Sabtu, 19 Januari 2013

CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK



CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK

SELASA, 18 DESEMBER 2012
Pukul 01.00 Wite
Malam ini hujan turun dengan derasnya sehingga kota Banjarmasin basah kuyup dibuatnya. Malam ini aku sengaja tidak masuk kerja seperti biasanya. Lampu di ruang kerjaku sudah kumatikan sejak pukul 22.00 Wite, dan pintunya juga kututup rapat. Mataku sebenarnya belum mengantuk, namun aku sengaja masuk ke kamar tidur lebih awal. Di kamar tidur itu aku berusaha sebisanya memejamkan mata agar cepat tertidur. Sengaja kuoleskan minyak angin di pelipisku supaya mataku menjadi mengantuk karenanya. Sementara itu, hujan turun semakin lebat membuat hawa menjadi terasa begitu dingin. Sayup-sayup kudengar bunyi kicauan burung maling nun entah sedang bertengger di dahan pohon yang mana. Bisa jadi di salah satu dahan pohon mangga yang tumbuh subur di halaman depan rumahku. Konon hal itu merupakan pertanda ada maling tengah berkeliaran di sekitar rumah tetanggaku (bukan di sekitar rumahku, lho). Hehehe….  
Pada malam-malam sebelumnya aku selalu masuk kerja, lampu di ruang kerjaku akan terus menyala sampai pukul 04.00 Wite bahkan tidak jarang lampu itu tetap menyala sampai pak muadzin mengumandangkan azan subuh di surau dekat rumahku. Sejatinya, aku tetap betah bekerja di ruang kerjaku itu sampai mataku benar-benar mengantuk. Mataku tak mudah mengantuk karena aku terbiasa tidur siang. Jadi penyebabnya bukan karena aku seorang  pengidap penyakit imsonia (susah tidur) yang konon sangat berbahaya itu. Di ruang kerjaku itu aku mengerjakan pekerjaanku sebagai seorang penulis. Begitulah yang kulakukan dari malam ke malam selama ini. Aku baru libur bekerja malam jika sedang sakit, sedang berada di luar kota, atau jika ada agenda bepergian ke suatu tempat pada pukul 06.00 Wite keesokan harinya.
Kebiasaan tidur larut malam ini, sudah barang tentu membuatku sulit untuk bangun tidur di pagi hari. Jika kunilai tidak begitu penting maka aku sering menolak menerima tawaran bekerja di luar kantor yang jadwal kerjanya dimulai sebelum pukul 07.00 Wite. Aku akan mendapat masalah secara fisik dan psikis jika memaksakan diri bangun tidur sementara mata masih dalam keadaan mengantuk berat, kepalaku akan pusing tujuh keliling dalam tempo yang relatif lama, yakni setengah hari atau bahkan seharian penuh. Malam ini aku memang berkepentingan untuk tidur lebih awal, agar tidak bangun kesiangan pada keesokan harinya. Jika sampai kesiangan maka gagallah rencanaku untuk berangkat ke Pontianak.



Pukul 06.00 Wite
Aku bangun tidur dengan suasana hati riang gembira. Tidur yang cukup membuatku bisa bangun tidur dengan wajar dalam arti tidak dipaksakan. Kepalaku terasa ringan, tidak berat, dan tidak terasa sakit. Aku langsung menuju ke kamar mandi, menyikat gigi, dan kemudian mandi. Lalu mengambil air wudu, dan sholat subuh. Sementara itu istriku memanaskan nasi dan menggoreng ikan patin di dapur. Setelah semuanya siap aku pun segera menyantap hidangan yang disajikan istriku. Tidak biasanya aku makan sepagi ini, biasanya aku makan pada pukul 09.00 wite di rumah atau di warung makan di dekat kantorku.

Pukul 07.00 Wite
Aku berangkat meninggalkan rumah menuju ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Aku mengendarai sepeda motor milik iparku yang duduk membonceng di belakangku. Begitu tiba di kawasan Jalan Ahmad Yani kilometer 4 Banjarmasin, aku menghentikan sepeda motor, turun, dan menyerahkan sepeda motor itu kepada adik iparku. Setelah berbasa-basi adik iparku langsung tancap gas melarikan sepeda motornya kembali ke rumah karena anakku sedang menunggu untuk diantarkan ke sekolah.
Tidak lama kemudian kulihat ada taksi colt warna jingga melintas di depanku. Aku menyetopnya dengan isyarat tangan.
“Ke mana, Pak?” tanya pak sopir.
“Syamsuddin Noor,” jawabku.
Taksi colt warna jingga adalah taksi colt dengan trayek Banjarmasin-Martapura pulang pergi. Sejatinya taksi colt warna jingga ini harus mangkal di Terminal Kilometer 6 Banjarmasin. Namun, pada pagi hari seperti ini banyak sopir taksi yang berspekulasi mencari penumpang di luar terminal, sasarannya adalah para PNS atau para karyawan swasta yang bekerja di Gambut, Simpang Empat Liang Anggang, Landasan Ulin, Guntung Payung, Loktabat, Banjarbaru, dan Martapura. Jumlah mereka sangat banyak, mungkin mencapai ratusan orang.
“Kiri, Pak,” teriakku ketika taksi colt yang kutumpangi tiba di bundaran Landasan Ulin.
Taksi colt berhenti, aku membuka dompetku. Aku menyodorkan uang   Rp. 50.000,- dan menerima kembaliannya Rp. 41.000,-. Terus terang aku agak khawatir jika pak sopir tak punya uang kembaliannya. Biasanya sopir taksi colt akan menyalahkan penumpangnya sebagai orang yang ceroboh karena tidak menyediakan uang pas atau uang dengan nominal yang tidak terlalu besar        (Rp. 10.000,-  Rp. 15.000,- atau Rp. 20.000,-) untuk membayar ongkos taksi colt. Suatu hari aku pernah menyaksikan insiden sengit di sebuat taksi colt, pak sopir dengan kasar melemparkan uang Rp. 50.000,- atau Rp. 100.000,-  ke arah penumpangnya, lalu tancap gas sambil memaki-maki.

Tidak lama berselang seorang tukang ojek datang mendekatiku.
“Bandara,Pak?” tanyanya.
“Ya, berapa?”
“Sepuluh ribu.”
Aku segera naik ke jok sepeda motor tukang ojek itu. Tukang ojek itu lalu memacu sepeda motornya, dan ia nekad mengambil jalan pintas dengan cara melawan arus di Bundaran Landasan Ulin itu. Aku merasa was-was dan berdoa semoga tidak terjadi kecelakaan lalu lintas. Kurang dari sepuluh menit aku sudah tiba di Bandar Udara Syamsudin Noor.   

Pukul 08.00 Wite
Aku segera menuju ke loket Lion Air. Segera kusodorkan kertas yang berisi catatan informasi kode boking tiket pesawat terbangyang dikirimkan via pesan singkat oleh sebuah perusahaan travel di kota Pontianak. Tidak lama kemudian aku menerima cetakan pesanan tiket dari petugas loket itu. Waktu chek in masih lama, masih sekitar 2 jam lagi. Aku kemudian mencari tempat duduk di lobbi, lalu menyulut, dan menyedot rokok kretek merk tertentu. Setiap kali ada mobil berhenti menurunkan penumpangnya, aku menyapukan pandang mataku ke arah sana. Aku sedang menunggu kedatangan Saudara Wajidi Amberi dan Saudara Zulfa Jamali. Keduanya adalah teman satu tim yang akan berangkat bersamaku ke Pontianak untuk mempresentasikan hasil penelitian kami  berjudul Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Sejatinya tim kami berjumlah 6 orang, yakni Pak Syarifuddin R, Ibu Hendraswati, dan saudara Agus Wibowo. Pak Syarifuddin R sendiri sekarang ini sedang berada di Surabaya untuk mengikuti rapat organisasi kesenian, beliau akan berangkat ke Pontianak pada hari ini juga via Surabaya dan Jakarta. Sementara itu Bu Hendraswati (Koordinator Penelitian) dan Agus Wibowo (Sekretaris) sudah berada di Pontianak karena beliau berdua memang tinggal di kota khatulistiwa ini.

