Kamis, 20 Februari 2014

THAILAND IV



BAGIAN IV
CATATAN PERJALANAN WISATA KE NEGERI GAJAH PUTIH THAILAND

MINGGU, 9 FEBRUARI 2014
Hotel Royal Pasifik
Pukul 05.00 WB
Seperti subuh kemarin, telepon di kamar hotelku berdering nyaring sekali, peneleponnya juga sama , yakni karyawan front office hotel. Mereka sengaja melakukannya agar kami terbangun dari tidur yang lelap.
Peristiwa yang terjadi kali ketiga ini membuatku semakin yakin bahwa membangunkan tidur para tamunya pada setiap pukul 05.00 WB (Waktu Bangkok) boleh jadi termasuk bagian dari tugas mereka.

Pukul 06.00 WP
Begitu terbangun aku segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan aktifitas pribadi yang bersifat rutin setiap pagi selepas bangun tidur, yakni: buang air, gosok gigi, dan mandi.

Pukul 07.00 WP
Kami masuk ke restoran hotel untuk sarapan pagi bersama. Aku pagi ini memilih menu nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai lauknya. Selain itu aku juga minum air putih dan teh manis.
Beberapa teman lain kulihat memilih sarapan pagi dengan mengonsumsi roti bakar, roti tawar yang diolesi mentega plus gula putih, atau diolesi selai nenas, dan ada yang memilih mengonsumsi mie instan saja.
Mie instan itu sengaja mereka bawa dari tanah air. Alasannya tak perlu kutuliskan di sini karena agak sensitive.



Pukul 08.00 WP
Kami checkout dari Hotel Royal Pasifik Bangkok dan bergegas masuk ke dalam bis yang sudah menunggu di lapangan parkir hotel. Tujuan kami hari ini adalah ke Bandara Suvarnabhumi. Hari ini adalah hari terakhir kami di Bangkok.

Bandara Suvarnabhumi
09.30 WB
Bis yang kami tumpangi tiba di terminal keberangkatan luar negeri Bandara Suvarnabhumi Bangkok.
Setelah menyelesaikan urusan pemasukan bagasi, pengambilan tiket dan boardingpas, kami semua naik ke ruang tunggu keberangkatan di Gate D-1.
Sepanjang jalan yang dilalui di bagian dalam bandara kami masih menggunakan kesempatan yang tersisa untuk mengambil foto-foto.
Ketika duduk di Gate D-1, aku melihat banyak jemaah umrah Indonesia keluar dari  pesawat Mandala Tiger Air yang baru tiba dari Jakarta. Pesawat itulah yang akan kami tumpangi untuk pulang ke Jakarta sebentar lagi.
Pukul 11.30 WB, pesawat terbang Mandala Tiger Air yang kami tumpangi tinggal landas dari Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Aku duduk di kursi 24/E. Selamat tinggal Bangkok, sampai jumpa lagi di lain kesempatan.
Bandara Soekarno Hatta
14.30 WIB
Pesawat terbang Mandala Tiger Air yang kami tumpangi mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.
Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, dan pengambilan bagasi, kami segera ke luar terminal kedatangan luar negeri menuju ke terminal keberangkatan dalam negeri.
Kami naik bis gratis yang disediakan oleh otoritas bandara. Setelah urusan tiket, boardingpass, dan pemasukan bagasi selesai dilakukan, kami semua makan malam di sebuah restoran cepat saji di lingkungan dalam bandara.
Selepas makan malam, kami menuju ke Gate F3 untuk menunggu panggilan masuk ke pesawat terbang. Pukul 19.15, kami dipanggil masuk ke pesawat terbang Garuda Indonesia. Aku duduk di kursi 42/K. Selanjutnya, pukul 19.30 Wib, pesawat terbang Garuda Indonesia tinggal landas dari Bandara Soekarno Hatta.

Bandara Syamsuddin Noor
22.00 Wite
Pesawat terbang yang kami tumpangi mendarat di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Bandara ketika itu diguyur hujan lebat.
Setelah selesai mengambil bagasi, aku pamit kepada ketua rombongan, dan kawan-kawan lainnya. Aku kemudian naik taksi bandara menuju ke rumahku. Tarifnya Rp. 100.000,-
Pukul 24.00 Wite aku tiba kembali di rumahku di bilangan Jalan Mayjen Soetoyo S, gang Sepakat RT 9 Nomor 30, Banjarmasin.
Alhamdulillah.

Profil Raja Bhumibol Adulyadej
Sepulang dari melakukan perjalanan wisata selama 4 hari di Thailand aku mencoba melakukan restrofeksi atas apa yang kualami, kurasakan, dan kupikirkan.
Salah satu hasil pengamatan yang membuatku sangat terkesan adalah fakta bahwa rakyat Thailand sangat  menghormati rajanya: Bhumibol Aduljadej. Kulihat foto-foto Raja Thailand ini dipasang di banyak tempat di Bangkok dan Pattaya. 
Menurut situs Wikipedia Indonesia,
Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej lahir di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 5 Desember 1927. Ia merupakan anggota Dinasti Chakri, ayahnya Raja Mahidol Adulyadej.
      Masa sekolahnya mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi dijalaninya di kota Lausanne, Swiss. Ketika itu sebagian besar anggota keluarga beliau memang tinggal di Swiss. Beliau lulus SLTA dengan prestasi memperoleh nilai tinggi pada Sastra Perancis, Latin, dan Yunani. Beliau kemudian belajar Ilmu Pengetahuan di Universitas Lausanne, Swiss.

Tahun 1935, kakaknya Ananda Mahidol menjadi Raja Thailand. Namun, Juni 1946, Ananda Mahidol meninggal dunia secara misterius. Bhumibol Adulyadej kemudian menggantikannya sebagai Raja Thailand, 9 Juni 1946. Usianya ketika itu baru 19 tahun
Namun, saat itu, beliau tidak langsung naik takhta karena harus menyelesaikan pendidikan hukum dan ilmu politik di Swis, yang kelak sangat berguna dalam kedudukannya sebagai Raja Thailand.
Menjelang akhir pendidikannya, beliau berkenalan dengan sepupu jauhnya Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara, puteri Duta Besar Thailand di Paris. Cinta keduanyapun bersemi. Juli 1949, keduanya bertunangan, dan Mei 1950, keduanya menikah. Sekarang, pernikahan itu telah melahirkan empat anak, seorang putra dan tiga orang putri.
Bhumibol Aduljadej memerintah Kerajaan Thailand dengan dibantu seorang wakil raja. Tahun 1950, beliau naik takhta sebagai Raja Thaild dengan Raja Rama IX. Kepemimpinannya mendapat tempat yang baik di lubuk hati rakyatnya. Sentuhan-sentuhan pribadinya sangat mengesankan rakyatnya.
Beliau seorang penggemar musik jazz dan lagu kontemporer. Dalam hal ini beliau adalah anggota kehormatan Institut Musik dan Seni Wina (Austria). Selain itu, beliau menggemari fotografi, mengarang, dan menerjemahkan karya sastra. Di bidang olahraga, beliau adalah seorang atlet cabang layar dengan prestasi utamanya sebagai meraih medali emas dalam ajang Asian Games (SEA GAMES di Manila, 1967).
Beliau sebenarnya adalah raja yang enggan memasuki koridor politik. Namun, demi kepentingan kehidupan rakyat banyak, beliau tak bisa tinggal diam. Tahun 1973, secara jelas, beliau  menghendaki Marsekal Thanom Kittikachorn mundur dari rezim militer dan membentuk pemerintahan demokrasi.
Menyusul kudeta tahun 1991, raja kemudian mendesak rezim militer pimpinan Jenderal Suchinda Kraprayoon mengadakan pemilu. Rakyat marah karena partai pemenang pemilu tahun 1992 menempatkan Jenderal Suchinda sebagai perdana menteri.
Beliau kemudian memanggil Jenderal Suchinda dan Mayjen Chamlong Srimuang yang pro-demokrasi. Kedua jenderal itu menghadap raja sambil berlutut. Ketika itu beliau dengan tegas meminta agar demokrasi ditegakkan di Thailand. Sejak itu, kudeta militer menjadi tabu di Thailand.

Posisi Tawar Wisatawan
Indonesia di Thailand
Hasil pengamatanku yang agaknya juga patut diungkapkan adalah fakta bahwa posisi tawar wisatawan Indonesia di Thailand mengarah kepada gejala-gejala yang positif.
Indikatornya antara lain ditunjukkan dari fakta bahwa semakin hari semakin banyak saja pemandu wisatawan dan pedagang cenderamata (souvenir) setempat yang dengan sadar berusaha belajar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, para pelaku bisnis kuliner di Thailand juga sudah mulai melirik potensi bisnis kuliner makanan dan minuman halal bagi wisatawan Indonesia yang pada umumnya beragama Islam. Semakin hari semakin banyak saja pengusaha setempat yang membuka usaha restoran halal bagi wisatawan Muslim yang datang dari Indonesia
Pemicunya adalah fakta nyata bahwa semakin hari arus kunjungan wisatawan Indonesia ke Thailand menunjukkan gejala semakin meningkat saja. Peningkatan ini menunjukkan bahwa semakin hari wisatawan Indonesia semakin potensial sebagai sumber financial yang paling prospektis di masa depan (pendongkrak perolehan devisa yang sangat potensial).
Fakta lain, uang rupiah telah diakui sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi jual beli cenderamata (souvenir) di banyak pasar dan toko swalayan di seantero Thailand. Tidak hanya itu, uang rupiah juga berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di pusat produksi batu permata yang berharga mahal, dan di pusat produksi madu yang juga berharga mahal. Fakta ini menunjukkan bahwa uang rupiah telah dihargai pada level yang relative tinggi di kalangan public pelaku usaha bisnis di seantero Thailand.
Ganjalan yang masih ada hanya di level perbankan dan bursa penukaran valuta asing saja. Di mana uang rupiah masih belum bisa dipertukarkan di kedua lembaga financial ini. Namun, ganjalan ini akan berhasil dihilangkan jika arus wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand di masa-masa yang akan datang akan semakin dominan saja.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar