CATATAN PERJALANAN KE PONTIANAK
SELASA, 18 DESEMBER 2012
Pukul 01.00 Wite
Malam
ini hujan turun dengan derasnya sehingga kota Banjarmasin basah kuyup dibuatnya.
Malam ini aku sengaja tidak masuk kerja seperti biasanya. Lampu di ruang
kerjaku sudah kumatikan sejak pukul 22.00 Wite, dan pintunya juga kututup
rapat. Mataku sebenarnya belum mengantuk, namun aku sengaja masuk ke kamar
tidur lebih awal. Di kamar tidur itu aku berusaha sebisanya memejamkan mata
agar cepat tertidur. Sengaja kuoleskan minyak angin di pelipisku supaya mataku
menjadi mengantuk karenanya. Sementara itu, hujan turun semakin lebat membuat
hawa menjadi terasa begitu dingin. Sayup-sayup kudengar bunyi kicauan burung
maling nun entah sedang bertengger di dahan pohon yang mana. Bisa jadi di salah
satu dahan pohon mangga yang tumbuh subur di halaman depan rumahku. Konon hal
itu merupakan pertanda ada maling tengah berkeliaran di sekitar rumah
tetanggaku (bukan di sekitar rumahku, lho). Hehehe….
Pada
malam-malam sebelumnya aku selalu masuk kerja, lampu di ruang kerjaku akan
terus menyala sampai pukul 04.00 Wite bahkan tidak jarang lampu itu tetap
menyala sampai pak muadzin mengumandangkan azan subuh di surau dekat rumahku.
Sejatinya, aku tetap betah bekerja di ruang kerjaku itu sampai mataku benar-benar
mengantuk. Mataku tak mudah mengantuk karena aku terbiasa tidur siang. Jadi
penyebabnya bukan karena aku seorang
pengidap penyakit imsonia (susah tidur) yang konon sangat berbahaya itu.
Di ruang kerjaku itu aku mengerjakan pekerjaanku sebagai seorang penulis.
Begitulah yang kulakukan dari malam ke malam selama ini. Aku baru libur bekerja
malam jika sedang sakit, sedang berada di luar kota, atau jika ada agenda
bepergian ke suatu tempat pada pukul 06.00 Wite keesokan harinya.
Kebiasaan
tidur larut malam ini, sudah barang tentu membuatku sulit untuk bangun tidur di
pagi hari. Jika kunilai tidak begitu penting maka aku sering menolak menerima
tawaran bekerja di luar kantor yang jadwal kerjanya dimulai sebelum pukul 07.00
Wite. Aku akan mendapat masalah secara fisik dan psikis jika memaksakan diri
bangun tidur sementara mata masih dalam keadaan mengantuk berat, kepalaku akan
pusing tujuh keliling dalam tempo yang relatif lama, yakni setengah hari atau
bahkan seharian penuh. Malam ini aku memang berkepentingan untuk tidur lebih
awal, agar tidak bangun kesiangan pada keesokan harinya. Jika sampai kesiangan
maka gagallah rencanaku untuk berangkat ke Pontianak.
Pukul 06.00 Wite
Aku
bangun tidur dengan suasana hati riang gembira. Tidur yang cukup membuatku bisa
bangun tidur dengan wajar dalam arti tidak dipaksakan. Kepalaku terasa ringan,
tidak berat, dan tidak terasa sakit. Aku langsung menuju ke kamar mandi,
menyikat gigi, dan kemudian mandi. Lalu mengambil air wudu, dan sholat subuh.
Sementara itu istriku memanaskan nasi dan menggoreng ikan patin di dapur. Setelah
semuanya siap aku pun segera menyantap hidangan yang disajikan istriku. Tidak
biasanya aku makan sepagi ini, biasanya aku makan pada pukul 09.00 wite di
rumah atau di warung makan di dekat kantorku.
Pukul 07.00 Wite
Aku
berangkat meninggalkan rumah menuju ke Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru. Aku mengendarai
sepeda motor milik iparku yang duduk membonceng di belakangku. Begitu tiba di
kawasan Jalan Ahmad Yani kilometer 4 Banjarmasin, aku menghentikan sepeda
motor, turun, dan menyerahkan sepeda motor itu kepada adik iparku. Setelah
berbasa-basi adik iparku langsung tancap gas melarikan sepeda motornya kembali
ke rumah karena anakku sedang menunggu untuk diantarkan ke sekolah.
Tidak
lama kemudian kulihat ada taksi colt warna jingga melintas di depanku. Aku menyetopnya
dengan isyarat tangan.