Pukul 10.00 Wite 
Para penumpang Lion Air tujuan Jakarta diminta untuk melakukan chek in. Aku mengirim pesan singkat ke handphone Wajidi Amberi. Ternyata ia sudah berada di kawasan Bandara Syamsuddin Noor dan sudah melakukan chek in juga, namun ia sekarang ini sedang makan pagi di sebuah rumah makan di kawasan bandara. Aku segera chek in dan langsung naik ke ruang tunggu di lantai dua. Aku, Wajidi Amberi, dan Zulfa Jamali bertemu di bis yang mengantarkan kami ke tempat parkir pesawat terbang milik Lion Air. Tidak lama kemudian pesawat terbang Lion Air yang kami tumpangi tinggal landas menuju ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta.


Pukul 12.00 Wib
            Pesawat terbang terbang Lion Air yang kami tumpangi tinggal landas menuju ke Bandara Soepadio Pontianak. Waktu tempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke tempat tujuan kami sekitar 100 menit. Begitu tiba di Pontianak, kami dijemput oleh Bu Hendraswati. Sebelum diantar ke hotel kami terlebih dahulu ditraktir makan di sebuah rumah makan. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah makan ini aku selalu menyapukan pandangan mataku ke arah bangunan yang berdiri di kiri dan kanan kota Pontianak. Inilah kali yang pertama aku melihat keadaan kota Pontianak secara langsung. Masih banyak kota-kota besar lainnya di Pulau Kalimantan ini yang belum pernah kukunjungi, yakni Palangka Raya (Kalteng), Kucing (Sabah), Sarawak, Labuhan, dan Bandar Seri Begawan.

Pukul 17.00 Wib
  Aku dan kawan-kawan didaftarkan oleh Bu Hendraswati kepada Panitia Penyelenggara  Seminar Hasil Penelitian Perlindungan Ekspresi Keragaman Budaya yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Pontianak yang stand by di lobbi Hotel Orchard, Jalan Gajahmada Pontianak. Aku mendapat kamar di Lantai IV nomor 416 (sekamar dengan Bapak Syarifuddin R yang datang tak lama kemudian), sedangkan Wajidi Amberi dan Zulfa Jamali mendapat kamar di lantai yang sama, yakni di kamar nomor 402. Kami segera masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri untuk mengikuti acara pembukaan yang dijadwalkan akan dilakukan pada pukul 20.00 Wib.

Pukul 20.00 Wib
Aku dan para peserta seminar yang berdatangan dari empat provinsi yang ada di pulau Kalimantan menghadiri acara pembukaan yang dilangsungkan di Lanatai IX Hotel Orchard. Seminar dibuka oleh Direktur Nilai Tradisional dan Relegi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Acara ini ditutup dengan acara ramah tamah dan makan bersama. Sekitar pukul 22.00 wib kami masuk ke kamar hotel untuk beristirahat.   

RABU, 19 DESEMBER 2012
Pukul 08.00-10.00 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) Drs. Poltak Johansen, M.Si dan tim berjudul Sistem Kepemimpinan Tradisional pada Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, dan (2) Fatul Futuh Tamam, S.S dan tim berjudul Sistem Kepercayaan Masyarakat Suku Dayak Lawangan di Provinsi Kalimantan Tengah.


Pukul 10.15-12.15 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) Drs. Juniar Purba, M.Si dan tim berjudul Adat dan Tradisi Dayak Kayan di Miau Baru Kecamatan Kongbeng Kaliumantan Timur, dan (2) DR. Yusriadi dan tim berjudul Sistem Pengetahuan Masyarakat Dayak Dayak di Provinsi Kalimantan Timur.
Pukul 13.00-15.00 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) M. Nasir, S. Sos, M. Si dan tim berjudul Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial Provinsi Kalimantan Tengah, dan (2) DR. Samsul Hidayat dan tim berjudul Peran Organisasi pada Masyarakat Tionghoa di Singkawang Provinsi Kalimantan Barat.

Pukul 15.15-16.15 Wib
Aku dan kawan-kawan mendapat giliran memaparkan hasil penelitian tim kami berjudul Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Setelah itu kami mengikuti pemaparan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dra. Lisyawati Nurcahyani, M. Si dan tim (H. Adjim Arijadi, Dr. H. Zukipli Musaba, dan Asep Saepuddin)   

Pukul 17.00-17.30 Wib
Aku dan kawan-kawan mengikuti acara penutupan Seminar Hasil Perlindungan Ekspresi Keragaman Budaya bertempat di Lantai II Hotel Orchard Gadjahmada Pontianak.

Pukul 19.00-22.30 Wib
Aku dan kawan-kawan dibawa berkeliling kota Pontianak oleh Bu Hendraswati. Salah satu keistimewaan kota Pontianak di malam hari adalah warung kopi yang penuh sesak dengan pengunjung. Di beberapa ruas jalan kulihat banyak dijual durian local dengan harga yang relatif murah, yakni Rp. 10.000,- per biji dengan kualitas terjamin. Sekadar perbandingan harga durian di kota Banjarmasin jauh lebih mahal, yakni Rp. 25.000,- itupun belum tentu berkualitas.
Setelah cukup lama berkeliling kota Pontianak kami singgah ke rumah Bu Hendraswati. Di sana kami dijamu makan durian. Setelah itu kami diantar kembali ke hotel. Aku dan Pak Syarifuddin R tidak langsung masuk ke hotel, kami berjalan-jalan dahulu menyusuri Jalan Gajahmada untuk membeli oleh-oleh yang banyak dijual di tepi kiri dan kanan jalan ini. Oleh-oleh yang banyak ditawarkan adalah aneka jenis kerupuk ikan, kerupuk talas, ikan laut kering, dendeng kijang, kue dan minuman (juice) yang dibuat dari tanaman lidah buaya.


KAMIS, 20 DESEMBER 2012
Pukul 08.00-10.00 Wib
Setelah makan pagi, aku dan kawan-kawan kembali diajak berkeliling kota Pontianak oleh Bu Hendraswati. Hari ini kami diajak berkunjung ke Tugu Khatulistiwa.  Sepulang dari sana singgah di toko cenderamata, dan toko oleh-oleh khas Pontianak. Setelah itu singgah makan bakso, dan selanjutnya diantar ke Bandara Soepadio untuk chek in.

Pukul 10.55 Wib
Pesawat terbang Lion Air yang kami tupangi tinggal landas menuju ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta. Sekitar 100 menit kemudian kami sudah tiba di tempat tujuan.

Pukul 17.30 Wib
Pesawat terbang Lion Air yang bakal kami tumpangi terlambat datang dari Semarang. Kami sempat mendapat snack akibat delay yang begitu lama.
Idealnya, pesawat terbang sudah menunggu di bandara sebelum calon penumpangnya tiba di bandara. Layaknya seperti taksi colt di Terminal Kilometer 6 Banjarmasin. Pesawat terbang dengan rute Banjarmasin ke Jakarta atau sebaliknya adalah pesawat terbang yang sama yang parkir menunggu penumpang di gate yang sama setiap hari. Para penumpang tinggal mendatangi gate yang sudah ditentukan sesuai dengan rutenya masing-masing.
Jadwal keberangkatan pesawat terbang tepat waktu, meskipun penumpangnya cuma sepuluh orang, pesawat terbang tetap tinggal landas sesuai jadwal. Sanksi terhadap maskapai penerbangan yang melanggar jadwal tinggal landas ini sangat berat, yakni denda 10 kali lipat harga tiket, izin perusahaan dicabut, atau kurungan badan bagi pemiliknya.
Hehehe, karena keasyikan berimajinasi, maka tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, dan kami para calon penumpang pesawat terbang Lion Air dipersilakan untuk masuk ke pesawat terbang.

Pukul 18.30 Wite
Kami tiba kembali di kota Banjarmasin. Malam itu aku ikut menumpang mobil milik Saudara Wajid Amberi dan diantar sampai ke mulut Gang Sepakat Banjarmasin yang terletak di kawasan Jalan Mayjen Soetoyo S, Banjarmasin. Dari mulut gang aku jalan kaki menuju ke rumah. Tidak lama berselang ada tetanggaku lewat mengendarai sepeda motor, aku lalu ikut memboceng sampai ke rumah. Ternyata istri, iparku, dan anakku masih belum tidur, mereka asyik menonton televise sambil menunggu kedatanganku. “Tiga hari tanpa papi, rumah terasa sepi sekali,” ujar anakku (sudah diterjemahkan secara bebas, sejatinya anakku mengucapkannya dalam bahasa Banjar). Setelah itu kami bersama-sama memakan lempok durian yang kubeli sebagai oleh-oleh dari kota Pontianak.



1 komentar:

  1. Setelah membaca tulisan di atas, anda wajib memberikan komentar. Minimal mengucapkan terima kasih

    BalasHapus