BAGIAN IV
CATATAN
PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND
MINGGU,
9 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Pasifik
Pukul 05.00 WB
Seperti subuh
kemarin, telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, peneleponnya juga
sama , yakni karyawan front office hotel. Mereka sengaja melakukannya agar kami
terbangun dari tidur yang lelap.
Peristiwa yang
terjadi kali ketiga ini membuatku semakin yakin bahwa membangunkan tidur para
tamunya pada setiap pukul 05.00 WB (Waktu Bangkok) boleh jadi termasuk bagian
dari tugas mereka.
Pukul 06.00 WP
Begitu
terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi
yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok
gigi, dan mandi.
Pukul 07.00 WP
Kami
masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu
nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum
air putih dan teh manis.
Beberapa
teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, roti
tawar yang diolesi mentega plus gula putih, atau diolesi selai nenas, dan ada
yang memilih mengonsumsi mie instan saja.
Mie
instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan
di sini karena agak sensitive.
Pukul 08.00 WP
Kami
checkout dari Hotel Royal Pasifik Bangkok dan bergegas masuk ke dalam bis yang
sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Tujuan kami hari ini adalah ke Bandara
Suvarnabhumi. Hari ini adalah hari terakhir kami di Bangkok.
Bandara
Suvarnabhumi
09.30 WB
Bis
yang kami tumpangi tiba di terminal keberangkatan luar negeri Bandara
Suvarnabhumi Bangkok.
Setelah
menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami
semua naik ke ruang tunggu keberangkatan di Gate D-1.
Sepanjang
jalan yang dilalui di bagian dalam bandara kami masih menggunakan kesempatan
yang tersisa untuk mengambil foto-foto.
Ketika
duduk di Gate D-1, aku melihat banyak jemaah umrah Indonesia keluar dari pesawat Mandala Tiger Air yang baru tiba dari
Jakarta. Pesawat itulah yang akan kami tumpangi untuk pulang ke Jakarta
sebentar lagi.
Pukul
11.30 WB, pesawat terbang Mandala Tiger Air yang kami tumpangi tinggal landas
dari Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Aku duduk di kursi 24/E. Selamat tinggal
Bangkok, sampai jumpa lagi di lain kesempatan.
Bandara
Soekarno Hatta
14.30 WIB
Pesawat
terbang Mandala Tiger Air yang kami tumpangi mendarat di Bandara Soekarno
Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.
Setelah
melalui pemeriksaan imigrasi, dan pengambilan bagasi, kami segera ke luar terminal
kedatangan luar negeri menuju ke terminal keberangkatan dalam negeri.
Kami
naik bis gratis yang disediakan oleh otoritas bandara. Setelah urusan tiket,
boardingpass, dan pemasukan bagasi selesai dilakukan, kami semua makan malam di
sebuah restoran cepat saji di lingkungan dalam bandara.
Selepas
makan malam, kami menuju ke Gate F3 untuk menunggu panggilan masuk ke pesawat
terbang. Pukul 19.15, kami dipanggil masuk ke pesawat terbang Garuda Indonesia.
Aku duduk di kursi 42/K. Selanjutnya, pukul 19.30 Wib, pesawat terbang Garuda
Indonesia tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta.
Bandara
Syamsuddin Noor
22.00 Wite
Pesawat terbang yang kami tumpangi mendarat di
Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Bandara ketika itu diguyur hujan lebat.
Setelah selesai mengambil bagasi, aku pamit kepada
ketua rombongan, dan kawan-kawan lainnya. Aku kemudian naik taksi bandara
menuju ke rumahku. Tarifnya Rp. 100.000,-
Pukul 24.00 Wite aku tiba kembali di rumahku di
bilangan Jalan Mayjen Soetoyo S, gang Sepakat RT 9 Nomor 30, Banjarmasin.
Alhamdulillah.
Profil Raja
Bhumibol Adulyadej
Sepulang
dari melakukan perjalanan wisata selama 4 hari di Thailand aku mencoba
melakukan restrofeksi atas apa yang kualami, kurasakan, dan kupikirkan.
Salah
satu hasil pengamatan yang membuatku sangat terkesan adalah fakta bahwa rakyat
Thailand sangat menghormati rajanya:
Bhumibol Aduljadej. Kulihat foto-foto Raja Thailand ini dipasang di banyak
tempat di Bangkok dan Pattaya.
Menurut
situs Wikipedia Indonesia,
Paduka
Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej
lahir di Cambridge, Massachusetts,
Amerika
Serikat, 5 Desember 1927. Ia merupakan anggota Dinasti
Chakri, ayahnya Raja Mahidol
Adulyadej.
Masa sekolahnya mulai dari tingkat dasar
hingga tingkat perguruan tinggi dijalaninya di kota Lausanne,
Swiss. Ketika itu sebagian besar anggota keluarga beliau memang tinggal di Swiss. Beliau lulus
SLTA dengan prestasi memperoleh nilai tinggi pada Sastra Perancis, Latin,
dan Yunani.
Beliau kemudian belajar Ilmu Pengetahuan di Universitas Lausanne, Swiss.
