dst dst.
“Silakan,
Cikgu. Semoga keselamatan selalu menyertai Cikgu selama dalam perjalanan dan
selamat kembali pulang ke tanah air.”
“Amin.”
Kami
saling bersalaman.
Duh,
akrab sekali.
Aku berlari-lari kecil menguntit teman-temanku yang lain yang rupanya sudah lebih dulu selesai menjalani pemeriksaan. Kami berjalan beriringan menuju ke gate 13 yang terletak di ujung gedung keberangkatan.
Lapangan terbang antarbangsa Kota Kinabalu (Kota Kinabalu International Airport, disingkat KKIA). Kode panggilannya menurut versi ATA adalah BKI, dan panggilan resmi versi ICAO adalah WBKK. Terletak kira-kira 8 kilometer dari pusat kota Kota Kibalu. KKIA merupakan lapangan terbang antarbangsa yang tersibuk kedua setelah lapangan terbang antarbangsa Kualalumpur. Arus penumpang yang datang dari luar dan pergi ke luar KKIA diperkirakan sekitar 4 juta orang per tahun.
Menurut Wikipedia Indonesa, KKIA dibangun oleh Bala Tentara Dai Nippon pada tahun 1942. Ketika meletus Perang Dunia II, KKIA rusak berat akibat dibombardir oleh Allied Forces. Tahun 1945, Bala Tentara Dai Nippon menyerah kalah tanpa syarat kepada pasukan tempur Sekutu.
KKIA
kemudian dibina oleh Departemen Penerbangan Sipil Borneo Utara (Departement of
Civil Aviation of North Borneo). Tahun 1957, landasan pacu yang semula berupa
jalan berumput ditingkatkan kualitasnya menjadi landasan pacu beraspal mulus.
Tahun 1959, panjang landasan pacu ditambah menjadi 1.593 meter untuk
memungkinkan pesawat terbang milik maskapai penerbangan Malaysia Airways
Viscoount Aircraft mendarat di sini.
Perbaikan dan penambahan fasilitas kembali dilakukan pada tahun 1963, panjang landasan pacu bertambah menjadi 1.921 meter, sehingga mampu didarati oleh .pesawat terbang berbadan besar yang dioperasikan oleh Comet 4. Tahun 1969, seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penerbangan komersial yang beroperasi di sini, maka pemerintah setempat kemudian menunjukkan sebuah Firma Konsultan British untuk merancang pembangunan terminal baru KKIA yang lebih modern lagi.
Sekarang ini, KKIA mempunyai 2 terminal. Terminal I mempunyai fasilitas berupa 12 pintu masuk, 5 gate, dan 4 ruang pengambilan bagasi. Terminal I mampu melayani arus penumpang sebanyak 2,5 juta orang per tahun. Target penumpang yang dipatok pada tahun-tahun mendatang adalah 9 juta orang.
Sementara itu Terminal II dibangun di seberang Terminal I, mulai dibuka sejak 1 Januari 2007. Fasilitas yang dimilikinya antara lain landasan pacu sepanjang 3.780 meter, 26 konter masuk bagi calon penumpang untuk penerbangan local dan internasional yang dilengkapi dengan 7 set mesin x-ray, 6 tempat parker pesawat Boeing 737 dan Airbus A320, satu ruang tunggu VIP, dan 13 konter imigrasi. Terminal II ini mampu melayani arus penumpang sebanyak 3 juta penumpang per tahun.
Arus penumpang di KKIA diprediksi akan semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal ini sejalan dengan program yang dijalankan oleh Maskapai Penerbangan Air Asia Malaysia yang akan menjadikannya sebagai terminal transit bagi para penumpang Malaysia dan mancanegara yang akan berangkat ke atau akan datang dari daratan China dan Indo China, yakni Guilin, Xianmen, Hong Kong, dan Vietnam.
Pukul 09.00 Wite,
Calon
penumpang Malaysia Airways Sistem dipanggil masuk ke dalam pesawat terbang. Aku
dan kawan-kawan serombongan segera memenuhi panggilan itu. Ternyata pesawat
terbang yang kami tumpangi tidak begitu besar. Mungkin sejenis pesawat terbang
yang dioperasikan oleh Maskapai Penerbangan Wing Air Indonesia yang melayani
rute Surabaya Denpasar pulang pergi.
Pukul 09.30 Wite
Pesawat
terbang Malaysia Airways yang kutumpangi tinggal landas menuju ke lapangan terbang
internasional Labuan. Lapangan terbang internasional Kota Kinibalu dibangun di
tepi laut, layaknya lapangan terbang internasional Ngurah Rai di Bali.
Aku kagum melihat Kota Kinibalu dari atas pesawat. Gedung-gedung tinggi, rumah-rumah penduduk yang dibangun di darat, rumah-rumah penduduk yang dibangun di tepi laut, pelabuhan, kapal laut, speed boat, pulau-pulau hijau, lautan yang membiru, sangat asyik dan menawan mata untuk melihatnya. Inilah kesempatan pertama aku melihat pemandangan indah Kota Kinibalu dari atas pesawat terbang.
Tadi malam kami sebenarnya sudah melintasinya, namun karena pesawat Air Asia Malaysia yang membawa kami melintasinya pada malam hari, maka aku tidak bisa melihat pemandangan alam nun di bawah saja, karena kota ini ketika itu diliputi awan hitam.
Situasinya berbeda dengan sekarang, langit pagi Kota Kinibalu yang cerah membuat semua pemandangan yang ada di bawah dapat kulihat keindahannya.