“Ke
mana, Pak?” tanya pak sopir.
“Syamsuddin
Noor,” jawabku.
Taksi
colt warna jingga adalah taksi colt dengan trayek Banjarmasin-Martapura pulang
pergi. Sejatinya taksi colt warna jingga ini harus mangkal di Terminal
Kilometer 6 Banjarmasin. Namun, pada pagi hari seperti ini banyak sopir taksi
yang berspekulasi mencari penumpang di luar terminal, sasarannya adalah para
PNS atau para karyawan swasta yang bekerja di Gambut, Simpang Empat Liang
Anggang, Landasan Ulin, Guntung Payung, Loktabat, Banjarbaru, dan Martapura.
Jumlah mereka sangat banyak, mungkin mencapai ratusan orang.
“Kiri,
Pak,” teriakku ketika taksi colt yang kutumpangi tiba di bundaran Landasan Ulin.
Taksi
colt berhenti, aku membuka dompetku. Aku menyodorkan uang Rp. 50.000,- dan menerima kembaliannya Rp.
41.000,-. Terus terang aku agak khawatir jika pak sopir tak punya uang
kembaliannya. Biasanya sopir taksi colt akan menyalahkan penumpangnya sebagai
orang yang ceroboh karena tidak menyediakan uang pas atau uang dengan nominal
yang tidak terlalu besar (Rp.
10.000,- Rp. 15.000,- atau Rp. 20.000,-)
untuk membayar ongkos taksi colt. Suatu hari aku pernah menyaksikan insiden
sengit di sebuat taksi colt, pak sopir dengan kasar melemparkan uang Rp.
50.000,- atau Rp. 100.000,- ke arah
penumpangnya, lalu tancap gas sambil memaki-maki.
Tidak
lama berselang seorang tukang ojek datang mendekatiku.
“Bandara,Pak?”
tanyanya.
“Ya,
berapa?”
“Sepuluh
ribu.”
Aku
segera naik ke jok sepeda motor tukang ojek itu. Tukang ojek itu lalu memacu
sepeda motornya, dan ia nekad mengambil jalan pintas dengan cara melawan arus
di Bundaran Landasan Ulin itu. Aku merasa was-was dan berdoa semoga tidak
terjadi kecelakaan lalu lintas. Kurang dari sepuluh menit aku sudah tiba di
Bandar Udara Syamsudin Noor.
Pukul 08.00 Wite
Aku
segera menuju ke loket Lion Air. Segera kusodorkan kertas yang berisi catatan
informasi kode boking tiket pesawat terbangyang dikirimkan via pesan singkat oleh
sebuah perusahaan travel di kota Pontianak. Tidak lama kemudian aku menerima
cetakan pesanan tiket dari petugas loket itu. Waktu chek in masih lama, masih
sekitar 2 jam lagi. Aku kemudian mencari tempat duduk di lobbi, lalu menyulut,
dan menyedot rokok kretek merk tertentu. Setiap kali ada mobil berhenti
menurunkan penumpangnya, aku menyapukan pandang mataku ke arah sana. Aku sedang
menunggu kedatangan Saudara Wajidi Amberi dan Saudara Zulfa Jamali. Keduanya
adalah teman satu tim yang akan berangkat bersamaku ke Pontianak untuk
mempresentasikan hasil penelitian kami
berjudul Upacara Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Provinsi
Kalimantan Selatan. Sejatinya tim kami berjumlah 6 orang, yakni Pak Syarifuddin
R, Ibu Hendraswati, dan saudara Agus Wibowo. Pak Syarifuddin R sendiri sekarang
ini sedang berada di Surabaya untuk mengikuti rapat organisasi kesenian, beliau
akan berangkat ke Pontianak pada hari ini juga via Surabaya dan Jakarta. Sementara
itu Bu Hendraswati (Koordinator Penelitian) dan Agus Wibowo (Sekretaris) sudah
berada di Pontianak karena beliau berdua memang tinggal di kota khatulistiwa
ini.
Pukul 10.00 Wite
Para
penumpang Lion Air tujuan Jakarta diminta untuk melakukan chek in. Aku mengirim
pesan singkat ke handphone Wajidi Amberi. Ternyata ia sudah berada di kawasan
Bandara Syamsuddin Noor dan sudah melakukan chek in juga, namun ia sekarang ini
sedang makan pagi di sebuah rumah makan di kawasan bandara. Aku segera chek in
dan langsung naik ke ruang tunggu di lantai dua. Aku, Wajidi Amberi, dan Zulfa
Jamali bertemu di bis yang mengantarkan kami ke tempat parkir pesawat terbang milik
Lion Air. Tidak lama kemudian pesawat terbang Lion Air yang kami tumpangi
tinggal landas menuju ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, Jakarta.
Pukul 12.00 Wib
Pesawat terbang terbang Lion Air yang kami tumpangi
tinggal landas menuju ke Bandara Soepadio Pontianak. Waktu tempuh dari Bandara
Soekarno Hatta ke tempat tujuan kami sekitar 100 menit. Begitu tiba di
Pontianak, kami dijemput oleh Bu Hendraswati. Sebelum diantar ke hotel kami
terlebih dahulu ditraktir makan di sebuah rumah makan. Selama dalam perjalanan
menuju ke rumah makan ini aku selalu menyapukan pandangan mataku ke arah
bangunan yang berdiri di kiri dan kanan kota Pontianak. Inilah kali yang
pertama aku melihat keadaan kota Pontianak secara langsung. Masih banyak
kota-kota besar lainnya di Pulau Kalimantan ini yang belum pernah kukunjungi,
yakni Palangka Raya (Kalteng), Kucing (Sabah), Sarawak, Labuhan, dan Bandar
Seri Begawan.
Pukul 17.00 Wib
Aku dan kawan-kawan didaftarkan oleh Bu
Hendraswati kepada Panitia Penyelenggara Seminar Hasil Penelitian Perlindungan Ekspresi
Keragaman Budaya yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya
(BPNB) Pontianak yang stand by di lobbi Hotel Orchard, Jalan Gajahmada
Pontianak. Aku mendapat kamar di Lantai IV nomor 416 (sekamar dengan Bapak
Syarifuddin R yang datang tak lama kemudian), sedangkan Wajidi Amberi dan Zulfa
Jamali mendapat kamar di lantai yang sama, yakni di kamar nomor 402. Kami
segera masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri
untuk mengikuti acara pembukaan yang dijadwalkan akan dilakukan pada pukul 20.00
Wib.
Pukul 20.00 Wib
Aku
dan para peserta seminar yang berdatangan dari empat provinsi yang ada di pulau
Kalimantan menghadiri acara pembukaan yang dilangsungkan di Lanatai IX Hotel
Orchard. Seminar dibuka oleh Direktur Nilai Tradisional dan Relegi Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Acara ini ditutup dengan acara
ramah tamah dan makan bersama. Sekitar pukul 22.00 wib kami masuk ke kamar
hotel untuk beristirahat.
RABU, 19 DESEMBER 2012
Pukul 08.00-10.00 Wib
Aku
dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) Drs.
Poltak Johansen, M.Si dan tim berjudul Sistem Kepemimpinan Tradisional pada
Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, dan (2) Fatul Futuh Tamam, S.S dan tim
berjudul Sistem Kepercayaan Masyarakat Suku Dayak Lawangan di Provinsi
Kalimantan Tengah.
Pukul 10.15-12.15 Wib
Aku
dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) Drs.
Juniar Purba, M.Si dan tim berjudul Adat dan Tradisi Dayak Kayan di Miau Baru
Kecamatan Kongbeng Kaliumantan Timur, dan (2) DR. Yusriadi dan tim berjudul
Sistem Pengetahuan Masyarakat Dayak Dayak di Provinsi Kalimantan Timur.
Pukul 13.00-15.00 Wib
Aku
dan kawan-kawan mengikuti paparan hasil penelitian yang dilakukan oleh (1) M.
Nasir, S. Sos, M. Si dan tim berjudul Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Provinsi Kalimantan Tengah, dan (2) DR. Samsul Hidayat dan tim berjudul Peran
Organisasi pada Masyarakat Tionghoa di Singkawang Provinsi Kalimantan Barat.
Pukul 15.15-16.15 Wib
Aku
dan kawan-kawan mendapat giliran memaparkan hasil penelitian tim kami berjudul Upacara
Daur Hidup Masyarakat Suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Setelah itu
kami mengikuti pemaparan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dra. Lisyawati
Nurcahyani, M. Si dan tim (H. Adjim Arijadi, Dr. H. Zukipli Musaba, dan Asep
Saepuddin)
Pukul 17.00-17.30 Wib
Aku
dan kawan-kawan mengikuti acara penutupan Seminar Hasil Perlindungan Ekspresi
Keragaman Budaya bertempat di Lantai II Hotel Orchard Gadjahmada Pontianak.
Pukul 19.00-22.30 Wib
Aku
dan kawan-kawan dibawa berkeliling kota Pontianak oleh Bu Hendraswati. Salah
satu keistimewaan kota Pontianak di malam hari adalah warung kopi yang penuh
sesak dengan pengunjung. Di beberapa ruas jalan kulihat banyak dijual durian
local dengan harga yang relatif murah, yakni Rp. 10.000,- per biji dengan
kualitas terjamin. Sekadar perbandingan harga durian di kota Banjarmasin jauh
lebih mahal, yakni Rp. 25.000,- itupun belum tentu berkualitas.
Setelah
cukup lama berkeliling kota Pontianak kami singgah ke rumah Bu Hendraswati. Di
sana kami dijamu makan durian. Setelah itu kami diantar kembali ke hotel. Aku
dan Pak Syarifuddin R tidak langsung masuk ke hotel, kami berjalan-jalan dahulu
menyusuri Jalan Gajahmada untuk membeli oleh-oleh yang banyak dijual di tepi
kiri dan kanan jalan ini. Oleh-oleh yang banyak ditawarkan adalah aneka jenis
kerupuk ikan, kerupuk talas, ikan laut kering, dendeng kijang, kue dan minuman
(juice) yang dibuat dari tanaman lidah buaya.
KAMIS, 20 DESEMBER 2012
Pukul 08.00-10.00 Wib
Setelah
makan pagi, aku dan kawan-kawan kembali diajak berkeliling kota Pontianak oleh
Bu Hendraswati. Hari ini kami diajak berkunjung ke Tugu Khatulistiwa. Sepulang dari sana singgah di toko
cenderamata, dan toko oleh-oleh khas Pontianak. Setelah itu singgah makan
bakso, dan selanjutnya diantar ke Bandara Soepadio untuk chek in.
Pukul 10.55 Wib
Pesawat
terbang Lion Air yang kami tupangi tinggal landas menuju ke Bandara Soekarno
Hatta di Cengkareng, Jakarta. Sekitar 100 menit kemudian kami sudah tiba di
tempat tujuan.
Pukul 17.30 Wib
Pesawat terbang Lion Air yang bakal kami tumpangi
terlambat datang dari Semarang. Kami sempat mendapat snack akibat delay yang
begitu lama.
Idealnya, pesawat terbang sudah menunggu di bandara
sebelum calon penumpangnya tiba di bandara. Layaknya seperti taksi colt di
Terminal Kilometer 6 Banjarmasin. Pesawat terbang dengan rute Banjarmasin ke
Jakarta atau sebaliknya adalah pesawat terbang yang sama yang parkir menunggu
penumpang di gate yang sama setiap hari. Para penumpang tinggal mendatangi gate
yang sudah ditentukan sesuai dengan rutenya masing-masing.
Jadwal keberangkatan pesawat terbang tepat waktu,
meskipun penumpangnya cuma sepuluh orang, pesawat terbang tetap tinggal landas
sesuai jadwal. Sanksi terhadap maskapai penerbangan yang melanggar jadwal
tinggal landas ini sangat berat, yakni denda 10 kali lipat harga tiket, izin
perusahaan dicabut, atau kurungan badan bagi pemiliknya.
Hehehe, karena keasyikan berimajinasi, maka tanpa
terasa waktu berlalu dengan cepat, dan kami para calon penumpang pesawat
terbang Lion Air dipersilakan untuk masuk ke pesawat terbang.
Pukul
18.30 Wite
Kami tiba kembali di kota Banjarmasin. Malam itu aku
ikut menumpang mobil milik Saudara Wajid Amberi dan diantar sampai ke mulut
Gang Sepakat Banjarmasin yang terletak di kawasan Jalan Mayjen Soetoyo S,
Banjarmasin. Dari mulut gang aku jalan kaki menuju ke rumah. Tidak lama
berselang ada tetanggaku lewat mengendarai sepeda motor, aku lalu ikut
memboceng sampai ke rumah. Ternyata istri, iparku, dan anakku masih belum
tidur, mereka asyik menonton televise sambil menunggu kedatanganku. “Tiga hari
tanpa papi, rumah terasa sepi sekali,” ujar anakku (sudah diterjemahkan secara
bebas, sejatinya anakku mengucapkannya dalam bahasa Banjar). Setelah itu kami
bersama-sama memakan lempok durian yang kubeli sebagai oleh-oleh dari kota
Pontianak.
Setelah membaca tulisan di atas, anda wajib memberikan komentar. Minimal mengucapkan terima kasih
BalasHapus