Tahun 1935, kakaknya Ananda
Mahidol menjadi Raja Thailand. Namun, Juni 1946, Ananda Mahidol meninggal
dunia secara misterius. Bhumibol Adulyadej kemudian menggantikannya sebagai
Raja Thailand, 9 Juni 1946. Usianya ketika itu baru 19 tahun
Namun, saat itu, beliau tidak langsung naik takhta
karena harus menyelesaikan pendidikan hukum dan ilmu politik di Swis, yang
kelak sangat berguna dalam kedudukannya sebagai Raja Thailand.
Menjelang akhir pendidikannya, beliau berkenalan
dengan sepupu jauhnya Mom
Rajawongse Sirikit Kitiyakara, puteri Duta Besar Thailand di Paris. Cinta
keduanyapun bersemi. Juli
1949, keduanya
bertunangan, dan Mei 1950, keduanya menikah. Sekarang, pernikahan itu telah
melahirkan empat anak, seorang putra dan tiga orang putri.
Bhumibol Aduljadej memerintah Kerajaan Thailand dengan
dibantu seorang wakil raja. Tahun 1950, beliau naik takhta sebagai Raja Thaild
dengan Raja Rama IX. Kepemimpinannya mendapat tempat yang baik di lubuk hati
rakyatnya. Sentuhan-sentuhan pribadinya sangat mengesankan rakyatnya.
Beliau seorang penggemar musik jazz dan lagu
kontemporer. Dalam hal ini beliau adalah anggota kehormatan Institut Musik dan
Seni Wina (Austria).
Selain itu, beliau menggemari fotografi, mengarang, dan menerjemahkan karya
sastra. Di bidang olahraga, beliau adalah seorang atlet cabang layar dengan
prestasi utamanya sebagai meraih medali emas dalam ajang Asian Games (SEA GAMES di Manila, 1967).
Beliau sebenarnya adalah raja yang enggan memasuki
koridor politik. Namun, demi kepentingan kehidupan rakyat banyak, beliau tak
bisa tinggal diam. Tahun 1973, secara jelas, beliau menghendaki Marsekal Thanom Kittikachorn mundur dari rezim militer
dan membentuk pemerintahan demokrasi.
Menyusul kudeta tahun 1991, raja kemudian
mendesak rezim militer pimpinan Jenderal Suchinda Kraprayoon
mengadakan pemilu. Rakyat marah karena partai pemenang pemilu tahun 1992 menempatkan
Jenderal Suchinda sebagai perdana menteri.
Beliau kemudian memanggil Jenderal Suchinda
dan Mayjen Chamlong Srimuang yang
pro-demokrasi. Kedua jenderal itu menghadap raja sambil berlutut. Ketika itu
beliau dengan tegas meminta agar demokrasi ditegakkan di Thailand. Sejak itu,
kudeta militer menjadi tabu di Thailand.
Posisi Tawar
Wisatawan
Indonesia di
Thailand
Hasil
pengamatanku yang agaknya juga patut diungkapkan adalah fakta bahwa posisi
tawar wisatawan Indonesia di Thailand mengarah kepada gejala-gejala yang
positif.
Indikatornya
antara lain ditunjukkan dari fakta bahwa semakin hari semakin banyak saja
pemandu wisatawan dan pedagang cenderamata (souvenir) setempat yang dengan
sadar berusaha belajar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Selain
itu, para pelaku bisnis kuliner di Thailand juga sudah mulai melirik potensi
bisnis kuliner makanan dan minuman halal bagi wisatawan Indonesia yang pada
umumnya beragama Islam. Semakin hari semakin banyak saja pengusaha setempat
yang membuka usaha restoran halal bagi wisatawan Muslim yang datang dari
Indonesia
Pemicunya
adalah fakta nyata bahwa semakin hari arus kunjungan wisatawan Indonesia ke
Thailand menunjukkan gejala semakin meningkat saja. Peningkatan ini menunjukkan
bahwa semakin hari wisatawan Indonesia semakin potensial sebagai sumber
financial yang paling prospektis di masa depan (pendongkrak perolehan devisa
yang sangat potensial).
Fakta
lain, uang rupiah telah diakui sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi
jual beli cenderamata (souvenir) di banyak pasar dan toko swalayan di seantero
Thailand. Tidak hanya itu, uang rupiah juga berlaku sebagai alat pembayaran
yang sah di pusat produksi batu permata yang berharga mahal, dan di pusat
produksi madu yang juga berharga mahal. Fakta ini menunjukkan bahwa uang rupiah
telah dihargai pada level yang relative tinggi di kalangan public pelaku usaha bisnis
di seantero Thailand.
Ganjalan
yang masih ada hanya di level perbankan dan bursa penukaran valuta asing saja.
Di mana uang rupiah masih belum bisa dipertukarkan di kedua lembaga financial
ini. Namun, ganjalan ini akan berhasil dihilangkan jika arus wisatawan
Indonesia yang berkunjung ke Thailand di masa-masa yang akan datang akan
semakin dominan saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar